Selasa, 22 Oktober 2019

All is Fair in Love and Game by Adhita Purwitasari | Book Review

Judul buku: All is Fair in Love and Game
Penulis: Adhita Purwitasari
Editor: M. L. Anindya Larasati
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
ISBN: 9786230006
Cetakan pertama, September 2019
260 halaman
Buntelan dari @adhitaprwtsr
Anita selalu menghindari Rimba, bosnya di Chronus Studio. Ia curiga dirinya diterima bekerja di sana karena ibunya dan ibu Rimba adalah teman masa kecil ... dan keduanya berniat menjodohkan mereka. Anita berusaha untuk membuktikan bahwa dirinya memang kompeten di bidangnya, dan layak untuk diterima di Chronus. Rimba yang tertarik dengan Anita merasa kesulitan untuk mendekati karena perempuan itu selalu bersikap dingin. Ketegangan di antara keduanya mencair seiring berjalannya waktu karena proyek gim baru yang dikerjakan Anita. Semuanya mulai berantakan ketika sepucuk surat dari KPK datang ke meja Rimba atas sebuah kasus korupsi yang melibatkan Chronus di dalamnya.

Ibu Anita mulai memikirkan ulang perjodohan keduanya. Akankah Anita menuruti ibunya, atau mulai mendengarkan kata hatinya?
Anita merasakan keanehan ketika melakukan wawancara dengan Rimba, CEO Chronus Studio, sebuah perusahaan gim yang menjadi tempat impiannya bekerja, yang mengarah ke hal pribadi. Di akhir sesi Rimba mengatakan kalau memang selain wawancara kerja, juga wawancara perjodohan. Orangtua mereka telah bersekongkol menjodohkan Anita dan Rimba. Langsung saja Rimba menerima pukulan telak dari Anita.

Anita tidak suka dipaksa, dia tidak terlalu mempermasalahkan dirinya yang tidak kunjung menikah ketika usianya sudah 30 tahun. Dia merasa telah dipermainkan, sehingga ketika Rimba datang langsung ke kantornya kalau dia diterima kerja, dia merasa ada udang di balik batu. Padahal Rimba serius dengan tawarannya, hanya kebetulan saja kalau mereka dijodohkan. Rimba tentu tidak sembarangan merekrut pegawai, dengan kemampuan yang dimiliki Anita sebagai game designer, Rimba yakin dia bisa memajukan Chronus Studio.

Karena sangat ingin bekerja di Chronus, Anita akhirnya menerima tawaran Rimba, tapi dia sangat menjaga jarak dengannya, dimulai dengan panggilan Pak dan selalu sinis padanya. Rimba justru semakin tertarik pada Anita karena kemandiriannya, pada kemampuannya, dia pelan-pelan mencoba mengambil hati. Ketika Anita mulai yakin Rimba benar-benar menyukainya dan perasaannya mulai berubah, Rimba malah tersandung kasus korupsi. Tidak hanya itu kehadiran teman lamanya dan ibunya yang justru berbalik tidak antusias dengan perjodohan karena masalah tersebut membuat Anita meragu akan perasaanya.
"Setia itu soal komitmen, bukan soal karakter."
"Orang akan memilih yang bikin dia nyaman, yang cocok, atau sesuai kriteria, yang kita enggak bakal paham kenapa orang itu nyari yang seperti itu. Semakin memilih kualitas, semakin hati-hati juga apa uang yang kita keluarkan sebanding dengan barang yang kita dapat. Sama aja kayak semakin kita memilih kualitas pasangan, semakin hati-hati apakah waktu yang kita habiskan bakal sebanding. Semua orang enggak mau rugi, apalagi rugi milih pasangan."
"Jangan nunggu laki-laki yang mapan, Anita. Jadilah mapan, maka yang datang nantinya adalah laki-laki yang sepadan."
Hal pertama yang membuat saya tertarik membaca novel ini adalah covernya, cantik banget, selanjutnya dari sinopsis ceritanya pun cukup menarik, tipikal office romance tapi dengan bumbu politik. Terlebih dunia kerjanya membahas tentang gim, sesuatu yang jarang dilirik penulis lain. Walau dunia politik dan gim tidak terlalu detail, setidaknya memberi gambaran seperti apa bila kita bekerja di sana.

Tulisannya cukup nyaman diikuti, ada sisipan percakapan dengan bahasa Inggris, yang bagi saya nggak menggangu. Untuk segi konflik bisa dengan mudah ditebak, karakternya cukup menyenangkan, saya suka Rimba, tipe bos yang nggak memaksa, humble. Sedangkan Anita cukup keras kepala dan bisa dibilang feminis juga, dia mandiri dan tidak suka bergantung pada orang lain.

Bukunya bagi saya tergolong tipis, coba kalau informasi tentang dunia gim diperluas lagi dan interaksi antara Rimba dan Anita diperbanyak, hubungan mereka lebih diperdalam lagi akan semakin menarik, saya merasa terlalu kecepetan saja. Ketika Anita sudah mulai membuka hati, masalah langsung datang, membuat interaksi dirinya dengan Rimba menjadi sedikit.

Secara keseluruhan, buku ini bisa menjadi pilihan kalau kalian ingin membaca dengan tema perjodohan tapi minim campur tangan orangtua, Rimba yakin akan kata hatinya, jadi dia memilih melakukan dengan caranya sendiri, sweet dan dewasa banget, kan :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...