Senin, 14 November 2016

Resensi: The Number You Are Trying to Reach is Not Reachable Karya Adara Kirana

Judul buku: The Number You Are Trying to Reach is Not Reachable
Penulis: Adara Kirana
Penyunting: MB Winata
Desainer sampul: Raden Monic
Penerbit: Bukune
ISBN: 978-602-220-196-0
Cetakan pertama, September 2016
298 halaman
Buntelan dari @expellianmus
Kata orang-orang, aku ini genius dan kelewat serius.

Oke, memang koleksi piala dan medali olimpiadeku sedikit lebih banyak dari jumlah perempuan yang dilirik Zeus. Aku masih seusia anak kelas sepuluh, tapi sudah ikut beberapa try out SBMPTN, dan dapat nilai paling tinggi.

Namun, Kak Zahra—guru homeschooling-ku-menganggapku perlu bersosialisasi. Katanya, biar "nyambung" sama orang-orang.

Untuk apa? Aku punya teman kok: Mama, Kak Zahra, Hera, dan... saudara-saudara yang sering kulupa namanya.

***

“The Thirteen Books of Euclid's Elements. Buku itu bisa kamu dapat asal kamu mau masuk SMA,” tantang Kak Zahra suatu hari.

Tidak mungkin. Itu kan, buku legendaris yang ditulis sejak abad ketiga sebelum Masehi. Aku ingin sekali mengoleksi dan mempelajarinya sendiri. Rasanya pasti lebih memuaskan.

"Oke, aku coba sate semester, ya," jawabku mantap.

Demi buku itu, bolehlah aku jalani hidup sebagai anak SMA biasa. Lagi pula, sesulit apa "nyambung" sama orang-orang?

Demi mendapatkan buku langka The Thirteen Books of Euclid's Elements yang ditulis oleh matematikawan Yunani Euklides pada awal abad ke-3 SM yang kemudian diterjemahkan oleh Thomas Heath, Aira harus masuk SMA karena buku tersebut menjadi salah satu hadiah lomba cerdas cermat berkelompok. Hampir enam belas tahun Aira selalu bersekolah di rumah alias homeschooling, Aira hanya pernah mengenyam bangku sekolah ketika kelas satu SD dan itu pun hanya satu semester saja, karena merasa tidak cocok dengan teman-temannya dan dia terlalu pintar untuk anak seusianya, setelah itu dia selalu sekolah di rumah. Mamanya dan Kak Zahra, guru homeschooling menyarankan Aira untuk sekolah biasa, agar dia bisa bersosialisasi dan memiliki banyak teman. Karena sangat menginginkan buku tersebut, akhirnya Aira mau, setidaknya hanya satu semester dan setelah mendapatkan keinginannya dia akan keluar dari sekolah.

Di sekolah Aira tidak menunjukkan kalau dia anak yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata, dia tidak ingin dicap aneh oleh teman-temannya, dia ingin berbaur, dan mengikuti saran Kak Zahra dan Mama, mencari teman sebanyak-banyaknya. Selalu menghabiskan waktu sendirian tentu bukan hal yang mudah bagi Aira untuk berkenalan dengan seseorang. Teman pertama yang dia dapat adalah Kalila, Aira membelanya ketika dia digencet kakak pacarnya untuk mendapatkan kunci jawaban ulangan, setelah itu walau mereka berbeda kelas, mereka menjadi dekat. Kemudian ada Rio, cowok slengekan yang nantinya menjadi guru bahasa gaul bagi Aira dan tanpa persetujuan dari Aira dia mendaftarkan ke kelas tambahan yang biasanya untuk murid yang akan memperbaiki nilai. Kemudian ada guru magang di kelas tambahan yang menjadi teman asik ketika mengobrol tentang karya-karya Charles Dickens, Arka.

Semula kehidupan baru Aira di sekolah berjalan dengan baik, dia mulai belajar menjadi murid biasa seperti teman-temannya, walau masih kaku dia sudah bisa mengikuti gurauan dan bahasa gaul anak muda sekarang, dia tidak lagi kuper dan sangat menikmati kehidupan di sekolah yang baru. Dan walau sebenarnya tidak membutuhkan kelas tambahan, dia suka bertukar pikiran dengan Arka. Namun, semua mulai berubah ketika pemilihan peserta lomba cerdas cermat yang hanya berjumlah tiga orang saja. Tentu Aira menduduki posisi pertama, hanya saja Kalila yang ingin membuktikan diri kepada orangtuanya gagal pada posisi keempat. Pilihan sulit bagi Aira, mengatakan tujuan utama dia bersekolah dengan risiko dijauhi dan dicap aneh oleh teman-temannya, terutama Kalila, sahabat pertamanya, atau terus saja diam dan hanya berpura-pura menjadi siswa biasa dan mencapai tujuan awal.
"Menurut gue, sebaiknya lo jangan terlalu fokus buat berhasil. Kalau lo mikirin harus berhasil terus, bisa-bisa lo malah gagal. Mendingan, lo fokus belajar dan mikir kalau lo harus bisa menguasai materinya -bukan harus lolos."
"Menurut saya, bohong itu enggak pernah menghancurkan -selama tetap jadi kebohongan. Yang menghancurkan adalah, kalau kejujuran mulai tampak di sela-sela kebohongan."
Belajar memang penting, tapi tanpa sosialisasi buat apa? Belajar dari buku itu penting. Tapi lebih hebat lagi, kalau kita enggak sepenuhnya terpatok sama buku. Baca buku, lalu bikin bukumu sendiri -cari pengalaman sendiri.
Menurutku, perubahan memang menakutkan. Tapi, itu adalah bagian dari hidup -bagian dari tumbuh besar. Mama pernah bilang, kalau Mama tidak berubah, mungkin aku tidak akan pernah ada. Dan itu benar. Perubahan tidak selamanya buruk, dan lagi pula, menurutku sekarang, perubahan juga dapat menentukan siapa diri kita sebenarnya.
Jarang saya menemukan buku Coming of Age dalam negeri yang cocok dengan selera sara. Genre Coming of Age adalah genre di mana cerita lebih menekankan perkembangan psikologi dan moral pemeran utamanya dari masa remaja ke masa dewasa, lebih mengutamakan dialog dan monolog internal daripada tindakan, perkembangan karakternya sangat penting. Untuk buku debut, Adara Kirana dengan baik menyajikan genre tersebut atau kalau lebih familier mungkin di sini sering kali disamakan dengan teenlit.

Sangat tepat dengan penggunaan sudut pandang orang pertama di mana Aira berfungsi sebagai narator, kita akan dengan mudah melihat perkembangan karakternya. Di awal ketika membaca mungkin The Number You Are Trying to Reach is Not Reachable akan terasa kaku dan sedikit membosankan, memang karakter Aira seperti itu, dan penulis dengan konsisten mempertahan sifat tersebut hanya saja mengembangkan hal lain dari diri Aira, cara bersosialisasi, beriteraksi dengan orang lain, walau masih terasa kaku yang merupakan sifat dasarnya, dia lebih bisa memahami orang lain dan tidak bertindak egois, dia menekan kelebihannya agar orang lain juga bisa menerima dirinya dengan mudah, walau konsekuensinya menjadi konflik utama buku ini.

Saya suka cara penulis membuat dialog antara Aira dan Arka ketika membahas Charles Dickens, seperti dua orang yang memiliki kesukaan yang sama dan membahasnya sampai tuntas, saling melempar kalimat dari buku tersebut, saling berpendapat akan salah satu tokoh sentral dan menganalisisnya, saling menyambung sehingga sangat asik untuk disimak. Rasanya saya iri dengan mereka, hahaha. Gara-bara baca buku ini saya jadi ingat kalau masih punya hutang resensi Great Expectations #plak LOL.

Saya sangat menyukai hubungan Aira dan Rio ketika belajar bahasa gaul dengannya. Rio ini karakter yang sangat menyenangkan, teman yang asik untuk diajak bercanda. Bisa dibilang Rio cukup berperan dalam pembentukan karakter Aira yang baru, Aira bisa sedikit lebih luwes dan membadakan mana obrolan serius dan bercanda. Bagian mereka lucu dan menyenangkan, bahkan saya ikutan belajar bahasa gaul sekarang ini, wakakaka, merasa tua sekali karena saya seperti hanya Aira, bingung dengan bahasa alies yang sering kali digunakan anak muda jaman sekarang.

Saya suka hubungan serius Aira dan Mamanya, bisa dibilang obrolan orang pintar, memang kaku tapi bagi mereka hal tersebut merupakan kegiatan yang menyenangkan. Mamanya Aira ini bisa dibilang cerminannya Aira, sangat detail akan segala hal, sering kali membahas dan membaca buku bersama bahkan layaknya makanan sehari-hari bagi mereka. Saya suka hubungan Aira dengan Kalila dan saudara tirinya, Hera. Mereka berdua juga berperan dalam mengeluarkan Aira dari zona nyaman, mengenalkan apa itu persahabatan, perhatian, dan kasih sayang.

Bagian favorit saya adalah bagian ini:
"Kalau ada kesempatan kedua, apa kamu bakal coba lagi?"
Arka mengangkat bahunya.
"Kayak kata mbak-mbak operator," lanjutku. Kemudian aku melanjutkan dengan suara datar, "'Cobalah beberapa saat lagi'."
Arka tertawa dan menggeleng. "Itu cuma buat kamu."
"Oh? Kalau Aisya apa?"
Arka berpikir sebentar. "Kalau Aisya itu 'pulsa Anda tidak cukup untuk melakukan panggilan'," jawabnya.
Aku tertawa. "Kenapa?"
"Soalnya, saya enggak bisa nyoba lagi. Aisya terlanjur menutup diri dan saya menjauh," jawab Arka. "Kalau mau coba, saya harus beli pulsa -nyiapin mental dulu."
"Dan, kamu enggak mau beli pulsa?" tanyaku.
Arka berpikir sebentar kemudian menggeleng. "saya mau beli pulsa. Tapi untuk sekarang, bukan nomor Aisya yang mau saya hubungi."
Secara keseluruhan, The Number You Are Trying to Reach is Not Reachable sangat recommended bagi kalian khususnya para remaja. Nggak ada kisah cinta yang menonjol karena fokus utamanya bukan itu. Buku ini lebih berbicara akan proses pendewasaan seseorang, tentang bagaimana pentingnya orang lain dalam kehidupan kita, tentang menerima apa yang namanya perubahan.

4 sayap untuk 'nomor Anda dalam masa tenggang' (itu mah saya, LOL).




NB: pssssttt, besok bakalan ada giveaway buku ini, jadi pantengin dan follow terus ya :D

14 komentar:

  1. Coming of Age itu sama dengan teenlit bukan? dari segi cerita memang seru. Saya pernah baca sih konflik ini di buku yang lain (hampir serupa), namun yang utama adalah eksekusi ceritanya yang setiap orang pasti berbeda. Saya juga kurang suka dengan kovernya, terlalu simple dan monoton, tidak menarik. Ini hanya pendapat pribadi saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Target umurnya sama, hanya saja fokus ceritanya lebih ke perkembangan diri, proses pendewasaan. Lah, aku malah suka banget nget sama covernya, hahaha

      Hapus
  2. covernya cantik.. :D baca review sulis jadi makin penasaran :D

    BalasHapus
  3. waaah, jadi pengen bacaaa :)

    BalasHapus
  4. Wah baru tau kalau ada Coming of Age
    Seru kayaknya, nomor yang Anda tuju sekian sekian malah dijadiin topik obrolan xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku suka banget bagian itu πŸ˜€

      Hapus
  5. Jadi akhirnya dia dpt buku euclids element ngga? Nyentrik juga tokoh utamanya yaa.. XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lah, spoiler dong kalo ak kasih tau, wakakakaka

      Hapus
  6. memang lagi dan sedang menunggu ada ga buku ini *kelihatan pelajar kere:v
    penasaran dg kelanjutan hubungan Arka Aisya, dan akhir dr perubahan diri Aira. baca ini novel berasa baca buku terjemahan. Sayangnya saya gak punya versi cetak:(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap kayak terjemahan, semoga nanti beruntung ya 😁

      Hapus
  7. Agak kayak A untuk Amanda sama 28 Detik yak. Tentang anak-anak pinter gitu. Jadi penasaran, tapi pas kemarin sempet intip isinya kayaknya anak muda bener. hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, makanya aku masukin ke genre coming of age πŸ˜€

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...