Sabtu, 11 Agustus 2018

Syarat Buku Bagus Menurut Peri Hutan


Hai hallo, kembali di postingan The Perks of Being Book Blogger, tempat di mana saya mencurahkan apapun yang saya rasakan berkaitan dengan dunia blogger dan literasi. Lama juga ya nggak nulis topik ini, terakhir kasus saya jualan buku, hahaha, eh tapi masih mending daripada postingan Let's Talk :p. Itu sudah lagu lama, saya sudah bisa move on dan ingin fokus ke hal yang membuat saya bahagia saja. Salah satunya dengan membaca buku bagus.

Akhir tahun bahkan awal-awal tahun ini saya membaca beberapa buku yang langsung saya masukkan ke favorit sepanjang masa. Di pertengahan tahun, mood saya membaca buku malah agak menurun, bahkan ada buku yang saya tahu bagus tapi belum siap untuk membacanya, yeah, nyari timing yang tepat untuk membaca, alasan saja, hahaha. Nah, di saat bertanya-tanya kenapa mood saya bisa anjlok padahal banyak buku yang harus dilahap, selain lagi kesemsem sama Meteor Garden 20018 pastinya, saya jadi mikir kriteria buku atau syarat buku bagus menurut Peri Hutan alias saya sendiri, hihihi.

Mari kita telusuri alasannya:
1. Kembang kempis seusai baca.
Apa sih maksudnya kembang kempis? Lebih ke perasaan yang saya dapatkan seusai membaca atau saat membaca buku. Saya terbawa emosi akan apa yang dihadapi para tokohnya, saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Bahagia, sedih, patah hati, hancur, ikut tertawa, ikut menangis, perasaan rasanya diaduk-aduk, hati rasanya sesak dan sakit sekali, berbagai emosi tumpah ruah di sini, hanya dengan membaca buku.

Saya selalu menganggap, membaca buku sama halnya dengan membaca kisah hidup seseorang, saya bisa belajar dari kisah mereka, entah memahami, entah menerima, apa yang saya dapatkan bisa saya tanamkan ke kehidupan nyata, keseharian saya. Makanya, kalau sebuah cerita tanpa emosi: kosong, nggak berarti. Saya pernah menjelaskan bahwa poin utama ketika saya membaca buku ialah feel atau emosi, itu harga mati. Sakral banget bagi saya.

Saya nggak peduli apakah buku yang saya baca termasuk buku best seller atau dari penulis amatiran alias pendatang baru. Asal cerita mereka memiliki emosi yang bisa saya rasakan, itu sudah menarik minat saya. Emosi menandakan nyawa, bahwa buku yang saya baca benar-benar 'hidup.'

2. Langsung ingin baca ulang buku tersebut.
Membaca sekali saja rasanya tidak pernah cukup, tidak ingin pernah berakhir, ingin berseri-seri tanpa batasan angka. Hal ini pernah saya lakukan ketika membaca buku Memori - Windry Ramadhina, Critical Eleven - Ika Natassa, dan The Second Best - Morra Quatro. Saya langsung baca ulang karena saking sukanya dengan ceritanya, ingin berlama-lama, nggak ingin berhenti baca, nggak ingin berpisah dengan tokohnya.

Banyak faktor, mulai dari plot cerita yang memang menarik, gaya menulis yang asik, karakterisasi para tokohnya yang membuat jatuh cinta dan terasa hidup, sampai bersingungan dengan apa yang pernah saya alami, relate dengan kehidupan nyata.

3. Kepikiran terus akan ceritanya.
Saya tidak bisa berhenti berpikir berhari-hari seusai baca All the Bright Places, kenapa? Kenapa? Kenapaaaaaa? Saya menyayangkan apa yang dipilih Theodore Finch, tapi saya juga belajar dari permasalahan yang dia hadapi, saya belajar memahami. Saya nggak minat membaca berhari-hari karena mengalami book hangover saking kuatnya cerita, pikiran saya tidak bisa lepas dari buku tersebut.

Sama halnya ketika membaca series Red Rising, setelah beberapa tahun hubungan saya cukup merenggang dengan genre fantasy, Red Rising memberi pengaruh yang positif, saya kesetanan lagi! Bahkan saya rela membaca versi aslinya alias bahasa Inggris, sesuatu yang saya hindari sebenarnya karena memakan lama sewaktu membaca, tapi saya begitu penasaran dengan kelanjutan cerita. Red Rising bisa disebut series fantasy terbaik akhir-akhir ini.

Pun dengan membaca Raden Mandasia, saking bagusnya penulis menguntai kalimat, saya bisa membayangkan apa yang dilakukan tokoh-tokohnya, bisa ikutan lapar ketika bercerita tentang makanan, bisa ikut meringis ketika mendapati adegan sadis. Belum plot twist yang tidak pernah terbayangkan, benar-benar memberikan kejutan kepada pembaca.

Pada bagian ini, saya selalu menantikan cerita yang akan bisa dikenang sepanjang masa, bahkan sebuah cerita yang sanggup mengubah hidup.

4. Ada tokoh ikonik yang tidak akan pernah bisa dilupakan.
Mr. Darcy identik dengan Jane Austen beserta bukunya Pride and Prejudice, Mario Puzo terkenal akan sosok Don Vito Corleone alias Sang Godfather. Mendengar nama Harris Risjad pasti langsung kepikiran Ika Natassa, pun dengan label Hanafiah di belakang nama seseorang pasti teringat penulis Sitta Karina. Seorang tokoh yang ikonik akan selalu membekas di hati pembaca.

Bagi saya, karakter masuk dalam tiga hal paling sakral ketika saya membaca sebuah cerita, poin primer selain emosi dan plot cerita. Karakter bisa menghidupkan cerita, karekter bisa memberikan nyawa dan emosi pada kisah yang disodorkan penulis. Misalkan saja, Katniss Everden terkenal sosok yang kuat dalam series The Hunger Games, Saverus Snap akan selalu dikenang pembaca akan cinta matinya pada Lily Potter. Karakter-karakter seperti ini yang selalu dinantikan pembaca.

5. Cara bercerita yang asik dan banyak adegan memorable.
Tadi saya sudah menjelaskan poin primer atau sakral saya ketika membaca buku, ada poin sekunder juga nih, alias poin pendamping yang membuat sebuah buku kece badai. Gaya menulis dan adegan di dalamnya (baik dialog maupun narasi). Gaya menulis merupakan ciri khas atau identitas yang dimiliki seorang penulis, kalau tulisannya kuat, tanpa membaca di bagian cover kita akan langsung tahu siapa penulisnya. Akan ada bagian yang sama di setiap buku yang dia tulis, entah unsur konflik, karakter, sampai cara bercerita (tone ceritanya).

Beberapa nama penulis yang saya 'temukan' tidak sengaja dan langsung jatuh cinta pada karya debutnya, misalkan saja; Windry Ramadhina, Riri Sardjono, Farida Susanty, Dya Ragil, dan Inggrid Sonya, mereka memiliki ciri khas yang kuat dalam tulisannya, dan saya buktikan dengan membaca karya selanjutnya. Hasilnya, saya masih mendapatkan euforia yang sama ketika membaca buku debut, tentu dengan perkembangan yang lebih baik tanpa meninggalkan ciri khas yang dimiliki.

Adegan memorable ini tak ubahnya dengan karakter yang ikonik, sesuatu yang bisa selalu diingat dari buku yang sedang kita baca saking indahnya atau berkesannya adegan tersebut. Misalkan saja adegan favorit saya di series Golok Naga dan Pedang Langit, saya kegirangan setengah mati waktu sampai di adegan Zhang Wuji menolong Sekte Ming ketika dikepung Enam Aliran Besar. Atau adegan Dao Ming-si mengejar bus yang ditumpangi Shancai (episode senin depan di Meteor Garden 2018, tuh! XD), itu ikonik banget, hahahaha.

Jadi intinya, buatlah sesuatu yang bisa dikenang pembaca dan menampilkan identitas penulis, hal itu salah satu yang tidak akan bisa diplagiat, diplagiat pun kita akan langsung terbayang pernah melihat adegan atau tulisan tersebut.

Yak, demikian kriteria atau syarat buku bagus menurut Peri Hutan. Biasanya sering banget saya temukan ketika membaca buku debut, bisa saya jadikan tolak ukur juga utuk karya selanjutnya, apakah lebih baik atau sebaliknya. Karena saya pernah mengalami, di karya awal saya menyukai tulisannya, tapi di bukunya yang entah keberapa saya malah kehilangan minat. Pun dengan penulis di awal-awal debutnya saya hanya memberi rating satu atau dua sayap, di tulisannya yang keberapa saya malah memberikan nilai yang sempurna. Misalkan Winna Efendi tuh, saya baru menyukai tulisannya ketika membaca buku Melbourne, dan buku Someday saya nobatkan sebagai salah satu buku terbaik tahun lalu.

Jadi, bisa saja bila seorang penulis debut langsung menghasilkan karya yang amat bagus daripada penulis produktif yang sudah mengasilkan berpuluh-puluh karya tapi tidak bernyawa. Nggak ada yang pasti. Mungkin sudah menjadi bakat, atau memang berkat latihan menulis yang tanpa lelah.

Kalau kalian sendiri, apakah ada kriteria atau syarat buku bagus? Bisa share di kolom komentar di bawah :p.

10 komentar:

  1. Saya pribadi enggak punya kriteria khusus sebuah buku dibilang bagus atau tidak asal saya bisa "tenggelam" di dalamnya, saya suka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener, kalau kita bisa masuk ke ceritanya, berarti emosinya kerasa banget :)

      Hapus
  2. Poin 1 Ka Sulis. Bikin kembang kempis is a must. Hehe. Terserah deh mau bikin seneng ato baper, yg penting ceritanya membekas. Berkesan. Dan yaa harus bisa menikmati setiap halamannya juga sih. Nda bikin bingung, nda bikin bosen :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, dampaknya nggak bikin kita mudah bosen pas baca :)

      Hapus
  3. Setuju dengan semua poinnya.. Saya akan menganggap buku yang dibaca bagus banget kalo alur dan ceritanya seru banget.

    BalasHapus
  4. Hampir semua kriteria saya setuju, hehe. Dulu saya baca beberapa karya Winna Efendi kayak Remember when, Refrain, Ai & Tomodachi. Tapi habis itu gak ngikutin lagi karena semua tema yang diangkat persahabatan. Lama-lama malah jenuh sendiri, hehe. Karya-karya itu saya baca setelah baca karya Kak Winna yang Draf 1: Taktik Menulis Fiksi Pertamamu. Saya sangat suka yang satu ini. Mungkin lain kali akan saya cek lagi karya Kak Winna yang lain, hehe. Btw, Red Rising masih jadi wishlish, doakan semoga lekas berjodoh (dapet GA atau diskonan besar-besaran mungkin, hehe)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha semoga beruntung ya. Aku juga suka buku Winna yang itu, salah satu buku yang jadi acuan aku menulis review :)

      Hapus
  5. Kalau buku bagus, kalau novel 600 halaman ke atas sih enggan di ulang. Ada juga kalau buku kumcer yang bagus baru sering banget di baca ulang.

    Lebih suka kalau baca tulisan tulisan yang spontan, jujur dan yang ga di perhalus... seperti Eka kutniawan, yusi avianto

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau yang tebel banget, biasanya aku luangkan waktu khusus. Kayak Harry Potter tuh, ada jeda untuk menginggat dan mengenang :)

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...