Minggu, 27 Agustus 2017

Baca Buku Cetak atau Buku Digital? | Let's Talk


Di era modern ini, teknologi semakin berkembang, kita bisa berbelanja tanpa perlu keluar rumah, mau pesan apa saja bisa lewat aplikasi di gawai, tak terkecuali dengan buku. Sekarang kita bisa menikmati membaca tanpa perlu melibatkan kertas, menenteng buku-buku yang bisa untuk mengganjal pintu, melainkan hanya menatap layar gawai yang kita punya. Elektronik book atau e-book atau buku digital sekarang dengan mudah bisa kita temui di Indonesia, banyak aplikasi yang menawarkan model baca tersebut, bahkan banyak juga versi bajakannya, yang tentu saja tidak saya sarankan. Pertanyaanya adalah apakah hadirnya buku digital akan mematikan pasar buku cetak? Lebih baik baca buku cetak atau buku digital? Let's talk.

Jujur saja, dulu saya bisa dibilang tidak mau membaca e-book atau buku digital. Pertama karena tidak terbiasa dan tidak memiliki e-reader (perangkat untuk membaca e-book), serta mayoritas hanya ada buku bahasa Inggris, tidak ada buku terjemahan maupun buku lokal, sehingga tidak ada yang menarik minat saya. Lalu, munculah perpustakaan digital semacam iJak dan toko buku digital yang digagas oleh Scoop, kita tidak membutuhkan e-reader, hanya bermodal tablet atau ponsel saja sudah cukup, membuat saya memikirkan ulang akan konsep model bacaan seperti apa yang saya butuhkan.



Saya pecinta buku cetak garis keras, tapi ketika buku koleksi saya semakin menggunung alias timbunan tak terbendung lagi, malah menjadi stressor bagi saya, saya hampir muak. Saya kemudian bersemedi, memikirkan berkali-kali apakah harus melepas sebagain koleksi yang saya punya, tentu bukan hal yang mudah karena hampir sebagian besar pemberian baik penulis maupun penerbit dan bertanda tangan. Di saat keadaan kacau memikirkan bacaan tersebut saya malah mulai melirik buku digital, terlebih bisa patungan dengan teman-teman berlangganan Scoop premium yang membuat saya memiliki banyak pilihan bacaan. Bagian melepaskan kepemilikan ini bakalan saya ulas di postingan lain.

Setelah mulai menggenal buku digital, saya memaknai beberapa hal. Buku digital tidak akan pernah mematikan pasaran buku cetak, bagi pecinta buku, keberadaan buku fisik ini sangatlah penting, entah kalau pembaca lain, tapi bagi saya selain bisa mejeng di rak buku ada semacam ikatan yang menjerat untuk memiliki, apalagi khusus buku yang memang ingin dikoleksi dan dibaca berulang kali. Ada hal-hal yang tak dimiliki buku digital, pun sebaliknya. Bahwa keduanya saling melengkapi kekurangan masing-masing.

Lalu, kenapa membaca buku digital kalau peran buku cetak tak tergantikan? Saya memiliki beberapa alasan. Berikut adalah alasan kenapa saya membaca buku digital:

1. Bokek alias tidak punya uang
Ada beberapa aplikasi toko buku digital seperti Scoop, Google Play Book dan Bookmate yang bisa dinikmati oleh pembaca di Indonesia. Memang kebanyakan harganya sama persis dengan versi buku cetak, tapi ada kalanya mereka memberikan diskon bahkan gratis untuk buku terntentu.

Baca juga:
Aplikasi Bagi si Kutu Buku
Membaca E-book via Scoop

Hal ini tentu saja sangat menghemat bagi pengeluaran untuk membeli buku, terlebih saya berlangganan Scoop Premium, ini bukan sponsor ya, walau beberapa kali memang pernah bekerjasama, hahaha, ini murni pendapat saya karena memang bermanfaat banget bagi kantong saya. Gambarannya gini, saya berlangganan Scoop sebulan 89k tapi bisa membaca buku sepuasnya yang ada di Scoop Premium. Nggak hemat banget apa? Satu buku sekarang rata-rata harganya berapa? Hampir 50k ke atas, bahkan tidak jarang ratusan ribu, jadi kenapa nggak membaca buku digital?

2. Nggak dapat buntelan atau buku gratis
Saya akui saya memang sedikit idealis, banyaknya penerbit dan penulis yang bermunculan membuat saya selektif dalam hal membaca maupun membeli buku. Mungkin ini disadari oleh beberapa orang bahkan penerbit maupun penulis sehingga mereka enggan bekerjasama dengan saya, hahaha *ngenes. Bahkan ada pengalaman yang lucu, saya pernah memention teman yang sedang mempromosikan sebuah buku dan saya bilang jadi tertarik untuk membaca, kemudian si penulis mengirim pesan kepada saya untuk menawari membaca buku tersebut, dan dia bilang sebelumnya ingin juga menawari tapi sungkan. Pernah juga saya nggak jadi host blog tour tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, eh tiba-tiba bannernya udah muncul dengan host lain, LOL.

Berulangkali saya selalu menyebutkan ini, saya pernah berada di titik lelah dengan semuanya, saya muak dengan tumpukan buku yang saya punya. Saya senang mendapatkan buku gratis, saya senang menjadi host blog tour. Namun, karena tidak bisa membagi waktu dan minat saya akan banyak hal membuat tidak fokus ke setiap hal yang sedang saya kerjakan, dampaknya saya keteteran, timbunan pribadi tak tersentuh, saya lupa jadwal blog tour bahkan bukunya belum saya baca di saat hari itu harus posting. Saya akui sampe sekarang saya masih punya beberapa hutang review dan baca, oleh karena itu saya mulai membatasi, sedikit demi sedikit mulai menolak tawaran yang sekiranya saya tidak cocok dengan buku tersebut, sampai akhirnya nggak ada yang menawarkan, hahahaha.


Bukannya saya menolak semua tawaran, bahkan kalau ada pencarian host blog tour yang bukunya sekiranya menarik saya bakalan mendaftar, kok. Saya juga berterima kasih sekali kepada penulis maupun penerbit yang tahu betul jenis bacaan yang saya suka dan tidak ragu untuk menawarkan, karena bakalan saya terima dan ulas dengan senang hati. Saya sering loh lihat buku yang sedang dipromokan dan kepingin baca tapi saya nggak jadi host blog tour, ikutan giveaway nggak menang, hahaha. Makanya ketika lihat buku tersebut ada versi gratis di Scoop atau iJak, saya seneng, yaudah lah ya, masih ada cara lain untuk membaca buku yang kita inginkan, kalau jodoh nggak akan kemana :D

3. Pengin baca tapi nggak pengin dikoleksi
Saya suka kepo kalau ada penulis baru, karena saya memang suka membaca karya dari penulis debut yang siapa tahu bisa dijadikan penulis favorit selanjutnya. Masalahnya, sekarang banyak sekali penulis dan penerbit baru bermunculan, terlebih sejak Wattpad meroket ketenarannya, hampir semua penerbit berbondong-bondong ingin menerbitkan karya dari penulis Wattpad, di mana tidak semua kualitasnya bisa terjamin. Nah, dengan adanya buku digital ini, saya bisa mencicipi karya mereka tanpa menyesal setelah membeli kalau ternyata tidak sesuai gambaran saya. Saya biasanya juga membaca karya dari penulis yang sebelumnya pernah saya cicipi tapi tidak untuk dikoleksi. Hanya sebatas ingin membaca saja tanpa ingin memiliki bukunya.

4. Baca dulu, beli kapan-kapan kalau punya uang
Ini berlaku ketika saya melihat buku yang ada di wishlist tapi belum sempat dibeli atau pas lagi bokek, bahkan nunggu belinya kalau ada promo atau diskon, hahaha. Jadi bisa menghemat, bisa baca terlebih dahulu, belinya bisa kapan-kapan karena nggak mendesak. Misalnya ketika saya lihat buku One With You karya Sylvia Day atau Boy Toy karya aliaZalea di Scoop, saya seneng kejer. Saya mengoleksi bukunya tapi karena rumah saya jauh dari toko buku, belinya bisa ditunda, baca dulu untuk melepas rasa penasaran.

5. Buku langka alias sudah susah banget dicari
Ketinggalan buku kece untuk dibaca karena terbitnya lama dan sekarang susah dicari? Maka buku digital jawabannya. Saya seneng banget bisa menemukan Teka Teki Terakhir karya Annisa Ihsani di Scoop karena sejak lama ingin membaca tapi tak kunjung menemukan bukunya. Makanya penting juga keberadaan buku digital di samping buku cetak kalau sudah tenggelam dari peredaran.

6. Jauh dari toko buku konfensional
Berbahagia lah bagi kalian yang bisa menjangkau toko buku dengan mudah, kami yang berdomisili di pelosok perlu berkilo-kilo meter melewati lembah, mengarungi gunung untuk sampai ke toko buku. Bahkan lebih ngenes lagi yang ada di luar pulau Jawa, kerap kali tidak mendapat keadilan karena harga buku selain menjadi mahal juga jarang ada toko buku. Beli online pun ongkos kirimnya selangit. Maka, keberadaan buku digital menjadi penyelamat kekosongan jiwa raga, kita bisa membaca buku di mana pun kita berada.


Nah, itulah alasan kenapa saya membaca buku digital. Masih membandingkan mana yang lebih bagus antara buku cetak atau digital? Kalau bisa saling melengkapi dan memiliki keunggulan masing-masing kenapa masih diberdebatkan? Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa mengakses bacaan agar bisa dinikmati dengan mudah, yang terpenting kita bisa terus membaca.

Kalau kalian, apa yang membuat kalian memilih membaca lewat buku cetak atau buku digital? Let's Talk :D

16 komentar:

  1. Aku lebih suka beli buku cetak Kak. Hmmm kalau menurutku terkesan lebih asyik saat membacanya tapi jadi penasaran juga mau mencoba menikmati buku digital setelah baca tulisan Kakak Peri ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama asik kok, aku juga lebih nyaman membaca pakai buku cetak, tapi kadang buku digital juga diperlukan, jadi yang mana aja, ayok, hehehe

      Hapus
  2. Memang beda rasanya jika bisa memiliki buku cetak bisa dibilang ada kepuasan tersendiri apalagi dari author favorit. tapi dg harga buku cetak yg gak bisa dibilang murah apalagi utk yg tinggal di luar p.jawa ebook bisa jadi pilihan. aku sendiri baca buku digital efek males nunggu bukunya lama banget keluar di indo bhkan kadang gak rilis di indo jadi akhirnya baca yg digital dulu baru beli buku cetaknya (nunggu diskonan haha).
    tapi tetap lah ya buku cetak tidak bisa terkalahkan apalagi aroma bukunya itu, sensasinya beda ><

    BalasHapus
  3. Jujur, aku lebih suka baca buku cetak, Kak, soalnya aku suka bau buku baru, itu ada kesenangan tersendiri, tapi nggak memungkiri aku juga baca buku digital kalo lagi bokek, biasa baca di iJak, tapi nggak semua buku ada di sana. Kalo beli cetak ongkir mahal dan nggak ada tokbuk. Alasan2 Kakak, keknya sehati sama daku :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tossss, keberadaan keduanya saling melengkapi lah ya :D

      Hapus
  4. sedang mencoba baca ebook. dan godaan membaca ebook ternyata lbh besar dibandingkan buku fisik hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha, coba aku punya tablet, mungkin bakalan lebih rajin baca ebook daripada buku cetak, baca lewat ponsel mudah lelah :p

      Hapus
  5. aku masih belum bisa baca digital mba rasanya yang cetak itu kalau uda selesai baca terus bukunya disimpan akan menjadi kenangan sendiri hahaha *agak lebay tp itu si yg aku rasain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku dulu juga kayak gini, belum adaptasi aja, nanti lama kelamaan bakalan terbiasa kok :D

      Hapus
  6. Aku pembaca keduanya, baik buku cetak maupun buku digital! \o/
    Ada beberapa penulis kesukaan yang memang aku koleksi buku cetaknya, seperti Tere Liye, Andrea Hirata, A. Fuadi. Alhamdulillah tempat kerjaku jg bersebelahan dgn Gunung Agung jadi tidak sulit mencari buku cetak.
    Untuk buku digital, aku pembaca setia i-Jakarta! \o/
    Sebelum tidur, saat naik kereta, saat bosan sambil nunggu aku seringnya buka i-Jak baca novel - novel didalamnya. Buatku, buku cetak maupun digital keduanya sama seru & sama bermanfaat. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, bener banget, keduanya saling melengkapi. Aku kurang nyaman sama iJak walau daftar bukunya lebih komplit daripada scoop karena ada penerbit yang nggak kerjasama bareng scoop. Aku nggak suka sistem baca cuma tiga hari dan harus ngantri. Yah, gratis sih jadi maklum aja, hahaha

      Hapus
  7. Setuju kak. Aku awalnya nggak baca buku digital sama sekali tapi sekarang mulai sering baca buku digital bahkan kadang jumlahnya lebih banyak dari buku cetak. Ya itu, karena aku juga penasaran sama penulis-penulis yang nggak pernah kubaca karyanya. Jadi dibaca lewat ijak, nanti kalau ternyata suka, baru beli bukunya :D

    Btw itu kelima-limanya aku banget loh :D wkwk, bersyukur udh ada buku digital yang mempermudah kalau mau cari buku :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yeay, tossss, banyak yang sependapat, kan? Hihihi

      Hapus
  8. Beeeh sama nihhh... aku juga aku juga! *angkat tangan*
    Sebenernya nggak begitu pingin banget juga sih baca ebook, mungkin lebih karena keharusan kali ya.

    Terutama poin 'bokek' itu emang iya banget. Kalau novel Indonesia kebanyakan harus baca buku fisik, aku kalau ebook gabisa hahaha entah kenapa nggak pernah bener-bener selesai. Jadinya harus cari pinjeman-pinjeman, itu juga kalo ada. Kalau gak ada, ya stok baca buku abis deh.

    Tapi karena emang seneng banget baca, akhirnya kenal buku2 ebook luar yang banyak dan bagus dan bisa dapet gratis. Beruntung bangetlah, setidaknya kalau stok novel Indonesia lagi nggak ada yang bisa dibaca, yang dari luar masih buanyak banget yang bagus haha..

    Kalau novel fisik punya mungkin lebih karena pingin koleksi kali ya, jadi yang ngebet harus punya banget dari penulis tertentu atau seri tertentu gitu... atau buku langka hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, yang buku fisik aku juga fokuskan ke penulis favorit yang bukunya wajib dikoleksi :D

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...