Sabtu, 26 Agustus 2017

[Resensi] Touche: Rosetta Karya Windhy Puspitadewi

Judul buku: Touche - Rosetta (Touche #3)
Penulis: Windhy Puspitadewi
Editor:
Sampul:
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9786020351162
Cetakan pertama, 5 Juni 2017
200 halaman
Baca di Scoop
Edward Kim memiliki kemampuan memahami semua tulisan, bahkan dari bahasa yang belum pernah dia dengar sebelumnya, melalui sentuhan. Dia seperti Batu Rosetta berjalan. Kemampuannya itu akhirnya dia gunakan untuk medapatkan uang dengan membantu seorang profesor di British Museum.

Tiba-tiba seorang pria asing datang menemuinya dan memintanya memecahkan sebuah teka-teki. Teka-teki yang berisi rahasia dari zaman Renaissance dan petunjuk pelaku suatu pembunuhan.

Di buku ini teka teki nya lebih seru dari sebelumnya, lebih susah, seperti kata Ed sendiri, seperti campuran kisah Robert Langdon dan film X-Men, misterinya kental banget. Bagian menerjemahkan buku tua adalah bagian yang paling favorit, dan mungkin saja paling susah ditulis karena mengandung unsur misteri yang tidak mudah. Walau masih tetap bisa menebak pelakunya, plot twistnya cukup ngena, sepertinya penulis semakin ahli nih nulis genre seperti ini. Yang aku suka lagi, jenis kekuatan touche-nya unik! Walau ide ceritanya superhero ala-ala X-Men, penulis membuat perbedaan yang akhirnya menjadi ciri khasnya, misalnya dengan kekuatan Touche yang tak tertebak, seperti misalnya di buku sebelumnya, Hiro yang mampu mengenali identitas kimia sampai dengan DNA-nya.

Edward direkut oleh Profesor Fischer untuk membantunya menerjemahkan naskah kuno di British Museum. Lebih tepatnya Edward dibayar, tidak masalah kalau Profesor Fischer yang terkenal, asal Ed bisa mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, itu sudah cukup. Selain Fischer, tidak ada yang tahu akan kemampuan Ed, sampai Profesor Hamilton tewas terbunuh dan meninggalkan buku tua. Yunus King tahu rahasia antara Ed dan Fischer, karena ingin mencari siapa pembunuh Hamilton, dia dan anak Hamilton yang bukan kaum Touche tapi memiliki eldetic atau ingatan fotografis untuk tulisan, Elle, meminta bantuan Ed untuk menerjemahkannya.

Edward memiliki kemampuan membaca tulisan kuno, tulisan dari aksara yang bahkan belum pernah dilihat, tulisan-tulisan dari abjad kuno seperti akkadia, sanskerta, cypriot, hieroglif dan Yunani kuno. Berlaku juga untuk pahatan, apapun yang dibuat langsung. Kemampuannya tidak berfungsi untuk tulisan hasil cetakan atau dari alat seperti tablet maupun komputer.

Berbeda dengan buku pertama bersetting di Indonesia, buku kedua di New York, di buku ketiga ini kita akan dibawa ke London, dan sedikit Italia. Akan ada Hiro juga karena kasusnya akan berkaitan dengannya. Tentu buku ini masih akan ada lanjutannya. Semoga series ini akan berlanjut sampai berpuluh-puluh buku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...