Rabu, 06 Juni 2018

Gelang Hitam by NyiRika | Book Review

Gelang Hitam: Merawat Luka Cinta dan Bencana
Penulis: NyiRika
Penyunting: Jia Effendie
Desain sampul: Sukutangan
Penerbit: Nawalapatra
Cetakan ke-1, Maret 2018
212 halaman
Buntelan dari @nawalapatra
Namaku Hanifah.

Aku adalah nafsu gentayangan yang terjebak dalam seuntai gelang hitam yang melingkari pergelangan tangan Saras. Ada seutas tali tak kasatmata yang membuatku bisa mengikutinya ke mana pun serta turut merasakan suka dukanya. Menjadi seorang relawan bencana yang meminjamkan telinga untuk cerita-cerita pedih para korban tsunami membuat jiwanya ikut terguncang. Renjanalah yang membuatnya bertahan.

Namun, saat kisah cintanya juga terhempas ombak, hidup Saras berderak pecah. Trauma bencana dan cinta berkelindan membuatnya sulit beranjak untuk mencari cinta baru.

Ini adalah kisah tentang ia yang merawat luka. Dalam lembaran-lembaran ini, kau akan berkelana dan menginsafi, bahwa kau lebih kuat karena luka batinmu.

Arwah gentayangan itu tak ada. Apa yang gentayangan adalah nafsunya. Dan aku adalah nafsu hidup dari perempuan bernama Hanifah.

Bencana tsunami meninggalkan luka yang dalam, khususnya kepada mereka yang ditinggalkan. Saras adalah seorang relawan yang membantu para penyintas tragedi tersebut. Selepas lulus dua bulan dari pendidikan sarjana psikologi dia nekat ingin membantu memulihkan kejiwaan orang-orang di Aceh. Salah satunya bernama Fitri, gadis cantik itu tidak pernah tersenyum, tenggelam akan kesedihan kehilangan ibunya, Hanifah. Hanifah selama ini berada di tubuh Fitri, tapi ketika Saras bertemu anaknya, dia tiba-tiba saja berpindah badan ke tubuh Saras. Menjadi saksi hidup Saras yang tidak mudah, sampai satu janji yang harus ditepati lewat Saras.

Menjadi relawan tidak lah mudah karena bisa ikutan stres, dan salah satu stres yang dialami oleh Saras adalah pekara lelaki. Selama tinggal di Meulaboh, Saras sudah berganti pacar enam kali, dan dia berjanji pada diri sendiri akan berhenti menjalin cinta lokasi. Namun, berbeda ketika bertemu Rian di Paya Baro, sekali lagi Saras jatuh cinta, secara mendalam, dan kali ini dia benar-benar serius, dia ingin Rian menjadi yang terakhir.

Rian juga tak kalah serius dengan Saras, dia ingin mereka segera menikah, Saras pun diajak berkenalan dengan orangtua Rian, dan dari sanalah masalah mulai muncul. Perbedaan kebudayaan dan adat membuat Ibu Rian tidak menyukai Saras. Mereka mencoba bertahan, bahkan harus berpisah ketika Saras harus kembali ke Bandung. Namun, takdir berkata lain, Rian sedikit demi sedikit mulai menghindar dan sampai akhirnya meminta putus. Saat itulah pertahanan emosi Saras jebol, dia mengidap STSD (Secondary Traumatic Stress Disorder), duka semua orang yang pernah Saras dengarkan sekarang berpindah ke tubuhnya.
"Seperti gelang lu, selimut bagi gua, biarlah begitu saja. Lepas kalau sudah siap lepas. Gua cuma bisa janji satu hal. Gua mau, kita, membuat kenangan yang asyik."
Gelang Hitam cukup unik dari segi penyajian karena dipandu oleh sang nafsu gentayangan sebagai orang ketiga. Membawa pembaca menyelami kehidupan para relawan, menginggat kembali tsunami Aceh, cinta yang tak direstui, pertahanan yang jebol sampai bertemu cinta kembali yang tak pernah bisa kita sangka. Nafsu gentayangan menjadi saksi hidup Saras tentang bagaimana dia berjuang akan hidupnya, tentang janji yang hanya bisa dilakukan oleh Saras.

Selain keunikan tadi, kelebihan lainnya adalah pembahasan tentang kehidupan para relawan yang cukup disorot dan tentang STSD. Kita bisa tahu suka dukanya, bahkan kadang stres yang dialami para penyintas bisa menular, bahwa kesedihan yang mereka alami bisa dirasakan dengan amat mendalam dan kalau tidak tahan bisa ikutan trauma. Sedangkan penggambaran STSD yang ditunjukkan oleh penulis cukup terasa, mulai bagaimana Saras mengalami penyakit tersebut sampai pengobatannya, cukup emnambah informasi.

Untuk kekurangannya, saya tidak terlalu menikmati gaya menulis NyiRika, bukan secara teknis, lebih ke emosi saja karena saya tidak bisa ikut larut akan apa yang dialami oleh Saras. Saya kurang suka dengan sosok Hanifah, dia terlalu centil, cukup terganggu ketika dia berkata, Suka Suka Suka.

Secara keseluruhan, buku ini asik kalau kalian ingin membaca tentang para relawan dan para penyitas, berkenalan dengan STSD, cukup langka karena biasanya kita lebih familier dengan PTSD. Bisa menambah list kalau kalian mencari bacaan bergenre mental illness.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...