Kamis, 06 September 2018

Always and Forever, Lara Jean by Jenny Han | Book Review

Judul buku: Always and Forever, Lara Jean (To All the Boys I've Loved Before #3)
Penulis: Jenny Han
Penerjemah: Airien Kusumawardani
Penyunting: Selsa Chintya
Penerbit: Spring
ISBN: 978-602-6682-06-2
Cetakan pertama, September 2017
356 hal.
Titip @raafian di IBF
Tahun terakhir di SMA Lara Jean berjalan sebaik yang ia harapkan. Lara Jean tidak bisa membayangkan tahun terakhir SMA yang lebih baik dari ini. Pacarnya sangat baik, ayahnya akan menikah kembali, dan Margot akan pulang untuk liburan musim panas.

Namun, perubahan mulai muncul. Sementara Lara Jean bersenang-senang, dia tidak bisa mengabaikan keputusan terbesar dalam hidupnya. Yang paling mendesak adalah universitas, dan apa artinya itu bagi hubungannya dengan Peter. Setelah Margot, sekarang giliran Lara Jean untuk lulus dari SMA, pergi ke universitas, bahkan mungkin meninggalkan keluarganya, dan cowok yang dia cintai.

Saat hati dan otakmu mengatakan dua hal yang berbeda, mana yang harus kau ikuti?
Memasuki tahun terakhir sebagai senior, tahun kelulusan, Lara Jean Song Covey dan Peter Kavinsky mulai merancang masa depan, impian mereka sama-sama kuliah di University of Virginia (UVA). Selain tidak perlu khawatir harus berjauhan dengan Peter, kampus tersebut hanya berjarak lima belas menit dari rumah Lara Jean, dia tidak perlu meninggalkan Kitty dan ayahnya seperti Margot yang harus kuliah di Skotlandia. Peter dipastikan diterima di UVA lewat jalur atlet, dia sudah berkomitmen bergabung dengan tim lacrosse UVA, sedangkan Lara Jean harus menunggu pengumuman. Semua yakin Lara Jean akan diterima karena prestasinya selama ini tidak pernah mengecewakan. 

Namun, sebagai cadangan, dia mendaftar ke lima sekolah. UVA menjadi pilihan utama dan tadinya satu-satunya, sekolah tersulit pertama karena persaingan nilai akademisnya. Sekolah paling sulit kedua serta pilihan kedua, William and Mary. Di posisi ketiga ada University of Richmond dan James Madison. Semua sekolah tersebut ada di negara bagian Virginia, tidak jauh dari tempat tinggal Lara Jean. Mrs. Duvall, guru bimbingan konseling mendesak Lara Jean untuk mendaftar di satu sekolah di luar Virginia untuk berjaga-jaga sebagai pilihan lain. Lara Jean memilih University of North Carolina at Chapel Hill (UNC), sekolah yang cukup sulit untuk dimasuki apalagi dari negara bagian lain.

Selain harap-harap cemas apakah dirinya diterima di UVA, Lara Jean dibuat pusing dengan hubungan Margot dan ayahnya yang cukup panas selama dia menghabiskan liburan dengan membawa pacarnya, Ravi. Ayah mereka marah ketika Margot memutuskan Ravi akan tinggal sekamar dengan dirinya, selain itu, terasa sekali kalau Margot menolak kehadiran Ms. Rothschild, tetangga sekaligus calon ibu tiri mereka.
Aku tidak tahu pasti, tapi aku membayangkan kali pertamaku mungkin akan terjadi saat kuliah, di kamarku sendiri, sebagai seorang dewasa. Rasanya sulit membayangkan itu terjadi sekarang, di rumah, ketika aku adalah Lara Jean sang adik, sang kakak, dan sang anak perempuan. Di kampus, aku hanya akan menjadi Lara Jean.
Kurasa itu juga bagian dari tumbuh dewasa -mengucakpan selamat tinggal pada hal-hal yang dulu sangat kau sukai.
Aku selalu takut pada perubahan, tapi saat ini aku tidak merasa seperti itu. Aku merasa bersemangat. Sekarang aku melihat bahwa ini adalah sebuah keistimewaan.
Setidaknya ketika kau bertengkar, kau mencurahkan segalanya kepada seseorang. 
Sebagai buku pamungkas penutup series To All the Boys I've Loved Before, saya sangat menikmati dan cukup puas, terlebih endingnya manis sekali, khas hubungan Lara Jean dan Peter K. Berbeda dengan dua buku pendahulunya, yang terasa khas remaja dengan bumbu cemburu dan cinta segitiga, Always and Forever, Lara Jean terasa lebih dewasa dari segi karakter para tokohnya. Selain itu, saya yakin apa yang dirasakan Lara Jean ketika memasuki dunia kuliah pernah dirasakan juga oleh pembaca yang pernah mengalami fase tersebut.

Misalkan saja, takut dengan perubahan, menghadapi sesuatu yang baru, kita tidak akan tahu kalau tidak mencobanya, bukan? Hal tersebut dirasakan oleh Lara Jean yang selama ini hidupnya dihabiskan di tempat yang sama, bersama keluarganya, hanya ketika Margot pergi jauh perbedaan mulai terasa, karena dia bukan lagi sebagai anak tengah. Ketika Lara Jean merasa rendah diri ketika impiannya tidak terkabul, dunia serasa tidak adil, kita juga pernah gagal, kita tidak selalu mencecap kisah manis. Semua hal tersebut terjadi ketika kita mengalami fase menjadi dewasa, proses di mana kita belajar menerima.

Hubungan Lara Jean dan Peter juga semakin kuat, mereka memiliki impian bersama dan bahkan sudah merancang masa depan ketika satu kampus nanti. Berita mereka harus berjauhan tentu membuat Peter tidak rela bahkan sempat menjauh dan membuat hubungan menjadi renggang. Dia takut nantinya tidak cukup baik untuk Lara Jean setalah kuliah karena Lara Jean akan bertemu banyak orang, dia tidak sehebat orang-orang itu. Memang tidak mudah menjalani LDR, dibutuhkan komitmen dan kepercayaan yang tinggi.

Di series ini, Jenny Han tidak hanya menyuguhkan kisah cinta, tapi tentang keluarga dan sahabat. Hubungan gadis-gadis Song masih tetap solid, hanya saja Margot sedikit keberatan dengan adanya Trina. Dia merasa asing di rumah karena adanya orang baru dan kebiasaan yang kadang membuatnya tidak nyaman. Berbeda dengan dua saudaranya yang bisa meneima Trina dengan hangat. Margot hanya belum terbiasa karena dia jarang berada di rumah. Saya suka penulis membuat posisi Lara Jean maupun Kitty untuk netral terhadap masalah mereka berdua, bahkan kadang menjadi penengah. Memang tidak mudah menerima kehadiran orang baru di kehidupan kita.

Lara Jean memiliki teman yang sangat menyenangkan, Chris yang sangat merdeka dengan apa yang dia inginkan, dia yang secara impusif menyarankan Lara Jean untuk melihat kampus yang tidak ingin dia masuki kelak. Chris yang seperti punya prinsip bahwa hidup jangan disia-siakan, lakukan apa yang emang ingin dilakukan, jangan banyak berpikir, kesempatan tidak datang dua kali. Sedikit banyak saya merasa Chris ini sepemikiran dengan Margot, ketika menjadi dewasa kita bebas menentukan kehidupan kita, misalkan saja, pergi jauh dari rumah, tipe petualang. Pun dengan Lucas yang selalu mendukung apa yang diinginkan Lara Jean, selalu mendengarkan curahan hatinya.
Kadang-kadang aku berharap kami bertemu saat kami berumur 27 tahun. Umur 27 sepertinya umur yang tepat untuk bertemu dengan orang yang akan menemanimu menghabiskan sisa hidupmu. Pada umur 27, kau masih muda, tapi ada harapan kau sudah menjalani hidup cukup jauh untuk menjadi seseorang yang kau inginkan.
Tapi kemudian aku berpikir, tidak, aku tidak akan merelakan umur 12, 13, 16, 17 bersama Peter demi apa pun. Ciuman pertamaku, pacar palsu pertamaku, pacar sungguhan pertamaku. Cowok pertama yang pernah memberikan perhiasan padaku. Stormy akan mengatakan bahwa ini adalah momen yang paling bersejarah di antara semuanya. Stormy bilang bahwa begitulah cara seorang pemuda memberitahumu bahwa kau miliknya. Kupikir bagi kami justru kebalikannya. Begitulah cara aku tahu Peter adalah milikku.
Karakter favorit di buku ketiga ini adalah Lara Jean, karakternya sangat 'aku banget,' hahaha. Kalau ditanya siapa tokoh fiksi yang mirip dengan karaktermu, maka dengan mudah saya akan menjawab; Theodore Finch dari buku All the Bright Places dan Lara Jean. Mungkin alasan ini juga yang membuat saya sangat menyukai series ini, karena merasa dekat. Sama-sama anak tengah, memiliki single father, tidak suka dengan perubahan, tidak pernah ingin pergi jauh dari rumah, menyukai hal-hal lucu, selera fashion yang unik dan menyukai apa pun yang berbau vintage. Dan yang paling penting, kita sama-sama seorang Hufflepuff. Semoga saja kesamaan berikutnya adalah saya mendapatkan seseorang seperti Peter Kavinsky, LOL.

Bagian favorit, Jenny Han selalu membuat adegan yang berkesan. Misalkan di buku pertama waktu perayaan Halloween, di buku kedua dengan permainan assasins. Di Always and Forever, Lara Jean ini saya sangat menyukai bagian ketika Lara Jean pertama kali bertemu dengan Ravi dan bertanya dia berasal dari asrama apa. Dan bagian paling akhir, waktu Peter memberikan buku tahunan dan bercerita kapan dia pertama kali bertemu Lara Jean, manis sekali! Benar-benar penutup yang sangat indah.

Bagi yang kesemsem dengan manisnya Peter Kavinsky seperti saya ini atau yang tidak sabar mengetahui akhir dari kisah penuh lika liku remaja keturunan Asia, Lara Jean, kalian tidak boleh melewatkan series ini. Recommended untuk dibaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...