Kamis, 02 November 2017

Dirt on My Boots by Titi Sanaria | Book Review

Judul buku: Dirt on My Boots
Penulis: Titi Sanaria
Editor: Dion Rahman
Penerbit: Elexmedia
ISBN: 978-62-04-4723-0
Cetakan pertama, 25 September 2017
300 halaman
Buntelan dari Dion Rahman
Entah ini kutukan atau anugerah, tapi ada banyak laki-laki tampan di kantorku.

Bos besarku masih menawan di usianya yang sudah enam puluhan, namun tentu saja dia bukan pilihan potensial. Aku mencari kekasih, bukan ayah angkat. Lalu Pak Freddy, laki-laki paling tampan di kantor. Dia punya senyum maut yang sayangnya hanya diperuntukkan istrinya. Masih ada pria yang tidak kalah tampan di divisiku lho, dan mereka lajang!

Hore…? Tidak juga.

Putra lebih muda dariku, dan menjalin cinta dengan berondong tidak ada di daftarku. Sandro lebih tua, tapi aku tak menemukan ada aliran listrik yang tiba-tiba menyambar saat kami berdekatan. Tidak ada ribuan kupu-kupu yang tiba-tiba membentuk koloni, bersarang, dan mendadak mengepak bersamaan di perutku.

Lalu Pak Andra, bos baru di kantorku yang memiliki bokong terindah di dunia. Ya, dia potensial. Tampan dan pintar, dua keunggulan yang hanya dimiliki satu dari seribu laki-laki di dunia. Barangkali masalahnya ada pada diriku. Aku jelas bukan calon potensial baginya. Aku tidak memiliki apa yang diharapkan olehnya, atau lelaki lainnya di dunia ini. You know what I mean—sesuatu yang besar di bagian tubuhmu. Tapi yang jadi masalah, seharusnya sejak awal aku tidak jatuh cinta pada laki-laki yang tidak mempercayai komitmen seperti dia.

Kebingunganku semakin berlimpah-ruah, ketika suatu pagi aku terbangun di sebuah ranjang dan mendapati sosoknya berada di sampingku. Semenjak itu pikiranku kian terusik. Apa yang sudah kulakukan dengan bosku? Atau, tepatnya, apa yang telah bosku lakukan kepadaku?
Dirt on My Boots mencuri perhatian saya dari lembar prolog, baik dari segi tema yang diusung sampai gaya bercerita menginggatkan saya akan tulisan aliaZalea, Karla M. Nashar atau Nina Ardianti, sama-sama renyah, menggigit dan menghibur. Saya langsung memiliki firasat bakalan berjodoh dengan buku ini, dan ternyata tebakan saya tidak pernah meleset, langsung selesai sekali berbaring saja.

Sesuai dengan label CityLite, Dirt on My Boots bercerita tentang dunia kerja dan wanita lajang di kota metropolitan. Tokoh utamanya, Sita bekerja di bagian tim kreatif, di sebuah perusahaan biro iklan yang cukup terpandang. Ide-idenya selalu memuaskan, tak heran bila dia menjadi kesayangan bosnya, Pak Freddy. Namun, bos tampan dan memiliki bokong seksi tersebut harus mengundurkan diri. Siapa yang menyangka, orang yang pernah terjebak satu lift dan dikira oleh Sita sebagai pembunuh berantai akan menggantikan posisi bosnya tersebut.

Pak Andra tentu tak kalah menawan dengan Pak Freddy, bahkan jauh di atasnya, terlebih dia calon potensial untuk dijadikan menantu. Hanya saja, Sita seperti tidak pernah beruntung bila berurusan dengan Pak Andra, mulai dari kinerjanya yang dianggap kurang memuskan sampai memergoki Sita membicarakan dirinya 'di belakang' bersama teman-teman kantornya, mending kalau obrolan biasa, tapi bila menyangkut Sita dan rekan kerjanya yang mesum, tentu obrolan mereka tidak pernah menjadi biasa.

Pak Andra terlalu sombong dan suka seenaknya sendiri. Selain memiliki segalanya, Pak Andra juga pengagum dada melon, bukan apel fuji seperti milik Sita, penganut one night stand. Tentu dengan alasan tersebut tidak mungkin Pak Andra melirik dirinya, terlebih walau Sita terlihat sangat ahli dalam hubungan ranjang, dia masih perawan! Ya, selama ini Sita hanya bermulut besar, selain tidak ingin dilaknat ibunya, Sita ingin melakukan dengan orang yang benar-benar mencintainya, dengan suaminya. Namun, ketika Pak Andra mulai terlalu perhatian bahkan tidak suka kedekatan Sita dengan Kak Gian, pilihan apa yang akan Sita buat?
Menurutku, laki-laki seperti Pak Andra itu hanya untuk dikagumi fisiknya. tidak lebih. Punya kekasih tampan itu pasti banyak makan hati. Di awal-awal mungkin menyenangkan dan membanggakan bisa menggandengnya di keramaian saat semua mata perempuan yang ada di sana tertuju padanya. Namun lama-lama pasti menyebalkan melihat perempaun lain menatap kekasihmu sambil meneteskan liur dengan mata bersinar penuh harap. Seperti orang diet 1000 kilo kalori sehari yang disodorkan potongan besar brownis yang baru keluar dari oven.
Buku ini sukses membuat saya ngakak selama membaca, benar-benar menghibur sekali, padahal saya jarang bisa dibuat tertawa, walau buku komedi sekali pun. Kalau membaca dari kata pengantar, ini adalah kali pertama Titi Sanaria keluar dari zona nyaman, karena tidak mengikuti tulisannya dari awal, kemungkinan adalah menulis novel yang berbau dewasa. Kalau bisa kesasar saja terus, karena saya sangat menyukai tulisannya, hahaha. Dewasa di sini dalam artian tidak ada adegan dewasa yang eksplisit, bahkan jauh, hanya dewasa dalam segi verbal saja, lewat obrolan Sita dengan geng mesum di kantornya, adegan ciuman juga tergolong wajar, selebihnya nihil.

Tema ceritanya sendiri sebenarnya cukup sederhana dan umum, tentang kepercayaan, tentang komitmen. Hanya saja penulis membuatnya berbeda dengan menyisipkan kehidupan dunia kerja, baik itu rutinitas maupun obrolan sehari-hari. Penulis memakai sudut pandang orang pertama, dengan Andra sebagai narator di bagian prolog dan epilog, sisanya disuarakan oleh Sita sendiri. Saya menyukai pemilihan ini, saya rasa sangat tepat karena kita akan dengan mudah memahami apa yang dirasakan oleh Sita.

Karakter para tokohnya juga sangat kuat. Saya sangat menyukai Sita, terlepas dari 'omong doang' akan kemampuannya di ranjang, dia lucu dan sebenarnya lugu, dengan sahabatnya dia juga sangat jujur, tipe orang yang sangat menyenangkan di mana pun dia berada. Saya juga menyukai geng mesum, mereka benar-benar menghibur. Mulai dari Raisa yang sangat polos bahkan terkesan oon, Putra dan Sandro sang womanizer yang menjadi tim hore dan lawan yang sebanding bagi Sita akan obrolan mesum, sampai Andra yang posesif.

Selain obrolan mesum yang menjadi daya tarik novel ini, saya sangat menyukai bagian di mana penulis seperti menyindir diri sendiri dan pendapat tentang novel roman, misalkan pada adegan di bawah ini.
"Lo kebanyakan baca cerita mesum di wattpad sih. Yang kayak gitu hanya kejadian di wattpad. Bos yang marah ngajak ML karyawannya. Ini dunia nyata, Sayang. Yang ada gue diomelin sampai telinga gue berasap. Hapus tuh aplikasi dari ponsel lo."
"Kamu mencari buku apa?" tanya Pak Andra yang sekarang ganti mengikutiku menyusuri rak buku.
"Lihat-lihat dulu, Pak." Tidak mungkin kan aku mengatakan mencari novel roman yang isinya kebanyakan adegan mendesar-desah?
"Novel?"
Tentu saja novel. Tidak ada autobiografi yang menceritakan adegan mendesah secara mendetail. Pengetahuan dasarku tentang kemesuman terutama disuplai oleh bacaan roman omong kosong tentang cinta sejati.
"Iya, novel, Pak." Sebenarnya aku ingin menjauhi rak novel lokal yang sekarang kutempati. Novel lokal kurang mengakomodir adegan mendesah, terutama yang diterbitkan oleh penerbit mayor yang namanya besar. Gunting sensor editor mereka sangat tajam dalam mencukur adegan. Namun membaca blurb roman terjemahan panas sementara Pak Andra hanya berjarak beberapa sentimeter di dekatku rasanya memalukan.
"Yang ini sampulnya bagus." Pak Andra mengambil buku secara acak dari rak.
Aku ikut melihat sampul berwarna hijau tosca itu. Dongeng Tentang Waktu, penulis Titi Sanaria. nama yang asing. Dia pasti penulis baru yang mencoba peruntungan di dunia literasi.
Wakakaka, nyindir abis!
Melihat Sita ini kayak bercermin, sebagai pembaca yang juga menyukai cerita mesum, apa yang dipikirkan Sita itu sangat realistis sekali, ayo ngaku yang juga berpendapat sama! Hahahaha. Gaya berceritanya sangat lincah, walau cukup vulgar, penulis meramunya menjadi obrolan santai, obrolan yang memang sering dilakukan oleh orang-orang untuk melepas stress di tempat kerja, sehingga sangat relate dengan kehidupan kita sehari-hari. Saya pun mengalami, percayalah, apabila hampir sebagain besar rekan kerjamu sudah menikah atau sudah dewasa, siap-siap jadi bulanan dan obrolan tanpa sensor, jebol semua saringan XD.

Kekurangan terbesar buku ini adalah tidak ada adegan mendesah di dalamnya. Kenapaaaa??? Padahal kan udah nyindir kalau novel roman dalam negeri jarang ada adegan panas yang mendetail, kenapa tidak dipraktekkan di novel ini? Bercanda, wakakakaka. Saya menyukai perkembangan hubungan Sita dan Andra, tidak instan dan chemistry-nya dapat. Hanya saja pada bagian akhir saya merasa penyelesaiannya terlalu cepat, saya berharap hubungan mereka akan lebih lama seperti di bagian awal, saya ingin berlama-lama dengan Sita dan Andra, mereka pasangan yang lucu dan menggemaskan.

Semoga saja kisah mereka nanti juga nyelip di cerita penulis yang lain, saya membaca di wattpad akan ada cerita untuk Putra dan Raisa, saya sudah menebak kalau mereka pasti ada apa-apa, hahaha. Saya memang berharap buku ini berseri, melihat banyak karakter di dalam buku memiliki modal untuk berdiri sendiri.

Secara keseluruhan saya sangat menikmati membaca Dirt on My Boots, tidak salah kalau ada label dewasa karena banyak bahasan yang berbau dewasa, tapi tidak ada adegan yang eksplisit, sehingga masih aman untuk dibaca khususnya bagi pembaca dewasa muda.


3 komentar:

  1. Temenku lagi baca, merawanin bukuku. Dari tadi dia ga kerja, ngakak-ngakak melulu ngomongin bokong. Weleh!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakaka, seru pokoknya, dijamin ngakak, deh 😬

      Hapus
  2. Aku lebih suka versi wattpadnya sih, lebih lepas aja gitu..., tapi versi cetak aku tetep punya kok ...

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...