Minggu, 03 Desember 2017

The Godfather by Mario Puzo | Book Review

Judul buku; The Godfather
Penulis: Mario Puzo
Alih bahasa: B. Sendra Tanuwidjaja
Desain sampul: Eduard Iwan Mangopang
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-8634-2
Cetakan ketiga, Juli 2012
680 halaman
Buntelan dari @stefanie_sugia
Godfather adalah pemimpin Mafia bernama Don Vito Corleone, pria pemurah yang tak kenal ampun dalam meraih dan mempertahankan kekuasaan.

Godfather adalah pria yang "logis" dan adil. Ia memimpin kerajaan bawah tanah raksasa yang menguasai berbagai kegiatan bisnis ilegal, perjudian, taruhan pacuan kuda, dan serikat buruh.

Tiran, pemeras, pembunuh—ia memberikan persahabatan tanpa ada yang berani menolak, serta menentukan mana yang benar dan salah. Menurutnya, pembunuhan halal demi keadilan.
Jujur, sangat sulit untuk menulis review The Godfather, berjam-jam saya memikirkan apa kalimat pembuka yang pas, apa saja yang bisa saya tuangkan sehingga pembaca lain bisa merasakan apa yang saya rasakan akan buku ini. The Godfather benar-benar membuat saya mind blowing, tidak berhenti terkesima, tidak berhenti memikirkannya, benar-benar sebuah masterpiece yang timeless. Pantas saja para lelaki memuja-muja The Godfather, buku ini memang 'laki' banget, brutal, vulgar, penuh kecerdikan. Salah satu buku yang wajib dibaca sebelum dunia kiamat.

The Godfather bercerita tentang keluarga mafia yang sangat disegani di Amerika bahkan sampai Sisilia, tentang pemimpin mafia yang penuh karisma, Don Vito Corleone. Don dikenal sebagai orang yang penuh kasih, adil, dan logis, selalu menawarkan persahabatan kepada siapa pun, tanpa memandang status mereka. Sehingga tidak heran bila seseorang mengalami masalah atau ketidakadilan, maka Don adalah jawabannya, dia tidak pernah memberikan janji kosong. Hanya saja, persahabatan bagi Don tidaklah gratis, bukan hanya perkara uang, tapi kesetiaan. Don adalah orang yang sangat berhati-hati, dengan pembicaraan yang lancar dan manis, bahkan terkadang didominasi diam, semua bisa bermakna mengancam. Bagi Don, pembunuhan halal dilakukan demi keadilan.

Don Vito Corleone memang terbilang kuno, dia sangat setia kepada istrinya, dia sangat menyayangi anak-anaknya, harta yang paling berharga. Don memiliki empat anak, anak sulungnya, Sonny Corleone memiliki kekuatan dan keberanian, dia sangat membantu bisnis ayahnya, tapi dia tidak memiliki kerendahan hati sang ayah, dia memiliki masalah dengan temperamen, mudah sekali tersulut amarah. Anak kedua, Frederico, biasa dipanggil Fred atau Freddie selalu siap melayani ayahnya, tidak pernah menentang dan selalu bertanggung jawab, tapi dia tidak memiliki kekuatan hewani yang diperlukan sebagai pemimpin, hatinya terlalu lemah. Anak keempat, Constanzia Corleone adalah anak kesayangan Don, hanya saja sebagai anak terakhir dan satu-satunya perempuan dia sangat manja dan salah memilih suami, tapi bukan Don namanya kalau tidak bisa mengatasi kesalahan anaknya, Don punya cara tersendiri agar Connie tetap bahagia.

Michael Corleone, putra bungsu Don dan anak satu-satunya yang menentang arahan ayahnya, padahal dia memiliki kekuatan dan kecerdasan ayahnya, ahli waris terpilih untuk mengelola bisnis keluarga dan melanjutkan kerajaan Corleone di dunia mafia. Berseberangan dengan keputusan kedua kakaknya, Mike lebih memilih menjadi 'orang biasa', dia tidak tahu menahu akan bisnis ayahnya, dia memilih kuliah, bahkan menentang secara tegas dengan cara mendaftarkan diri ke Korp Marinir, berperang untuk orang lain.

Keluarga Corleone menguasai bisnis minyak zaitun di Amerika, bukan sumber kekayaan utama tentunya, masih ada bisnis ilegal lainnya seperti perjudian, minuman keras, real estate, taruhan pacuan kuda, dsb. Don bahkan menguasai serikat buruh, kejaksaan, hakim sampai pemerintahan, sehingga tidak heran bila Sollozzo si Turki, yang didukung Keluarga Tattaglia, salah satu dari Lima Keluarga Mafia terbesar di New York City, meminta bantuanya dalam pembiayaan dan perlindungan hukum ketika ingin memulai bisnis narkotika di Amerika. Walau Tom Hagen, sang consigliori memandang bisnis narkotika akan penting  di masa depan, Don dengan tegas menolak karena baginya bisnis narkotika penuh risiko, bisnis yang kotor, akan mempengaruhi hubungannya dengan pemerintah, Don tidak ingin kehidupan keluarganya yang layak, tanpa gangguan dan bahaya selama ini hancur karena keserakahan.

Penolakan Don membuat Sollozzo sangat kecewa, terlebih lewat kesalahan yang Sonny tunjukkan, sebenarnya dia memiliki peluang besar. Namun, keputusan Don tidak bisa diganggu gugat, bersama Keluarga Tataglia, bahkan Keluarga Barzini, musuh besar Keluarga Corleone mulai mengusik ketenangan Sang Godfather. Perang antar mafia pun dimulai.
"Persahabatan adalah segalanya. Persahabatan melebihi bakat. Persahabatan hampir setara dengan keluarga. Melebihi pemerintah. Jangan pernah melupakannya."
"Setiap orang punya satu takdir."
The Godfather sangat bagus sekali, saya tidak pernah membayangkan akan seasik ini membaca karya dari Mario Puzo yang sangat fenomenal, paling laris dari semua buku yang dia tulis. Penggambaran akan dunia mafia, gangster, dunia bawah tanah seakan nyata, padahal dia memulai hanya berdasarkan riset di perpustakaan saja. Tokoh-tokohnya sangat hidup, berkarakter, dan sangat menarik untuk diselami satu per satu. Narasi panjangnya membuat buku ini sangat detail dan jauh dari kata membosankan walau setebal 680 halaman, bahkan berasa kurang! Semua terjalin untuk menunjukkan karakter para tokohnya, pada keadaan yang terjadi, action yang tercipta. Benar-benar pengalaman yang menyenangkan membaca The Godfather ini.

Kelebihan utama tentu terletak pada penokohan, Don Vito Corleone adalah salah satu tokoh fiksi yang akan selalu terkenang di hati pembaca. Karakternya begitu jelas, dia berwibawa, berkarisma,  penuh perhitungan, menjunjung tinggi keadilan, melakukan perbuatan keji dengan cara yang halus, bahkan gerak geriknya yang lebih pendiam dan tenang menyembunyikan kalau dia bisa lebih kejam dari siapa pun. Dia juga penuh cinta kasih, sangat melindungi dan menyayangi keluarganya, bahwa keluarga adalah segalanya. Tanpa perlu diungkapkan, perlakuan orang terhadapnya jelas mengukuhkan kalau Don bukan orang yang bisa dipandang sebelah mata.

Michael Corleone adalah tokoh favorit saya di buku ini, Don tentu saja 'dewa' di buku ini, tapi Mike memikat hati saya, baik dari segi ketampanan maupun pilihan hidupnya. Pilihannya untuk menjadi 'orang biasa' tentu disayangkan banyak orang, terlebih hanya dialah yang merupakan cerminan ayahnya. Mike tidak tertebak, memiliki pendirian yang kuat, kelebihan yang dimiliki dirinya sehingga membuat musuh tidak bisa mengantisipasi langkah apa yang akan dia ambil. Dia juga sangat setia, hanya ada dua wanita yang mengisi hatinya, kenapa tidak satu? Kalian akan mengerti setelah membaca. Sebenarnya ada lagi tokoh favorit saya, yaitu Luca Brasi, ya, tokoh yang sangat keji dan penuh kesetiaan kepada Don, tapi sudahlah, hahahaha.
"Katakan pada ayahku agar membawaku pulang," kata Michael. "Katakan pada ayahku aku ingin menjadi anaknya."
Bagian di atas adalah bagian paling favorit di buku ini, selepas membaca bagian tersebut, tak terbendung rasanya, bagaimana bahagianya saya. Bagian yang membuat saya berkata dalam hati, 'okey, ini saatnya pertempuran dimulai, saatnya pahlawan muncul, saatnya penjahat sesungguhnya melawan penjahat kelas teri!' rasanya sangat seru sekali! Bahkan seusai menutup buku, rasa buncah masih mengiringi saya. The Godfather memang brutal, berhubungan tentang mafia tentu bahasannya jauh dari kata manis, kalian akan mendapatkan nuansa kelam dan mencekam, banyak tokoh yang meninggal, yang akan membuat kalian sedih dan menyayangkan. Aksinya tidak perlu diragukan lagi, tidak hanya perang kekuatan, tapi juga kecerdikan.

The Godfather terdiri dari sembilan bagian dan tiga puluh dua bab, entah apakah ada yang dipotong atau ada kesalahan ketik, saya menemukan dari bagian yang tertulis buku tujuh langsung melompat ke buku sembilan, kalau iya sangat disayangkan sekali, saya sangat puas membaca tapi tidak akan menolak kalau memang ada versi panjangnya lagi. Dari beberapa 'buku' tadi, ada beberapa yang terlihat keluar jalur, fokus menceritkan kehidupan tokoh lain, dan kalaupun tidak disertakan sebenarnya tidak menjadi masalah. Namun, bukan Mario Puzo namanya kalau hal tersebut tanpa arti, bahwa semua tokoh yang ada di buku ini tidak sia-sia tercipta, semuanya bermakna.

Misalkan saja ketika cerita bergulir pada kehidupan Johnny Fontane, aktor sekaligus penyanyi Hollywood yang merupakan anak baptis kesayangan Don. Lewat kisahnya, kita bisa melihat bagaimana 'borok'nya industri perfilman dan kehidupan para selebritas di Amerika yang biasanya juga tidak jauh dari campur tangan mafia, bahkan ada yang mengatakan kalau Johnny mirip dengan Frank Sinatra. Kemudian pada beberapa bab yang membahas Lucy Mancini, kekasih gelap Sonny Corleone, perannya cukup terlihat terlebih nantinya dia akan mengenalkan seseorang untuk memperbaiki salah satu luka fisik yang dialami Mike, dan melihat dari sudut pandangnya akan rencana Mike untuk memindahkan kekuasaan Keluarga Corleone.

Walau ada adegan kekerasan dan sedikit vulgar, buku ini bisa dinikmati oleh pembaca yang memiliki pemikiran matang dan terbuka. Bacalah! Buku ini benar-benar tidak boleh dilewatkan, tidak akan berhenti membaca sebelum tamat, buku yang akan segera kalian baca ulang setelah selesai, satu kali tidaklah cukup! Persahabatan, keluarga, cinta, penghianatan, dendam, kekuatan, kecerdikan semua bercampur menjadi satu. Buku yang sangat saya rekomendasikan bagi kalian yang ingin membaca tentang para mafia, gangster atau dunia bawah tanah yang keji dan haram. Kalian juga akan merasakan sentuhan 'lembut' yang Don Vito Corleone lakukan dalam dunia tersebut. Bahwa keadilan akan selalu ada, entah bagaimana cara untuk mendapatkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...