Minggu, 29 Oktober 2017

Saint Anything by Sarah Dessen | Book Review

Judul buku: Saint Anything
Penulis: Sarah Dessen
Alih bahasa: Yunita Chandra
Penerbit: Elexmedia
ISBN: 978-602-04-4773-5
Cetakan pertama, 16 Oktober 2017
364 halaman
Buntelan dari @fidyast_sp
Sydney hanyalah anak biasa, menganggap dirinya tak terlihat di mata siapa pun, terutama keluarganya sendiri. Peyton, kakak laki-laki Sydney, selalu menjadi segalanya. Perhatian orangtua mereka tertuju sepenuhnya kepada dirinya. Hingga suatu hari mobil polisi mendatangi rumah mereka dengan membawa kabar tak terduga. Peyton terlibat masalah besar, dan pada akhirnya harus dipenjara. Semua pun berubah kacau. 

Sydney terombang-ambing di tengah masalah yang datang bertubi-tubi, dia mencoba mencari tempat yang pasti di tengah keluarganya. Tapi semua orang terlalu mengkhawatirkan Peyton. Di tengah kebimbangannya, Sydney bertemu keluarga Chatham yang heboh, yang memiliki kehidupan berbeda dengan keluarganya, dan yang ternyata bisa membuatnya merasa diterima dan ‘terlihat’ untuk pertama kalinya.
Sydney anak kedua dalam keluarganya, sama halnya dengan posisinya, dia selalu menjadi yang kedua. Orangtuanya sangat menyayangi Peyton, dia menjadi segalanya. Dulu waktu kecil, Sydney sangat mengidolakan kakak lelakinya tersebut, dia selalu mengikuti apa yang Peyton lakukan. Sampai ketika mereka beranjak dewasa, Sydney tidak bisa mengikuti langkah Peyton, jarak mereka semakin jauh, Peyton semakin tidak bisa diraih. Sampai akhirnya Peyton menghancurkan harapan orangtua mereka, Sydney masih saja tak terlihat. 

Keputusan pindah ke Jackson High School adalah langkah besar yang Sydney ambil untuk lepas dari bayang-bayang kakaknya. Dia ingin orang lain melihat dirinya, bukan ketenaran kakaknya. Lalu, sebuah kesendirian mengantarkannya kepada keluarga Chatham, keluarga yang membuat Sydney menjadi dirinya sendiri, keluarga yang selalu menerimanya, keluarga yang juga memiliki berbagai masalah seperti keluarga yang lain, tapi keluarga Chatham mengajarkan satu hal yang tidak Sydney dapatkan dari rumahnya, kebersamaan.
Kehidupan-kehidupan normal dan bahagia berjalan dengan normal dan bahagia, di dalam dunia yang sebenarnya tidak seperti itu. Setelah kau menyadarinya, dan mengalami sesuatu yang membuat masalah itu menjadi terang-benderang, kau tidak akan bisa melupakannya. Seperti sebentuk wajah. Atau sebuah nama. Bagaimanapun caramu pertama kali menyadari kenyataan yang terjadi setelah kau mengalaminya, kenyataan itu tidak akan pernah pergi darimu.
Aku tahu, tidak ada orang yang hanya punya sifat buruk. Bahkan orang paling jahat sekali pun punya orang lain yang mengkhawatirkan mereka di suatu waktu tertentu. 
"Masa lalu tidak bisa diubah."Mac meraih rantai kalung di lehernya. "Itu bukan berarti kau harus terus menginggatnya."
"Pertama kali kau datang ke Seaside," kata Mac. "Kau bukan anak yang tidak terlihat, tidak buatku. Asal kau tahu saja." 
Seperti buku Sarah Dessen yang sebelumnya saya baca, saya sangat menyukainya! Sarah Dessen tidak pernah gagal memikat saya, selalu. Dia masih mengusung gaya khas tulisannya, secara perlahan menunjukkan perkembangan kisah cinta kedua tokoh utamanya, porsinya selalu seimbang dengan masalah keluarga dan persahabatan yang coba Dessen sodorkan kepada pembaca. Kali ini lebih dalam karena konflik keluarganya sangat dominan dan sangat dekat dengan realitas yang ada. Merasa tersisih, anak lelaki dan tertua yang selalu dianggap paling utama sampai kadang kita tidak bisa mengambil keputusan sendiri, orangtua selalu merasa benar, padahal hanya satu hal yang kadang diinginkan setiap anak, didengarkan.

Saya suka sekali kisah persahabatannya, apalagi di bagian komedi putar, rasanya saya ikut bahagia seperti yang dirasakan Sydney kala itu. Saya  suka sekali dengan kisah cintanya, chemistry Sydney dan Mac sangat kuat, terlebih banyak adegan memorable yang mereka berdua ciptakan. Uniknya, kedua tokoh utamanya pendiam, rasanya ikut gemas ketika penulis membangun kedekatan mereka, karena walau terkesan biasa dan lamban, jatuhnya sangat romantis dan mendebarkan, efeknya benar-benar terasa. Misalkan saja kebiasaan mereka menebak seseorang dari pizza yang dipesan, bagian yang sangat menarik dan keduanya terlihat sangat lepas. Bahkan pada saat pertemuan pertama mereka, ketika Sydney berpapasan dengan Mac ketika ingin keluar dari Seaside, toko pizza milik keluarga Chatham, saya ikut deg-degan, laiknya menonton film, adegan tersebut terekam dengan jelas dan pembaca akan tahu nantinya hubungan mereka akan berkembang lebih jauh lagi. 

Sarah Dessen selalu bisa membuat adegan yang memorable bagi pembacanya, adegan yang bisa membangun chemistry antara para tokoh, adegan yang menghangatkan hati. Salah satu adegan favorit saya di buku ini adalah ketika Sydney harus satu rumah saja dengan Ames, sahabat kakaknya. Sydney tidak pernah nyaman berdekatan dengannya, dia berbahaya, tapi orangtua Sidney, khususnya ibunya sangat mempercayai Ames dan sering mengundangnya ke rumah. Karena tidak ingin hanya berdua saja dengan Ames, lalu dia meminta tolong Layla, teman baru di Jackson High Scool. Layla dengan mudah memahami kegelisahan Sydney, tanpa berpikir panjang Layla menyanggupi bahkan melebihi apa yang Sydney harapkan, Layla melindungi dan menjaga Sydney.
"Setelah lampu-lampu dimatikan, kami mengobrol sebentar, lalu tanpa sadar aku terlelap. Ketika aku terjaga, waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Ketika aku berguling ke samping untuk mengecek Layla, gadis itu tidak ada di tempatnya. Dengan bingung, aku bangkit dengan bersandar pada siku dan mengucek-ucek mata, lalu melihat Layla. Dia memindahkan kasurnya hingga rapat ke pintu yang tertutup -tapi tidak terkunci- dan meringkuk di atasnya. Selalu berjaga-jaga, memastikan keadaan aman. Aku mendapatkan tidur yang paling nyenyak setelah berbulan-bulan lamanya."
Kehadiran keluarga Chatham memang penghidup kisah ini, khususnya Layla. Sifatnya yang meledak-ledak dan apa adanya menyisipkan rasa humor, dia adalah sahabat yang menyenangkan. Layla memahami apa yang Sydney rasakan, dan Sydney membutuhkan sosok seperti Layla, yang tidak menghakimi, yang memandang dari sisi orang luar. Pun dengan anggota band Mac yang tak kunjung mendapatkan nama yang pasti, Eric dan Irv, gerombolan mereka di sekolah sewaktu makan siang menyemarakkan hidup Sydney yang tadinya melempem. Bahkan ibu Layla dan Mac cukup berperan penting, membuat Sydney lebih berani menghadapi masalahnya, lebih berani menghadapi kenyataan, khususnya akan dampak dari masalah yang Peyton lakukan. Bahwa normal bila dia merasa kecewa dan marah, Sydney boleh tidak bisa melupakan, hanya saja dia bisa belajar memaafkan.

Lewat keluarga Chatham juga, Sydney menyadari bahwa tidak ada keluarga yang sempurna, pasti ada kerikil kecil di dalamnya. Kelurga Chatham memang terlihat sangat bahagia, tapi mereka juga memiliki masalah sendiri, mulai dari Layla yang selalu gagal bila berurusan dengan cinta, Rosie dengan bakatnya, Mac dengan masa lalu dan keinginan ayahnya tentang masa depan sebagai anak lelaki satu-satunya di keluarga, pun dengan Mrs. Chatham yang tidak sekuat yang terlihat. Kerikil selalu ada, tapi bisa hancur dan menjadi debu, menghilang tertiup angin.

Bila kalian mencari kisah cinta dan persahabatan yang sama asiknya, masalah keluarga yang relate dengan kehidupan kita sehari-hari, Saint Anything memiliki paket lengkap, walau sempat menampilkan bagian yang cukup mainstream yang mempengaruhi hubungan Sydney dan Layla di belakang, semua terselesaikan dengan memuaskan. Hanya saja saya berharap ada tambahan bagian tentang Peyton, saya masih merasa abu-abu tentangnya, saya sedikit mamahaminya, akan perasaanya pada Sydney, khususnya pada ibunya. Saya ingin mendengar suara hatinya, terlebih akan masalah yang dia sebabkan, masalah yang berkecamuk bagi Sydney juga.

Saint Anything sangat saya rekomendasikan bagi kalian yang ingin membaca YA contemporary romance, yang menyukai proses sebuah hubungan, proses memaafkan diri sendiri dan orang lain.
Kau tidak akan tahu apa yang menanti di depanmu. Masa depan adalah sesuatu yang tidak bisa ditebak, karena masa depan belum mendapatkan kesempatan untuk terjadi. Sebelumnya kau hanya berjalan memasuki hutan yang gelap seorang diri, setelah itu pemandangan berganti, dan kau menyaksikannya. Sesuatu yang menakjubkan dan tak terduga, nyaris mirip khayalan, yang tidak pernah kau kira akan ditemukan jika kau tidak terus berjalan. Seperti teman baru yang terasa seperti teman lama, atau kenangan yang tak pernah kau lupakan. Mungkin bahkan seperti sebuah komidi putar.

2 komentar:

  1. Aku baca novel ini sebenernya bingung sama peran Ames dalam hidup Peyton dan ending-nya. Heuu... Tapi overall ceritanya lebih kurekomendasiin buat orang tua sih, biar sadar nggak pilih kasih sama anak. Haha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget! Cocok untuk orangtua agar jangan pilih kasih dan membandingkan dengan yang lain. Mungkin Ames buat penyadar orangtua Sydney kalau dia tidak diperhatikan, akan ada bencana yang menghampiri.

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...