Selasa, 14 Februari 2017

Resensi: Love in Blue City Karya Irene Dyah

Judul buku: Love in Blue City
Penulis: Irene Dyah
Editor: Donna Widjajanto
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-2865-2
Cetakan pertama, Mei 2016
236 halaman
Buntelan dari @aikairin
Sebagai pencinta warna biru, mengunjungi Chefchaouen—Blue City negeri Maroko—adalah impian bagi Nada Aleema Shahrir. Pucuk dicinta ulam tiba, abangnya berencana berbulan madu ke Maroko dan menawarinya ikut serta. Tentu saja Nada girang. Di kota cantik itu dia berharap bertemu kembali dengan Haykal Baztar Malik, pria yang sekian lama diam-diam sulit diusir dari hatinya.

Tak dinyana, setiba di sana, sebuah paket istimewa menunggu. Paket istimewa itu bernama Noemie Anderson. Seorang model sekaligus pengusaha. Lahir dari rahim seorang wanita Maroko yang menikahi pria berdarah Eropa. Berpenampilan ala Kendall Jenner versi Timur Tengah, plus baik hati, cerdas, dan lucu. Noemie mendatangi Nada lantaran ingin kembali mengenal Islam. Mana mungkin Nada menolaknya?

Masalahnya, Noemie melekat pada Haykal seperti lintah. Mereka adalah partner kerja sekaligus kawan lama. Mau tak mau, kehadiran Noemie adalah ganjalan bagi Nada yang menyimpan asa pada Haykal, yang menurut Rania, sahabatnya, adalah buaya darat/playboy cap tikus busuk/serigala berkedok hamster.

Dihujani perhatian Haykal yang memabukkan, dikepung Kota Biru yang romantis, apakah Nada masih cukup waras untuk menentukan keputusan?

Di Blue City, julukan untuk salah satu kota di Maroko, Chefchaouen, Nada bertemu kembali dengan Haykal, sahabat kakaknya yang berprofesi sebagai travel writer. Pekerjaan yang membuat lelaki tersebut berada di tempat tidak menentu membuat Nada kehilangan jejak selepas pertemuan pertama di Marrakech, ketika dia melakukan solo travelling. Pertemuan tersebut berkesan mendalam bagi Nada, dia mulai menyukai lelaki bengal yang kadang menyebalkan tersebut. Kalau di pertemuan pertama Haykal sengaja 'menjaga' Nada, maka berbekal menumpang bulan madu kakaknya, kali ini Nada ingin menemukannya terlebih dahulu. Informasi yang dia dapat lelaki itu ternyata tinggal di Blue City, salah satu kota yang memang diimpikan Nada untuk didatangi karena dia sangat menyukai warna biru.

Rencana bulan madu bertiga gagal karena istri Tristan, Miyu hamil. Karena sudah membeli tiket maka Nada harus berangkat, ditemani sahabatnya, Rania, guna menjaga Nada dari begal, rampok, playboy abal-abal, dan mahkluk asing lainnya. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Nada menemukan Haykal, tapi kejutan datang bersamaan. Ada perempuan secantik Kendall Jenner versi Timur Tengah yang selalu menempel pada laki-laki tersebut, membuat Nada cemburu sekaligus menarik diri dari Haykal, terlebih ketika Noemie memang akan dijodohkan dengan Haykal, ayahnya beranggapan kalau Haykal akan membawa dampak yang positif bagi putrinya, agar Noemie menjadi muslim yang taat seperti ibunya.
Ketertarikannya pada Nada, tumbuh seperti cara dia jatuh cinta pada pesona biru Chaouen.
Muncul perlahan, sedikit demi sedikit, tapi tahu-tahu semua bergerak begitu cepat dan akhirnya dia sudah terjebak di dalamnya. Terjebak dengan senang hati, dan menolak untuk keluar.
Saya belum membaca Love in Marrakech, cerita yang mengawali kisah Nada dan Haykal, untungnya ada bagian yang menceritakan secara singkat pertemuan mereka sehingga saya bisa mengikuti Love in Blue City tanpa membaca buku pertamanya. Melihat tema cerita yang menyisipkan muatan religi di dalamnya, jujur saja awalnya membuat saya tidak tertarik, buku tentang agama yang dibalut fiksi bukan jenis buku yang ingin saya lirik, sehingga saya cukup was-was juga apakah bisa menikmati. Secara sekilas saya menebak series Around the World with Love ini adalah buku tentang travelling yang mengulik islam di tiap negara, menyorot kaum minoritas di dalamnya kemudian menemukan cinta. Begitu membaca buku ini tebakan saya sedikit meleset.

Saya mulai dari kekurangannya terlebih dahulu. Kota yang dipilih penulis sangat menarik, saya bahkan baru tahu dari membaca buku ini, sayangnya kurang digali, saya kurang merasakan acara jalan-jalannya, bahkan tidak ada tempat yang benar-benar menjadi trademark dari kota tersebut, tidak ada yang benar-benar membekas. Penulis lebih fokus akan tarik ulur perasaan Nada terhadap Haykal, bahkan ada adegan yang menurut saya terlalu berlebihan, misalkan saja ketika Nada mau terjatuh kemudian Haykal menolongnya, yang Haykal dapat malah tamparan. Tarik ulur perasaan ini membuat konflik dan pesan religi baru terlihat di bagian akhir, sehingga penyelesaiannya terkesan buru-buru.

Sedangkan kelebihannya, saya sangat menyukai judul tiap bab di mana penulis memilih color shade warna biru sekaligus deskripsinya, sehingga mengenalkan saya dengan aneka jenis warna biru yang ada. Kemudian tulisan mbak Dyah cukup mengalir, tidak terlalu kaku dan plotnya cukup rapi. Soal karakter, ada satu tokoh favorit saya yang saya nilai karakternya cukup konsisten dan menyenangkan, Rania, semoga ada cerita tersendiri tentang dirinya. Penulis sepertinya juga suka menyisipkan tokoh rekaanya di bukunya yang lain. Kalau tidak salah tebak, Tristan dan Miyu adalah tokoh utama di buku Dua Cinta Negeri Sakura, sedangkan Miyu ini nanti akan memiliki hubungan dengan tokoh utama di buku Love in Blue City.

Buku ini recommended bagi yang sedang mencari cerita bertema religi yang kemudian dibalut kisah cinta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...