Senin, 21 Januari 2019

Jurnal Jo by Ken Terate | Book Review

Judul buku: Jurnal Jo (Jurnal Jo #1)
Penulis: Ken Terate
Ilustrasi sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9786020306292
Cetakan keempat, 7 Januari 2019
240 halaman
Buntelan dari @ken_terate
Peraturan jadi remaja:
1. Nggak boleh memakai celana pendek (apalagi di depan cowok).
2. Punya baju dan aksesori oke (apalagi yang bisa membedakanmu dari anak-anak SMP yang seragamnya sama membosankannya).
3. Harus memakai deodoran (meski rasanya geli).
4. Memakai pakaian dalam yang seharusnya, sesuai pertumbuhanmu (tahu kan maksudku?).
5. Harus punya geng yang keren (meski mereka sangat menjengkelkan, tahan saja, daripada dianggap kuper).
Harus punya pacar (ini syarat supaya kamu diakui sebagai remaja keren).

Ternyata susah bangeeet jadi anak remaja, sampai-sampai kadang-kadang, aku (Jo Wilisgiri, 12 tahun) berharap nggak perlu tumbuh. Aku kangen banget pada masa SD-ku. Apalagi aku mulai kehilangan sahabat baikku dan dikhianati cowok yang kukagumi. Satu kata untuk masa SMP-ku: MENGERIKAN!
Mengerikan. Itu yang dirasakan Josephine Wilisgiri ketika dia akan memasuki kehidupan SMP. Dia harus memakai rok biru yang tidak bisa mengembang ketika memutar tubuh, dia harus naik bus, harus mulai mengenal deodoran bahkan miniset! Yang lebih mengerikan lagi dan sangat menyebalkan, sahabatnya sejak kecil, Sally, memberitahu rahasia masa puber, mengubah nama agar gaul dan memiliki geng yang keren, kunci menjadi idola di sekolah. Tidak hanya itu, dia satu sekolah dengan ayahnya yang seorang guru Bahasa Jawa, akan menjadi muridnya juga. Beranjak dewasa benar-benar tidak disukai Jo.

Perkara 'sekarang bukan anak-anak lagi' tidak berhenti sampai di situ, ketika Rajiv, tetangganya yang seorang keturunan India datang untuk berkeliling mengumpulkan dana dan barang untuk acara tujuh belasan dan sumpah pemuda, karena mereka satu tim sosial di Karang Taruna, Jo tidak boleh memakai celana pendek. Kian dewasa banyak hal yang kian dilarang, demi sopan santun, demi kepantasan. Namun, ada serunya juga menjadi tim sosial, kata Rajiv, tugas ini unik karena kita bisa menilai orang dari cara mereka menyumbang.

Di sekolah, Jo mengikuti klub sastra, kegiatan ekstrakurikuler yang dia pilih karena nggak bikin capek, pertemuannya pun di perpustakaan ber-AC. Berisi orang-orang aneh, seperti Jo. Jo pikir kegiatannya bakalan gampang, ternyata mereka diwajibkan membaca minimal satu buku seminggu dan membuat ulasannya, yang nantinya dimuat di blog, saling bertukar buku. Dari sini, nantinya Jo memiliki blog sendiri yang diberi nama Jurnal Jo, berisi unek-uneknya tentang susahnya jadi remaja. Yang salah lagi, Jo kira semua anggotanya kutu buku dan berkacamata, tenyata ada kakak kelas yang sangat cakep, sanggup membuat jantung Jo berdetak keras!
Sebenarnya sejak kapan kita berubah dari anak menjadi remaja atau dewasa? Pertanyaan ini selalu mengusikku. Apakah setelah umur dua belas? Setelah lulus SD? Kalau begitu, kenapa aku nggak bisa merasakannya?
"Jo, orang yang senang memberi juga akan senang menerima. Bagi mereka, menerima berarti memberi kesempatan orang lain untuk beramal juga."
Ingatlah kita sedih supaya kita bisa GEMBIRA kalau kesedihan itu sudah berlalu. 
Jurnal Jo sangat relate dengan kehidupan saya di masa puber dulu, dan mungkin para remaja kebanyakan. Mulai dari harus naik bus karena jarak sekolah dengan rumah sangat jauh, memakai aksesoris, mempunyai geng, dicomblangin dengan cowok yang kita tidak suka, sampai melupakan permaianan yang disukai waktu kecil, seperti 'mencari jejak'. Perihal orangtua yang kelewat pelit alias miskin, harus belajar berhemat agar bisa membeli barang yang kita suka, sampai satu sekolah dengan ayah sendiri dan diajar olehnya, jadi tahu banget perasaan Jo, hahaha.

Selain transisi menjadi remaja atau dewasa, Jurnal Jo juga menyentil tentang betapa sulitnya menjadi diri sendiri. Misalkan ketika teman memiliki HP, tentu ada rasa ingin memiliki juga, pun ketika memiliki geng maupun gebetan, siapa yang tidak ingin menjadi keren? Memang bagus, tapi sangat sulit, harus memiliki keteguhan yang kuat untuk menerima diri apa adanya. Lewat diri Sally, sahabat Jo yang sangat berubah ketika beranjak dewasa, di mana dia mengikuti standar teman-temannya yang terlalu tinggi, dia harus banyak berbohong.

Beranjak dewasa kita juga akan menemui banyak rupa. Misalkan lewat sosok Andre yang tampan dan begitu mempesona, mengajarkan bahwa banyak yang palsu di dunia ini. Rajiv salah satu contoh menjadi dewasa tidak semuanya buruk, memiliki pandangan luas dan sangat bijaksana. Lewat kegiatan tim sosial, Jo belajar banyak tentang mengenali pribadi seseorang, lihatlah orang dari hatinya, jangan statusnya.

Klub sastra salah satu bahasan yang saya suka, pengen banget gabung. Sayang banget dulu nggak ada, blog belum dikenal luas atau bahkan belum tercipta, hahaha. Bagian ini kita akan melihat cara mengulas buku secara sederhana dan menuliskannya di blog. Bagian saling tukar buku agar nggak boros juga ide yang menyenangkan, lalu mengemukakan pendapat tentang buku yang kita baca di pertemuan klub rasanya pengen mencoba secara langsung :)

Rajiv cocok banget dinobatkan sebagai tokoh favorit, tapi bagi saya pilihannya tetap Jo. Karena dia 'aku banget', banyak hal di diri Jo yang tak ubahnya dengan saya dulu. Yang tidak siap menerima perubahan, tidak ingin menjadi dewasa (bahkan sampai sekarang menolak tua :p), sikap sinisnya dengan keadaan sekitar baik lingkar pertemanan dan keluarga. Kepolosannya tidak jarang membuat tertawa, misalkan ada istilah gaul yang dia tidak mengerti, keenganan untuk menggunakan miniset. Ngedumel kalau disuruh orangtua mengerjakan sesuatu, misal menghitung sendok :p

Jurnal Jo sangat bagus sekali untuk genre coming of age dalam negeri atau teenlit, sangat remaja sekali. Ken Terate sangat tahu permasalahan -yang bahkan sampai sekarang pun tidak jauh berbeda, yang kerap dialami para remaja. Buku ini juga perlu dibaca oleh orang dewasa, agar mereka memahami bahwa menjadi remaja itu tidaklah sederhana, walau mereka pernah melewati fase tersebut, selalu ada pembeda, yang membuat kita tidak pernah berhenti belajar untuk memahami, alih-alih menghakimi.
Menurutku sih karena sebenarnya masalah remaja itu sama saja dari waktu ke waktu. Nggak jauh-jauh deh dari masalah sekolah, orangtua, teman, cinta.
"Kurasa kita memang punya cara untuk menjadi keren sendiri-sendiri." 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...