Jumat, 23 Agustus 2019

Mencari Simetri by Annisa Ihsani | Book Review

Judul buku: Mencari Simetri
Penulis: Annisa Ihsani
Penyunting: Mery Riansyah
Desain sampul: Sukutangan
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9786020629360
Cetakan pertama, 19 Agustus 2019
240 halaman
Buntelan dari @dprihas
Menjelang usia kepala tiga, April merasa gamang dan kehilangan arah. Ia memiliki karier yang nyaman, tapi tidak bisa dibanggakan. Punya banyak teman, tapi mereka sibuk dengan keluarga masing-masing. Dekat dengan Armin, tapi tak pernah ada kejelasan. Belum lagi menghadapi keanehan Papa yang terus menerus melupakan hal sepele.

Enam tahun April terjebak dalam hubungan yang rumit dengan Armin. Entah salah satu dari mereka punya pacar, atau memang sudah terlalu nyaman berteman. April tetap tak mampu melepaskan Armin sebagai sosok pria ideal.

Saat menemani Papa melalui serangkaian tes medis, Lukman hadir. Pria itu menawarkan kehidupan yang mapan dan hubungan serius.

April berusaha mencari cara untuk menyeimbangkan hidupnya kembali. Dan cara untuk menemukan simetri hatinya. Memilih hidup bersama Lukman, atau menunggu Armin entah sampai kapan.

April, seorang wanita yang berusia 29 tahun, memiliki pekerjaan yang nyaman dan selama bertahun-tahun memendam perasaan pada rekan kerjanya, Armin. Hubungan mereka rumit, April selalu mengharapkan Armin, ketika dia ingin move on, Armin akan selalu punya cara untuk merebut perhatiannya kembali.

Tidak hanya lelah dengan hatinya, April juga lelah menghadapi ayahnya yang semakin lama semakin aneh. Tidak ada yang mengganggap penting ketika ayahnya mulai melupakan hal-hal kecil, seperti kata yang sulit terucap, mematikan microwave, dsb. Ibunya sibuk mengurus nenek di Semarang, sedangkan kakaknya sibuk dengan dirinya sendiri. Belum sahabatnya mulai menjauh karena memiliki kesibukan sendiri, menemukan teman lain yang sesuai dengan kehidupannya kini.

Sedikit harapan ketika Lukman hadir di tengah hidup April yang tanpa arah, mantan rekan kerjanya tersebut tidak pantang menyerah mendekati dirinya. Apakah kehadirannya akan mengusir lelah baik hati maupun beban emosi dalam dirinya? Apakah hidupnya akan bisa simetris dengan berbagai masalah bergeronjal yang menghampirinya?
"Kenapa aku harus puas dengan yang cukup baik kalau aku bisa mendapatkan yang terbaik?"
"Kenapa kau harus repot-repot mencari yang terbaik kalau bisa menemukan yang cukup baik?" balasku.
Banyak yang menantikan atau lebih tepatnya penasaran seperti apa tulisan Annisa Ihsani di lini Metropop, karena bagi kalian yang sudah membaca buku-buku dia sebelumnya dan sangat menyukainya, dia lebih familier dengan genre middle-grade dan YA rasa terjemahan. Beberapa ciri khas yang penulis miliki dan tercetak jelas di karya dia sebelumnya, dia selalu menghadirkan karakter yang cerdas tapi sinis, karakter yang isi kepalanya seperti kembang api, meledak-ledak dan penuh warna. Setting tempat antah berantah yang penulis ciptakan sendiri dan narasi yang baku. Bahkan ada yang bilang tulisannya diibaratkan John Green versi perempuan, saya pun menyetujuinya.

Lalu bagaimana tulisannya di Metropop? Ada bagian yang penulis coba sesuaikan tanpa menghilangkan ciri khasnya. Sesuai label, settingnya di kota Metropolitan, kali ini tidak ada latar imajiner. Konfliknya tidak jauh dari kehidupan sehari-hari kaum urban; tentang pekerjaan, romansa, pertemanan dan keluarga, semua ada. Karakter dan konfliknya sangat realistis, khususnya April, dia adalah cerminan kita semua perempuan yang mengalami quarter-life crisis atau third-life crisis. Sedangkan yang menjadi ciri khasnya terletak pada sosok Armin, dia karakter yang isi kepalanya tak tertebak, nyeleneh. Dan yang selalu konsisten penulis lakukan, gaya bahasanya yang baku.

Yang sangat saya suka dari buku ini adalah semua konfliknya juga pernah saya alami, atau bahkan sebagian besar para perempuan di luar sana, apa yang Annisa Ihsani suguhkan sangat realistis, sangat erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari kita. Mulai dari pekerjaan, tanpa pencapaian bermakna, tidak pernah menorehkan prestasi, sudah terlalu nyaman dengan apa yang ada, tidak pernah membuat orangtua bangga. Selalu dibandingkan dengan saudara yang lebih sukses, pekerjaan kita dipandang sebelah mata, pekerjaan yang kurang bisa dibanggakan.

Untuk bagian romansanya, pasti kita juga pernah merasakan sulitnya menemukan orang yang kita sukai balik menyukai kita, atau parahnya naksir cowok yang bahkan tidak pernah menyadari keberadaan kita. Tidak kunjung menikah padahal memasuki usia yang katanya terbilang sudah telat. Lalu memiliki banyak teman tapi ketika mereka sudah berkeluarga dan memiliki anak, kita menjadi orang asing. Dekat tapi terasa jauh, kita tidak tahu dan merasakan apa yang mereka alami, kemudian mereka memiliki teman lain dengan kondisi yang sama, membuat kita merasa dikucilkan, dilupakan.
"April, kau tidak bisa mengharapkan ada koneksi instan. Perlu banyak kerja keras dan waktu untuk membentuk hubungan."
"Cinta bisa datang dan pergi," kata Mama praktis. "Komitmenlah yang membuatmu tetap bertahan saat kau bangun pada pagi hari dan tidak lagi kasmaran dengan orang yang tidur di sebelahmu."
Memiliki anak adalah komitmen yang sangat permanen. Zaman sekarang kau bisa mengubah apa saja dalam hidupmu. Tidak suka pekerjaanmu? Berhenti, cari yang baru. Tidak suka pasanganmu? Kau bisa bercerai. Tidak suka rambutmu? Potong, luruskan, warnai biru. Namun, jika kau tidak suka menjadi orangtua, tidak ada jalan mundur. Kau tidak bisa begitu saja meninggalkan mereka. Tidak tanpa meninggalkan luka emosional. 
Namun, dalam hati aku menyadari, entah umurmu 14 atau 29, cinta yang tak berbalas tetap sama menyakitkannya.
Kemudian beban menjadi seorang anak ketika memiliki orangtua yang tidak bisa mengurus dirinya sendiri. Bagian ini kerap sekali saya temui di pekerjaan, ketika orangtua jauh dari anak dan ketika mereka sakit, muncul lah siapa yang nantinya harus merawat, sang anak sudah memiliki kehidupan sendiri kemudian sulit mengatur waktu dan terjadilah sedikit perpecahan. Orangtua tidak ingin tinggal dengan anak karena tidak ingin menjadi beban, tapi ketika mereka tidak berdaya bukannya kewajiban kita untuk kembali mengurusnya?

Hal-hal seperti inilah yang diangkat penulis, sesuatu yang sangat dekat dengan keseharian kita, bahwa kita akan dengan mudah merasakan apa yang dirasakan April, seperti becermin. Kadang kita akan merasa kesal pada April yang terlalu mengeluh pada hidupnya, yang tidak berhenti berharap pada orang yang dicintainya. Namun, bukankah kita juga seperti itu? Manusiawi. Masih ada beberapa typo tapi tidak terlalu mengganggu. Bagian yang saya sukai adalah ketika April mengobrol dengan ayahnya, tentang April yang tidak berhutang apa pun, bagian tersebut cukup membuat semangat bahkan terharu.

Kalau ditanya apakah karya perdana Annisa Ihsani di tulisannya yang 'dewasa' ini memuaskan bagi saya, maka saya akan menjawab belum bisa dibilang puas banget. Namun, buku ini membuat saya terus berpikir seusai membaca, bahwa saya tidak sendirian. Tidak apa-apa menjadi orang yang biasa saja, tidak apa-apa kalau hidupmu tidak seimbang, mbengkong atau tak terbaca.
Ketika orang-orang menaruh ekspektasi mereka terhadapmu dan kau tidak mau memenuhinya, itu bukan masalahmu. Kau tidak bisa memenuhi ekspektasi semua orang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...