Rabu, 11 Desember 2019

Pelanduk by Andra Andella | Book Review

Judul buku: Pelanduk
Penulis: Andra Andella
Editor: Irwan Kurniawan
Sumber ilustrasi cover: freepik.com
Penerbit: Nuansa Cendekia
ISBN: 978-602-350-536-4
Cetakan I, November 2019
336 halaman
Buntelan dari @pelanduk_novel
Dua hal tentang Kancil yang harus kalian tahu sebelum
tenggelam dalam kisah ini:

Yang pertama, ia bukanlah hewan berkaki empat.

Kedua, bagi Jihan, laki-laki itu berbeda dengan semua manusia yang pernah dikenalnya; kendati ia tengah bersedih, tak pernah ada raut duka terpancar dari wajahnya.

Saat Jihan resmi menjadi pacar Kancil, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk memberikan setiap cahaya yang ia punya agar Kancil selalu tahu jalan pulang.

Dan ketika timbul satu per satu masalah, Jihan harus membuktikan kepada dunia bahwa janji itu bisa ia tepati. Meskipun itu artinya Jihan harus terjerumus dalam sisi buram dunia Kancil.
Kisah Pelanduk di mulai pada tahun 2003, tahun di mana Jihan memasuki masa akhir SMP. Di tahun terakhirnya itu, Jihan menemukan cinta pertama, Ian, tapi sayang hubungan mereka tidak bertahan lama karena Ian belum bisa move on dari mantan terdahulunya. Ketika masih bersama Ian, Jihan pernah digoda oleh teman satu geng Ian, ia kerap dipanggil Kancil. Sejak saat itu, Kancil seperti selalu ada di sekitar Jihan, mengajak ngobrol, tapi karena reputasi negatif yang gencar akan dirinya, Jihan selalu mengindar.

Kancil sempat menjauhi Jihan karena dianggap seperti virus, suka menganggu. Namun, hubungan mereka kembali terjalin ketika sahabat Jihan berpacaran dengan teman satu geng Kancil di Secure Circle. Hubungan mereka semakin dekat dan akhirnya berpacaran, Jihan pun bisa dekat dengan teman-teman Kancil. Tentu tidak mudah menjalin hubungan dengan Kancil, mulai dari dia yang putus sekolah sehingga terpaksa berbohong pada orangtua Jihan, asal usul yang tidak jelas sampai sahabat Kancil yang menyukai Jihan sehingga sempat saling bersitegang.

Puncak dari hubungan mereka adalah ketika Jihan mulai menjadi bukan dirinya sendiri, menjadi seseorang yang egois dan membangkang. Kancil harus menentukan pilihan, yang terbaik bagi Jihan maupun untuk hubungan mereka ke depannya.
"Selain mencintai, nantinya kamu juga harus siap dicintai. Dicintai itu lebih berat. Tanggung jawabnya hebat. Urusannya sama hati manusia yang lain. Ngeri kalau kamu mencintai orang, orangnya balas mencintai kamu."
"Kenapa ngeri, bukannya bagus?" komentar Yolen bingung.
"Kalau ada yang kelepasan berkhianat, bisa dua hati yang hancur. Yang satu hancur sama kekecewaan, yang satu hancur sama penyesalan."
"Kata orang, jatuh cinta itu mudah. Yang sulit adalah mempertahankannya. Yang susah adalah menjaganya." 
"Kuncinya itu terbiasa ya, Pak?" Jigan bertanya. "Apapun kalau terbiasa jadi kuat, ya?"
"Iya," sahut Bapak. "Jangan liat yang berlawanan arah sama kita, sakit. Fokus aja ke depan." 
Walau saya nggak selesai membaca Dilan, hanya bermodal membaca review dan spoiler, saya bisa merasakan kalau Pelanduk ini memiliki vibe yang sama dengan Dilan, minus gombalannya yang lebay. Ada bagian di mana Kancil menggoda Jihan, tapi masih dalam tahap yang wajar, tidak ada kata-kata aneh. Tidak hanya dari segi mengangkat kisah cinta anak geng motor yang tinggal di Bandung, tapi ketika kalian membaca sampai akhir maka akan tahu apa yang saya maksud, saya tidak terlalu suka dengan endingnya.

Sedikit kekurangan lainnya, saya kurang sreg dengan identitas Jihan yang masih SMP, saya lebih suka kalau timeline cerita ini antara masa SMA sampai kuliah, karena lebih sesuai dengan konflik yang ada. Melibatkan geng motor bagi saya terlalu dewasa untuk usia yang bisa juga digolongkan coming of age, usia di mana kisah pengembangan diri atau pencarian jati diri dan persahabatan yang biasanya lebih ditonjolkan.

Untuk urusan persahabatan, buku ini juga menyajikan, bahkan salah satu yang paling saya sukai. Saya suka banget dengan geng Secure Circle, royalitas mereka nggak perlu disangsikan lagi. Karakter yang dibikin penulis juga tercetak jelas, di bagian ini selain mendapatkan kekompakan kalian juga akan mendapatkan adegan humoris.

Untuk ukuran buku debut, walau belum sempurna, tulisan Andra Adella cukup enak dan menghibur. Ceritanya cukup runtut dan karakternya dapat sekali. Semoga lain kali semakin bagus lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...