Senin, 06 November 2017

Merekam Jejak Orang-Orang yang Dihilangkan | Laut Bercerita by Leila S. Chudori

Judul buku: Laut Bercerita
Penulis: Leila S. Chudori
Penyunting: Endah Sulwesi, Christina M. Udiani
Ilustrasi sampul dan isi: Widi Widiyatno
Penerbit: KPG
ISBN: 978-602-424-694-5
Cetakan pertama, Oktober 2017
379 halaman
Baca di Scoop
Jakarta, Maret 1998

Di sebuah senja, di sebuah rumah susun di Jakarta, mahasiswa bernama Biru Laut disergap empat lelaki tak dikenal. Bersama kawan-kawannya, Daniel Tumbuan, Sunu Dyantoro, Alex Perazon, dia dibawa ke sebuah tempat yang tak dikenal. Berbulan-bulan mereka disekap, diinterogasi, dipukul, ditendang, digantung, dan disetrum agar bersedia menjawab satu pertanyaan penting: siapakah yang berdiri di balik gerakan aktivis dan mahasiswa saat itu.

Jakarta, Juni 1998

Keluarga Arya Wibisono, seperti biasa, pada hari Minggu sore memasak bersama, menyediakan makanan kesukaan Biru Laut. Sang ayah akan meletakkan satu piring untuk dirinya, satu piring untuk sang ibu, satu piring untuk Biru Laut, dan satu piring untuk si bungsu Asmara Jati. Mereka duduk menanti dan menanti. Tapi Biru Laut tak kunjung muncul.

Jakarta, 2000

Asmara Jati, adik Biru Laut, beserta Tim Komisi Orang Hilang yang dipimpin Aswin Pradana mencoba mencari jejak mereka yang hilang serta merekam dan mempelajari testimoni mereka yang kembali. Anjani, kekasih Laut, para orangtua dan istri aktivis yang hilang menuntut kejelasan tentang anggota keluarga mereka. Sementara Biru Laut, dari dasar laut yang sunyi bercerita kepada kita, kepada dunia tentang apa yang terjadi pada dirinya dan kawan-kawannya.

Laut Bercerita, novel terbaru Leila S. Chudori, bertutur tentang kisah keluarga yang kehilangan, sekumpulan sahabat yang merasakan kekosongan di dada, sekelompok orang yang gemar menyiksa dan lancar berkhianat, sejumlah keluarga yang mencari kejelasan akan anaknya, dan tentang cinta yang tak akan luntur.
Ingatan saat agak kabur saat peristiwa Mei 1998, kala itu kalau tidak salah saya masih berusia sepuluh tahun, yang saya ingat hanya melihat banyak toko tutup dan penuh dengan coretan, sepi, semrawut. Namun, ada nuansa riuh yang saya lihat di media televisi ketika presiden Soeharto turun dari singgasananya. Indonesia akhirnya bebas dari diktator yang memimpin selama 32 tahun tanpa jera. Ketika membaca buku ini ada fakta lain yang sebelumnya tidak saya tahu dengan jelas, saya hanya tahu kalau ada aktivis yang hilang, saya hanya tahu bagaimana kala itu media dibungkam dan disetir, kalau bersuara menentang maka siap-siap ditembak di tempat, tanpa tahu posisi si penembak. Fakta di balik perjuangan para mahasiswa dan aktivis untuk melakukan perubahan besar bagi Indonesia.

Tesebutlah Biru Laut, seorang mahasiswa Sastra Inggris UGM, dia bertemu dengan Kasih Kinanti di tempat fotokopi buku-buku yang dianggap terlarang, langganan berbuat dosa, katanya kala itu mahasiswa membawa buku karya Pramoedya Ananta Toer sama saja dengan menenteng bom, dianggap berbahaya dan pengkhianat bangsa, sehingga mereka harus menyembunyikanya. Kinan mengajak Laut untuk mendatangi forum diskusi membahas buku-buku karya Ernesto Laclau dan Ralph Milibard, mendiskusikan pemikiran mereka. Lalu dia diperkenalkan kepada Arifin Bramantyo, mahasiswa yang cukup terkenal menyuarakan pendapat, mendampingi para buruh dan petani untuk menuntut hak mereka.

Tidak membutuhkan waktu lama bagi Biru Laut untuk bergabung dengan Winatra dan Wirasena, Laut merasa berada di tempat yang tepat, bersama dengan orang-orang yang memiliki misi yang sama, ingin Indonesia burubah. Orang-orang yang ingin menggugat dan melawan Orde Baru yang nyaris tanpa demokrasi, orang-orang yang inggin menggulingkan Presiden -orang yang membuat Indonesia menjadi negara yang gelap dan kelam. Mereka membela petani dan buruh, membela semua rakyat Indonesia yang miskin, berdiskusi dan merancang unjuk rasa di berbagai daerah.

Pada tahun 1996, Winatra dan Wirasena dianggap organisasi terlarang, orang-orang yang kritis terhadap pemerintahan dianggap membahayakan kedudukan Presiden. Banyak dari mereka diburu dan diciduk oleh lalat hijau, mereka diambil secara paksa. Dua tahun Biru Laut menjadi buron bersama dengan Alex dan Daniel, mereka bergerak lewat bawah tanah, selokan, mencoba tak terlihat. Tidak hanya berganti-ganti posisi di Pulau Jawa, mereka juga merambah ke luar Pulau Jawa, dua tahun harus memendam keinginan untuk berkumpul dengan keluarga, hanya dengan lewat pesan yang dikirimkan dari orang ke orang.

Maret 1996 mereka bertiga berhasil diringkus, mereka di sekap di tempat yang tak bercahaya, tidak tahu tanggal dan hari. Dipukuli, disundut, disetrum dengan tongkat listrik, diletakkan di atas balok es, direndam ke dalam bak, mereka disiksa agar membuka mulut siapa yang mendalangi aksi heroik melawan Presiden. Ada sembilan kawan yang kembali, 13 sisanya entah ke mana, tak jelas nasibnya.
"Kita tak ingin selema-lamanya berada di bawah pemerintahan satu orang selama puluhan tahun, Laut. Hanya di negara diktatorial satu orang bisa memerintah bagitu lama... seluruh Indonesia dianggap milik keluarga dan kroninya. Mungkin kita hanya nyamuk-nyamuk pengganggu bagi. Kerikil dalam sepatu mereka. Tapi aku tahu satu hal: kita harus mengguncang mereka. Kita harus mengguncang masyarakat yang pasif, malas, dan putus asa agar mereka mau ikut memperbaiki negeri yang sungguh korup dan berantakan ini, yang sangat tidak menghargai kemanusiaan ini, Laut."
 Karena dalam hidup, ada terang dan ada gelap. Ada perempuan dan ada lelaki. "Gelap adalah bagian dari alam," kata Sang Penyair. Tetapi jangan sampai kita mencapai titik kelam, karena kelam adalah tanda kita sudah menyerah. Kelam adalah sebuah kepahitan, satu titik ketika kita merasa hidup tak bisa dipertahankan lagi.
Sesekali, aku membayangkan kita berdua bisa keluar dari dunia yang kita kenal ini, meloncat melalui sebuah portal dan masuk ke dimensi lain di mana Indonesia adalah dunia yang (lebih) demokratis daripada sekarang: presiden dipilih berdasarkan pemilu yang betul-betul adil; pilar-pilar lain berfungsi dengan baik; perangkat hukum dan parlemen tidak berada di dalam genggaman seorang diktator dan perangkatnya; pers bisa bebas dan tak memerlukan sebuah departemen yang berpretensi "mengatur" padahal bertugas membungkam. Apakah kita akan pernah hidup dalam Indonesia yang demikian? Indonesia yang tak perlu membuat para aktivis dan  mahasiswa yang kritis harus hidup dalam buruan dan sesekali mendapat bantuan dari berbagai orang baik. 
Pada lembar ucapan terima kasih, penulis membeberkan asal mula buku ini tercipta. Tahun 2008 ketika Leila S. Chudori meminta Nezar Patria menuliskan penggalamannya saat diculik pada Maret 1998 tanpa disensor, terbersit ide untuk menulis tentang mereka yang dihilangkan, ingin menulis tentang para penulis yang diculik, yang kembali dan tak kembali, tentang keluarga yang terus menerus sampai sekarang mencari jawab keberadaan anak mereka agar bisa berziarah, ingin tahu di mana jenazahnya agar bisa mengguburkan dengan layak. 

Laut Bercerita memang terinspirasi dari kisah nyata, selepas membaca saya mencari sedikit tentang peristiwa yang melatari runtuhnya masa Orde Baru. Saya menemukan bahwa ada sembilan tahanan yang dilepas, tapi ada 13 sisanya tanpa tahu rimbanya. Saya merasa Arifin Bramantyo mirip dengan Budiman Sudjatmiko, politisi dari Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang mendalangi gerakan menentang Orde Baru, Sang Penyair mirip dengan Wiji Thukul, bahkan tempat Laut, Alex dan Daniel diculik mirip dengan apa yang terjadi pada Nezar Patria, Aan Rusdianto, Mugianto, di Rumah Susun Klender pada 13 Maret 1998, mereka bertiga tinggal satu rumah dengan Bimo Petrus, korban yang masih hilang sampai sekarang. Aksi Blangguan dan Bungurasih, di mana Winatra dan Wirasena mendampingi para petani juga pernah terjadi kala itu.

Membaca novel kedua Leila S. Chudori ini masih memberikan nuansa yang sama ketika dulu saya membaca Pulang, saya tahu dari awal tidak akan mendapatkan cerita yang saya suka, yang penuh rasa bahagia, sejak awal saya sudah mewanti-manti agar tidak patah hati. Membaca karya Leila S. Chudori membuat saya selalu nyesek, dapat merasakan apa yang tokohnya rasakan, apa yang ada di dalam pikiran mereka. Ketika membaca tulisan Leila S. Chudori saya juga selalu mendapatkan cerita tentang; dapur, keluarga, sahabat, kisah pewayangan, feminisme, dan sejarah kelam Indonesia.

Sama seperti Pulang, saya rasa penulis yang bekerja di majalah Tempo ini bukan berfokus pada desaparasidos (penghilangan orang secara paksa), bagian itu lebih sebagai pendamping, yang melatari kisah utama. Kalau Pulang berfokus akan perasaan orang-orang yang tidak bisa kembali ke tanah airnya, alih-alih tentang peristiwa 1965, pun dengan Laut Bercerita. Penulis ingin mengangkat perasaan orang-orang yang ditingalkan tanpa kepastian, orangtua yang penuh harap, penuh pengyangkalan, dan penuh mimpi kosong. Kekasih yang merana bahkan sampai hampir gila, sahabat yang kembali tapi tak pernah sama lagi, kehilangan ruh, kehilangan jiwa, mengalami trauma yang dalam, baik fisik maupun mental. Tentang seseorang yang harus realistis, yang terpaksa menekan emosi karena harus menjadi yang paling rasional di rumah, sampai lupa caranya bersedih.
Dan yang paling berat bagi semua orangtua dan keluarga aktivis yang hilang adalah: insomnia dan ketidakpastian.
"Yang paling sulit adalah menghadapi ketidakpastian. Kami tidak merasa pasti tentang lokasi kami; kami tak merasa pasti apakah kami akan bisa bertemu dengan orangtua, kawan, dan keluarga kami, juga matahari; kami tak pasti apakah kami akan dilepas atau dibunuh; dan kami tidak tahu secara pasti apa yang sebetulnya mereka inginkan selain meneror dan membuat kami hancur..."
"Yang paling penting untuk langkah awal adalah menyebarkan kesadaran pada masyarakat bahwa ini bukan persoalan pribadi. Ini persoalan kita semua dan bisa terjadi pada siapa saja."
Laut Bercerita cukup menyakitkan bagi saya, selepas membaca saya masing terbayang-bayang, bagaimana nasib mereka, bagaimana mereka bertahan, bagaimana kondisi keluarga mereka. Saya bahkan tidak bisa menyukai Biru Laut sedalam Segara Alam dalam Pulang, saya beranggapan dia terlalu egois, terlalu lemah, tidak memikirkan bagaimana perasaan orangtua yang tanpa lelah mencari, adik yang sangat menyayanginya, kekasih yang menunggu tanpa lelah. Namun, tanpa sosok seperti Biru Laut dan kawan-kawannya, kita sekarang tidak akan merasakan negara yang demokratis, Indonesia yang memiliki wajah baru, walau akan ada suatu masa yang mencoba meruntuhkannya kembali, akan selalu muncul orang-orang seperti Biru Laut, meninggalkan keluarga dan kebahagiaan, memilih berkorban.

Laut Bercerita memiliki dua bagian, sama-sama ditulis lewat sudut pandang orang pertama. Pada bagian pertama kita akan diperlihatkan masa-masa sebelum Mei 1998 meledak, masa di mana para mahasiswa dan aktivis mulai bergerak untuk meruntuhkan Orde Baru yang jahaman, selang seling antara tahun 1991 sampai tahun 1998 lewat Biru Laut sendiri yang berbicara. Sedangkan bagian dua kita akan didampingi oleh Asmara Jati, adik Biru Laut, menuntun kita untuk melihat keaadaan pasca Orde Baru runtuh, khususnya kepada keluarga yang ditinggalkan dan apa yang dihasilkan pada masa reformasi.

Karakter favorit saya di buku ini tentu Asmara Jati, dia paling kuat, paling rasional, orang yang harus tegar agar tidak semua menjadi gila. Ada juga Kasih Kinanti, dia perempuan satu-satunya yang terlihat dan berperan penting dalam aksi yang dilakukan oleh Winatra dan Wirasena, posisi yang sejajar dengan Bram. Lewat mereka berdua Leila S. Chudori memberikan rasa feminisme, bahwa perempuan bisa menjadi sang penolong, perempuan tidak selalu lemah.

Bagian favorit dan paling menyakitkan adalah ketika ritual makan malam bersama setiap Minggu, Ibu Laut akan memasak tengkleng atau masakan kesukaan Biru Laut, selalu menyiapkan empat piring, lalu Bapak akan menyuruh menunggu sebentar, siapa tahu Biru Laut akan datang tiba-tiba, kemudian Asmara Jati permisi untuk ke toilet, menangis meraung-raung. Bagian itu sangat emosianal sekali bagi saya, saya bisa merasakan apa yang dialami oleh keluarga yang ditinggalkan, betapa menyakitkannya.

Laut Bercerita sangat saya rekomendasikan bagi siapa saja yang ingin mendengar, bagi kids zaman now yang tidak tahu jahanamnya pemerintahan Orde Baru, bagi yang merasa zaman Soeharto lebih enak dari zaman sekarang. Bacalah, tolong, lalu sebarkan ke semua orang, agar kisah mereka yang hilang diketahui, agar mereka ditemukan kembali.

4 komentar:

  1. reviewnya keren mba , jadi pengen baca buku nya .
    baca blurb nya mrinding mba he

    BalasHapus
  2. Reviewnya bagus dan lengkap. Sepertinya saya jadi penasaran dengan buku "Laut Bercerita" ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, ayo segera dibaca ๐Ÿ˜€

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...