Kamis, 21 September 2017

[Resensi] No Place Like Home Karya Alma Aridatha

Judul buku: No Place Like Home
Penulis: Alma Aridatha
Penyunting: @suci.amanda
Desain cover: Abdul Ghafur
Penerbit: Ikon
ISBN: 978-602-74653-7-4
Cetakan pertama, 21 April 2017
289 halaman
Buntelan dari @penerbit_ikon
Ganda tahu, kehidupan yang disebut sempurna tak sepenuhnya ada. Dia baru tahu siapa ayah kandungnya di usia sepuluh tahun. Sosok itu datang, mencoba mendekat, membuat ayah tiri yang juga disayanginya sedari kecil menjauh tanpa alasan yang pasti.

Ada banyak anak lain yang harus tumbuh tanpa orang tua di luar sana, tapi Ganda memiliki dua pasang orang tua sekaligus. Di saat anak-anak lain bias berdamai sekaligus menikmati ‘ketidakberuntungan’ yang ada dalam hidup mereka, Ganda justru merasa kosong di antara semua yang seharusnya pantas disebut ‘keberuntungan.’

Keinginan Ganda sederhana. Dia mencoba mengisi hal-hal yang hampa itu dengan mencari tempat berteduh—yang memang tersedia untuknya.
Yang kelak bias ia sebut rumah.

Meskipun, dia sendiri tidak sepenuhnya yakin.
Ganda baru mengetahui ayah biologisnya ketika berusia sepuluh tahun, sebelumnya dia menganggap ayah Dhimas, ayah tirinya,  layaknya ayah kandung, dia amat sangat menyayanginya. Lalu, datang ketika Ganda mulai asing dan tidak dibutuhkan lagi, tempat yang sudah dianggap sebagai rumah rasanya tidak menerima dirinya. Ketika memasuki SMA, Ganda memutuskan untuk ikut ayah Gio ke Jakarta, ayah kandung yang terasa asing.

Di keluarga ayahnya, Ganda diterima dengan baik oleh ibu tirinya, Jess juga sudah mengganggap dia sebagai anak kandung, apalagi Gio sangat menyayangi dan berusaha untuk mengganti waktu yang dia lewatkan, khususnya pertumbuhan Ganda. Gio baru tahu keberadaan Ganda ketika pemuda tersebut berusia sepuluh tahun. Namun, walau sudah diterima oleh keluarga baru ayahnya, bahkan dia sangat menyayangi kedua adik dari pernikahan Gio dan Jess, tetap saja Ganda merasakan perasaan yang berbeda, dia belum diterima secara utuh, terlebih orangtua Jess yang tidak mau mengakuinya, membuat Ganda sempat terluka dan ingin kabur dari rumah.

Ganda sudah terbiasa dicap sebagai anak haram, anak di luar nikah, status sosial yang dicap karena kesalahan orangtuanya, dibebankan kepada anak yang tidak tahu apa-apa. Dia membentengi dirinya dengan menciptakan tembok, tidak ada orang lain yang bisa menyentuh perasaan terdalamnya. Sampai ketika memasuki masa orientasi sekolah baru, dia berkenalan dengan Nadya, cewek berisik dan suka sekali mengganggunya.

Sebuah kejadian di sekolah yang membuat Ganda babak belur membuat Tara, ibu kandungnya meminta agar Ganda kembali ke Bandung bersama dirinya, bahwa kesalahan besar membiarkan Ganda ikut Gio. Namun, dengan kejadian tersebut sebuah rahasia mulai terbongkar, sebuah rahasia yang membuat Ganda merasa tidak ada yang bisa menerima dirinya.
Cuma karena dia nggak punya orangtua lengkap, nggak tahu siapa ayah biologisnya, bukan berarti dia produk gagal. Cuma karena orangtuanya bikin kesalahan, bukan berarti dia yang harus menanggung akibatnya.
"Mereka lupa sama kenyataan kalau aku nggak pernah minta keadaan kayak gini. Siapa sih yang mau lahir jadi anak haram? Nggak ada, aku yakin. Tapi nggak ada yang peduli. Yang mereka tahu, kelakuan mamaku hina, aku anak hasil zina. Dan aku harus terima hidup dengan label itu selamanya." 
Salah satu buku yang tidak punya ekspektasi apa pun pada mulanya. Saya tidak mencari tahu terlebih dahulu tentang penulisnya, tidak membaca review lain sebelum membaca, sinopsisnya saja tidak terlalu saya perhatikan, bahkan bisa dibilang buku ini hampir terlupakan karena datang setelah saya membuat daftar bacaan selama sebulan. Merasa punya hutang, saya sempatkan baca di sela-sela jadwal bacaan yang sudah saya tentukan, satu bab dulu, deh, selanjutnya bertahap selama lima hari. Namun, setelah selesai baca bab satu, saya tidak bisa berhenti membaca, langsung habis sekali berbaring, saya mendapatkan karma karena menyepelekan di awal, hahaha, benar-benar tidak saya antisipasi.

Kalau tidak salah tebak, ini karya ketiga penulis, satu-satunya yang tidak bermuatan dewasa, selepas membaca saya mengintip karya lain dari penulis di goodreads karena penasaran. Bisa dibilang saya suka sekali dengan buku ini, bahkan nangis terus pas baca, iya saya cengeng, hahahaha. Dua hal utama yang membuat saya sangat menikmati membaca buku ini; saya suka semua karakter di buku ini, karakternya sangat kuat, tidak ada karakter yang sia-sia. Dan kedua, konflik keluarga yang diambil. Saya jadi ingin membaca karya lain dari penulis. Buku ini sukses membuat saya menangis sepanjang membaca, feel-nya dapat banget. Selain konfliknya yang menarik, hubungan semua karakter di dalamnya terasa berharga.

Satu pesan yang sangat terlihat seusai membaca, kadang kita melimpahkan kesalahan orangtua kepada anak yang tidak tahu apa-apa, anak yang sebenarnya tidak berdosa harus menanggung malu dan beban sosial atas kesalahan orangtuanya. Saya benar-benar bisa merasakan betapa nyeseknya kondisi yang dialami Ganda, saya jarang menemukan cerita yang fokus akan kondisi ini, bagaimana rasanya, bagaimana menghadapinya, Alma Aridatha mengeksekusi cerita dengan amat baik sekali.

Selain konflik tentang anak haram di atas, ada pesan moral yang juga sangat terasa bahkan mengandung unsur parenting. Diperlihatkan ketika Ganda mulai mengalami masa pubertas, Gio menjelaskan secara ringan dan secara laki-laki, hahaha. Saya suka sekali hubungan Gio dan Ganda di sini, bagaimana Gio mencoba membina hubungan dengan anak yang sedari kecil tidak pernah mengenalnya, menerima kondisi dia apa adanya, merasa bahwa Ganda berharga, dia memang hadir karena kesalahan, tapi keberadaanya tidak pernah menjadi masalah, tetapi anugerah.

Saya nyesek banget waktu Gio marah ketika orangtua Jess menghina Ganda dan tahu masalah yang sebenarnya kenapa Ganda tiba-tiba ingin tinggal bersama dirinya, sangat terasa sekali rasa sayangnya. Saya juga menyukai hubungan antara Ganda dan Jess, ibu tirinya. Yah, tidak semua ibu tiri jahat seperti ibu tirinya Cinderella, Jess tahu posisinya, dia sangat menjaga perasaan Ganda, dia lebih memilih posisi layaknya seorang teman alih-alih ibu pengganti, yang bisa diajak berdiskusi apa pun. Hubungan Gio dan Jess juga tidak boleh dilewatkan, mereka adalah pasangan gokil dan bisa saja menjadi parent goals. Kalau kalian sudah baca Tied The Knot, kalian akan familier dengan mereka, bisa dibilang awal mula hubungan mereka terjalin, semoga saja menjadi buku The Tied series selanjutnya :D

Berhubung No Place Like Home ini sejatinya adalah buku remaja, tentu ada kisah cinta yang melengkapi. Walau tidak dominan, kisah cintanya dihadirkan di sela-sela masalah yang sedang dihadapi Ganda, kehidupan masa remaja juga tergambarkan dengan baik. Hubungan Ganda dan Nadya terasa alami, tidak terburu-buru dan manis. Paket lengkap pokoknya.

Sejak membaca buku ini, Alma Aridatha sudah saya tandai! Dari segi karakter, konflik, perkembangan keduanya, semua dieksekusi dengan baik, saya juga menyukai caranya bercerita, deskripsinya yang lincah dan terkadang nakal (karena saya merasa basic penulis adalah cerita dewasa) membuat saya sangat menikmati dan betah membacanya. Kalau diminta rekomendasi penulis Wattpad yang recommended, maka nama Alma Aridatha tidak ragu saya sodorkan.

4.5 sayap bagi kalian yang juga sedang mencari tempat pulang :D




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...