Sabtu, 26 Agustus 2017

Grand Story: Panduan Bagi Masyarakat Urban


Hai hallo, kembali lagi di rubrik Bookish Review, kali ini saya akan mereview sebuah majalah tematik yang berasal dari Surabaya, Grand Story: An Urban Guidebook for Global Lifestyle & Development. Sebelum ke intinya, saya akan membahas latar belakangnya terlebih dahulu. Kalau tidak salah, Grand Story berdiri sejak 2015, awalnya hanya majalah iklan milik Grand Sungkono Lagoon, sebuah agen properti, dijual gratis di berbagai event. Kemudian Grand Story bisa dibilang 'mati' untuk beberapa lama. Di tahun 2017 Grand Story lahir kembali dengan format, desain dan tim baru, berdiri kembali menjadi sebuah media yang lebih komprehensif.

Setiap bulannya Grand Story membahas tema yang berbeda sehingga lebih menyeluruh dan fokus. Di tahun 2017 ini, Grand Story mulai dari Issue 11 dan 12, tidak dijual secara umum, hanya dibagikan gratis untuk memperkenalkan Grand Story versi terbaru. Issue 13 membahas tentang media, mulai dijual di Surabaya dan sekitarnya. Di Issue 14, edisi yang saya baca tentang literasi mulai dijual online. Issue 15 yang membahas art akan terbit mulai 10 September dan bisa dijumpai di toko buku konfensional. Grand Story juga menampilkan dwibahasa untuk beberapa rubrik sentral.

"Lewat edisi ini, Grand Story ingin memperluas pandangan pembaca mengenai literasi dan implementasi dalam kehidupan sehari-hari. Pandangan dari penikmat, penggiat dan berbagai figur serta komunitas literasi diharapkan dapat mampu membuka mata pembaca untuk ikut terjun langsung memberdayakan literasi di Indonesia" - Rudi Harsono, Project Director.
Saya akan membahas Issue 14: Liberating Literasy. Edisi ini bisa dibilang sangat menyenangkan bagi saya, karena berhubungan dengan kegiatan yang saya sukai, yaitu tentang dunia membaca dan menulis. Liberating Literacy berisi tentang pemahaman literasi yang begitu luas, tidak hanya sebatas aktivitas membaca yang sering kali dianggap membosankan dan menakutkan. Lewat Liberating Literacy, Grand Story ingin generasi bebas sekarang ini mau membebaskan pikiran dengan membuka diri dan menyelami literasi lebih dalam lagi sehingga tidak hanya berkutat pada layar gawai saja.


Beberapa rubrik di Grand Story meliputi, Cover Story -mengajak untuk mengasah kemampuan literasi kita, Flash Story -berita terhangat yang terjadi baru-baru ini, misalkan saja buku Harry Potter yang dicetak ulang dengan desain sampul ala lokal, Emmanuel Macron yang terpilih sebagai presiden baru Prancis. Ada juga Main Story, Figure Story, Advertising Story, Community Story -Aliansi Literasi Surabaya dan Komunitas Kota Jancuk, Our Story -berisi berbagai informasi mulai dari local brand, automotive, health, travel, hangout place, fashion update, book recommendation dari tim Grand Story, sampai book review. Terakhir, Event Story -berbagai event yang baru-baru ini ada di Surabaya dan After Story.

Bagian favorit saya tentu saja Main Story dan Figure Story karena kita akan lebih memahami literasi pada bagian ini. Ada tiga narasumber yang mengisi Main Story, pertama Lulu Abdul Fatah, seorang penulis dan pengajar Indonesia Writing Edu Center, yang membahas pentingnya mengedukasi lewat literasi, agar informasi yang didapat tidak dilempar secara mentah dan tidak menghakimi pandangan orang lain yang berbeda. Hestia Istiviani menulis tentang mematahkan stereotip perpustakaan yang hanya berisi buku, dijaga oleh perempuan tua berkacamata dan galak, marah jika pengunjung terlalu berisik. Perpustakaan perlu pembaharuan agar mendorong minat pengunjung mendatanginya. Irwan Bajang, pendiri Indie Book Corner mengatakan bahwa penerbit sebagai pusat industri buku harusnya mendapat dukungan besar dari pemerintah. Beban pajak buku, mahalnya distrubusi buku dan pajak toko buku membuat buku terkesan mahal, sehingga tidak bisa dijangkau semua kalangan.


Pada bagian Figur Story, Grand Story melakukan wawancara kepada; Aan Mansyur yang ingin buku puisi tidak mendapat deskriminasi, ingin anak muda menyukai puisi; Agustinus Wibowo, memilih menembus batas, bertravelling ke negara-negara berkonflik dan membuka sisi lain dari negara tersebut; Dewi Lestari, Ibu Suri bagi para aDEEction mengemukakan bahwa untuk bisa meningkatkan literasi butuh perbaikan yang sistemik dan menyeluruh. Mulai dari kebijakan pajak buku, menekan harga produksi buku, penyebaran perpustakaan, sampai menyokong kesejahteraan penulis. Terakhir, Kathleen Azali mendirikan ruang baca publik C20 Library & Collabtive, agar bisa menjadi referensi buku yang sulit di dapat, seperti sejarah kota Surabaya dan sumber informasi.

Secara garis besar, saya menyukai apa yang disuguhkan Grand Story, bahasannya tidak terlalu panjang tapi cukup detail, aspek penting tersalurkan secara padat dan berisi. Terlebih dengan edisi tematik setiap bulannya, kita akan bisa fokus dan melihat hal lain tanpa keluar dari tema. Misalkan saja pada bagian travel, kita akan diajak ke Kampung Ilmu di Surabaya, melihat potret berbagai tumpukan buku yang menunggu dijemput. Pada bagian health kita akan diberikan tips untuk menjaga kesehatan mata, di mana identik sekali dengan para pembaca.

Sedikit kekurangan dari majalah ini, dari segi tampilan boleh saja juara, tapi tetap saja memiliki cela. Perekatnya tidak kuat sehingga mudah sekali terlepas, bahkan setengah lebih, tentu hal ini tidak membuat nyaman. Selain itu saya juga menemukan beberapa typo, misalkan saja pada bagian daftar isi, Komunitas Kota Jancuk menjadi Komunikasi Kota Jancuk, masih ada beberapa tapi tidak terlalu parah. Di samping kekurangan, Grand Story berkomitmen untuk menjadi panduan bagi masyarakat urban dengan menyajikan bacaan yang berkualitas.

Seperti Aan Mansyur yang mengatakan bahwa yang perlu kita lakukan adalah membaca buku dan memperlihatkan kepada masyarakat sehingga mereka tertarik dengan apa yang sedang kita baca. Berkoar-koar mengajak orang lain untuk membaca buku tetapi tidak didengarkan, tentu saja pekerjaan yang melelahkan. Pegiat literasi tak perlu kecil hati. Kita harusnya memang mengedukasi diri sendiri terlebih dahulu sebelum mengedukasi orang lain, menjadi literate terlebih dahulu sebelum mengajarkan orang lain untuk berliterasi.
Grand Story dibrandol seharga 35k, bila kesusahan mendapatkan di toko buku, kalian bisa membeli online dengan menghubungi grandstorymagazine@gmail.com. Websitenya sedang dalam proses pengembangan, untuk sementara kalian bisa mengikuti instagram @grandstorymagazine untuk mendapatkan informasi terbaru.

4 komentar:

  1. Review yang menarik sekali juga lengkap. Saya berharap buku terbaru saya bisa direview sebagus ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga lain kali bisa membacanya ya :D

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...