Jumat, 05 Oktober 2018

Once and for All by Sarah Dessen | Book Review

Judul buku: Once and for All
Penulis: Sarah Dessen
Alih bahasa: Merry Riansyah
Editor: Dion Rahman
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
ISBN: 978-602-04-8000-8
Cetakan pertama, 17 September 2018
376 halaman
Buntelan dari editornya.
Louna, putri perencana pernikahan terkenal Natalie Barrett, telah melihat setiap jenis pernikahan. Di pantai, di rumah mewah bersejarah, di hotel dan klub mahal. Mungkin itulah sebabnya dia memandang sinis sebuah akhir kisah bahagia selamanya, terutama sejak cinta pertamanya berakhir tragis. Saat Louna bertemu dengan Ambrose Little, si-cowok-penuh-pesona dalam sebuah acara pernikahan, dia membentangkan jarak dengan cowok yang tidak mungkin masuk dalam daftar kencannya tersebut. Namun Ambrose tidak berkecil hati atas penolakan Louna. Cowok itu selalu punya cara brilian yang juga menakjubkan untuk memenangkan hati gadis yang benar-benar diinginkannya.

Setelah kejadian pada malam di toko satu dolar, apakah Louna masih berpikir tidak ada akhir yang bahagia dalam kisah cintanya?
A Natalie Barrett Wedding adalah Wedding Organizer yang paling dikenal di Lakeview, berbagai jenis pernikahan mulai yang termurah sampai termahal sudah pernah ditangani dan selalu sukses, jarang sekali terjadi kendala, tidak heran kalau banyak pasangan yang ingin menikah rela mengeluarkan biaya besar dan masuk dalam daftar tunggu. Masalah yang sering terjadi misalkan saja mempelai wanita ragu apakah benar-benar yakin untuk melangsungkan pernikahan dan mengikat janji selamanya.

Louna adalah putri pemilik perencana pernikahan tersebut, bisa dibilang dia juga ikut bekerja di sana walau hanya melakukan tugas remeh. Jadi tidak heran ketika ada salah calon pengantin tidak segera turun ke altar karena galau akan perasaanya, Louna bingung harus melakukan apa. Dengan mudah William, rekan kerja ibunya, mengatasi masalah yang katanya sering terjadi di menit-menit paling krusial di pernikahan. Dengan mudah dia menjawab ketika ditanya apakah dia percaya dengan cinta sejati? Nyatanya, baik Ibunya maupun William tidak pernah percaya dengan namanya cinta sejadi, pun dengan Louna.

Masalah lain di sebuah pernikahan memaksa Louna berurusan dengan Ambrose Little, salah satu anak dari pernikahan ketiga yang dirancang A Natalie Barrett Wedding, dia menghilang ketika pernikahan akan berlangsung. Ambrose memang biang masalah, suka mengencani beberapa wanita secara bersamaan, tidak jarang membuat pusing ibu dan kakaknya. Untuk meredam kenakalan Ambrose, ibunya meminta Natalie untuk mempekerjakannya sampai pernikahan kakaknya, Bee, usai.

Ambrose tentu sangat senang bisa bekerja dengan Louna yang sedari awal sinis dan menolak dansa darinya. Bahkan dia membuat taruhan dengan Louna, selama tujuh minggu Ambrose harus mengencani satu wanita yang sama, sedangkan Louna harus seperti Ambrose, berkencan dengan banyak laki-laki. Mereka bertukar peran dan pemenangnya nanti berhak menentukan pasangan mereka selanjutnya.
Aku bertanya-tanya, berapa banyak pengantin perempuan yang merasakan hal yang sama di tempat ini, berdiri di tepi antara masa kini dan masa depan, tidak siap untuk melompat. Aku bisa bersimpati, tapi hanya untuk satu hal. Setidaknya mereka mengambil keputusan sendiri. Ketika sesuatu diputuskan untukmu-nah itu baru pantas untuk benar-benar ditangisi.
Pernikahan adalah serangkaian momen istimewa yang terjadi bersama mirip manik-manik pada kalung. Tentu saja, sendiri-sendiri pun manik-manik itu indah, tapi jika disatukan, kita akan mendapat sebuah karya seni.
"Pasti sangat mengerikan," ucapnya. "Apa yang dulu pernah menimpamu."
Aku menelan ludah. "Aku tidak mengerti apa yang kaubicarakan."
"Tapi kau mengerti. Cowok, kehilangan cinta yang hebat, satu-satunya awal hidup bahagia yang kauizinkan." Dia menggeleng. "Kau bahkan tidak bisa melihat harapan dalam hal apa pun."
"Aku melihat banyak harapan, "balasku dengan cepat, merasa defensif. "Tapi ini bisnis."
"Yang dibangun pada gagasan orang ingin secara publik menandai momen khusus mereka bersama sekali dan untuk selamanya."
Once and for All sangat terasa Sarah Dessen, dalam artian memiliki kesamaan seperti buku-buku dia sebelumnya, ciri khas yang tidak pernah pudar dari tulisannya. Gaya tulisan yang familier, saya suka terjemahannya karena emosi yang setiap kali saya dapatkan ketika membaca bukunya Sarah Dessen masih terasa kuat. Bercerita tentang keluarga yang disfungsional, pencarian jati diri, kehilangan, cinta dan persahabatan. Serta nama tokoh yang unik dan berbagai sifat tokoh yang biasanya bertolak belakang. Misalkan dalam buku ini, karakter Louna digambarkan seseorang yang hopeless, yang tidak percaya dengan cinta, sedangkan sahabatnya, Jilly sangat mempercayainya, dia suka sekali berkencan.

Karakter Louna mudah dipahami, sedari awal penulis melakukan pendekatan karakter yang cukup baik, dengan menjelaskan bagaimana kondisi keluarga Louna, dengan bisnis yang dijalankan ibunya. Ibunya yang menikah muda kemudian bercerai, kegagalan harus membuatnya mandiri secara financial, bekerja keras untuk menghidupi dirinya sendiri dan Louna. Sehingga sedari kecil Louna didoktrin pandangan sinis tentang romansa, selamanya dan cinta. Padahal bisnis ibunya tentang mewujudkan ketiga hal penting tersebut. Dan biasanya, setelah acara usai, ibunya dan William, partner kerja ibunya, memiliki ritual menebak berapa lama pernikahan itu bertahan. Tidak ada yang namanya bahagia selamanya, tidak ada laki-laki yang baik, lebih baik sendirian.

Terlebih ketika Louna mengalami hal semu tersebut. Dia pernah jatuh cinta setengah mati pada seseorang, cinta pertamanya. Namun, kisah tersebut berakhir tragis, membuat Louna tidak ingin lagi berhubungan dengan laki-laki manapun, lebih suka menarik diri. Kehadiran Ambrose Little seperti membawa harapan baru bagi kehidupan Louna yang kesepian, perangainya yang selalu ceria, tanpa beban membawa warna, menjadi penyemarak, dan membawa harapan bahwa masih ada kebahagiaan lain yang bisa diraih.

Salah satu kekurangan yang membuat saya kurang puas dengan buku terbaru Sarah Dessen ini adalah Louna terlalu terjebak nostalgia. Penulis menggunakan alur maju mundur, alur mundur atau flashback digunakan untuk menceritakan kisah cinta pertama Louna, sampai kejadian nahas yang membuatnya trauma akan sebuah relasi. Memang bisa dibilang bagian tersebut cukup penting, terlebih untuk menggambarkan bagaimana Louna yang dulu dan sekarang, transformasinya menjadi trauma akan cinta.

Hanya saja berdampak pada alur sekarang, hubungannya dengan Ambrose kurang mendapatkan porsi, sehingga konfliknya kurang menggigit. Ditambah penulis juga banyak membahas tentang berbagai pernikahan serta banyak tokoh lain yang muncul karena taruhan yang dilakukan Louna dan Ambrose. Saya berharapnya bagian tersebut dipersingkat tanpa meninggalkan detail yang penting dan fokus pada 'penyembuhan' yang dilakukan Louna, dalam artian dia kembali jatuh cinta. Bahwa dia bisa move on, dia bisa mendapatkan kembali kebahagiaan, kehilangan cinta pertamanya bukan akhir dari segalanya. Namun sepertinya di buku ini penulis lebih memilih fokus pada prosesnya, kisah cinta hanya menjadi pelengkap bagaimana Louna kembali bangkit.

Bagian favorit saya adalah ketika Louna dan Ambrose harus berpura-pura sebagai pasangan pengantin pada pemotretan. Di bagian tersebut Louna sudah mulai perasakan perasaan baru, bahwa dia bisa jatuh cinta kembali.
Detik berikutnya, aku merasakan jemarinya di lekuk punggungku, merapikan gaunku di sana. Dan hal paling aneh serta paling sinting terjadi saat itu juga: aku merasakan sesuatu. Arus tiba-tiba yang tak salah dikenali saat tubuh merespons sentuhan dalam cara yang spesifik. Ketika aku mengerjap mencoba memproses ini, aku menyadari bahwa meskipun tampak enggan, aku tidak bersikap kaku sekalipun setiap kali dia menyentuhku. Sangat aneh.
Karakter favorit saya adalah Ambrose, dia benar-benar seseorang yang sangat cuek, masa bodoh, petakilan, playboy, tapi di balik semua itu dia seperti berpura-pura, dia sengaja melakukannya. Misalkan ketika diberi pekerjaan membeli kopi, dia bisa langsung hapal dengan sekali ucap, dan ketika secara impulsif mencuri anjing dan menamainya Ira, dia melakukan hal tersebut karena ingin menolong dari perlakuan buruk pemilik sebelumnya yang tak berperasaan.

Jilly juga menyenangkan, tanggung jawab yang dibebankan padanya untuk mengurus adik-adiknya yang banyak, pandangan dia tentang cinta dan mudah sekali jatuh cinta. Dia memang suka cerewet dan mengeluh, tapi dia selalu melakukannya, tidak melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang anak tertua. Bagian ini kadang membuat Louna iri, sesekali ingin di kondisi Jilly dengan keluarga yang utuh dan penuh keributan tapi dilingkupi rasa sayang. Dan Jilly sangat pengertian pada Louna, misal ketika ada insiden yang berhubungan dengan masa lalunya, dia berusaha menjaga perasaan Louna.

Bagian acara pernikahan, walau bagi saya sedikit membosankan, tentu penulis punya alasan tersendiri kenapa sampai dibuat banyak porsi. Selain penggerak plot, pembaca bisa tahu seperti apa pekerjaan seorang perencana pernikahan, masalah yang kerap muncul dan terutama keironisan di balik menyiapkan pernikahan yang sempurna, pembuatnya malah tidak percaya cinta. Ada yang saya suka pada bagian ini, beberapa kode kalau masalah di tengah perniakahan yang sedang berlangsung. Misalkan SOB (Son of Bride) atau Putra Pengantin, merujuk pada Ambrose yang membuat masalah. DAB (Decided at Bar), Diputuskan di Bar, sesuatu yang mendadak dan harus dikerjakan segera. SS (Spotlight Stealer), si Pencuri Perhatian, seseorang yang ingin lebih diperhatikan daripada sang pengantin.

Secara keseluruhan, walau belum bisa menyaingi Saint Anything, buku Sarah Dessen paling favorit, Once and for All tetap layak untuk dibaca. Terlebih bagi kalian yang sulit move on, yang tidak percaya pada cinta.
"Menurutmu ada batasan dalam memulai hidup bahagia?"
"Menurutku," kataku, "kita semua berhak memiliki cinta yang hebat, tapi bukan dalam jumlah tanpa batas. Kalau kau sudah pernah memilikinya, butuh waktu sampai yang selanjutnya tiba."
"Tapi cinta yang hebat seperti itu saja... hebat."
"Yah?" Aku bertanya.
"Cinta yang hebat tidak biasanya melibatkan putus hubungan yang buruk, seperti hubunganmu. Yang merupakan berkebalikan dari hebat."
Sekarang aku tertohok. Aku berdeham, mumulai dari awal. "Hal-hal berakhir," kataku kepadanya. "Bahkan dengan awal yang terbaik- atau terhebat. Kuning dan biru menciptakan hijau. Begitulah hidup, kan?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...