Kamis, 12 Desember 2019

Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982 by Cho Nam-Joo | Book & Movie Review

Judul buku: Kim Ji-Yeong, Lahir Tahun 1982
Penulis: Cho Nam-joo
Alih bahasa: Iingliana
Editor: Juliana Tan
Ilustrator: Bella Ansori
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9786020636207
Cetakan pertama, 18 November 2019
192 halaman
Baca di Gramedia Digital
Kim Ji-yeong adalah anak perempuan yang terlahir dalam keluarga yang mengharapkan anak laki-laki, yang menjadi bulan-bulanan para guru pria di sekolah, dan yang disalahkan ayahnya ketika ia diganggu anak laki-laki dalam perjalanan pulang dari sekolah di malam hari.

Kim Ji-yeong adalah mahasiswi yang tidak pernah direkomendasikan dosen untuk pekerjaan magang di perusahaan ternama, karyawan teladan yang tidak pernah mendapat promosi, dan istri yang melepaskan karier serta kebebasannya demi mengasuh anak.

Kim Ji-yeong mulai bertingkah aneh.

Kim Ji-yeong mulai mengalami depresi.

Kim Ji-yeong adalah sosok manusia yang memiliki jati dirinya sendiri.

Namun, Kim Ji-yeong adalah bagian dari semua perempuan di dunia.

Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982 adalah novel sensasional dari Korea Selatan yang ramai dibicarakan di seluruh dunia. Kisah kehidupan seorang wanita muda yang terlahir di akhir abad ke-20 ini membangkitkan pertanyaan-pertanyaan tentang praktik misoginis dan penindasan institusional yang relevan bagi kita semua.
"Sungguh. Ketika Ibu masih dudukm di bangku SD, di antara kami lima bersaudara, Ibu yang paling pintar."
"Kalau begtitu, kenapa Ibu tidak menjadi guru?"
"Karena Ibu harus bekerja untuk menyekolahkan paman-pamanmu. Itulah yang dilakukan semua orang. Pada masa itu, para wanita hidup seperti itu."
"Kalau begitu, Ibu bisa menjadi guru sekarang."
"Sekarang Ibu harus mencari uang untuk menyekolahkan kalian. Itulah yang dilakukan semua orang. Pada masa sekarang, itulah yang dilakukan para ibu."

Kim Ji-Yeong, Lahir Tahun 1982 ini mengingkat saya pada salah satu drama Korea yang berjudul Romance is a Bonus Book. Di drama tersebut, sang tokoh utama dulunya seorang wanita karier yang cukup sukses di bidang advertising, lulusan universitas ternama bahkan pernah mendapatkan penghargaan di bidang yang digelutinya. Namun, dia terpaksa berhenti bekerja karena harus mengasuh anak. 

Kesialannya tidak berhenti sampai di situ, suaminya bangkrut dan akhirnya selingkuh, perceraian terjadi. Si wanita harus memulai dari awal lagi ketika memasuki usia tiga puluhan akhir, setelah sepuluh tahunan hanya menjadi ibu rumah tangga. Dan hal tersebut tidak mudah sama sekali. Tidak ada perusahaan yang mau menerimanya karena terlalu lama menganggur, sainggannya juga bejibun, dia hanya bisa mendapatkan pekerjaan part time bahkan sampai cleaning servis. Untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak, dia mendaftar hanya sebagai lulusan SMA.

Kim Ji-yeong ternyata lebih 'sial' lagi, ketidakadilan yang diterimanya bahkan sejak dirinya kecil, mulai dari keluarga, sekolah, sampai pekerjaan. Semua masih memegang teguh budaya patriarki, kaum laki-laki masih menjadi pemegang kekuasaan di berbagai elemen sosial. Dan lewat buku ini kita akan dipaparkan contoh-contoh nyata ketidakadilan yang diterima oleh para wanita, di era manapun, dari dulu sampai sekarang.

Dimulai dari ibunya Ji-yeong, dia harus selalu mengalah terhadap saudara laki-lakinya, mengalah untuk mendapatkan pendidikan, mengalah untuk mengubur impian. Ketika dia memiliki dua anak gadis, suami dan ibu mertuanya berkata anak selanjutnya pasti laki-laki, tapi nyatanya tidak sesuai harapan. Ibu Ji-yeong dengan sakit hati menggugurkan janinnya, baru setelahnya dia mendapatkan anak laki-laki. Anak laki-laki dan bungsu, menjadi kesayangan nenek dan ayah mereka, dia tidak pernah melakukan pekerjaan rumah, selalu Ji-yeong dan kakaknya yang melakukan segala hal.
Jeong Dae-hyeon mendengarkan kata-kata istrinya dengan tenang, dan mengangguk-ngangguk di saat yang tepat. "Tapi, Ji-Yeong, sebaiknya kita tidak berpikir apa yang akan hilang dari kita. Coba pikirkan apa yang akan kita peroleh. Menjadi orangtua adalah sesuatu yang sangat berarti. Dan apabila tidak ada yang bisa menjaga anak, kau tidak perlu merasa khawatir apabila kau harus berhenti bekerja. Aku bisa menafkahi kalian. Aku tidak mengharuskanmu terus bekerja."
"Kalau begitu, apa yang hilang darimu?"
"Hm?"
"Kau berkata kita sebaiknya tidak memikirkan apa yang hilang dari kita. Aku mungkin akan kehilangan masa muda, kesehatan, pekerjaan, rekan-rekan kerja, teman-teman, rencana hidup, dan masa depanku. Karena itu aku selalu memikirkan apa yang akan hilang dariku. Tetapi apa yang akan hilang darimu?
Kim Eun-yeong, si sulung, sebenarnya lebih vocal, lebih berani, tapi tetap saja kalah dengan budaya yang masih mengakar kuat kala itu. Misalkan saja ketika dia harus menerima sekolah keguruan karena keluarga mereka sedang mengalami krisis ekonomi, tidak banyak pilihan. Kim Ji-yeong lebih beruntung, ibu mereka tahu impian para anak-anaknya, dari lubuk hatinya yang terdalam dia ingin anak perempuannya bisa mencapai impian, mendapatkan apa yang anak laki-lakinya dapatkan, tidak ingin mengulangi kesalahan. Dengan segala usaha, dia meyakinkan Ji-yeong untuk kuliah di jurusan yang diinginkanya.

Selain di lingkungan keluarga, ketidakadilan dirasakan Ji-Yeong di sekolah dan lingkungan kerja. Pernah suatu hari Ji-yeong pulang dari kursus, dia mendapatkan pelecehan seksual dari teman satu kursus tapi Ji-yeong tidak mengenalnya, untung saat itu dia ditolong oleh seorang wanita. Ketika ayahnya menjemput, Ji-yeong malah disalahkan. Kenapa mengambil kursus yang jauh, kenapa rok yang dipakai terlalu pendek. Di tempat kerja, sangat jarang seorang wanita menempati posisi sebagai atasan, seorang wanita tidak akan diletakkan di posisi jangka panjang, karena ada cuti melahirkan, akan menganggu pekerjaan. Ketika sudah menikah dan memiliki anak, mereka dianggap tidak fokus lagi dalam pekerjaan.

Itulah sepenggal kisah Kim Ji-yeong, kisah yang tidak hanya dialami dirinya sendiri, tapi juga dialami wanita kebanyakan di luar sana, bahkan bisa saja kamu, juga punya kisah yang sama. Pengalamannya sejak kecil sampai dia menikah dan melahirkan, seakan meledak, akumulasi dari berbagai emosi yang tak terbendung lagi. Ji-yeong kerap kali diam ketika mengalami ketidakadilan di sekitarnya karena dia tahu suaranya tidak akan pernah dianggap penting. Suaminya pernah berkata kalau kadang Kim Ji-yeong tidak seperti dirinya. Kim Ji-yeong kehilangan eksistensi diri, dia merasa seperti cangkang yang kosong.

Buku Kim Ji-Yeong, Lahir Tahun 1982 sempat menjadi kontroversi di Korea Selatan karena isu feminisme yang diusung, di sana kesetaraan gender masih dianggap tabu.




Kim Ji-Yeong, Born 1982 | 2019
Sutradara: Kim Do Young
Penulis naskah: Yoo Young Ah
Pemain: Jung Yoo Mi, Gong Yoo, Kim Mi Kyung
Durasi: 118 min.

Based on Cho Nam-Joo's book, Kim Ji-Yeong Born 1982 (2016)

Saya nggak akan mengulang lagi ceritanya, karena hampir sebagain besar sama, tidak banyak perbedaan antara versi buku dan film, keduanya saling melengkapi. Kalau versi buku menurut saya lebih dark, terlalu banyak contoh nyata ketidakadilan yang dialami perempuan dari masa ke masa. Sedangkan versi film bagi saya cukup membahagiakan dan lebih tuntas, berbeda dengan versi buku yang lebih bersifat open ending.

Kalau versi buku diceritakan secara runtut, dari Ji Young kecil sampai menikah, di versi film sebaliknya, mengusung konsep flashback di setiap elemen. Selain berpengaruh ke durasi pastinya, teknik ini justru membuat saya lebih nyaman. Misalkan ketika mantan rekan kerja bercerita kalau di toilet perempuan ada kamera tersembunyi, ingatan Ji Yeong kembali ke masa di mana dia pernah mendapatkan perlakuan tidak senonoh  di bus.

Jangan ragukan lagi akting Jung Yoo-mi, pandangan kosong dan rasa lelahnya sangat tercermin di raut mukanya. Bagaimana dia lelah menjadi 'hanya' seorang ibu rumah tangga, seseorang yang kehilangan jati dirinya, saat dia menjadi orang lain.

Gong Yoo bukan hanya sekadar pemanis, selain menjadi anak yang patuh terhadap ibunya, dia sangat memahami istrinya, setidaknya selalu mencoba mengerti. Dia sadar kalau istrinya tidak baik-baik saja, dia tidak keberatan mencari pengobatan untuk istrinya. Mencari penyembuhan akan depresi yang dialami istrinya.

Kisah Kim Ji-Yeong ini sangat penting untuk diketahui, entah kalian membaca atau hanya menonton filmnya, sama saja. Cerita Kim Ji-Yeong sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, kita kerap juga mengalami ketidakadilan dalam perbedaan gender. Bahwa perempuan berhak bersuara, berhak menjadi apa pun yang diinginkan, berhak menggapai impian dan meraih kebahagiaan. Berhak menjadi dirinya sendiri.

3 komentar:

  1. Sudah baca bukunya dan lumayan terenyuh dengan nasib perempuan di Korea sana. Nggak enak banget tampaknya dibeda-bedakan di keluarga, di kantor, bahkan di lingkungan sosial. Lumayan menyentuh membaca cerita Kim Ji-Yeong ini.

    BalasHapus
  2. Salam kunjungan dan follow disini ya. salam kenal juga dari Malaysia :)

    BalasHapus
  3. Aku sudah nonton filmnya dan memang filmnya bagus dan banyak pesan untuk para penonton. Aku belum baca bukunya dan pengen baca bukunya juga.

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...