Kamis, 21 September 2017

[Resensi] Teka Teki Terakhir Karya Annisa Ihsani

Judul buku: Teka Teki Terakhir
Penulis: Annisa Ihsani
Editor: Ayu Yudha
Sampul: EorG
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9786020302980
Cetakan pertama, 27 Maret 2014
256 halaman
Baca di Scoop
Gosipnya, suami-istri Maxwell penyihir. Ada juga yang bilang pasangan itu ilmuwan gila. Tidak sedikit yang mengatakan mereka keluarga ningrat yang melarikan diri ke Littlewood. Hanya itu yang Laura tahu tentang tetangganya tersebut.

Dia tidak pernah menyangka kenyataan tentang mereka lebih misterius daripada yang digosipkan. Di balik pintu rumah putih di Jalan Eddington, ada sekumpulan teka-teki logika, paradoks membingungkan tentang tukang cukur, dan obsesi terhadap pernyataan matematika yang belum terpecahkan selama lebih dari tiga abad. Terlebih lagi, Laura tidak pernah menyangka akan menjadi bagian dari semua itu.

Tahun 1992, Laura berusia dua belas tahun, dan teka-teki terakhir mengubah hidupnya selamanya...


Sejak membaca A Untuk Amanda, Annisa Ihsani sudah saya tandai sebagai penulis yang bukunya wajib dibaca untuk kategori teenlit. Sebenarnya ingin membaca buku debutnya ini terlebih dahulu, apa daya sudah susah dicari. Setelah selesai, penilainku tetap tidak berubah, Annisa Ihsani adalah John Green-nya Indonesia. Menganut unsur GGS (geek, genius, dan sinis).

Secara garis besar mungkin ceritanya biasa saja. Seorang anak kecil yang memiliki rasa ingin tahu tinggi, salah satunya terhadap tetangga yang jarang keluar rumah, pasangan suami istri Maxwell yg tinggal di rumah besar di pinggir sungai Littlewood. Bahkan desas desus mengatakan kalau mereka keturunan ningrat, penyihir, dsb. Beranjak dewasa Laura Welman tidak lagi memusingkan urusan tetangganya, sampai ketika dia membuang kertas ujian matematika bernilai nol di tempat sampah di depan rumah keluarga Maxwell.

Keesokan harinya Tn. Maxwell mengembalikan kertas ujian tersebut, dia menambahi komentar tentang cara pengerjaan Laura dan memberi buku yang berjudul Nol: Asal-usul dan Perjalanannya. Karena tidak tahu apakah buku tersebut hanya dipinjamkan atau dikasih, Laura untuk pertama kali menginjakkan kakinya di rumah suami istri Maxwell. Sejak itu penilaiannya berubah drastis. Ternyata mereka adalah ahli matematika, dan Tn Maxwell seumur hidup mendedikasikan untuk membuktikan suatu persoalan matematika, memecahkan misteri Teorema Terakhir Fermat.
"Kalau aku boleh memberimu satu nasihat, Laura, janganlah terlalu fokus pada satu hal hingga lupa menghargai apa yang ada di sekelilingmu."
"Menurutku penting untuk meninggalkan sesuatu selagi kau hidup. Bagi beberapa orang, mungkin ini berupa bukti teorema. bagi orang lain, mungkin lukisan atau puisi. tetapi intinya, apa saja yang menunjukkan kau pernah hidup. Supaya orang tahu apa impianmu." 
Teka Teki Terakhir bersetting pada tahun 1992, terkesan jadul memang, tapi tentu saja penulis membuatnya bukan tanpa alasan. Siapa yang menyangka Teorema Terakhir Fermat yang menjadi dasar cerita bisa berujung ke berbagai hal yang bermakna dan seru, membuat pembaca berkenalan dengan pasangan Maxwell yang misterius sekaligus menakjubkan.

Teka Teki Terakhir adalah bacaan yang sangat menyenangkan, bahkan membaca buku ini saya menjadi sedikit tertarik dengan matematika. Banyak sekali informasi tentang dunia matematika yang saya dapatkan di sini, mulai dari perbedaan teorema dan hipotesis, perempuan dalam matematika, para ilmuwan, dsb. Pasangan Maxwell tidak hanya membuat Laura tertarik dengan metematika, pun dengan pembacanya. Teka Teki Terakhir tidak melulu bercerita tentang matematika, ada kisah persahabatan dan keluarga yang diselipkan oleh penulis.

Membaca karya Annisa Ihsani selalu membuat saya berpikir tentang apa sebenarnya inti sari yang ingin dikemukakan, karena dia tidak akan dengan mudah menjabarkan inti ceritanya. Dia membuat pembaca berpikir lebih dalam akan apa makna sebenarnya, jadi bisa saja pendapat pembaca satu dengan lainnya berbeda.

Saya memaknai Teka Teki Terakhir sebagai gambaran apa yang seharusnya Laura lakukan dalam hidup, apa yang seharusnya juga kita lakukan, lewat orang-orang yang mengisi hidupnya ketika berusia dua belas tahun. Melakukan hal-hal luar biasa, sesuatu yang bermakna, meninggalkan sesuatu untuk bisa dikenang. Dan aku mengenang Laura yang bertemu dengan pasangan suami istri yang luar biasa, yang tanpa lelah membuktikan sebuah teorema terakhir, yang rumahnya penuh dengan buku, yang membuat Laura tidak membenci matematika. Bahwa kalau kita tidak bersinggungan langsung, maka kita tidak bisa membuktikan omongan yang belum tentu benar.

Kalau kalian ingin membaca buku teenlit atau YA rasa terjemahan, maka akan aku sodorkan nama penulis ini.

4 sayap untuk Laura yang enerjik dan memiliki rasa ingin tahu tinggi.


5 komentar:

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...