Selasa, 17 April 2018

Forever My Girl | Movie Review


Forever My Girl (2018)
Sutradara: Bethany Ashton Wolf
Produser: Mickey Liddell, Pete Shilaimon
Penulis naskah: Bethany Ashton Wolf
Pemain: Alex Roe, Jessica Rothe, John Benjamin Hickey, Abby Ryder Fortson, Travis Tritt
Studio: LD Entertainment

Based on Heidi McLaughlin's book, Forever My Girl (2012).

Sebenarnya saya nggak segaja melihat film ini disela menunggu subtitle drama Korea, Pretty Noona Who Buys Me Food (sehari tiga kali pasti ngecek, sudah kayak minum obat saja), karena habis maraton baca, saya juga perlu rehat sejenak karena mata saya benar-benar pedih, terlalu lelah. Semakin uzur saya semakin nggak kuat apalagi sekarang sering baca ebook, minus saya sepertinya juga nambah, males mau periksa karena harus daftar jam empat pagi, wakakaka. Merasa butuh asupan romance untuk membangun mood agar bisa produktif menulis, PR review saya kembali menumpuk, hahaha, tanpa perlu berpikir panjang langsung klik tombol play.

Sebelumnya saya nggak tahu kalau Forever My Girl ini adaptasi dari novel bergenre new adult garapan Heidi McLaughlin, pokoknya mau nonton saja karena yang maen ganteng terus mau langsung dibikin review karena filmnya juga baru, rilis 29 Januari kemarin, lumayan dapat alternatif selain Scott Eastwood dan Zac Efron yang bikin mata melek, hahaha. Dan ternyata Alex Roe ini pernah main di film The 5th Wave, duh, kapan-kapan pantengin deh, tapi baca dulu bukunya XD.


Forever My Girl mulai dengan adegan sebuah pesta pernikahan yang tengah berlangsung, tapi kabar buruk menimpa kepada calon pengantin, sang mempelai laki-laki tidak akan pernah datang. Kemudian waktu bergeser delapan tahun kemudian, menampilkan penyanyi caountry yang sedang melakukan tur konser di New Orleans. Liam Page (Alex Roe) tidak sengaja menonton sebuah berita kecelakaan di mana korban yang meningggal adalah sahabatnya waktu sekolah dulu. Melihat jarak New Orleans dan kampung halamannya, Saint Augustine, Louisiana, tidak begitu jauh, dia melarikan diri dari managernya untuk menghadiri pemakaman.

Liam Page telah meninggalkan kampung halaman selama delapan tahun, tanpa pernah kembali lagi, dia meninggalkan keluarga dan tunangannya, calon istrinya. Di pemakaman itulah dia melihat kembali Josie (Jessica Rothe), seorang wanita yang dia sadari tidak pernah berhenti dicintai, tapi saat bertemu Liam malah mendapatkan bogeman dari wanita tersebut. Tentu saja semua orang di kampung mengenal Liam dan apa yang dia lakukan, tapi mereka diam, tidak pernah berkoar-koar kepada wartawan. Karena ketika Liam pergi, dia tidak hanya meninggalkan keluarga dan orang yang dicintainya, tetapi juga penduduk setempat, mereka sangat setia.

Setelah hari itu Liam kembali ke rumah, bertemu ayahnya, Pastor Brian (John Benjamin Hickey), mencoba memperbaiki hubungan serta keadaan rumah, dan tentu mulai mencari tahu tentang Josie, sebuah rasa penasaran yang cukup besar menganggu Liam tentang Josie dan seorang gadis cilik yang dia lihat saat pemakaman. Josie memiliki toko bunga, di tempat tersebut dia bertemu dengan Billy (Abby Ryder Fortson), gadis cilik berusia tujuh tahun. Saat itulah Liam sadar, ada seseorang lagi yang dia tinggalkan delapan tahun yang lalu.

Rasa bersalah tentu meliputi Liam, saat itu dia masih terlalu muda, tidak bisa mengambil keputusan yang tepat. Dia hanya terlalu bahagia ketika lagu demo-nya disambut baik oleh pihak label musik, dia ingin mengejar mimpinya terlebih dahulu. Kesuksesan yang dia dapat kini sebagai salah satu penyanyi country yang sedang naik daun seperti tidak ada apa-apanya ketika melihat dan berinteraksi langsung dengan Billy. Dia ingin menebus kesalahan, dia tidak muluk untuk mendapatkan cinta Josie kembali, dia hanya ingin mengganti waktu yang hilang dengan Billy, menjadi seorang ayah.

Namun, rasa trauma kembali datang ketika dia melihat Billy tersedak dan tidak bisa melakukan apa-apa, persis saat dia melihat ibunya meninggal dulu. Liam mempertanyakan kepada diri sendiri apakah dia memang berhak mendapatkan maaf dan menjadi seorang ayah yang baik? Apakah kesalahan yang dulu akan terulang kembali?


Dari segi cerita sebenarnya biasa banget apalagi untuk genre romance, tapi yang bikin asik adalah sentuhan musik country-nya, bikin betah! Ya, tentu saja Alex Roe juga menyumbang perhatian terbesar. Tadinya saya kira Alex Roe juga seorang penyanyi country, melihat dia mengisi beberapa lagu sebagai soundtrack dan suaranya country banget! Ternyata, berkat asuhan Brett Boyett, pengarah musik untuk film ini, Roe belajar bernyanyi dan bermain gitar selama tiga bulan secara intensif setiap hari, dan belajar juga lewat Little Big Town, grup country -yang juga menyumbang lagu sebagai soundtrack, untuk perannya di atas panggung.

Musik country bukan favorit saya, tapi ada beberapa penyanyi berasal dari genre tersebut yang menjadi favorit, sebut saja Lady Antebellum, The Band Perry dan yang sedang kekinian sekarang ini, Maren Morris. Kalau saja tidak diiringi musik country, mungkin saya akan bosan sekali dengan film ini, ya karena cerita serta akting pemainnya yang biasa, jadi perlu sesuatu yang anti mainstream agar tidak membosankan. Beruntung dengan sountrack yang okey punya, jadi betah banget. 

Bagi saya musik country itu ibarat musik Dangdut bagi Indonesia, hahaha. Ya karena khas banget, selain identitas bagi warga Amerika Serikat, di country juga memiliki ciri khas lewat alat musik yang mengiringi, dan biasanya suara penyanyinya juga sedikit beda, apa ya namanya, nggak bisa jelasin, bukan orang yang ahli di bidang musik, tapi kerasa aja bedanya kalau pas nyanyi, langsung bisa menegakkan genre musik country.

Favorit saya antara lain, semua yang dinyanyikan oleh Alex Roe (kalau kalian dengar pertama kali, kalian akan takjub kalau dia memulai karir bukan sebagai penyanyi, hahaha): Enough, Don't Water Down My Wishkey, Smokin' & Cryin', dan penutup lagu yang cukup epic berduet dengan sang 'anak', Abby Ryder Fortson, Finally Home. Favorit lainnya ada dari Little Big Twon (Live Forever, Can't Go Back), Josh Turner (Back From Gone), Canaan Smith (Always and Forever), Lauren Alaina (Wings of An Angel) dan masih banyak lagi dari musisi country yang melatari film ini. Duh, selama menulis resensi ini saja saya tidak berhenti memutar soundtrack Forever My Girl.

Heidi McLaughlin mengaku cikal bakal novel Forever My Girl berasal ketika dia melihat sebuah foto di facebook di mana ada seorang laki-laki yang mencoba meminta maaf kepada seorang wanita. Pemilihan nama Liam Page sebagai toh utama hanya memerlukan waktu 10 atau 15 menit, dan pada malam yang sama, dia langsung menulis mencapai 5000 kata. Kenapa penerbit sini tidak ada yang tertarik untuk menejermahkan ya? Padahal genrenya new adult, favorit saya tuh, *siapa elo, hahahaha. Forever My Girl adalah buku pertama dari lima buku Beaumont series yang ditulis oleh Heidi McLaughlin.

Kalau baca review bukunya, tidak banyak perbedaan, intinya tentang kesempatan kedua. Mungkin karena versi film memiliki durasi, ceritanya lebih padat, hanya fokus akan hubungan Liam dengan Josie dan Billy. Secara keseluruhan, bagi pecinta romance film ini recommended untuk ditonton. Bagi yang bosan sama ceritanya Nicholas Spark, boleh juga sebagai selingan. Bagi yang ingin mengenal musik country, tonton saja! Lagunya serius enak-enak. Dan bagi yang mau nyari idola baru, Alex Roe bener-bener seksi, seseksi suaranya! Hahahaha.



1 komentar:

  1. Waahh jadi kepengin nonton film-nya. Lihat scene-nya kok kelihatannya bagus banget yaa :D

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...