Jumat, 05 November 2021

Beyond The Wall by Sabrina Zee | Book Review

Beyond The Wall (Achlodia #1)
Penulis: Sabrina Zee
Editor: Rina S.
Desain sampul: Christine J. Claudie
Penerbit: PT. Kosa Media Utama
ISBN: 978-602-71220-4-8
426 halaman
Buntelan dari @sabrinazee
The Wall sudah menyegel lahan Negara Maronca sejak ratusan tahun yang lalu. Anna sudah terbiasa melihat dinding sihir itu dari sebelah rumahnya. Sampai suatu hari... ia dengan tanpa sengaja memasuki dunia di balik The Wall, dunia berbeda yang penuh sihir.

Di sisi lain, kerajaan kuno yang memerintah kehidupan di dalam The Wall sedang menghadapi krisis. Mereka yang ingin merebut kekuasaan mulai menunjukkan kelicikan dan kepandaian masing-masing. Karena putra mahkota kerajaan tidak bisa diandalkan, Putri Iris terpaksa maju sebagai penyusun rencana. Tapi ia punya agenda sendiri dalam politik pemerintahan dan ia membutuhkan seorang mata-mata rahasia yang dikabarkan tinggal di tempat tersembunyi.

Lalu seorang pengembara datang dari negeri terjauh. Dia mengaku bernama Rev. Anehnya, dia langsung setuju membantu membebaskan tahanan kerajaan, sekalipun itu berarti ia melanggar hukum.

Saat perang muncul ke permukaan, tidak ada seorang pun yang siap menghadapinya.
Empat ratus tahun yang lalu, sekitar abad ke-17, terjadi perang antara dua kubu di Pulau Maronca karena perebutan kekuasaan antara Kerajaan Maronca dan Kerajaan Pavenus. Salah satu penyihir terkuat dan terhebat dari Kerajaan Maronca, Uvarran, memberi saran pada raja saat itu untuk menyegel daerah Pavenus supaya kerajaan tersebut tidak membuat kekacauan lagi, agar tercipta keamanan dan kesejahteraan bagi rakyat Maronca. Raja Pavenus saat itu sangat ambisius dan ingin menang sendiri.

Mantra yang digunakan Uvarran untuk menyegel Kerajaan Pavenus belum pernah dirapalkan siapapun dan hanya terdapat dalam teori sehingga tidak tahu konsekuensi dari penyegelan tersebut. Uvarran sendiri tidak tahu apa yang terjadi di balik dinding sihirnya. Semua orang menyebut dinding tak terlihat tersebut dengan sebutan The Wall. Beberapa ratus kemudian di Kerajaan Pavenus sendiri terjadi kudeta, beberapa pemberontak tidak suka dengan pemerintahan yang akhirnya terbagi menjadi dua. Pavenus di bagian selatan dan di bagian utara menjadi Kerajaan Aquerona.

Ratusan tahun berlalu, Kerajaan Maronca berkembang dan akhirnya menjadi Republik. Negara Maronca terletak di Samudra Hindia, di antara Pulau Bali (Indonesia) dan Benua Australia, bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris beraksen Maronca dan juga bahasa Indonesia. Kota Edelstein adalah ibukota Republik Maronca, kota terbesar di negara itu, tempat tinggal Anna Chamberlain, yang juga bersebelahan dengan dinding tak terlihat, The Wall.

Ketika sedang berlatih pisau, Anna tanpa sengaja melihat kijang yang menghilang di hutan dekat rumahnya. Karena penasaran, Anna mengikuti jejak kijang tersebut dan masuk ke celah sebuah dinding. Di dalam wilayah antah berantah tersebut, yang nantinya diketahui sebagai wilayah Kerajaan Aquerona, Anna melihat sebuah bunga yang mirip dengan sketsa di buku ayahnya, yang berarti ayahnya pernah masuk ke dinding ini juga, bunga yang disebut Achlodia. Ayah Anna adalah seorang profesor botani, dia menghilang selama dua tahun dan tak ditemukan jejak sama sekali. Ayahnya sedang mencari obat untuk ibunya. Anna yakin ayahnya ada di Kerajaan yang tersegel ini, dan dia harus mencarinya.

Sudah lama sekali saya tidak membaca fantasy karya penulis dalam negeri, tidak banyak yang berani menulis genre ini, daripada genre lainnya tentu saja. Alasan utama tentu saja sangat riskan, dibutuhkan imajinasi yang luas, khususnya dalam menciptakan sebuah universe, dan bisa dibilang pasarnya tidak besar di Indonesia, hanya terbatas bagi mereka yang benar-benar menyukai fantasy. Bagi saya pribadi yang terbiasa baca fantasy terjemahan, tidak mudah untuk jatuh cinta kecuali cerita tersebut memiliki plot yang kuat dan universe yang otentik. Ada dua fantasy dalam negeri yang menjadi favorit saya sejauh ini, Vandaria Saga dan Ther Melian.

Kalau kedua series di atas bisa dibilang high fantasy, yang benar-benar tidak ada unsur modern, berbeda dengan series Anchodia ini. Di buku pertama ini, yang totalnya ada empat (Beyond The Wall, Among The Chaos, During The Chase, Under The Broken Sky), kita akan lebih dikenalkan akan dunia yang dibuat penulis, pengenalan tokoh dan sekelumit konflik. Karena buku pertama, jelas sekali masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, setidaknya kita akan lebih memahami akan universe yang dia buat, misalkan saja lokasi di mana Pulau Maronca dan kerajaan-kerajaan di dalamnya. Dalam hal ini penulis cukup sukses membangun dunianya sendiri, bahkan di awal halaman ada peta Pulau Maronca.

Untuk para tokohnya, jujur saja terlalu banyak, awalnya sedikit bingung dengan peran mereka, terlebih penulis memilih sudut pandang orang pertama dengan beberapa karakter secara bergantian tiap bab. Kelebihannya tentu kita bisa melihat plot dari berbagai macam sudut pandang, minusnya penulis kurang fokus akan tokoh utama dan konflik, karena dipakai untuk pemngenalan karakter tadi. Memang bukan tanpa alasan, makin ke belakang peran mereka mulai terlihat jelas. Bahkan ada satu tokoh yang saya kira sebagai pemeran utama, di bagian akhir malah ada plot twist tentang dia, benar-benar nggak ketebak :p.

Untuk karakter favorit, saya menyukai tokoh Rey dan Putri Iris, saya suka kepribadian mereka. Rey yang berjiwa bebas, lebih suka berbaur dengan berbagai orang dan punya cara tersendiri untuk mendengar suara rakyat, memiliki jiwa petualang yang tinggi. Sedangkan Putri Iris salah satu cerminan cewek kuat dan feminis, lebih seperti kenapa kalau wanita memimpin di pemerintahan? Dia jauh bisa diandalkan daripada adiknya sang putra mahkota, satusnya menjadi polemik di pemerintahan, tapi dengan berbagai ide cemerlangnya, dia tidak ingin kerajaan yang merupakan warisan keluarganya hancur karena intrik politik.

Untuk konfliknya sendiri, selain mencari ayah Anna dan keberadaan bunga Anchlodia, akan ada perebutan kekuasaan lagi antara Kerajaan Pavenus dan Aquerona. Kemudian ada Najul dan bunga Anchlodia hitam yang membuat penasaran, petualangan Anna dan teman-temannya juga masih panjang. Berhubung ada empat buku, Beyond The Wall bisa dibilang hanyalah bab pembuka, kita belum bertemu dengan konflik puncak dan perjalanan baru saja dimulai.

Buku ini cukup recommended kalau kalian penyuka fantasy, terlebih fantasy dalam negeri yang tidak banyak dilirik penulis di sini, kalian wajib mencobanya. Ada kisah cinta tapi tidak mendominasi, lebih ke petualangan dan persahabatan. Trigger warning juga karena penulis tidak segan-segan menumpahkan darah, saya cukup kaget dengan adegan sadisnya, lagi-lagi, nggak ketebak. Saya jadi tambah penasaran bagaimana akhirnya nanti.

3 komentar:

  1. Yeyyy!!! Thank you sudah baca dan review bukunya :D

    BalasHapus
  2. Membaca fantasi pun menjadi tantangan tersendiri, sebab semacam bertaruh, kalo ceritanya bagus akan relate dengan pembaca, kalo ceritanya kurang bagus akan membingungkan pembaca.

    Saya kaget saat melihat cover bukunya yang terlalu sederhana. Harus ada usaha mengganti cover dengan yang lebih baik agar buku ini bisa menarik minat pembaca lainnya.

    BalasHapus
  3. jadi penasaran pengen baca langsung bukunya :D

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Rekomendasi Bulan Ini

Buku Remaja yang Boleh Dibaca Siapa Saja | Rekomendasi Teenlit & Young Adult

K urang lebih dua tahun yang lalu saya pernah membahas tentang genre Young Adult dan berjanji akan memberikan rekomendasi buku yang as...