Senin, 23 Januari 2017

Silenced | Movie Review



Silenced | The Crucible (2011)
Sutradara: Hwang Dong-Hyuk
Produser: Uhm Yong-Hun, Bae Jeong Min, Na Byung-Joon
Penulis naskah: Hwang Dong-Hyuk
Pemain: Gong Yoo, Jung Yu-Mi, Kim Hyun-Soo, Jung In-Seo, Baek Seung-Hwan, Jang Gwang
Durasi: 125 menit
Distributor: CJ Entertainment

Based on Kong Ji-Young book, Dokani (2009).

Siapa yang masih belum move on dari Gong Yoo selepas Goblin (Guardian: The Lonely and Great God) tamat? Yak, kalian senasib dengan saya. Saya sampai bingung mau ngapain dan nonton apa lagi, padahal hutang postingan blog bejibun. Daripada waktu saya terbuang percuma dengan mantengin timeline tanpa lelah, saya memutuskan mencari film atau drama Gong Yoo yang lain. Saya hanya pernah menonton Coffee Prince dan sangat menyukainya, selain itu tidak ada drama Gong Yoo yang familier, dan ternyata dia memang jarang main drama, lebih fokus ke film. Saya membaca sinopsis film-film terbaru darinya, dan pilihan saya jatuh pada Silenced yang memiliki rating paling tinggi.

Sebelum mengupas ceritanya, saya akan membagikan informasi seputar film ini yang saya dapatkan ketika melakukan riset. Silenced diangkat dari novel yang berjudul Dokani karya penulis Kong Ji-Young, di mana dia pernah menjadi aktivis HAM. Dokani terinspirasi dari kisah nyata, pada tahun 2005 penulis membaca sebuah artikel tentang kasus kriminal di sekolah berkebutuhan khusus, Inhwa School, Gwangju, lalu dia ingin kasus tersebut diketahui banyak orang karena ketidakadilan yang terjadi pada kasus tersebut. Pada mulanya dia menerbitkan novelnya secara berkala melalui sebuah portal internet, Daum, pada tahun 2008 dan telah dibaca sebanyak 16 juta kali, kemudian dia menerbitkan secara utuh pada tahun 2009, berhasil terjual lebih dari 400.000 kopi.

Ketika menjalani wajib militer pada tahun 2009, Gong Yoo mendapatkan hadiah novel Dokoni dari produsernya, setelah membacanya dia menghubungi sutradara di agensinya, membicarakan untuk mengangkat Dokani ke layar lebar. Dan ketika cuti wajib militer, Gong Yoo pergi sendiri ke Kong Ji-Young untuk meminta ijin dan perihal hak cipta. Gong Yoo beranggapan bahwa kasus yang tidak diselesaikan secara adil itu harus diangkat kembali dan diketahui khalayak ramai, agar para korban mendapatkan keadilan, agar tidak ada lagi kekerasan fisik dan seksual terhadap anak-anak, agar oknum-oknum hukum dan penjahat mendapatkan ganjaran yang setimpal, agar hal tersebut tidak pernah terjadi lagi. Atas dedikasinya ini, Gong Yoo didapuk menjadi duta Unicef *kekep Gong Yoo nggak mau lepas*.



Masuk ke film, dibuka dengan adegan yang cukup ironis, sebuah kereta melaju dan tiba-tiba saja seorang anak kecil bunuh diri di depannya, di saat bersamaan ada seorang lelaki yang akan memulai kehidupan barunya di Mujin, sebuah daerah jauh dari kota Seoul. Setelah ditinggal bunuh diri oleh istrinya serta keadaan financial yang tidak terlalu baik, Kang In-Ho (Gong Yoo) menerima tawaran menjadi guru kesenian di sekolah berkebutuhan khusus, sekolah khusus anak-anak bisu-tuli, menitipkan anaknya yang menderita asma kepada ibunya. Di tempat yang baru In-Ho berharap akan memiliki kehidupan yang lebih baik lagi. Namun, kecelakaan yang menimpa kedatangannya pertama kali bisa saja menjadi firasat bahwa kehidupannya di Mujin tidak akan mudah.

Di hari pertamanya, In-Ho berjumpa dengan kepala sekolah dan kepala administrasi yang kembar identik (Jang Gwang). In-Ho harus membayar 50 juta Won agar dia bisa bekerja di sekolah tersebut. Dia membicarakan hal tersebut kepada ibunya, dan tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu, ibunya sudah mentransfer dengan menjual rumah mereka. Tanpa punya pilihan lain, In-Ho akhirnya mencoba berbaur dengan sekolah, mendekatkan diri ke anak didiknya, mencoba mengenal mereka. Sayangnya, dia tidak digubris, bahkan In-Ho mendapati beberapa anak yang terlihat aneh dan memiliki luka-luka. Bahkan beberapa kali In-Ho mendengar suara aneh di sekolah. In-Ho pun menanyakan keanehan tersebut ke guru yang lain dan ditanggapi bahwa dari dulu mereka tidak ada apa-apa dan para murid tidak bisa dipahami karena bisu dan tuli.

Suatu hari, In-Ho melihat salah satu muridnya duduk di jendela dari lantai atas asrama, karena tidak bisa mendengar teguran bahwa hal tersebut berbahaya, In-Ho pun pergi ke kamar gadis tersebut dan menjauhkannya dari jendela, pada saat itulah dia mendapati muka lebam dan ketakutan dari Yoo-Ri (Jung In-Seo), salah satu muridnya yang memiliki nafsu makan banyak. Merasa dirinya aman bersama dengan In-Ho, Yoo-Ri membawa gurunya tersebut ke sebuah tempat, lalu pergi. Penasaran dengan apa yang terjadi, In-Ho membuka ruangan tersebut dan mendapati kepala asrama menenggelamkan kepala Yeon-Doo (Kim Hyun-Soo) di mesin cuci. Selain mereka, ada satu lagi murid yang menjadi korban kekerasan gurunya, Min-Soo (Baek Seung-Hwan), dia dipukuli di ruang guru yang banyak orang gara-gara keluar dari asrama. 

Ternyata, mereka tidak hanya mengalami kekerasan fisik, tapi juga kekerasan seksual, diperkosa dengan keji oleh kepala sekolah, guru dan staf yang lain. Seolah-olah semua pihak di sekolah menutup mata dan tidak mau tahu. Korban yang dipilih pun tidak mungkin bisa membela diri, mereka yatim piatu, berasal dari keluarga yang miskin dan keterbelakangan mental. Hal tersebut mengusik diri In-Ho, dia meminta bantuan Seo Yoo-Jin (Jung Yu-Mi) aktivis HAM yang dia temui ketika mobilnya mengalami kecelakaan untuk mengungkap kasus tersebut dan terekspos ke media dan masyarakat luas, agar para korban mendapatkan keadilan.



Bisa dibilang atmosfer dari film Silenced ini tidak jauh dari film horor walau bergenre crime, di mana auranya kelam dan mencekam, bahkan lebih menakutkan lagi dari film horor. Miris, marah, rasanya ingin misuh-misuh pada para penjahat di dalamnya, bertapa uang bisa membeli keadilan, membutakan hati nurani yang dimiliki manusia, bahwa ternyata ada yang lebih binatang lagi dari para binatang, para pelaku kejahatan fisik dan seksual pada anak-anak. Paruh pertama kita akan disuguhi secara gamblang kekerasan fisik dan seksual yang terjadi, paruh sisanya adalah proses pengadilan yang menguras emosi.
Hal terbaik dan terindah di dunia yang tak dapat dilihat dan disentuh, hanya bisa dirasakan dengan hati - Helen Keller.
Akting para tokohnya tidak perlu diragukan lagi, Gong Yoo sangat baik memerankan In-Ho yang dilema antara menutup mata karena keadaan finansial dan kondisi putrinya atau membuka suara. Sebagai aktivis HAM, Jung Yu-Mi lebih lantang menyuarakan keadilan yang harus diperoleh anak-anak bisu-tuli yang mengalami kekerasan fisik dan seksual terlebih oleh para tenaga pendidik. Dan yang tak kalah mengagumkan akting dari ketiga anak bisu-tuli, yang menyuarakan isi hatinya lewat gerakan tangan dan tatapan yang terluka. Jelas sekali mereka terluka secara fisik dan psikis, tapi demi mendapatkan keadilan dan pelaku dihukum seberat-beratnya, mereka berani membuka suara, menampilkan diri agar masyarakat luas tahu bahwa para pelaku harus diganjar hukuman yang seberat-beratnya. Para penjahat juga dengan sukses memerankan tokoh yang sangat menyebalkan.

Banyak adegan yang memilukan, salah satunya ketika Min-Soo tidak bisa bersaksi karena tuduhan sudah dicabut dan keluarganya memilih jalan damai. Rasanya ikut sakit sekali. Kenapa ada orang-orang semacam itu di dunia ini? Kenapa mereka lebih busuk dari binatang? Dan kisah ini terinspirasi dari kisah nyata, sangat miris sekali.

Dunia memang dipenuhi orang-orang jahat, tapi ingat dengan formula cerita superhero? Awalnya mungkin saja mereka kalah dan kejahatan yang menang, kemudian mereka akan berlatih lebih keras lagi, dan di akhir selalu yang baik yang akan memenangkan pertarungan. Saya yakin, akan ada orang-orang penegak hukum yang baik, yang masih memiliki hati nurani, saya yakin ada seorang pengacara seperti Atticus Finn. Kalau saja sekarang ini para penjahat sedang di atas angin, mungkin saja para pahlawan kita sedang berlatih dan menghimpun kekuatan, kita hanya perlu menunggu saja.

Silenced boleh saja menjadi film yang sunyi, tapi yakin lah suara mereka akan terdengar oleh orang-orang yang percaya pada keadilan akan datang pada waktunya. Film ini saya rekomendasikan pada siapa saja, salah satu film yang wajib kalian tonton, khususnya para penegak hukum.

4.5 sayap untuk film yang disaat bersamaan akan membuat kalian misuh-misuh dan sedih luar biasa.

9 komentar:

  1. Kangen Paman Goblin, tapi gak berani nonton film ini Kak Sulis. Nggak bisa aku mah nonton film-film yg mencekam, nanti bawaannya ketakutan sendiri dan gak nafsu makan. Huhu. Tapi keknya perlu nonton Coffee Prince deh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coffee Prince lucuk, coba deh nonton 😁

      Hapus
  2. Film di tahun 2011 ini sanggup bikin eke merasa marah benci jijik sedih gondok at the same time. awalnya nyangka ini film horror, sama sekali ga ada ekspektasi ceritanya bakal ttg apa krn ga baca sinopsis sebelum nonton haha. Tapi ya ini film emang bagus banget. Berani ngangkat kisah nyata di tahun 2005 menjadi film seterbuka ini. Aku sampe tutup muka pas gurunya bertindak. Hisshhh....

    Eh btw 5 tahun kemudian (2016) si 2 pemeran utamanya ini reuni lagi di Train to Busan wkwk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Weh aku baru ngeh, hahaha, pantes kok familier

      Hapus
  3. Aqq Gong Yoo tuh baik banget sih *makin gak move on *salah fokus XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, gpp g move on, banyak temennya XD

      Hapus
  4. Nonton film ini beberapa tahun lalu, malemnya jadi ga bisa tidur, kepikiran anak-anak itu, terus kepikiran kenapa in-Ho dan Yoo-Jin ga jadian aja, cocok sih hehehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha, aku juga berharapnya mereka jadian. Aku juga sedih banget tapi baca artikel kasus yang asli lega juga sih, setelah film meledak kasus tersebut dikuak kembali dan sekolahnya ditutup.

      Hapus
  5. Aku baru tahu ada film ini dari ket blog ini juga tapi baru ini komen. Oh, ya aku kemarin sudah download filmnya lewat youtube yang aku pikir bakal seru. Cuman setelah aku tonton langsung saya hapus hasi download film tersebut. Pasalnya saya shock berat mbak, shock abis saya.....
    Apa benar ini dari kisah nyata? Saya yang penggemar drama korea alih - alih suka semua yang berkaitan dengan korea jadi marah banget dan benci dengan orang - orang yang di korea ( walaupun cuma 1 hari).Tapi, saya sadar gak cuma korea banyak juga negara lain termasuk Indonesia sama dengan kasus di film silenced itu.Cuman gak ada yang berani memfilmkannya( diacungi jempol deh perfilman korea).Maunya ada orang - orang seberani mereka, sehingga yang namanya keadilan dan kebenaran gak ditutup - tutupi dengan alasan nama baik akan tercoreng. Habis nonton silenced jadi saya pingin jitak kepala botak si kembar itu.Kesel.....

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...