Jumat, 11 Mei 2018

Masih Tentang Dia by Titi Sanaria | Book Review

Judul buku: Masih Tentang Dia
Penulis: Titi Sanaria
Penyelaras aksara: Sela Manya
Desain sampul: @bijinangka_
Penerbit: Self Publishing
Cetakan pertama, Maret 2018
299 halaman
Buntelan dari @titi_sanaria
Bisa dibeli di @belibuku.wattpad
Ini kisah tentang kita, aku dan kamu. Kita yang terbelah ketika cinta yang menyatukan ternyata tidak cukup untuk dijadikan sandaran. Kita yang kehilangan suara, lalu menjadi nyaman dengan kebisuan sehingga melupakan janji untuk selalu saling percaya dan mendengarkan. Kita yang kehilangan harapan, lalu memilih melepaskan daripada berjuang dan bertahan kepada satu sama lain. Kita menyerah, berpaling lalu pergi.

Dan...

Ini juga kisah tentang kita yang masih tak berhasil memanfaatkan jarak dan waktu untuk saling melupakan.
Dua tahun Lila melarikan diri dari masa lalunya, dua tahun Lila menghindar dari lelaki tersebut, lelaki yang telah menorehkan luka amat dalam di hatinya, yang membuatnya kehilangan dua orang yang amat disayanginya. Lila menganggap hubungan mereka sudah berakhir, sebelum membuka lembaran baru, dia sudah melayangkan gugatan cerai kepada Hendy. Sekarang Lila dipertemukan kembali, tidak ada ruang untuk mengindar lagi.

Hendy cukup terkejut kala melihat orang yang selama dua tahun dia cari tanpa lelah malah menjadi arsitek yang akan menggarap proyek perusahaanya. Dia tidak pernah menghiraukan gugatan cerai yang dilayangkan padanya, sampai kapanpun, Lila tetap menjadi istrinya. Hendy menganggap pertemuan kembali ini adalah kesempatan kedua baginya, kesempatan untuk memperbaiki apa yang telah dia hancurkan dulu.
Rasanya mengerikan saat mengetahui bahwa jarak antara bahagia dan sedih itu ternyata lebih tipis dari kulit bawang. Tawa dan tangis ternyata bisa sedekat pembuluh darah dan kulit yang membungkusnya, sama dekatnya dengan cinta dan benci.
Laiknya Dirt on My Boots, dalam novel yang diterbitkan secara self publishing ini, Titi Sanaria seolah memberikan nafas baru dalam tulisannya, melalui sudut pandang orang pertama sebagai narator, hanya saja kali ini dia menghadirkan dua suara lewat Lila dan Hendy. Walau masih terasa kuat signature atau beberapa ciri khas yang dia miliki, seperti hadirnya orang ketiga dalam hubungan kedua tokoh utama dan dari segi karakter, tetap terasa menyegarkan dan tidak bisa berhenti membaca sampai akhir.

Masih Tentang Dia terbagi dalam tiga babak, bagian pertama disajikan melalui sudut pandang orang pertama, dengan Lila sebagai narator, sedangkan bagian kedua gantian Hendy yang menggambil suara. Alurya maju-mundur, di dua bagian ini secara bergantian menceritakan kondisi sekarang kemudian diselipkan kisah flashback, awal mula mereka bertemu dan jatuh cinta sampai masalah yang membuat mereka berpisah. Sedangkan bagian ketiga lebih banyak menceritakan keadaan sekarang dengan sudut pandang Lila dan Hendy secara bergantian.

Kelebihan cara ini adalah kita bisa memahami apa yang dirasakan baik Lila maupun Hendy, kita bisa objektif dan tidak berat sebelah. Kita bisa memahami kenapa Lila sangat membenci Hendy, sangat terluka akan perbuatannya, dan lewat Hendy kita bisa mendapatkan jawaban, alasan yang sebenarnya. Bagian flashback menjadikan pembaca penasaran karena dihadirkan secara perlahan di tengah-tengah masa sekarang, menjawab apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu.

Kelebihan kedua adalah penulis mengasah kemampuannya dalam adegan ranjang, hahaha. Cukup eksplisit walau tidak memenuhi setiap bab, dan tergolong smooth, kok, nggak ada pecut-pecutannya LOL. Hal ini sekaligus menjawab pertanyaan saya ketika membaca Dirt on My Boots yang terasa kentang dengan label dewasa yang tersemat, hanya besar di mulut saja tanpa ada praktik langsung, hahaha. Makanya nggak heran buku ini diterbitkan secara mandiri. Jadi, kalau kalian masih di bawah umur, jauh-jauh dari buku ini ya :p.

Kekurangannya mungkin lebih ke pendalaman cerita yang mentok di situ-situ saja, sehingga alurnya berasa lambat. Karena biasanya kalau menggunakan sudut pandang yang bergantian yang diutamakan adalah emosi tokohnya, perasaan mereka satu sama lain. Dari segi pendalaman emosi okey banget, tapi untuk perkembangan cerita atau konflik biasanya nggak ada perubahan yang banyak, alias nggak detail. Kalau melihat tulisan Titi Sanaria selama ini, dia tipikal penulis yang tidak suka berbelit-belit, jarang memberikan narasi yang panjang banget.

Kekurangan kedua adalah covernya, hiks. Plisssss, walau diterbitkan secara self publish, jangan anggap sepele. Zaman sekarang cover menjadi bagian penting, semakin banyak penulis maka semakin gencar seleksi alam dilakukan oleh pembaca, apalagi diterbitkan tanpa dukungan penerbit besar, penulis harus mencari pasar bagi dagangannya. Salah satu usaha yang bisa dilakukan dengan memperhatikan packaging, kalau isi dan cover sama-sama bagus, itu bisa menjadi kelebihan. Setidaknya orang tertarik terlebih dahulu dengan kemasannya, baru akan penasaran dengan isinya.

Secara keseluruhan, saya terpuaskan, hahaha. Buku ini cocok bagi kalian yang ingin baca cerita romantis dewasa yang masih tergolong aman. Bagi kalian yang penasaran bagaimana Titi Sanaria menulis adegan ranjang, LOL.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...