Sabtu, 19 Oktober 2019

#UnpopularOpinion Semua Orang Memuja, Aku Mencerca


Hai hallo good readers! Akhirnya bisa nulis Unpopular Opinion yang sudah saya list begitu lama, yang lama ngupulinnya biar bisa lebih dari lima, hahaha. Mungkin kalian sudah banyak yang tahu, kalau selera membaca saya ini pasaran banget, suka banget baca novel populer, novel yang disuka banyak orang. Bahkan kadang banyak novel yang dicerca tapi saya sangat menyukainya. Contohnya seperti Twilight, novel-novelnya Ika Natassa, terus apa lagi ya? Ada yang bisa nambahin? Hihihihi.

Saya mah woles saja, terserah orang mau berpendapat apa. Kalau buku yang kita baca bisa membuat kita bahagia kenapa diributkan? Nah, karena selera saya mainstream banget, muncul lah keanehan, di saat banyak orang yang suka, saya malah kebalikannya! Keadaan ini sama seperti ketika saya nonton film 500 Days of Summer, di saat orang memuja-muja film tersebut, saya merasa MEH. Alasan di sini subjektif banget, sangat tergantung selera. Rata-rata yang bikin saya nggak cocok, saya merasa bosan sekali ketika membaca, bingung, selalu ketiduran dan nggak mudeng. Nah, apa saja #UnpopularOpinion Semua Orang Memuja, Aku Mencerca versi Kubikel Romance? Simak list di bawah ini.

Bartimaeus Trilogi by Jonathan Stround


Saya sempat merampungkan buku pertama, dan mau tahu perjuangan dalam hal tersebut? SETIAP membaca saya SELALU ketiduran, yap, selalu, nggak pernah nggak. Saya sampai heran sekali, karena baru kali ini saya membaca buku sampai segitunya. Saya setuju sama teman-teman kalau Barti itu lucu dan sarkas, tapi etah kenapa saya kurang bisa menikmati ceritanya. Jadi yah, cukup buku pertama saja sebagai pengalaman.

A Court of Thorns and Roses series by Sarah J Maas


Buku ini sangat saya nanti-nantikan untuk diterjemahkan karena hype-nya sangat tinggi, banyak sekali blogger luar yang sangat menyukai karya Sarah J Maas, pun pembaca dalam negeri. Nah, begitu saya membaca saya merasa ekpektasinya ketinggian, ceritanya nggak sedasyat yang saya harapkan, bahkan untuk menyelesaikan buku pertama saya butuh waktu yang lama. Ceritanya nggak buruk-buruk amat sebenarnya, tapi saya kurang bisa mendapatkan feel-nya, entah karena terjemahan atau memang gaya berceritanya seperti itu.

Retelling yang dipadukan dengan sentuhan new adult, ini yang bikin saya bertahan membaca. Coba kalau nggak ada sentuhan dewasanya, mungkin sudah menyerah dari awal, hahaha. Namun, saya masih ngasih kesempatan, kok. Saya sudah punya buku keduanya lewat GD, cuma belum mood saja untuk melanjutkan, semoga saja semakin ke belakang tulisan Sarah J Maas bisa saya nikmati.

The Alchemist by Paulo Coelho

Yap, buku favorit sejuta umat. Saya nggak bisa bercerita banyak kenapa saya nggak menyukai buku ini. Satu alasan saja, sepanjang membaca saya nggak mudeng, udah itu saja, hahaha.

Drunken Molen by Pidi Baiq

Dalam kasus ini lebih ke gaya menulis punulisnya kali ya, karena Drunken Molen mungkin nggak setenar Dilan, jadi nggak banyak yang membaca. Namun, gara-gara saya trauma baca ini saya nggak minat baca Dilan dan karya Pidi Baiq yang lain, sempat sih saya ngelirik bab awal Dilan karena penasaran banget tapi nggak saya lanjutkan. Saya ngerasa nggak cocok saja gaya tulisannya. Buku ini bergenre komedi, tapi sepanjang membaca saya nggak bisa ketawa dan bingung, entah kenapa sulit dimengerti. Jadi yah, bukan cangkir kopi saya.

Malory Towers series by Enid Blyton

Jangan laknat saya karena saya nggak menyukai buku anak-anak karya penulis favorit mungkin hampir semua pembaca ini, jangannnnn, hahahaha. Jujur saja, saya sangat jarang sekali membaca buku anak, bukan genre favorit saya, tapi ada kalanya saya perluasan genre, menjelajah genre, sampailah ke genre ini. Saya sempat pinjam satu set series ini, sampai selesai terus ke buku Enid yang lain, yang si kembar itu, tapi nggak bisa saya lanjutkan. Entah ya, untuk buku anak karya Enid ini bagi saya terlalu kasar, khusus buku anak saya lebih suka membaca cerita yang mengeksplore kepolosan mereka, mengajarkan kebaikan, karena sekalian edukasi juga. Dan saya merasa Enid Blyton banyak mengankat unsur pembullyan dan kata-kata kasar, yang menurut saya lebih cocok masuk ke genre YA.

Ada juga kok buku anak favorit saya sepanjang masa, Dunia Adin karya Sundea, buku anak dalam negeri yang saya harapkan ya seharusnya buku anak seperti ini, bisa digunakan untuk pengantar tidur. Saya berharap banget Sundea menulis cerita semacam ini lagi, karena bagus banget, huhuhu. Mungkin karena perbedaan budaya juga ya saya kurang sreg dengan karya Enid Blyton, tapi ada juga karya luar yang saya suka seperti Alice-Miranda at School karya Jacqueline Harvey dan Diary of Wimpy Kid karya Jeff Kinney

5 cm by Donny Dhirgantoro

Waktu itu saya baca review di goodreads kebanyakan menyukai buku ini bahkan akan difilmkan, saya seperti orang aneh karena masuk dalam sedikit pembaca yang tidak menyukai. Saya membaca sampai selesai, tapi seusai membaca saya hanya bisa bilang, seperti ini aja nih? Lebih ke kecewa dengan jalan ceritanya, padahal saya cukup suka dengan ide ceritanya. Saya justrus lebih bisa menikmati versi filmnya, yah lumayanlah.

Artemis Fowl by Eoin Colfer


Saya ingat banget jaman-jaman saya mulai kenal dengan series ini, waktu saya lagi suka dengan fantasy pertama kali, setelah era Twilight, Hush Hush. Saya sempat pinjam series ini lewat teman kakak, tapi saya nggak selesai membaca. Entah kenapa saya bingung, saya nggak mengerti dengan ceritanya, jadi yaudah deh. Mungkin saya nantinya lebih cook dengan filmnya, mau diadaptasi juga kan ya, biasanya kalau saya nggak cocok baca bukunya, saya malah lebih suka versi filmnya, semoga saja. Saya jadi keingat dulu punya teman dunia maya yang suka banget dengan series ini sampai nama akunnya @artemisjunior, sekarang kemana ya? Kalau kamu baca ini, salam hai dari saya :)

How to Train Your Dragon by Cressida Cowell

Salah satu bukti saya jauh lebih suka versi film ketika saya nggak bisa menyelesaikan versi buku. Versi film jauh jauh jauh lebih menyenangkan daripada versi buku. Versi buku lebih ke buku anak-anak banget tapi gimana ya, ya nggak enak dibaca, saya juga lupa detailnya karena nggak selesai baca, alhasil semua series yang saya punya saya jual. Katanya dari segi cerita versi film dan buku juga ada perbedaan, yang jelas saya lebih bisa menikmati versi film.

Extremely Loud and Incredibly Close by Jonathan Safran Foer


Buku yang bikin saya mumet, emang ditulis dengan unik, tipografi-nya kalau nggak salah ada yang muter-muter, bikin saya tambah muter. Say goodbye aja. Intinya selain bentuk tipografinya yang nggak biasa, cara berceritanya bagi saya susah dimengerti, jadi saya nggak sanggup menyelesaikan. Mungkin saya bisa lebih mengerti kalau nonton filmnya, yah kapan-kapan, deh, belum minat lagi.

Yap, itulah buku-buku yang masuk Unpopular Opinion Semua Orang Memuja, Aku Mencerca, niatnya mau saya genapin sepuluh tapi nggak bisa menemukan, hahaha, sepasaran itulah selera saya. Kalau buku yang belum pernah dibaca tapi nggak minat dibaca, banyak. Seperti series Supernova-nya Dee, entah kenapa saya sama sekali nggak tertarik untuk membaca, saya lebih suka tulisan Dee yang berbau romance atau kumpulan cerpen. 

Ada juga saya pernah mau dikasih gratis tapi saya menolak karena sudah ilfeel sama penulisnya, bukunya termasuk best seller bahkan sudah difilmkan juga. Bukannya kenapa-kenapa, saya pernah bertemu langsung dan saya bisa menilai dia secara sekilas, sepertinya saya nggak akan cocok dengan bukunya. Ada satu lagi, gara-gara isi tweetnya alay, penulis best seller juga untuk kalangan anak muda, ada yang sempat pengin saya baca tapi lama kelamaan jadi nggak minat. Lucunya, dua penulis ini malah kesandung kasus viral dalam hal negatif. Jadi kayak, ada yang membebarkan kenapa saya nggak pernah mau baca karya mereka.

Jadi intinya, buku best seller dan banyak dibicarakan orang belum tentu cocok dengan kita, pun sebaliknya, buku underated yang nggak banyak orang tahu atau suka bisa jadi menjadi favorit kita sepanjang masa. Setiap buku punya hati di masing-masing pembacanya, punya makna berbeda, jadi tidak bisa disamakan. Bacalah yang menurut kamu memang ingin kamu baca, persetan dengan omongan orang lain :)

Nah, kalau kalian, ada nggak sih yang mengalami hal yang sama, buku yang disuka dan dibicarakan banyak orang tapi kalian berbeda pendapat? Yuk share di kolom komentar di bawah, kepo juga, nih buku apa :)

2 komentar:

  1. Aku baca Amulet of samarkand juga entah kenapa ga beres2 😅 padahal bisa dibilang aku pencinta cerita fantasi. Buku Stroud yg Lockwood & Co juga aku suka banget. Hahaha.. emank tiap buku daya tariknya beda2 yah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, aku juga heran karena fantasi juga salah satu genre favorit aku. Aku udah punya yang Lockwood & Co ini, tapi belum aku baca, takut trauma lagi, hahahaha, selain itu lagi nggak mood juga sih, biar nanti deh kalau udah kepengen baca :)

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...