Jumat, 13 Oktober 2017

Stilettale by LM Cendana | Book Review

Stilettale
Penulis: LM Cendana
Penyunting: Adelaine
Desain sampul: Indah Rakhmawati
Penerbit: Inari
ISBN: 978-602-6682-02-4
Cetakan pertama, Agustus 2017
384 halaman
Buntelan dari @penerbitinari
Dilara Niranjana: “Iya. Aku ngajakin kamu nikah.”
Erlangga Tunggadewa: “Biarpun kamu mau aja aku suruh kayang di atas Monas, aku nggak akan mau nikah sama kamu.”

Keduanya memutuskan menikah karena sebuah kesepakatan. Anggap saja ini kesepakatan kerja.


Dilara akan mendapatkan suami, demi menyenangkan eyang putrinya yang sudah sakit-sakitan. Ditambah, ini bisa mengalihkan perhatian media dari kasus yang sedang diderita Stilettale, perusahan mode miliknya.

Sedangkan Erlangga, sebagai pemilik Tunggadewa Grup, dia menginginkan tanah milik Dilara untuk proyek perumahan elite-nya.

Namun kehidupan ‘kesepakatan kerja’ mereka tak berjalan semulus itu.

Dilara Niranjana adalah desainer muda yang berbakat dan sukses, pengusaha mode yang terkenal akan label Stilettale. Kehebatannya dalam merancang baju tidak dibarengi dengan kepribadiannya, dia terkenal perfeksionis, keras, sinis kepada semua orang, tak terkecuali kepada pegawainya sendiri, salah satu contoh yang selalu kena omel adalah Binar. Masa lalu yang membuat Dilara menjadi tak tersentuh, tapi ada satu orang yang tahu betul siapa Dilara sebenarnya, Eyang Widya, satu-satu keluarga yang tersisa. Eyang berharap sebelum dia pergi, dia ingin melihat Dilara menikah, melihat ada yang menggantikan menjaga dirinya.

Tidak ingin mengecewakan dan mengabulkan permohonan neneknya, Dilara membuat kesepakatan dengan Erlangga Tunggadewa, pengusaha yang bersikukuh membeli tanah milik Dilara untuk dijadikan perumahan elite impiannya. Perjanjian tersebut menguntungkan keduanya, mereka sama-sama tidak membutuhkan cinta, dan akan berakhir apabila salah satu menemukan orang lain yang benar-benar dicintai. Namun, ketika seseorang yang berarti di masa lalu Dilara hadir kembali, Erlangga enggan mengakhiri perjanjian tersebut.

"Poin terbawah sudah kujelaskan, kita akan berpisah kalau salah satu di antara kita jatuh cinta sama orang lain."
Nah, apakah kisah mereka akan benar-benar berakhir seperti itu? Lalu, ketika Dilara bertemu dengan teman chatting-nya dulu, dartvader -orang yang sangat berjasa membuat Dilara bangkit dari keterpurukan, cinta pertamanya, kenapa Erlangga merasa tersisih?
Aku cuma minta, hanya karena sikap teman-temanmu yang jahat, jangan jadi cewek cengeng kayak di sinetron. Sometimes, you need to be as strong as an iron, as cold as an ice, as dark as night sky, as bright as stars, and as brave as a lion. Balas mereka dengan kemenangan luar biasa. Jangan meratapi hidup, tertawai kehidupan.
Duh, saya suka banget sama quotenya! Pas banget dengan keadaan saya saat ini XD.

Walau kehidupan kedua tokoh utamanya kelihatan sempurna, tapi sebenarnya mereka sama-sama punya luka di masa lalu. Dilara Niranjana memang sulit untuk disukai, bukan berarti tanpa sebab, memiliki masa lalu yang tidak ingin pernah dia ingat kembali, masa lalu yang akhirnya membentuk dia menjadi pribadi yang keras, mandiri dan tidak membutuhkan orang lain, tidak percaya dengan persahabatan dan cinta. Erlangga Tunggadewa pernah dikecewakan oleh orang yang amat dia sayang, yang akhirnya membuat dia tidak percaya akan cinta, mengganggap sebuah hubungan bisa terjalin tanpa cinta.

Selain mereka berdua, ada dua tokoh yang tcukup penting, dua peran pembantu yang kehadirannya membuat berwarna di novel ini. Binar, dia adalah salah satu desainer di Stilettale dan adik Erlangga. Dia menyembunyikan nama belakangnya karena ingin karyanya lah yang dilihat orang, bukan nama keluaragnya. Dilara melihat kalau sebenarnya Binar memiliki potensi besar dalam bidang mode, hanya saja karyanya kerab kali dianggap sampah, tidak bersahabat dengan pasar. Belum lagi Binar sangat ceroboh, berkali-kali kena sembur. Namun, tekadnya sekuat baja, dia sangat gigih dan sabar menghadapi Mak Lampir, sebutan Dilara dari Binar. Bahkan dia sempat dipecat, tapi kembali lagi menjadi asisten pribadi Dilara. Sejak itulah dia melihat Dilara dari sisi yang berbeda, yang rapuh, yang kesepian. Ares, laki-laki yang kehadirannya tidak diharapkan Erlangga karena hanya membawa luka kembali. Laki-laki yang amat disayangi Binar. Laki-laki yang amat mengenal Dilara.

Dari segi ide cerita memang tidak asing lagi, tentang kawin kontrak, tapi penulis meramunya dengan cukup baik, dengan menyisipkan luka masa lalu pada kedua tokoh utamanya, sama-sama mencoba untuk menyembuhkan. Konflik keluarga juga cukup kuat, tidak melulu bernuansa muram, kehadiran Binar dan Ares menjadi penyeimbang, antara lucu dan melankolis. Ada sentuhan dongeng di dalam cerita ini, dan endingnya sangat manis. Yang paling saya suka, karakternya tercetak dengan sukses, saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan, bisa memahami, dan hal ini salah satu kelebihan penulis.

Buku ini recommended bagi kalian yang ingin membaca kisah manis dan cukup romantis :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...