Rabu, 06 Desember 2017

Raindrops Serenade by Dya Ragil | Book Review

Judul buku: Raindrops Serenade
Penulis: Dya Ragil
Ilustrasi sampul: Orkha Creative
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-7877-0
Cetakan pertama, 4 Desember 2017
256 halaman
Baca di Scoop
“Omong-omong, gue lagi nulis lagu atas permintaan band kampus. Mau bantu?”
“Kenapa? Lirik yang lo tulis berasa sampah lagi?”
“Lebih baik sampah daripada plagiat.”


Risa pernah menulis lagu bersama Amel, lalu tiba-tiba lagu itu diklaim sebagai lagu yang diciptakan oleh salah satu personel band Lima Oktaf. Ketidakjelasan kenapa lagu itu bisa jatuh pada pihak ketiga membuat dua sahabat itu saling menyalahkan dan akhirnya bermusuhan. Bahkan, Risa sempat melakukan percobaan bunuh diri karena tidak kuat menghadapi cyberbullying yang dilakukan para fans Lima Oktaf.

Setelah kejadian itu berlalu, Risa harus kembali berhadapan dengan Lima Oktaf karena urusan kepanitiaan orientasi mahasiswa baru di kampusnya. Keadaan makin rumit ketika dia mendapati Galang, pemuda yang sudah dia anggap adik sendiri, ternyata sedang menulis lagu untuk Lima Oktaf tanpa mengetahui seperti apa masa lalu Risa.

Apa yang akan Risa lakukan saat Galang meminta bantuannya menulis lagu itu? Bagaimana pula reaksi Amel yang masih saja menyalahkannya?
Risa dan Amel pernah menjadi teman dekat, mereka berdua disatukan oleh musik, mereka duo yang hebat dalam menciptakan lagu. Namun, musik juga lah yang membuat mereka saling membenci satu sama lain. Bermula dari lagu ciptaan mereka yang tiba-tiba saja diklaim sebagai lagu sebuah band indie dengan nama pencipta salah satu personel. Risa berusaha mengkonfirmasi ke band tersebut lewat akun media sosial, tapi bukannya mendapatkan kejelasan, dia malah dibantai oleh penggemar Lima Oktaf. Rasa kecewa bertambah ketika Amel lepas tangan dan memilih pindah sekolah, bahkan mengira lagu tersebut bocor karena Risa menyerahkan lewat pihak ketiga. Mereka berdua saling menyalahkan dan akhirnya bermusuhan. Bahkan karena insiden itu juga Risa sampai melakukan percobaan bunuh diri.

Lima tahun kemudian, ketika Risa duduk di bangku kuliah dan menjadi panitia orientasi mahasiswa baru, dia kembali berurusan dengan Lima Oktaf yang akan mengisi salah satu acara penyambutan. Risa juga kembali bersingunggan dengan Amel karena sama-sama menjadi panitia. Tidak berhenti sampai di situ, Galang, anak dari teman ibunya, yang sudah dianggap adik sendiri sedang menulis lagu untuk Lima Oktaf dan meminta bantuan Risa tanpa tahu apa yang terjadi pada masa lalu. Apakah pertemuan dengan luka masa lalu sanggup memecahkan masalah yang buntu sampai saat ini? Atau malah hanya membuat luka tersebut semakin dalam?
"Aku tahu. Tapi kan hidup itu layak dinikmati, Kak. Kalau hal itu beneran berat melebihi apa yang bisa kita tanggung, ya udah, nggak apa-apa dilepasin. Saat-saat buruk dalam hidup pasti ada, tapi akan sia-sia kalau kita terkurung di situ-situ terus. Bisa-bisa hidup kita terancam jalan di tempat." 
"Aku... nggak terlalu peduli soal itu, Kak. Aku yang jalani hidupku. Orang mau ngomong apa, aku udah nggak peduli lagi. Kita hidup kan sesuai standar kita sendiri, bukan demi menuhin standar semua orang."
Raindrops Serenade mengambil tema yang cukup santer terdengar di industri kreatif, yaitu isu plagiat. Tidak hanya itu saja, lewat tokoh yang masih muda dan peran media sosial, di mana keduanya sangat erat sekali hubungannya, Dya Ragil membuat tokoh utamanya mengalami depresi sampai akhirnya melakukan percobaan bunuh diri karena tidak kuat dengan cyberbulling. Masa remaja memang masa yang rawan dalam perkembangan psikis, masih terlalu labil, sehingga apa yang disuguhkan penulis saya rasa tidak berlebihan, bahkan sangat realistis sekali.

Penulis lebih banyak menyorot akan kejadian pasca depresi, keadaan depresi bukan fokus utama tetapi lebih ingin menunjukkan dampak akan kejadian tersebut. Setting waktunya adalah lima tahun setelah kejadian Risa mencoba bunuh diri, sehingga dari jarak kejadian tersebut penulis menunjukkan akan perkembangan karakter yang lebih dewasa. Risa jauh menjadi lebih kuat walau luka yang sudah kering kadang kali 'masih terasa' menyakitkan bila dia teringgat kenangan dari masa lalu. Namun, hal tersebut tetap saja membuat orang di sekitar Risa, khususnya orangtuanya belum bisa percaya penuh kalau Risa tidak akan mengulangi lagi, misalkan saja ketika adegan Risa memecahkan gelas, ibunya sampai berpikir akan mengganti semua gelas kaca dengan gelas plastik. Risa kehilangan kepercayaan dari orangtuanya.

Dampak selanjutnya adalah Risa kehilangan kepercayaan untuk berteman dengan orang lain. Merasa ditusuk dari belakang oleh Amel membuat Risa menjadi tertutup dan tidak ingin memiliki hubungan khusus, dia tidak pernah membiarkan dirinya dekat dengan orang lain, hanya keluarga yang bisa menjadi sandarannya. Namun, kehadiran Luna yang apa adanya dan sangat vocal membuat Risa memikirkan kembali akan sebuh pertemanan yang tulus, yang akan selalu ada untuk mendengarkan, yang tidak langsung membebankan kesalahan tanpa tahu duduk perkaranya, yang memiliki pandangan terbuka, yang lebih mengutamakan teman daripada idola. 

Cyberbullying membuat Risa sangat berhati-hati, dia menghapus semua akun media sosial, bahkan ketika Galang membuat lagu di tempat umum, Risa mengatakan kalau bisa saja lagu tersebut hilang dan dicuri orang, Galang bisa mengalami hal yang sama dengan dirinya. Walau sempat membuat Risa terpuruk, cyberbullying membuat Risa lebih apatis akan orang-orang yang tidak dia kenal yang sedang membicarakan dirinya.
Orang-orang memang mengerikan. Saat kamu bukan siapa-siapa, peduli amat mau kenal atau tidak. Saat kamu melakukan sesuatu yang bisa menimbulkan perhatian -entah baik, entah buruk- seketika perlakuan orang kepadamu berubah 180 derajat. Pilihannya antara dicaci atau dipuji. Teman bisa seketika berubah menjadi musuh, begitu pula sebaliknya. Dan orang yang dulunya paling dipuja bisa berubah menjadi orang yang paling dihujat hanya dalam satu sapuan napas.
Dya Ragil menggiring pembaca secara perlahan akan misteri apa yang sebenarnya terjadi dengan lima tahun lalu, meninggalkan tanya di setiap akhir bab sehingga mau tidak mau membuat pembaca penasaran dan ingin terus membaca sampai akhir. Plot-nya begitu rapi, bagian flashback yang cukup singkat terjalin dengan baik sehingga mengisi jawab akan tanda tanya tanpa perlu memakan waktu yang lama, tetap fokus akan kejadin sekarang, fokus akan penyelesaian masalah. Tulisannya juga begitu lincah, saya suka sekali ketika penulis memasukkan sedikit pengetahuan seperti hukum kedua termodinamika dan teori Kucing Schrodinger, memadupadankan dengan kejadian yang sedang terjadi, terasa menyatu dengan apa yang sedang dibahas.

Karakter para tokohnya juga menyenangkan, Risa dan Amel yang sama-sama keras, tidak jarang beradu mulut dan terlihat saling membenci, tersisa perhatian yang tidak ingin ditunjukkan. Misalkan saja ketika Amel baru tahu akan kejadian yang menimpa Risa lima tahun lalu, dia marah karena terlalu mudah bila Risa menyelesaikan masalah dengan memilih mati. Atau ketika Risa tahu alasan sebenarnya dia pindah sekolah, membuat Risa sadar kalau dia belum menjadi teman yang baik.

Tokoh favorit saya di buku ini adalah Galang, perangainya yang diam tapi tegas, menunjukkan kalau dia lebih dewasa dari usianya, terlebih perhatiannya pada Risa yang tidak hanya sebatas kakak adik semata, memberikan sentuhan romansa yang cukup sendu dan manis. Saya sangat menyukai bagaimana Dya Ragil membuat hubungan mereka bermakna, dengan menunjukkan adegan minim bicara tapi sanggup mengungkapkan perasaan keduanya. Misalkan saja pada bagian ketika Risa diam-diam mengikuti Galang dari belakang dan melangkah tepat pada bekas jejak yang ditinggalkannya, berhenti ketika sepasang sepatu menghadap langkahnya. Dya Ragil sanggup membuat adegan yang sangat memorable bagi pembacanya.
Jika Awan seolah latar belakang dalam hidupku, Galang seperti udara. Kecuali Tuhan berkata lain, udara tidak pergi, ada selamanya di sini, bahkan merasuk sampai ke pembuluh darahku. Itu yang kutahu.
Raindrops Serenade memberikan banyak pesan hanya dalam 256 halaman saja. Bahwa plagiat bisa menghancurkan kreatifitas seseorang, enggan untuk berkarya lagi. Apa yang kita katakan terlebih untuk orang yang tidak kita kenal di media sosial bisa berdampak buruk, bisa menjadi cyberbullying, bisa melukai persaaan bahkan membuat orang tersebut untuk bunuh diri. Komunikasi sangat penting dalam sebuah hubungan, entah itu hubungan dengan keluarga, teman maupun pacar, karena tanpa komunikasi yang jelas kadang bisa menyebabkan kesalahpahaman dan hilangnya kepercayaan.

Buku ini saya rekomedasikan bagi siapa saja, bagi yang ingin menghargai karya asli, bagi yang ingin membaca bahwa depresi bukan harga mati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...