Jumat, 10 November 2017

The Second Best by Morra Quatro | Book Review

Judul buku: The Second Best
Penulis: Morra Quatro
Editor: Alaine Any
Desainer sampul: Agung Nurnugroho
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 978-979-780-900-3
Cetakan pertama, 2017
218 halaman
Beli di Gramedia Slamet Riyadi
Tanyakan hatimu bila kau bimbang.
Mengapa sang cinta pertama,
sosok yang kau kenal dekat, tak mampu kau raih?
Lalu, apakah hati ini siap untuk pilihan cinta yang lain?


Bagi Gwen, jatuh hati kepada Aidan terasa mudah. Hatinya selalu tertuju kepada dirinya. Namun, hati Aidan sulit dijangkau olehnya.

Lalu, Edgar hadir menawarkan rasa yang sehangat lagu cinta. Bersamanya, yang Gwen tahu adalah ia tak terlalu merasa sakit--karena hati Edgar selalu terbuka untuk dirinya.

Namun, cobalah tanya hati sekali lagi. Benarkah Edgar adalah sosok pilihan kedua terbaiknya? Atau... diam-diam Aidan masih ia rindukan?

Sejak kecil saya suka mendengarkan musik, laiknya membaca buku atau menonton film, mendengarkan musik merupakan sebuah hiburan yang menyenangkan, tidak pernah menjemukan. Maka, ketika buku bisa diadaptasi menjadi film, pun sebaliknya, saya ingin musik juga bisa menjadi bagian dari buku, ada di dalamnya. Tidak banyak buku yang bercerita tentang musik, tentang band yang ditulis oleh penulis dalam negeri dengan baik, sesuai selera saya, hanya beberapa yang pernah saya cicip dan tahu, misalkan saja Memoritmo, Interlude (jangan cari reviewnya di blog ini, belum saya tulis T.T), Underground (belum punya bukunya T.T), series Heartbreakers. Namun, tulisan Morra Quatro dalam The Second Best mewakili apa yang saya inginkan selama ini, saya bisa merasakan musik sangat kuat di dalamnya, saya bisa merasakan betapa musik sangat berperan penting bagi para tokohnya.

Gwen Nardini bertemu pertama kali dengan mereka berdua ketika dia memutuskan untuk bergabung kembali dengan divisi musik di kampusnya, ketika Coach Amy meminta kerja sama dengan band independen dari fakultas hukum, saat itulah dia mengenal Aidan Arkhana dan Edgar Wimantara. Tanpa memerlukan waktu yang panjang Gwen tahu siapa yang akan selalu ada di hatinya, tapi dia hanya bisa menyimpan rapat-rapat karena dia memiliki aturan tidak ingin ada hubungan asmara sesama anggota band karena bisa menghancurkan. Selain itu, Aidan adalah pilihan pertama yang tidak mungkin bisa dia dapatkan, dia terlalu dekat dengan Maya, salah satu vokalis di band, Gwen memilih pilihan yang lain, pilihan kedua.

Sejak pertama bertemu Edgar jelas menunjukkan perhatian khusus bagi Gwen, kedekatan mereka semakin terjalin ketika Edgar mengajak Gwen dan Nilam untuk menyuarakan musik mereka secara independen, ngamen di kafe atau bar yang mau menerima mereka, band yang nantinya mereka beri nama Yellow. Penampilan pertama mereka mendapatkan sambutan yang positif, sampai akhirnya jerih payah mereka dilirik oleh label rekaman major, tapi Gwen menolak bergabung. Gwen berpendapat hal tersebut berseberangan dengan idealismenya, selain itu dia juga ingin fokus akan kompetisi jurnalistik dan study-nya. Keputusan tersebut mempengaruhi hubungannya dengan Edgar. Edgar menjadi jauh, di sisi lain Gwen mulai dekat dengan Aidan.
"Gue mikir, mungkin benar juga yang mereka semua bilang. Akan selalu ada satu yang paling kita inginkan itu, yang tak bisa kita miliki. Sedangkan kita tak bisa sendiri, tak berani. Itu sebabnya kebanyakan dari kita berakhirnya dengan yang terbaik kedua. The second best."
Seperti hidup, kami juga tak pernah tahu lagu berikutnya yang harus bermain. Hanya mengikuti penanda nada yang terdengar pertama, lalu bermain, karena itu satu-satunya yang kami tahu. 
Aku selalu percaya ada dua jenis pekerja di dunia ini: mereka yang bekerja untuk mengeluarkan ekspresi, dan mereka yang bekerja untuk memberi impresi. Kelompok yang pertama cenderung melakukan apa yang mereka lakukan untuk kebahagiaan diri sendiri. Itu sebabnya mereka juga melakukannya dengan penuh kecintaan, dan semua hal yang dilakukan dengan penuh cinta selalu berhasil baik. Karya-karya terbaik selalu datang dari kelompok ini, sejarah sudah mencatatnya.
Kelompok yang kedua cenderung melakukan pekerjaan mereka untuk menyenangkan orang lain, dengan motif masing-masing, yang bervariasi. Barangkali agar dilihat, agar diakui, agar menghasilkan uang, dan agar-agar yang lain. Dalam lini yang ekstream, dua jenis orang ini tak mungkin bekerja sama.
Tema utama dalam The Second Best ini sebenarnya sangat sederhana, yaitu tentang cinta segitiga. Kemudian penulis melapisinya dengan persahabatan dan musik dengan sangat rapat dan menarik. Kedua hal tersebut sangat terasa sekali, persahabatan antara Aidan dan Edgar, musik yang menjadi jiwa para tokohnya, mungkin karena penulis juga menyukai musik sehingga apa yang dia rasakan mudah ditangkap oleh pembaca. Ditambah dengan caranya bercerita, bagi yang mengikuti karya Morra Quatro pasti tahu tulisannya penuh akan berbagai emosi, teknik show yang memudahkan kita menangkap gerak gerik para tokohnya, pemilihan diksi yang indah sehingga kalimat-kalimatnya menjadi quoteable. Jangan lupakan juga karakter cowok yang pasti akan menjadi book boyfriend.

Untuk ukuran kisah cinta segitiga saya memiliki syarat tersendiri, saya harus bingung memilih, saya harus menyukai kedua pihak yang memperebutkan satu cinta, porsi keduanya haruslah seimbang, dan Morra Quatro mewujudkannya. Saya jatuh cinta dengan Edgar yang seksi dengan tangan kidalnya, saya jatuh cinta dengan Aidan yang tenang dan ceria. Walau tergolong cepat alurnya, saya bisa merasakan bagaimana perkembangan perasaan Gwen bagi keduanya, khususnya bagi Edgar. Sejak pertama Aidan lah yang dilihat Gwen, tapi lambat laun dia mencoba menerima keberadaan Edgar, mencoba mencintainya.

Persahabatan Aidan dan Edgar bagi saya cukup kuat, terlebih dari Aidan. Karena persahabatan lah konflik cerita di buku ini bermula. Sedangkan untuk unsur musiknya sendiri, kita akan diperdengarkan lewat para band British Pop yang kerab kali menjadi bahan obrolan, idealisme mereka, semua menyatu dengan baik dalam cerita, tanpa terkesan tempelan, bahwa hal itulah yang memang mereka bicarakan sehari-hari, musik sudah menjadi bagian dari hidup mereka.

Untuk kekurangannya sendiri adalah kurang tebal, iya, ceritanya cepat sekali berakhir, bahkan saya sampai membacanya dua kali. Kurang tebal bisa disebabkan oleh banyak hal yang sebenarnya bisa dikembangkan oleh penulis, menimbulkan plot hole. Misalkan saja latar belakang persahabatan Aidan dan Edgar, karena dari sisi Aidan bisa dibilang Edgar adalah nomor satu sehingga saya ingin tahu bagaimana awal mula mereka bertemu sampai tumbuh bersama. Latar belakang keluarga Gwen, sedikit sekali dibahas, khususnya si ayah, padahal dia berperan besar membuat Gwen mencintai musik. Rey yang tiba-tiba menghilang kemudian datang. Sudut pandang orang pertama dengan Gwen sebagai narator membuat cerita menjadi sempit, kita tidak bisa melihat apa yang terjadi dengan kehidupan Aidan maupun Edgar di luar keberadaan Gwen. Saya berharap baik Aidan maupun Edgar juga menjadi pengisi suara, setidaknya dari Aidan agar tahu emosi dari sisi yang berlawanan.

Sisi positifnya dari kekurangan tersebut adalah cerita memang benar-benar fokus akan hubungan Gwen-Aidan-Edgar, tanpa disisipi adegan yang tidak berguna atau pemeran yang sia-sia, fokus akan perkembangan hubungan mereka. Sedangkan Gwen yang menjadi pengisi suara membuat pembaca tidak bisa menebak apa yang akan terjadi nantinya, khususnya menyangkut Aidan dan Edgar. Seperti yang Gwen curhatkan, dia tidak pernah bisa masuk ke hubungan Aidan-Edgar karena minim informasi tentang mereka, karena mereka tidak pernah terbuka dengannya. Walau alurnya terbilang cepat, ada bagian yang dibuat detail oleh penulis, yang memang perlu dibuat jelas agar pembaca bisa ikut merasakannya, ada pula yang tidak perlu dibahas secara mendalam karena mungkin tidak terlalu penting. Misalkan saja ketika Edgar menunjukkan kemampuannya memetik gitar, ketika Gwen berjalan sendirian menuju markas Edgar. Sedangkan adegan yang selewat adalah mengenai keberadaan ibu Gwen.
Maka, aku belajar menerima bahwa kita tak bisa memiliki segala hal.
Tak bisa segala hal. Setidaknya, tidak dalam waktu yang bersamaan. Akan selalu ada satu ruang kosong yang harus kita sisakan untuk apa-apa yang tak kita kehendaki terjadi. Harus bisa hidup dengan itu. Harus bisa, hidup dengan memikul ruang kosong yang berat itu.
Pilihan kedua, sebab pilihan pertama tak mampu kita miliki. Sebab ada nama yang hanya dapat ditulis di hati, tidak di tempat lain. Sebab hanya itu pengakuan yang kita miliki. Aku belum mengerti betapa mudah orang bisa terjebak dengan pilihan itu; yang kedua itu. Aku hanya tahu hatiku tak perlu sakit. Sebab, ke tempat itu ia memang tak pernah jatuh.
Buku ini memang tidak sempurna, tapi memenuhi ekspektasi saya, apalagi ditulis oleh seorang Morra Quatro yang kerab kali membuat patah hati, yang selalu membuat saya ingin menyobek bagian ending semua bukunya yang pernah saya baca. Saya bisa merasakan betapa dalam perasaan Gwen kepada Aidan tanpa bisa menyuarakan dengan lantang, saya bisa merasakan bagaimana Edgar berharap banyak kepada Gwen, saya bisa merasakan rasa sakit yang Aidan pendam untuk kedua orang yang tidak akan pernah ingin dia sakiti. Saya bisa merasakan kecintaan mereka akan musik.

The Second Best cocok sekali bagi kalian penggemar British Pop, yang menyukai musik, yang ingin galau ingin memilih book boyfriend di satu buku. Ada sedikit adegan dewasa tapi tidak eksplisit, jadi masih aman.
"Satu hal yang kuketahui benar tentang musik adalah bahwa ia sering memberi ilusi bahwa kita berkuasa. Bahwa kita memegang kendali, atas bunyi-bunyian, atas emosi siapa pun yang mendengar, atas emosi kita sendiri. Siapa pun yang berada di atas panggung itu saat ini, ia bagai raja yang sedang membentangkan pasukan ketika kemudian bernyanyi, 'Rain down, rain down, come on rain down on me. From a great height, from a great height, from a great height,' sebelum petikan gitar merobek udara dengan jahat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...