Senin, 10 Juli 2017

Resensi: Sophismata Karya Alanda Kariza

Judul buku: Sophismata
Penulis: Alanda Kariza
Editor: Anastasia Aemilia
Desain sampul: Martin Dima
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-5674-7
Cetakan pertama, 2017
272 halaman
Buntelan dari @alandakariza
Sigi sudah tiga tahun bekerja sebagai staf anggota DPR, tapi tidak juga bisa menyukai politik. Ia bertahan hanya karena ingin belajar dari atasannya -mantan aktivis 1998- yang sejak lama ia idolakan, dan berharap bisa dipromosikan menjadi tenaga ahli. Tetapi, semakin hari ia justru dipaksa menghadapi berbagai intrik yang baginya menggelikan.

Semua itu berubah ketika ia bertemu lagi dengan Timur, seniornya di SMA yang begitu bersemangat mendirikan partai politik. Cara pria itu membicarakan ambisinya menarik perhatian Sigi. Perlahan Sigi menyadari bahwa tidak semua politisi seburuk yang ia pikir.

"Sophismata dikemas apik dengan kedewasaan sekaligus kelincahan. Kehidupan politik dan interaksi di dalamnya terasa segar, mutakhir, dan relevan."
Dee Lestari, Penulis.

"Abu-abu, hitam atau putih, sama saja. Mungkinkah seseorang yang hitam-putih bisa menerima abu-abu? Pentingkah kehadiran cinta agar politisi tetap bisa menjaga kemanusiaanya?"
Maman Suherman, Penulis dan Kriminolog.

"Politik. Anak muda. Mimpi. Kisah cinta. Apa lagi yang hendak kalian dustakan, wahai milenials? Buku ini diracik dari, tentang, dan untuk kalian. Ambil. Resapi."
Salman Aristo, Produser, Sutradara, dan Penulis Skenario.

Alanda Kariza mengemukakan bahwa Sophismata adalah sebuah istilah di dunia filsafat, kalimat yang menunjukkan bagaimana nilai kebenaran bisa jadi sulit untuk ditentukan karena bersifat ambigu dan membuat kita bertanya-tanya. Selain unik dan tidak biasa, judul buku ini menggambarkan betul apa yang dirasakan oleh tokoh utamanya, Sigi.

Sigi tidak pernah menyukai politik, lucunya dia bekerja sebagai staf administrasi salah seorang anggota DPR yang cukup terkenal karena pada masa mudanya dia seorang aktivis reformasi, Johar Sancoyo, seseorang yang dari dulu Sigi idolakan. Sigi bermimpi untuk menjadi tenaga ahli, tidak hanya mengurusi hal monoton, tapi statusnya yang hanya seorang perempuan terlebih tidak memiliki gelar S2 kerap kali diremehkan oleh rekan kerja, bahkan atasannya sendiri.

Pandangan Sigi akan politik yang awalnya negatif mulai bergeser ketika dia bertemu kembali dengan kakak kelasnya sewaktu di SMA, Timur. Timur juga menyadarkan Sigi akan pentingnya meraih apa yang diimpikan, yang harus diperjuangkan. Timur yang terobsesi ingin membuat partai politik, bahkan rela melepaskan pekerjaan sebagai pengacara bergaji besa, mendalami ilmu hukum sebaik mungkin agar bisa terjun ke dunia politik, membuat Sigi memikirkan kembali akan pandangannya tentang politik.

Bahwa tidak semua orang yang terjun di dunia politik itu busuk, ada segelintir orang, mungkin lebih, yang benar-benar bekerja untuk rakyat, menepati janji waktu kampanye. Bahwa politik seharusnya diisi oleh orang-orang yang bersemangat, berintegritas, bertanggung jawab, percaya bahwa semua warga Indonesia harus hidup setara.
"Politik adalah tempat kepentingan yang berbeda-beda diakomodir. Seperti memiliki satu piza yang hendak dimakan banyak orang. Potongan-potongannya dibagikan ke sana-sini. Berapa besarannya? Tergantung proporsi kontribusi mereka terhadap kemakmuran masnyarakat. Contoh nyatanya bisa kamu lihat sehari-hari. Misalnya, ketika Presiden bagi-bagi jatah kursi di kabinet untuk birokrat, teknokrat, dan tentunya orang partai."
"Politik itu soal kekuasaan dan kepentingan. Aku pengin bisa memperjuangkan kepentingan orang banyak, tapi untuk bisa memperoleh itu, ya aku harus punya kekuasaan dulu. Jalan menuju hal itu panjang dan berliku."
"Politik memang bukan untuk semua orang, apalagi buat kamu yang sukanya hal-hal absolut -semua harus hitam dan putih, dan tidak boleh abu-abu. Tapi, aku harus bekerja di bidang ini, supaya orang-orang yang korup, yang tidak memenuhi janji kampanye mereka, yang tidak mempertanggungjawabkan pekerjaanya kepada rakyat, bisa diganti sama orang-orang yang punya integritas, lebih adil, dan percaya bahwa semua warga Indonesia harus hidup setara."
Sophismata adalah kisah cinta yang dibalut politik, kedua unsur tersebut penulis sajikan secara pas, sama-sama tidak berlebihan. Kisah cinta tidak mendominasi, pun dengan politik yang bisa dibilang baru dalam tahap dasar. Lewat interaksi Sigi dan Timur yang cerdas tapi tidak terkesan menggurui, dunia polotik terasa ringan. Selain melihat karakter utama berbagi mimpi dan pandangan hidup, kita juga sekalian belajar memahami dunia politik. Misalkan saja dinamika pekerjaan tenaga ahli di DPR, yang diperlukan untuk mendirikan sebuah partai politik, sampai yang paling remeh, jurusan apa yang bisa diambil kalau kita ingin terjun ke dunia politik. Alanda Kariza membuat tema yang berat menjadi menyenangkan untuk diikuti.

Bukan hanya menyinggung tentang kisah cinta dan warna warni dunia politik, penulis juga menyinggung tentang peran perempuan, yang kerap kali dipandang sebelah mata oleh segelintir orang, baik dari segi pendidikan maupun profesional. Politik didominasi oleh laki-laki, tidak banyak perempuan yang terjun langsung. Bahwa perempuan yang terlalu pintar membuat laki-laki menjauh. Sigi ingin mematahkan pandangan umum di mana perempuannya baiknya mengerjakan bagian yang sederhana seperti staf administrasi atau ibu rumah tangga saja. Sigi ingin berkembang, terus belajar, dia merasa tidak akan 'kemana-mana' kalau hanya mengurusi jadwal atasannya.

Bagian favorit saya adalah ketika Sigi bertemu atau berbicara dengan Timur, saya sangat menikmati percakapan mereka. Timur adalah orang yang sangat berpikiran terbuka, dia tidak pernah memaksa kehendak atau menggurui ketika Sigi meminta pendapatnya, Timur selalu objektif, tidak membela maupun menyalahkan, dia akan selalu mendukung apa pun pilihan Sigi. Timur fix menjadi book boyfriend saya :D. Sigi juga terlihat bisa lepas ketika bersama Timur, bebas mengeluarkan apa yang dipendam ketika merasa tidak memiliki suara di tempat kerja, bebas mengemukakan apa yang dia inginkan. Hubungan mereka memang dewasa bukan hanya dari segi fisik, tapi juga pemikiran.

Tentu saja kita akan diperlihatkan bagaimana busuknya dunia politik, seperti ingkar janji, memanfaatkan kepentingan rakyat demi kepentingan pribadi, sampai peran perempuan yang dipandang sebelah mata di dunia politik. Namun, tidak semua yang jahat selalu mendominasi, ada bagian kecil yang berharap menjadi besar, untuk Indonesia yang lebih baik. Ada anak-anak muda seperti Timur yang vokal akan impiannya, harus ada seperti mereka di dunia politik. Buku ini layaknya mengkampanyekan betapa pentingnya peran generasi muda untuk angkat suara, untuk tidak apatis dengan negaranya sendiri.
"Terkadang, kita memang harus terpuruk dulu untuk bisa bangkit," tambah Timur. "Dessert wine dari Australia, namanya Noble One, adalah salah satu wine terbaik di dunia -sering sekali dapat penghargaan. Gue pernah coba. rasanya seperti madu, Gi. Ternyata, dibuatnya dari anggur-anggur busuk, atau yang sengaja dibuat busuk. Terkadang mungkin kita memang harus bekerja sampai busuk dulu untuk bisa mencapai sesuatu. Cheers?"
Buku ini recommended bagi kalian yang ingin mengenal dunia politik secara ringan dan menyenangkan.

4 sayap untuk Sophismata.



4 komentar:

  1. Penasaran deh sama bukunya Alanda yang ini

    BalasHapus
  2. Aku udah punya versi ebook di scoop. Semoga bisa namatin ini segera. Baru baca awal sejauh ini. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga nanti ikutan suka juga ya ๐Ÿ˜€

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...