Selasa, 03 Oktober 2017

Windry Ramadhina dan Roro Raya Sejahtera | Blog Tour, Ask Author



Hai hallo, kembali lagi di postingan ask author, kali ini tamu yang saya wawancarai adalah salah satu penulis favorit saya, hampir semua bukunya sudah saya baca (kecuali Angel in The Rain masih ditimbun #plak), bahkan Memori saya nobatkan sebagai salah satu buku favorit saya sepanjang masa, yap, mari kita sambut Windry Ramadhina *tabuh drum. Terima kasih kepada Roro Raya Sejahtera, imprint dari penerbit Twigora yang memberikan saya kesempatan sehingga bisa bertanya langsung kepada penulis favorit saya, akhirnya kekepoan saya bisa terjawab di sesi ini :p.

Pertanyaanya tidak semua tentang Glaze, karena saya agak terlambat memberikan pertanyaan, di hari terakhir sebelum blog tour dimulai, hiks, saya belum selesai membawa waktu itu. Jadi, bila ada pertanyaan yang kalian harapkan tapi tidak ada di sini, kalian bisa menyimak daftar pertanyaan dari host blog tour yang lain, karena hanya akan ada 5 di masing-masing blog.

Yak, langsung saja, berikut adalah wawancara singkat saya dengan Windry Ramadhina.



1. Apa makna judul dan konsep cover dari Glaze?
Kami, saya dan penerbit, ingin memunculkan dunia seni keramik di judul dan pada sampul buku ini. Karena itu kami memilih judul Glaze dan menggunakan ilustrasi keramik. Keramik dalam ilustrasi tersebut dalam keadaan pecah/ hancur, sesuai dengan hati kedua tokoh utamanya: Kara dan Kalle. 

Di awal cerita, mereka sama-sama terluka (karena alasan yang berbeda). Lalu, seiring kebersamaan mereka bertambah erat, luka tersebut berkurang. Mereka saling mengobati.

Warna putih dan biru adalah warna mereka. Kara senang tampil dengan dua warna itu sementara Kalle memiliki kedekatan dengan air. Warna biru juga menjadi elemen penting dalam hubungan mereka. 

2. Kenapa memilih Roro Raya sebagai rumah baru, apakah ada perbedaan dari karya sebelumnya?
Glaze memang merupakan karya saya yang dikhususkan untuk Roro Raya. Christian Simamora yang memancing saya menulis kisah Kara dan Kalle. Dari proses pengembangan ide sampai desain, kami banyak berdiskusi. 

Saya selalu suka bekerja bersama Christian Simamora. Kami beberapa kali melakukannya di penerbit yang lalu.  Seringnya, saya akan menulis sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Jadi, bagi saya, ini seperti menghirup udara segar. Dan, Christian juga selalu mendorong saya untuk sekreatif mungkin.

3. Kenapa membuat karakter Kara yang begitu polos, bahkan tidak bisa mengurus dirinya sendiri?
Karakter Kara ditentukan oleh dua hal. Pertama, konflik cerita. Karena yang lebih dahulu muncul dalam pengembangan buku Glaze adalah cerita, baru karakter. Saya membutuhkan karakter yang rapuh dan sulit hidup sendiri sehingga perlu "dijaga". 

Kedua, saya membutuhkan sosok yang lebih cerah dan manis dari tokoh-tokoh sebelumnya. Belakangan, saya terlalu banyak menulis karakter yang sendu dan pahit. Kali ini, saya ingin menghadirkan karakter yang lucu dan manis. Dengan begitu, nuansa buku pun berubah, tidak terlalu muram.

4. Setelah arsitek, fotografer, chef, penulis, dan pengrajin tembikar/keramik, profesi apa lagi yang ingin dikupas?
Sebenarnya, saya penulis yang mudah ditebak. Saya sangat menyukai dunia seni, jadi sebagian besar tokoh-tokoh di novel saya bersentuhan dengan dunia itu. Pada novel-novel berikutnya pun masih demikian.

Menghadirkan tokoh-tokoh yang bersentuhan dengan dunia seni memungkinkan saya lebih terikat secara emosi dengan apa yang saya tulis. Saya mudah jatuh cinta kepada mereka. Dan, itu menjadikan proses menulis sangat menyenangkan.

5. Setelah Glaze, apakah ada buku baru lagi yang akan diterbitkan lewat Roro Raya? Boleh kasih bocoran tentang apa kalau ada?
Saya memiliki satu proyek lagi bersama Roro Raya. Drafnya sudah selesai, saat ini masih di proses swasunting. Seperti biasa, ini adalah general fiction (yang mendapat sentuhan new adult). Ceritanya menyangkut keluarga, harapan, cinta, dan hidup.

Akan ada sekolah musik kecil yang sepi, rumah tua di suburban, dua anak yang tumbuh dewasa bersama lalu saling jatuh cinta. Ada Chopin dan Oasis. Ada piano dan gitar listrik. Sedikit Interlude, sedikit Memori, sedikit London: Angel.
Akkkkk, saya sangat menantikan buku kedua Windry Ramadhina di Roro Raya! Apalagi berbau Interlude dan Memori, dua buku paling favorit dari penulis yang juga jago gambar ini. Semoga segera terbit ya :D


TentangPenulis: 
WINDRY RAMADHINA lahir dan tinggal di Jakarta; pencinta kucing hitam dan segala hal yang berbau seni. Dia menulis fiksi sejak 2007. Glaze adalah bukunya yang kesepuluh. Sebelum itu, dia menerbitkan Orange (2008), Metropolis (2009), Memori (2012), Montase (2012), London (2013), Interlude (2014), dan Walking After You (2014), Last Forever (2015), dan Angel in The Rain (2016).

Windry suka membaca surat dan menjawab pertanyaan. Dia bisa dihubungi lewat:
E-mail: windry.ramadhina@yahoo.com 
Twitter: @windryramadhina
Instagram: @beingfaye
Blog: www.windryramadhina.com


Simak postingan host blog tour yang lain, kalian juga berkesempatan mendapatkan novel Glaze gratis di setiap blog :D

26 – 27 September: Asri Rahayu MS

28 – 29 September: Afifah Mazaya

30 September – 1 Oktober : Putri Utama

1 – 2 Oktober: Bintang Permata Alam

34 Oktober: Sri Sulistyowati

5 6 Oktober: Farida Endah

7 – 8 Oktober: Wardahtuljannah



5 komentar:

  1. Whuuuaaaaaaaa,, mau ada lagi yang baruuuu. Semoga lancar prosesnya. Dan saya akan menunggunya dengan tidak sabar eh πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama banget! Kayaknya bakalan kece deh melihat perpaduannya :D

      Hapus
  2. Ya ampuuun, bocoran proyek barunya kok bikin penasaran ya. Sekolah musik, tumbuh bersama dan jatuh cinta. πŸ€—

    BalasHapus
  3. Keren penulisnya,moga aja berjodoh dengan bukunya,amiin :)

    Oiya rasanya aku pengin nanya. Apakah kedua tokoh tersebut ada dalam dunia nyata kak windry? (maksud aku karakternya) thanks kak.

    BalasHapus
  4. Berharap kapan2 Kak Windry menulis tentang dunia teater,,,

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...