Sabtu, 16 Februari 2019

Ve by Vinca Callista | Book Review, Blog Tour, Giveaway

Ve (Red #3)
Penulis: Vinca Callista
Penyunting: Jia Effendie, Teguh Afandi, & Yuli Pritania
Desainer Sampul: Dilidita
Penerbit: Noura
ISBN: 978-602-385-707-4
Cetakan 1, Desember 2018
240 halaman
Buntelan dari @nourapublishing
PERATURAN BAPAK

Orang tua berhak membunuhmu.

Perempuan tidak usah banyak membaca karena ilmu selain dari Bapak itu sia-sia.

Jika tidak patuh, pukuli sampai sekarat atau kubur sekalian.

Cerissa Vermilion terakhir melihat ibunya ketika mereka ke salon bersama untuk mengecat rambut, merah ombre untuk Ve, sedangkan ibunya warna ungu ombre. Kemudian mengantarkan ke perayaan satu tahun library cafe milik teman Ve, Akar. Esoknya setiba di apartemen, ayah Ve mengatakan kalau ibunya pergi dengan selingkuhannya, meninggalkan mereka berdua. Dan untuk sementara mereka akan pindah ke rumah Nenek Unung, ibu dari ayah Ve untuk menenangkan diri.

Ve masih belum bisa menerima kenyataan yang menimpa keluarganya, yang mulanya harmonis dan tidak ada masalah apapun, hubungan dengan ibunya sangat akrab, bahkan Ve belum memutuskan untuk kuliah di mana karena ibunya akan mengambil Ph.D. di London dan ingin Ve, serta ayahnya ikut pindah ke sana.

Berbagai kejanggalan mulai bermunculan ketika Ve tinggal di rumah Nenek Unung. Banyak larangan dan pemaksaan kehendak, mulai peraturan bahwa perempuan baik-baik tidak boleh melawan orang tua, tidak boleh banyak membaca, sekolah tinggi-tinggi dan lebih pintar dari laki-laki. Tidak boleh keluar rumah sampai malam, tidak boleh macam-macam seperti mewarnai rambut. Dan yang paling penting, perempuan baik-baik selalu menurut kepada Bapak. Berbagai dogma coba dijejalkan kepada Ve. Puncaknya ketika Ve harus melakukan sebuah ritual yang tak pernah dia sangka adanya. Dia benar-benar ingin ibunya kembali, hidup seperti dulu.
"Istilah 'kepinteran' itu maknanya menyempitkan. Merendahkan inteligensia manusia. Justru hakikat manusia itu terus belajar, cari tahu apa-apa saja yang terjadi di dunia ini, lalu mempelajarinya supaya mampu memahami. Pengetahuan itu nggak ada batasnya, jadi nggak perlu dibatasi dengan label apakah kita sudah 'kepinteran' atau belum. That's ridiculous!"
Budaya patriarki dan feminisme cukup kental dalam Ve, novel ke-13 Vinca Callista ini. Pemikiran primitif bahwa laki-laki lebih berkuasa dari perempuan, lebih dominan dan punya hak untuk mengontrol, harus segalanya dari perempuan tercermin dari bagian Nenek Unung, atau lebih tepatnya sosok Bapak yang membuat Nenek Unung memiliki pedoman sama dalam hidupnya, membawa aturan-aturan yang pernah dia enyam untuk diwariskan kepada Ve.

Hanya saja, Ve diajarkan oleh ibunya tentang self-empowerment, menghargai kemerdekaan seorang atas tubuhnya sendiri, menghargai setiap pilihan, seorang feminis sejati, seorang alfa female. Ve berada di tengah dua idealisme yang berbeda, satu dijejalkan kepada dirinya dan satunya yang sudah ditanamkan sejak kecil.

Selain tema yang menarik tersebut, buku ini memakai sudut pandang orang kedua, di mana cukup jarang saya temukan. Awalnya agak aneh ketika membaca karena bisa dihitung jari buku yang memakai sudut pandang seperti ini, jadi kurang familier, tapi lama kelamaan saya bisa mengikuti dan asik juga. Sayangnya, di bagian penyelesaian penulis berpindah haluan ke sudut pandang pertama dan ketiga. Memang lebih nyaman dipakai untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, rahasia yang sedari awal penulis simpan rapat-rapat, hanya saja sedikit menghilangkan keistimewaan yang sudah tercetak sejak awal, pemilihan sudut pandang orang kedua.

Saya juga suka penulis memberikan porsi untuk latar belakang masalah, sebab-akibat yang biasa muncul dalam psikologis tokohnya, salah satu hal penting menurut saya kalau berhubungan dengan domestic noir atau psychological thriller. Tentang sosok Bapak, bagaimana dia menjadikan Nenek Unung menjunjung tinggi budaya patriarki cukup tergambarkan walau tidak terlalu detail atau hanya sepintas saja.

Sedikit kekurangan, efek kejut dan misterinya tidak terlalu terasa, bikin penasarannya dapat, tapi mudah tertebak. Selain itu ada beberapa karakter dan adegan yang bagi saya kurang menyenangkan. Ritual yang dilakukan cukup aneh, ya memang di luar nalar, bisa dimaklumi, terlalu didramatisir saja. Saya nggak suka Pepep, kalau tujuannya membuat pembaca sebal, penulis berhasil. Saya berharap Eyang Erlas punya porsi yang lebih, tidak hanya sebagai pahlawan kesiangan.

Secara keselurahan, Ve cukup unik untuk genre domestic noir atau urban thriller seperti label yang tertera di cover buku. Pemilihan sudut pandang orang kedua dan mengemban kesetaraan gender untuk selalu ditegakkan adalah jualan yang menarik, terlebih tokoh utama difokuskan dari sang anak, seorang remaja melihat masalah pada orang tuanya, konflik di keluarga, sedangkan biasanya kita melihat masalah dari sang istri.


Giveaway!
Ada yang mau buku Ve gratis? Kalian bisa ikutan giveaway ini, syaratnya gampang banget, kok. Ada satu buku untuk satu pembaca Kubikel Romance yang beruntung.
Syaratnya:
1. Follow akun Twitter/Instagram @peri_hutan, @vincacallista, dan @nourapublishing.
Salah satu aja ya, tergantung kalian punyanya apa 😀.
2. Share giveaway ini di Twitter/Instagram kalian. Kalau via Twitter kalian bisa menyertakan link postingan ini dan jangan lupa mention saya. Kalau via Instagram, bisa screenshot postingan ini lalu bagikan di story, jangan lupa tag saya. Pakai hastag #VexPeriHutan ya 😉
3. Di kolom komentar di bawah, cukup tuliskan akun kalian beserta media sosial apa yang digunakan untuk menshare giveaway ini, biar memudahkan saya untuk ngecek nantinya.
Misal: @peri_hutan - Twitter atau @peri_hutan - Instagram.


Sudah itu saja, pemenang akan saya pilih secara random bagi yang memenuhi syarat. Giveaway berlangsung 5 hari saja. Pengumuman pemenang saya usahakan secepatnya. Semoga beruntung 😀


Updated
Selamat buat @fadhilah_farrah

13 komentar:

  1. kak, menurut kakak ada alasan nggak kenapa sudut pandangnya berubah dari 2nd person ke 3rd person? soalnya font nya juga beda :D
    biasanya, perbedaan font itu ada motif tertentu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tentu tahu dong, makanya aku bilang lebih nyaman karena lebih jelas dengan apa yang terjadi. Aku emang g ahli banget soal sudut pandang, ngerti dikit2 aja, hehehe. Selain pergantian dari pov 2 ke 3, ada pov 1 juga, ini bikin pembaca tahu apa yang dirasakan dengan tokoh utamanya, di mana g didapatkan lewat pov 2. Sedangkan pov 3 dipakai untuk menyaksikan semua kejadian, kebenarank eben butuh orang lain untuk bercerita karena si 'kamu' nggak ada sewaktu kejadian terjadi. Kalau aku salah, boleh kok mengoreksi atau menambahkan :)

      Yang aku maksud, aku suka pemilihan pov 2, karena jarang banget dipake di novel fiksi, berharapnya full menggunakan pov 2 sehingga ada yang benar2 spesial, sesuatu yang perlu diapresiasi juga. Tapi ya emang susah, apalagi kalo untuk thriller, yang biasanya penuh misteri dan ketegangan, makanya penulis menyisipkan pov 1 dan 3 di akhir untuk menjelaskan detail yang g bisa terwujud lewat pov 2.

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...