Selasa, 18 Juli 2017

Resensi: What I Wish I Had Known (And Other Lessons You Learned In Your 20s) Karya Marcella Purnama

Judul buku: What I Wish I Had Khown (And Other Lessons You Learned In Your 20s)
Penulis: Marcella Purnama
Editor: Anida Nurrahmi
Ilustrator & cover artist: Nabila Adani
Penerbit: Ice Cube
ISBN: 978-602-424-357-9
Cetakan pertama, 2017
208 halaman
Buntelan dari @icecube_publish
I’ve lived my whole life following people and taking their choices as mine. I will dream a new dream, a dream that’s totally my own, and I will work hard to get it.

Ever since her acceptance letter to study abroad arrived at her inbox, nothing in Marcella Purnama’s life has gone according to plan. Instead of choosing Science, like her two older sisters did before her, she steered path to study Arts—a degree so alien to both her families and friends. But as she traveled thousands miles away, struggled with English, had her first byline and went back home to apply for her first job, Marcella realized that plans are meant to be changed. Full of relatable tales of horrific group work, falling in love, first job interview and quarter-life crisis, this illuminating account follows how a young adult grapples with life’s small and big questions, and the lessons learned along the way.
Usia 20an adalah usia di mana kita bertansformasi atau memasuki fase dewasa muda, banyak hal yang di mulai ketika kita memasuki usia ini. What I Wish I Had Known bisa dibilang sebuah memoir bagi Marcella Purnama karena berisi catatan perjalanan hidupnya ketika memasuki usia 20an, bisa juga menjadi survival guide bagi kita yang mengalami permasalahan yang sama, mengalami quarter-life crisis.

Di bagian pertama, Marcella memulai cerita dengan permasalahan yang biasa dialami oleh remaja yang baru melepas seragam putih abu-abu, memilih jurusan kuliah. Marcella adalah anak ketiga di mana kedua kakak perempuannya sangat hebat, mereka dikenal pandai oleh para guru, kesayangan semua orang dan orang-orang juga berharap Ella akan mengikuti kedua jejak kakaknya. Hanya saja, Ella tidak menyukai sains, dia merasa berbeda dengan kedua kakaknya, dia ingin mengambil dua jurusan sekaligus yang katanya tidak menghasilkan banyak uang, Psychology and Media and Communications alih-alih Biomedicine. Berkat dukungan keluarga, Marcella dengan mantap menjadi pelajar asing, Bachelor of Arts di University of Melbourne, Australia. Dia ingin terlepas dari bayang-bayang kakaknya dan membuktikan bahwa pilihan hidupnya tidaklah salah.

Memulai kuliah di tempat asing tentu saja bukan hal yang mudah, selain budaya, tantangan terbesar adalah bahasa. Pada awalnya, Ella merasa rendah diri karena bahasanya sangat buruk, kemudian dengan membaca buku dan menonton film kemudian menuliskan hasilnya di blog, berinteraksi dengan pelajar asing lainnya, dia meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya dari waktu ke waktu. Dan hasilnya? Kalian bisa membaca buku ini :D
High school gave me good marks that I thought I deserved, but they did that because they wanted to encourage creativity and not the perfect grammar. They focused on the argument instead of the nitty gritty process. It was okay, until you journeyed five-thousand-kilometer away from home and figured out that everything you knew about your English skill was wrong.
Selain bahasa yang menjadi masalah awal, selanjutnya adalah pertemanan. Marcella tidak banyak memiliki teman, dia sering makan siang sendirian. Dia pernah diajak untuk bergabung dengan perkumpulan pelajar Indonesia di Australia, banyak hal yang harus dilakukan secara bersama-sama, seperti hanya ke toilet, tapi hal tersebut malah menyesakkan, membuat dia tidak nyaman, dia merasa lebih baik sendirian. Lalu hadirlah Esther yang berasal dari Malaysia, kehadirannya membuat hidupnya bermanfaat, tidak hanya mengenalkan kepada temannya yang lain, Esther memotivasi Marcella untuk bekerja part-time, membuat waktunya bermanfaat. Kehidupan lainnya dipenuhi dengan tugas dan seberapa penting nilai yang bisa diperoleh, menemukan cinta pertama, sampai memilih tempat magang.
Grades are still important, but they are not the most important things. As cliched as it is, the things you learn outside class is more important than the textbooks you blindly memorize in time for exams. But every time an assingment was handed back, I would need another reminder that grades do not set my future in stone.
Di bagian kedua kita akan memasuki dunia kerja, bagaimana sulitnya mencari pekerjaan bagi fresh graduate tanpa koneksi dari siapa pun, mencoba memahami otoritas bos, menemukan pekerjaan impian, merasakan bekerja nine-to-five, ekspektasi kita tentang dunia kerja yang ternyata jauh berbeda dari realita, sampai anggapan orang-orang yang menilai apa yang Marcella raih selama ini hanya keberuntungan semata, padahal ada jerih payah yang dilakukannya. Dan bagian terakhir berisi tentang keputusan penting yang kadang perlu diambil.
Life wasn't meant to be a bed of roses, I knew, but was I being too princess-like -throwing away an opportunity once life got hard?
Perhaps I was.
Perhaps I was still living in the microwave-mentality, thingking that succes was instant and if I didn't like a thing. I shouldn't perseverse in it. Besides, there was a quote that went "If you love what you do, it wouldn't feel like work", wasn't there?
You're not alone. It's hard to navigate the unchartered water from being a child to being an adult. Our generation might be looked as being pampered and selfish, but we still need to get out of this in one piece. 
Laiknya buku non fiksi kebanyakan, buku ini penuh dengan narasi dan minim dialog, tapi, melihat penulis pernah bekerja sebagai jurnalis dan aktif menulis di blog, apa yang dia ceritakan tak lebih dari berbagi pengalaman, bukannya bersifat menggurui tentang apa saja yang perlu diketahui ketika kita memasuki usia yang terbilang 'mature' dan sering mengalami quarter-life crisis. Marcella ingin berbagi pengalaman menjadi pelajar asing, jauh dari rumah, bercerita tentang kehidupan di kampus dan kehidupan di dunia kerja, khususnya bagi mereka yang sedang memulai, ingin menunjukkan bahwa kalian tidak sendirian dalam menghadapi kesulitan yang kerap kali hadir di usia 20an.

Banyak hal positif yang bisa di ambil dalam buku ini, selain dari pengalaman penulis, contoh lain adalah apa yang orangtua Marcella ajarkan padanya, bisa kita petik juga. Orangtua Marcella sangat terbuka dengan pilihan yang diambil anaknya, dia tidak memaksa, tapi mendukung apa pun pilihannya. Dan ketika melakukan sesuatu yang tidak benar, maka mereka akan menegur, walau terasa sedikit menyakitkan, kedepannya kita akan menyadari kesalahan yang pernah kita lakukan, berdamai dengan diri sendiri.

Salah satu bagian yang saya suka adalah ketika ayah Marcella berpesan pada Tjok, pacar Marcella. Tentang empat hal yang kita butuhkan dalam hidup; mempunyai mimpi, selalu positif dan optimis, sabar dan takut kepada Tuhan. Orang-orang di sekitar Marcella banyak yang menyenangkan, pun dengan saudara perempuan Marcella, mereka menjadi role model bagi dirinya untuk menjadi pribadi lebih baik dengan cara menjadi diri sendiri.

Sedikit kekurangan, saya merasa pembagian bab kurang begitu rapi, misalkan saja bagian Marcella yang introvert dan tidak banyak memiliki banyak teman, hampir di setiap part ada bahasan ini sehingga terasa repetitif, walaupun yang dibahas sedikit berbeda tapi intinya sama. Memiliki sedikit teman tapi berkualitas lebih baik daripada memiliki banyak teman tapi merasa jauh. Overall diceritakan secara berurutan, mulai dari tahap memasuki bangku kuliah sampai mendapatkan kerja.

Buku ini dibagi menjadi tiga bagian dan full memakai bahasa Inggris. Tenang saja, kalimatnya mudah dipahami, kok. Saya yang jarang membaca buku dalam bahasa Inggris masih dapat mengikuti dan menikmatinya. Ilustrasi di dalamnya bagus sekali juga menambah kelebihan buku ini, dan saya sangat menyukai covernya!

Bagi kalian yang tersesat di usia 20an, sudah atau akan, coba baca buku ini dan kalian akan menemukan bahwa kalian tidak sendirian, ada beberapa bagian di buku ini yang pernah saya rasakan juga, dan mungkin pernah dirasakan oleh kalian sendiri.
I must have done something right to deserve you in my life. Perhaps despite all our wrong doings and mistakes, despite all our failures and imperfections, we have done something right, for something good still happens in life.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...