Sabtu, 09 September 2017

Resensi: Para Bajingan yang Menyenangkan Karya Puthut EA

Para Bajingan yang Menyenangkan
Penulis: Puthut EA
Penyunting: Prima S. Wardhani
Desainer sampul: R.E. Hartanto
Penerbit: Buku Mojok
ISBN: 978-602-1318-44-7
Cetakan pertama, Desember 2016
178 halaman
Beli di @bukuakik IDR 55k 
Sekelompok anak muda yang merasa hampir tidak punya masa depan karena nyaris gagal dalam studi tiba-tiba seperti menemukan sesuatu yang dianggap bisa menyelamatkan kehidupan mereka: bermain judi.

Saya tidak salah memilih buku, ya, saya menyingkirkan sejenak novel populer yang sering saya baca dan mencoba membaca buku yang konon katanya masuk ke dalam sastra perjuangan, buku yang jarang sekali saya sentuh, buku yang tidak akan mungkin kalian temukan di toko buku konvensional. Kalau saja tidak ada lomba reviewnya, mungkin saya tidak akan pernah berkenalan dengan karya Puthut EA, penulis yang juga merupakan juru kunci mojok.co. Tidak lantas saya langsung membeli buku dan mengikuti lomba yang hadiahnya cukup membahagiakan dompet, saya terlebih dahulu melakukan sedikit riset, membaca review teman-teman yang lain di goodreads untuk menimbang apakah saya bakalan cocok dengan buku yang dikhususkan bagi para bajingan maupun non bajingan. Dari sana saya merasa berjodoh dengan buku ini, terlepas apakah nanti saya jadi mengikuti lomba reviewnya atau tidak, yang jelas, saya menyukai tulisan dari Puthut EA dan berniat membaca karyanya yang lain.

Para Bajingan yang Menyenangkan pada hakikatnya adalah sebuah buku tentang persahabatan, entah merupakan kisah nyata atau fiksi (dan saya menebak kisah nyata), ketika membaca buku ini saya membayangkan kisah masa muda penulis dengan para sahabatnya, karena penulis sendiri yang menjadi narator. Dia membuat buku ini untuk mengenang para sabahatnya ketika di bangku kuliah dulu, khususnya salah satu sahabatnya yang sudah meninggal. Seakan-akan, dia membuat buku ini untuk memberikan penghargaan akan masa muda yang tidak akan pernah dia lupakan sampai mati. Kelompok pemuda yang mengaku tanpa masa depan tersebut memiliki sebutan Jackpot Society, pelesetan dari judul film Dead Poets Society, dan mereka disatukan oleh judi.

Anggota Jackpot Society antara lain; penulis, kuliah di jurusan filsafat UGM; almarhum (tidak dituliskan namanya, tapi di bagian persembahan tertulis almarhum Jadek); Bagor, tidak pernah lolos masuk ke jurusan impiannya, Ekonomi Manajemen, harus berpuas dengan jurusan D-3 Ekonomi UGM, pernah diburu aparat dan berasal dari keluarga yang religius; Kunthet, satu-satunya di kelompok yang otaknya lumayan cemerlang, kuliah di jurusan Geofisika UGM; Proton, sesuai julukannya, dia kuliah di jurusan Teknik Kimia UGM, memiliki hobi yang unik, antara lain, mengoleksi keris, mengumpulan virus komputer, dan bergonta ganti agama; menyusul paling akhir, Babe, anak seorang mayor jenderal, kuliah di Fakultas Ekonomi UGM. 

Pendonor utama tim judi adalah almarhum dan Babe, karena mereka anak orang kaya. Selain masih muda, mereka terkenal berani pasang, humoris dan cenderung totol. Ada beberapa adegan yang menyempurnakan predikat tersebut, mereka seperti memiliki ritual sendiri-sendiri agar menang judi. Misalkan saja, almarhum percaya akan ramalan dukun, Kunthet sering kali mengeluarkan teori judi, tapi tidak ada yang pernah membuat mereka menang, hahaha. Selain berisi pengalaman konyol mereka mengarungi dunia perjudian, di buku ini juga berisi keseharian mereka dengan teman-teman yang lain dan aktivitas di kantin kampus yang tak kalah amburadul, bahkan menyerempet peristiwa bersejarah di Indonesia.

Beberapa adegan yang membuat saya ngakak njungkel adalah ketika mereka makan di kantin Bonbin di Fakultas Sastra, almarhum tidak begitu suka dengan ritual orang yang sebelum makan memejamkan mata untuk berdoa, keisengan pun dimulai karena mengganggu pemandangannya. Barang siapa yang duduk di depan almarhum, maka siap-siap saja ada lauk yang berpindah tempat, hahaha. Kemudian pas hari kemenangan, Bagor dan penulis memperebutkan Proton untuk menghindari pertanyaan maut, saya nggak bisa menahan tawa ketika penulis menelepon Bagor dan berkata, "Gor, untalen kuwi hari kemenangan...," =))

Ada satu lagi adegan favorit saya (Ih, kok banyak banget sih, hahaha), biar kalian tertarik ikut membaca juga :p
Pernah suatu ketika, dia salat Jumat dengan saya di masjid dekat kos. Sang khatib berkisah tentang perlunya seorang laki-laki sebagai kepala rumah tangga untuk bekerja keras membanting tulang demi keluarganya.
Bagor kemudian membisikkan saya, "Malah mesakke sing wedok ya?"
Saya membalas berbisik, "Kok isa?"
"Lha entuk bojo wis remuk kabeh balunge ngono..."
Buku ini kental akan bahasa Jawa dan guyonan orang Jogja, sarat akan umpatan yang mungkin tidak sopan, bahkan ada peringatan bagi yang memiliki rasa ketuhanan yang besar tidak disarankan membaca buku ini. Sebagai sesama orang Jawa yang sehari-hari identik dengan bahasa bahkan umpatan yang berseliweran, saya sangat menikmati dan menghibur sekali. Bagi yang tidak terlalu menguasai bahasa Jawa, tenang saja, di bagian akhir ada kamus, kok, dan sangat tepat ditulis dengan 'bahasa apa adanya', karena kalau tidak, akan mengurasi rasa humorisnya. Saya jadi bisa merasakan kenapa teman-teman yang lebih menyukai membaca bahasa asli daripada versi terjemahan, ternyata rasanya begini.

Para Bajingan yang Menyenangkan memang termasuk buku komedi, tapi ada bagian yang cukup melankolis sekali, ketika penulis menceritakan almarhum. Saya jadi ikut merasakan kehilangan, terlebih ketika mereka mulai berpisah dan memiliki kehidupan masing-masing. Para sahabat yang dominan diceritakan adalah almarhum dan Bagor, saya berharap yang lain memiliki porsi yang sama, karena saya tidak ingin cepat berpisah dengan kelompok Jackpot Society ini, kisah hidup konyol mereka membuat saya ikut bernostalgia di masa remaja dan mengenang para persahabat yang kini juga terpisah karena jarak.

Sebagai penutup, walau judi selalu memiliki konotasi negatif, ada petuah yang bisa kita petik dari aktivitas yang kerab disebut haram tersebut.
"Kalau menang judi, jangan campur uangmu untuk bisnis. Itu tidak baik. Uang judi itu untuk bersenang-senang. Ngebir sama teman-teman. Makan-makan. Termasuk makan babi. Asal jangan makan teman. Apalagi makan mantan."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...