Minggu, 16 April 2017

Membahas Genre Magical Realism

Berhubung laptop saya masih rusak dan stok gambar bikinan sediri lenyap, sementara pakai dari google dulu.

Hai haloooo, kembali lagi di postingan Genres, tempat di mana saya akan membahas bermacam-macam genre dan memberikan rekomendasi buku sesuai dengan genre yang sedang dibahas, dan kali ini saya akan membahas genre magical realism. Awalnya postingan ini ingin saya masukkan ke posbar BBI yang bertema genre yang belum pernah di baca. Berhubung sepertinya saya sudah mencicipi semua genre, wakakakaka *ditabok*, saya nggak tahu mau bahas apa, terus keinget genre yang cukup asing bagi saya, yang tidak terlalu saya mengerti, sehingga saya memilih genre magical realism sebagai bahasan di blog dalam rangka ulang tahun BBI yang ke-6, semoga aja bisa masuk ya, hehehe.

Postingan kali ini akan sedikit berbeda seperti biasanya karena saya tidak menulis sendiran, saya melakukan obrolan singkat dengan teman blogger yang mengenal dan menyukai genre Magical Realism. Mungkin bagi beberapa diantara kalian tidak akan asing dengan sosok blogger satu ini, dia adalah mantan anggota BBI, hahahaha, yah walau mantan, blognya tetap berisi tentang buku kok, jadi bisa kalian tengok karena isinya cukup variatif dan dari segi visual tampilannya sangat memanjakan mata. Sebagai info tambahan, blogger satu ini juga yang membuat template Kubikel Romance yang kece badai, templates-nya bisa dibilang sudah go internasional karena banyak banget orang luar yang beli. Dia adalah mbak Citra Florenca, pemiliki Fiction Book Review.

Sebelum ke obrolan singkat dengan mbak Citra, saya akan mengenalkan sedikit genre magical realism. Jujur saja, genre ini bisa dibilang cukup sulit saya pilah-pilah karena bisa salah masuk ke genre lainnya, bahkan tidak jarang saya menemukan buku yang dulu pernah dibaca ternyata termasuk genre magical realism. Misalkan saja Life of Pi dan Of Bees & Mist, atau buku-buku yang ada di timbunan seperti, The Golem and the Ginni, The Night Circus dan The Ocean at the End of the Lane.

Menurut Goodreads
Magical realism is a fiction genre in which magical elements blend to create a realistic atmosphere that accesses a deeper understanding of reality. The story explains these magical elements as normal occurrences, presented in a straightforward manner that places the "real" and the "fantastic" in the same stream of thought.
Magical realism, magic realism, or marvelous realism is literature, painting, and film that, while encompassing a range of subtly different concepts, share in common an acceptance of magic in the rational world. It is also sometimes called fabulism, in reference to the conventions of fables, myths, and allegory. Of the four terms, Magical realism is the most commonly used and refers to literature in particular[1]:1–5 that portrays magical or unreal elements as a natural part in an otherwise realistic or mundane environment.

The terms are broadly descriptive rather than critically rigorous. Matthew Strecher defines magic realism as "what happens when a highly detailed, realistic setting is invaded by something too strange to believe."[2] Many writers are categorized as "magical realists," which confuses what the term really means and how wide its definition is.[3] Magical realism is often associated with Latin American literature, particularly authors including Gabriel García Márquez and Isabel Allende. In English literature, its chief exponents include Salman Rushdie.

Menurut @colourmeread
A literary genre incorporating fantastic or mythical elements into what is otherwise realistic fiction.
Patokan saya, genre magical realism ini seperti perpaduan antara realistic fiction dan fantasy atau memiliki unsur magis. Tema yang diangkat adalah tema yang serius, sesuatu yang pasti realistis tapi ada sentuhan absurd atau tidak bisa dipercaya dengan akal sehat.

Beberapa buku bergenre magical realism terkenal antara lain adalah buku-buku karya Gabriel Garcia Marquez, ada satu buku yang belum sanggup saya tamatkan, One Hundred Years of Solitude atau diterjemahan oleh Bentang Pustaka menjadi Seratus Tahun Kesunyian dan Love in The Time of Cholera. Isabelle Alende juga banyak menulis genre magical realism, seperti Daughter of Fortune, The House of the Spirits, Portrait in Sepia: A Novel, Of Love and Shadows, Island Beneath the Sea.

Haruki Murakami juga menulis genre serupa di buku Kafka on the Shore dan 1Q84, Salman Rushdie juga identik dengan genre ini, sebut saja bukunya yang pernah diterjemahkan oleh Serambi, Luka dan Api Kehidupan, serta bukunya yang terkenal, Midnight's Children. The Five People You Meet in Heaven karya Mitch Albom juga bisa dikategorikan magical realism. Bentang Pustaka juga sudah menerjemahkan When God Was a Rabbit karya Sarah Winman. Atau yang masih segar dalam ingatan, Rumah Kertas karya Carlos Maria Dominguez.

Untuk buku dalam negeri sendiri, sepertinya belum banyak yang mengambil genre ini, dari beberapa informasi yang saya kumpulkan, Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan yang paling populer. Kemudian Yudhi Herwibowo sepertinya juga memfokuskan tulisannya untuk genre magical realism, seperti Mata Air Air Mata Kumari dan Miracle Journey: Kisah Perjalanan Penuh Keajaiban Kitta Kafadaru.

Setelah mengenal gambaran umum tentang magical realism, mari kita simak obrolan singkat saya dengan mbak Citra :D
Apa genre favorit mbak Citra?
Genre favorit, ya? Agak susah nih milihnya, berhubung aku termasuk omnivorous reader. Tapi kalau harus milih, genre favoritku historical fiction & magical realism. Aku suka baca cerita yang "rasa"nya beda dari dunia kita sekarang.

Mbak Citra adalah salah satu blogger yang aku tahu mengenal betul tentang genre magical realism, bisa jelaskan makna dari genre tersebut?

Waduh jadi malu aku, Mbak Sulis. Sebenarnya kenal betul sih, mungkin belum, ya. Tapi memang sempat icip-icip beberapa buku dan langsung jatuh cinta. Soal makna, mungkin Goodreads udah ngasih definisi yang sangat pas, bisa kunjungi link ini kalau mau ceki-ceki : https://www.goodreads.com/genres/magical-realism

Menurutku pribadi, magical realism itu cerita dimana realita dan elemen fantasinya serba nanggung. Jadi bisa dibilang kalau novel-novel yang bengenre itu ya, fantasi bukan, fiksi realistis juga bukan. Namun, di balik sifatnya yang serba tanggung itu, pada umumnya buku magical realism mengajak pembaca untuk berpikir lebih jauh. Ini juga yang bikin aku suka sekali dengan genre ini, karena biasanya nih, buku-buku magical realism itu susah dilupain.

Apakah ada cara yang mudah dalam menentukan/ mengenali genre magical realism? Melihat kadang dibalut dengan genre lain.

Mungkin harus icip-icip dulu ya, satu atau dua buku baru kecium sifat aslinya hehehe, dan akan lebih mudah dikenali kalau kita kenal sifat "serba tanggung" nya. Contoh gampang buku Cantik Itu Luka (Eka Kurniawan) di mana salah satu karakternya Maman Gendeng nan sakti mandraguna yang berteman akrab dengan hiu-hiu buas di lautan. Sekilas memang mirip fantasi, tapi Cantik Itu Luka settingnya di jaman kolonial, pendudukan Jepang dst yang secara historis, memang benar-benar terjadi. Berarti nggak fantasi murni, kan? Dibilang fiksi sejarah juga nggak bisa, berhubung ada karakter sakti di dalamnya. Inilah yang aku sebut "serba nanggung" tadi.

Bisa berikan rekomendasi buku magical realism yang ada? Baik buku luar negeri maupun dalam negeri, melihat belum banyak yang tahu atau mungkin tidak banyak yang menuliskannya.

Cantik Itu Luka, untuk fiksi lokal. Sependek yang aku tahu, genre ini juga belum bersemi (pret!) di dunia perbukuan Indonesia, jadi mungkin pilihannya masih sangat terbatas. Hingga saat ini, aku baru baca satu buku (Cantik Itu Luka tadi). Mungkin aku agak kudet, jadi kalau ada teman-teman yang mau rekomendasi novel magical realism lokal, aku dengan senang hati menerima!

Untuk yang mau icip-icip, bolehlah yang agak ringan dulu seperti buku-bukunya Sarah Addison Allen atau Menna Van Pragg. Kalau mau yang mumet lagi, silahkan coba One Hundred Years of Solitude (Gabriel G. Marquez), The Famished Road (Ben Okri), The Night Circus (Erin Morgensten), Life of Pi (Yann Martel) dsb. Semoga saja ke depannya banyak penulis-penulis Indonesia yang mempertimbangkan untuk bikin novel jenis ini :)
Nah, demikian bahasan saya tentang genre magical realism, semoga mencerahkan dan bisa membantu kalian yang masih bingung, walau saya sebenarnya juga masih agak bingung, hahaha. Memang harus banyak membaca agar bisa lebih tahu dan memahami. Saya ingin mencoba Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan, bulan lalu mau baca nggak kesampaian, baru kemudian yang levelnya agak susah, dari timbunan yang dipunya seperti yang saya sebutkan di atas sampai buku yang mungkin perlu waktu membaca selama seratus tahun, yaitu Seratus Tahun Kesunyian XD.

Bila ada pertanyaan atau tambahan boleh banget berkomentar di bawah, atau buku-buku magical realism yang pernah kalian baca dan bagaimana kesannya. Yuk berbagi informasi seputar dunia buku di sini :D. Tak ketinggalan terima kasih buat mbak Citra atas waktunya, semoga bisa terus update blognya ya :D




Citra Florenca
Literature and Blogging Enthusiast. Memiliki dua putri berumur tujuh dan lima tahun, sekarang berdomisili di Palembang, bekerja sebagai abdi negara alias PNS. Blog bukunya bisa dijumpai di www.fictionbookreview.com. Ingin memiliki template blog kece kayak punya saya? Bisa juga mengunjungi lapak mbak Citra di https://www.etsy.com/shop/TheBlogShop :D







5 komentar:

  1. IQ84 termasuknya magical realism ya mba, Saya punya bukunya tapi belum dibaca. Harus cepat dibaca nih buat kenalan dengan genre satu ini.
    Untuk rekomen buku Eka Kurniawan langsung berburu nih. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku belum baca, tapi di goodreads masuk ke magical realism 😀

      Aku juga mau baca bukunya Eka Kurniawan, semoga bulan ini bisa kesampaian 😀

      Hapus
  2. Buatku magical realism itu elemen magic sama realistic nya harus bener2 pas, kalo magic nya terkesan maksa, jadi kok tiba2 gitu malah jadi ilfeel.
    Tapi sejauh ini baru nemu satu yg ga kusukai, mungkin karena aku dari awal berekspektasi itu realistic fiction ya jadi kaget tiba2 ada unsur supranaturalnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, untung aku lumayan suka, tapi emang agak sulit dicerna dan mungkin diterima, kayak aku pas baca Of Bees & Mist

      Hapus
  3. Klo boleh saya minta tolong bisa gak nanti mbak posting genre yang bertema steampunk dan buku lokal atau buku luar apa saja yang beraliran steampunk. Atas perhatiannya terimakasih.

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...