Sabtu, 31 Juli 2021

The Midnight Library by Matt Haig | Book Review

Judul buku: The Midnight Library (Perpustakaan Tengah Malam)
Penulis: Matt Haig
Alih bahasa: Dharmawati
Editor: Dian Anggraeni
Desain sampul: Martin Dima
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-06-4933-7
Edisi digital, 2021
368 halaman
Baca di Gramedia Digital
Di antara kehidupan dan kematian terdapat sebuah perpustakaan yang jumlah bukunya tak terhingga. Tiap-tiap buku menyediakan satu kesempatan untuk mencoba kehidupan lain yang bisa dijalani sehingga kau bisa melihat apa yang terjadi kalau kau mengambil keputusan-keputusan berbeda... Akankah kau melakukan apa pun secara berbeda jika kau mendapat kesempatan untuk membatalkan penyesalan-penyesalanmu? Benarkah kehidupan lain akan jauh lebih baik?

Nora Seed harus membuat keputusan. Ia dihadapkan pada kemungkinan bisa mengubah hidupnya, memiliki karier yang berbeda, tidak putus dari mantan kekasih, dan mewujudkan mimpinya sebagai glasiolog. Ia menjelajahi Perpustakaan Tengah Malam untuk memutuskan apa sebenarnya yang menjadikan hidup pantas dijalani. Setelah kehidupan yang diisi berbagai penyesalan dan kegagalan, akankah Nora Seed akhirnya mendapatkan kehidupan yang bisa memberinya kebahagiaan sejati?
Lewat film sci-fi Interstellar, kita akan mengenal apa itu dunia paralel, sedangkan lewat The Midnight Library, kita akan disuguhkan beberapa kemungkinan kehidupan kita lewat buku-buku di perpustakaan. Itulah yang dialami Nora Seed, ketika dia sedang di ambang kematian, dia tiba-tiba saja berada di perpustakaan, ada seorang pustakawati, Mrs. Elm, yang menuntun dirinya untuk mencoba beberapa kehidupan yang mungkin Nora inginkan.

Nora merasa tidak ada alasan untuk hidup lagi, setiap langkah yang dia ambil berujung kesalahan, setiap keputusan menjadi bencana. Membuat ayahnya kecewa karena tidak menjadi atlet renang Olimpiade, memilih hengkang dari vokalis The Labyrint, band yang dibesut oleh kakaknya dan temannya, Ravi, membuat hubungannya dengan mereka menjadi renggang. Membatalkan pernikahan hanya selang dua hari sebelum hari H, mengecewakan sahabatnya, Izzy untuk tidak ikut tinggal di Australia. Bahkan kesempatan untuk menjaga seekor kucing saja dia tidak becus.

Datanglah kesempatan itu, ketika dia hanya menginginkan mati, muncul sebuah kesempatan tentang kehidupan yang mungkin saja dia miliki. Mencoba berbagai kehidupan lewat perpustakaan kemungkinan, The Midnight Library, di mana kau bisa menentukan pilihan-pilihan tapi tidak dengan hasil akhirnya. 
"Di antara kehidupan dan kematian ada perpustakaan," katanya. "Dan di dalam perpustakaan itu, rak-rak berderet tak ada habisnya. Setiap buku menyediakan kesempatan untuk mencoba kehidupan lain yang mungkin saja kau jalani. Untuk melihat bagaimana segala sesuatunya akan berbeda kalau kau membuat pilihan-pilihan lain. Akankah kau melakukan hal berbeda, seandainya kau punya kesempatan untuk membatalkan penyesalan-penyesalanmu?"
"Buku ini adalah sumber semua masalahmu, sekaligus jawaban atas semua itu."
"Tapi apa itu?"
"Judul buku ini,sayangku, adalah Buku Penyesalan."
Membaca buku The Midnight Library ini semacam kita sedang membaca buku self help tapi dibuat secara fiksi, dengan sentuhan science fiction, sedikit ribet mungkin, yang jelas buku ini akan memberi kita gambaran akan apa itu makna hidup, alasan untuk hidup.

Kita pasti pernah menjadi Nora Seed, yang merasa hidupnya tidak ada artinya, banyak penyesalan dan kegagalan yang sudah dilalui. Lalu terbersit, seandainya saja dulu kita membuat pilihan yang berbeda, pasti tidak akan berakhir seperti ini, berakhir seperti sekarang yang ujungnya kita sesali. Kita semua pasti pernah ada di fase seperti itu.
"Sulit untuk meramalkan, bukan?"
"Hal-hal yang membuat kita bahagia."
"Karena, Nora, kadang-kadang satu-satunya cara untuk belajar adalah dengan hidup."
Kita menghabiskan sangat banyak waktu berharap kehidupan kita berbeda, membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain dan pada versi-versi lain dari diri kita sendiri, padahal sebetulnya sebagian besar kehidupan memiliki berbagai tingkatan baik dan buruk.

Lewat The Midnight Library, kita akan disuguhkan bagaimana kalau kehidupan yang selama ini kita andaikan menjadi kenyataan. Apakah kehidupannya akan lebih berarti dan bahagia? Apakah keputusan yang sekarang kita pilih tenyata memang pilihan yang terburuk?

Ada bagian yang sangat saya sukai, ketika Nora melakukan pidato. Pada bagian ini menjelaskan bahwa manusia tidap pernah puas, kebahagiaan kadang dihitung berdasarkan materi, memiliki segalanya tapi ada yang selalu dilupakan, bahwa tidak segalanya harus berakhir dengan kesuksesan. Kadang sebuah kegagalan bisa menjadi rasa syukur.

"Masalahnya... masalahnya....masalahnya adalah... apa yang kita anggap sebagai rute paling sukses untuk kita ambil ternyata salah. Karena sering kali anggapan kita mengenai kesuksesan merupakan konsep omong kosong eksternal tentang prestasi -medali Olimpiade, suami ideal, gaji tinggi. Kita semua memiliki semua ukuran ini, yang kita coba dan kita capai. Padahal kesuksesan sebenarnya adalah sesuatu yang tidak bisa kita ukur, dan hidup bukanlah perlombaan yang bisa kita menangi."
Ketika membaca The Midnight Library ini, sedikit menginggatkan saya akan Tokyo Revengers, tentang melompati waktu tapi ketika mengulang kehidupan ada saja yang tidak sesuai harapan, maka akan mengulang lagi, mencoba lagi sampai apa yang kita inginkan tercapai. Namun, yang namanya hidup tentu tidak melulu lurus, kadang harus melewati belokan di mana banyak polisi tidurnya. Yang perlu kita lakukan hanya melalui secara pelan-pelan, agar guncangan tidak besar dan kita bisa sampai tujuan dengan selamat.

Nora mencoba segala kehidupan yang mungkin saja menjadi pilihan hidupnya yang paling tepat, tapi apakah memang itu yang benar-benar dia inginkan? Mrs. Elm berkata, kalau benar itu hidup yang dia inginkan, maka dia akan terus berada di sana, tapi akhirnya Nora selalu merasa pilihannya tidak sesuai yang dia harapkan, selalu ada yang harus dia korbankan. Yang akhirnya sama-sama menjadi pilihan yang buruk.
Bahkan sekalipun kau adalah pion -mungkin kita semua adalah pion- jadi kau harus ingat bahwa pion merupakan biji paling magis di antara semuanya. Mungkin ia terkesan kecil dan biasa-biasa saja, tapi itu tidak benar. Karena pion tidak pernah bisa hanya sekadar pion. Pion adalah calon menteri. Satu-satunya yang perlu kau lakukan adalah mencari jalan untuk terus bergerak maju. Satu kota demi satu kotak. Lalu kau bisa mencapai sisi lain dan membuka segala macam kekuatan.
Saya menyukai karakter Nora, penulis cukup bagus menggambarkan dirinya yang depresi, yang penuh ketakutan dan selalu merasa gagal. Misalkan ketika dia mengundurkan diri menjadi perenang hanya karena tidak pede dengan tubuhnya yang terekspos. Keluar dari band karena takut berhadapan dengan orang banyak, takut kalau dia hanya bisa mengacau. Rasa percaya diri yang ditenggelamkan sejak kecil karena harus sehebat kakaknya, harus menjadi sempurna di mata orangtuanya.

Namun, ada bagian yang menurut saya membosankan dan ingin melewatinya saja, ketika penulis menjabarkan berbagai kehidupan yang Nora jalani, di luar kehidupan inti (perenang, musisi, menjadi istri Dan, glasiolog, bekerja di penangkaran hewan). Bagian yang repetitif ini memang sarat membuat pembaca menjadi bosan, terlebih model cerita yang berbau self help. Untungnya tertolong dengan salah satu kehidupan yang membuat Nora benar-benar merasa ingin hidup.

Membaca The Midnight Library menyuguhkan pengalaman yang cukup menyenangkan karena seperti mewujudkan apa yang selama ini hanya kita banyakan, bahwa di antara banyak penyesalan yang berujung kegagalan, kadang itu adalah pilihan terbaik yang pernah kita ambil.
Mungkin tidak ada kehidupan yang sempurna baginya, tapi di suatu tempat, tentunya ada kehidupan yang layak untuk dijalani.
"Kau tidak perlu mengerti kehidupan. Kau hanya perlu menjalaninya."
Kita tidak perlu melakukan segalanya dalam rangka menjadi segalanya, karena kita sendiri sudah tak tebatas. Selagi kita masih hidup, kita selalu memiliki masa depan dengan beribu kemungkinan. 

Buku ini banyak sekali kalimat yang quoteable, terlebih berhubungan dengan buku dan perpustakaan, perpaduan yang indah. Tidak salah kalau penulis mengibaratkan kehidupan kita seperti sebuah buku, ada bermacam-macam jenisnya, entah itu buku penyesalan, buku kebahagiaan, dsb. Kita bisa menciptakan perpustakaan kita sendiri, kita hanya perlu mengisinya untuk menjadi sebuah buku. Kita hanya perlu menjalaninya.

"Selama masih ada buku-buku di rak-rak, kau takkan pernah terperangkap. Setiap buku merupakan jalan keluar potensial." 

1 komentar:

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Rekomendasi Bulan Ini

Buku Remaja yang Boleh Dibaca Siapa Saja | Rekomendasi Teenlit & Young Adult

K urang lebih dua tahun yang lalu saya pernah membahas tentang genre Young Adult dan berjanji akan memberikan rekomendasi buku yang as...