Rabu, 17 Juli 2019

Represi by Fakhrisina Amalia | Book Review

Judul buku: Represi
Penulis: Fakhrisina Amalia
Editor: Tri Saputra Sakti
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9786020611945
Cetakan pertama, 24 September 2018
264 halaman
Baca di Gramedia Digital
Awalnya hidup Anna berjalan baik-baik saja.

Meski tidak terlalu dekat dengan ayahnya, gadis itu punya seorang ibu dan para sahabat yang setia. Sejak SMA, para sahabatnya yang mendampingi Anna, memahami gadis itu melebihi dirinya sendiri.

Namun, keadaan berubah ketika Anna mulai menjauh dari para sahabatnya. Bukan hanya itu, hubungan Anna dengan ibunya pun memburuk. Anna semakin hari menjadi sosok yang semakin asing. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada Anna, hingga pada suatu hari, dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang ternyata penuh luka.

Mulanya, Anna memiliki kehidupan yang normal. Dia memiliki sahabat yang setia sejak SMA, ibu yang selalu ada bila dibutuhkan dan ayah yang walau sibuk, tetap meluangkan waktu untuk pulang. Ketika Anna ditemukan tidak sadar diri karena mencoba bunuh diri, tentu menjadi tanda tanya besar, apa yang sebenarnya terjadi? Sehari-hari Anna terlihat biasa saja, hidupnya baik-baik saja.

Apa yang tampak di permukaan, berbeda dengan kenyataan. Ibunya tidak pernah tahu kalau Anna sudah jarang berhubungan dengan sahabatnya. Anna mulai menjauh dari sahabatnya, memberi jarak, dia tidak lagi menjadi dirinya, merelakan hal-hal yang sebenarnya membuatnya bahagia. Anna berubah menjadi sosok yang asing dan penuh luka.
Bersahabat tidak berarti harus selalu bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Kadang-kadang bersahabat adalah tentang tetap saling menjaga dan mendukung ketika jauh. Bersahabat adalah tentang tetap bisa bertemu tanpa canggung dan seperti tidak pernah berjauhan. Bersahabat itu soal hati, bukan soal fisik.
"Kita semua nggak tahu rasanya jatuh cinta dan sakit sebelum mengalaminya sendiri, Anna." 
"Semua orang membuat kesalahan, dan hampir semua orang pernah membuat kesalahan besar. Kewajiban kita adalah meminta maaf. Sementara memaafkan -atau nggak- adalah hak orang yang kita lukai. Tapi merasa nggak pantas dimaafkan bahkan sebelum mencoba meminta maaf? Itu sudah bukan lagi masalah dengan orang lain."
Sejak membaca All the Bright Places yang sangat suram bahkan kadang kalau ingat sedihnya terbawa sampai sekarang, untuk sementara saya menjauh dulu dari genre mental illness, karena bacanya pun sangat melelahkan secara emosional. Sejak itu mood baca nggak jauh dari romance ringan. Dan entah nggak ada angin nggak ada hujan, saya kepingin baca buku yang sedih-sedih, di saat mood lagi jelek banget akhir-akhir ini, biar hancur sekalian deh, LOL.

Sebagai pembanding, temanya agak mirip dengan Someday, tentang toxic relationship, tentang penerimaan diri. Bedanya, Represi lebih fokus ke proses healing. Jadi memang butuh kesabaran untuk membaca buku ini, karena kita bakalan ikut kelelahan dengan masalah yang dihadapi Anna, karena prosesnya memang panjang. Namun dengan demikian, kita bisa merasakan apa yang dialami Anna, mengikuti secara perlahan lewat konsultasi yang dia jalani tentang apa yang sebenarnya terjadi, kejadian apa yang sampai membuatnya bunuh diri, apa yang menjadi ketakutannya?

Segala kejadian pasti ada sebab akibat, ada faktor pencetus, pun dengan masalah Anna. Penulis dengan sabar menceritakan latar belakang masa lalu, saat di mana Anna merasa dirinya seseorang yang tidak berharga, seseorang yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya, khususnya ayahnya yang jarang ada di rumah. Fase-fase di mana Anna harus kuat, tidak boleh menangis. Sehingga ketika ada seseorang yang mengaku mencintai dirinya, memberikan perlindungan, membuat dia merasa dibutuhkan, menjadikan dia 'buta'.

Emosinya jangan ditanya, penulis melakukan perkerjaannya dengan baik sekali. Ada saat mata saya berkaca-kaca, ada bagian yang memang sangat realistis, bagian yang dekat dengan kita. Bahwa ada kalanya kita tidak tahu jawaban atau jalan keluar akan masalah yang menimpa kita, kita takut untuk mengakui, kita takut untuk terbuka, kita takut disalahkan, takut tidak dimaafkan dan tidak diterima. Bagian Anna konseling dengan Nabila adalah saat yang paling saya tunggu, karena dari sana kita bisa belajar atau setidaknya mengetahui proses healing secara profesional. Bahwa tidak ada salahnya kita meminta pertolongan pada seseorang yang memang ahli, mengobati diri sendiri bukan sesuatu yang memalukan.

Buku ini memang tidak menyenangkan untuk dibaca, banyak bercerita tentang kesedihan, tapi penting untuk diketahui. Kita bisa belajar dari masalah yang dialami Anna, langkah apa yang harus ditempuh kalau mengalami atau melihat hal serupa, agar kita melihat dari sudut pandang yang berbeda. Bahwa apa pun yang kita alami, jangan lupa untuk menengok sekitar kita, kita tidak sendirian, selalu ada orang yang akan menerima kita apa adanya, yang akan merangkul, sesedih dan selemah apa pun akan ketakutan kita. Tidak ada salahnya menjadi lemah, tapi kita punya pilihan untuk menjadi kuat.
"Manusia akan selalu memiliki racun di dalam dirinya. Tugas kamu bukan untuk hidup bebas tanpa racun itu, tapi untuk bisa kuat menghadapi segala peristiwa beracun yang akan terus datang sehingga kamu juga bisa terus mengeluarkannya sebelum racun itu mengendap terlalu lama."
"Luka yang nggak dibagi, sampai kapan pun, nggak akan pernah bisa dimengerti."
"Kadang-kadang manusia lebih senang bersikap rapuh dan kalah berlarut-larut dari keadaan daripada berusaha mengeluarkan kekuatannya sendiri. Kita semua pernah begitu, tapi ketahuilah kita akan selalu punya pilihan untuk menemukan kekuatan kita atau bersikap seperti orang yang paling rapuh sedunia." 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...