Minggu, 13 November 2016

Resensi: Persona Karya Fakhrisina Amalia

Judul buku: Persona
Penulis: Fakhrisina Amalia
Penyunting: Tri Saputra Sakti
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-2629-0
Cetakan pertama, 18 April 2016
248 halaman
Buntelan dari @dust_pain
Namanya Altair, seperti salah satu bintang terang di rasi Aquila yang membentuk segitiga musim panas. Azura mengenalnya di sekolah sebagai murid baru blasteran Jepang yang kesulitan menyebut huruf L pada namanya sendiri.

Azura merasa hidupnya yang berantakan perlahan membaik dengan kehadiran Altair. Keberadaan Altair lambat laun membuat perasaan Azura terhadap Kak Nara yang sudah lama dipendam pun luntur.

Namun, saat dia mulai jatuh cinta pada Altair, cowok itu justru menghilang tanpa kabar. Bukan hanya kehilangan Altair, Azura juga harus menghadapi kenyataan bahwa orangtuanya memiliki banyak rahasia, yang mulai terungkap satu demi satu. Dan pada saat itu, Kak Nara-lah tempat Azura berlindung.

Ketika Azura merasa kehidupannya mulai berjalan normal, Altair kembali lagi. Dan kali ini Azura dihadapkan pada kenyataan untuk memilih antara Altair atau Kak Nara.
Beberapa waktu yang lalu saya menonton drama Korea berjudul It's Okay That's Love, tokoh utamanya adalah dokter jiwa dan katanya sebagai pelopor drama yang berkisah tentang psikologi di sana. Kenapa saya memulai resensi ini dengan pernyataan yang nggak penting itu? Karena efek yang saya dapatkan ketika menonton drama tersebut dan membaca Persona ini sama, saya merasa dibodohi oleh penulisnya. Saya tidak pernah menduga kalau ceritanya ternyata tentang itu, sering kali saya melewatkan bagian sinopsis atau pernah membaca (biasanya ketika akan membeli buku) tapi lupa, ketika akan memulai membaca novelnya saya langsung memulai dari halaman pertama, sering kali melewatkan bagian sinopsis karena saya ingin mendapatkan cerita yang mengalir begitu saja tanpa tahu tentang apa, mendapatkan hal tak terduga seperti ini, dan biasanya akan puas bila berhasil menebak. Dan dengan sangat telak saya kecolongan.

Persona bercerita tentang Azura, seorang gadis SMA yang penyendiri dan memiliki hobi menyayat tangannya untuk mendapatkan kedamaian. Dia berasal dari keluarga yang berkecukupan tapi tidak harmonis, orangtuanya sering kali bertengkar dan hanya dengan melakukan kegiatan tersebut dia merasa lebih baik. Azura mulai mengurangi kebiasaannya setelah bertemu dengan murid baru di sekolah, blasteran Jepang dan sulit melafalkan huruf L, Altair Nakayama. Altair sangat memahami Azura, dia mengerti akan kesedihan dan rasa sakitnya, selalu berusaha untuk mengisi kekosongan yang selama ini Azura rasakan, dia selalu ada. Altair juga mulai membuat Azura tidak lagi memandangi Kak Nara dari balik jendela perpustakaan.

Lalu, Altair tiba-tiba saja menghilang setelah Azura mengatakan perasaan dan memilih dirinya, tidak ada kabar satu pun yang dia dengar tentangnya. Hidup Azura mulai berantakan lagi, tapi dia sudah lebih dewasa, walau sulit dan memerlukan waktu, dia berhasil mengatasi kekosongan, tidak lagi dengan melukai diri. Dan ketika dia menginjak bangku kuliah, dia memiliki teman perempuan pertamanya, Nayara W. Yara sosok yang menyengangkan dan penuh energi, dia kerap kali bercerita akan impian dan keluarganya yang harmonis, melihat temannya bahagia, dia ikut bahagia, Yara memberikan warna akan hidupnya, dan abangnya ternyata adalah Kak Nara, orang yang pernah Azura sukai. Kedekatannya dengan Yara membuat Azura juga dekat dengan keluarganya, terlebih dengan Kak Nara.

Namun, tiba-tiba Altair datang kembali ketika dunianya sudah berjalan dengan normal, entah kali ini tujuannya untuk menyembuhkan luka atau menimbulkan luka yang baru.
Tuhan nggak pernah ngasih kita beban kecuali untuk menjadikan kita orang yang lebih kuat.
Ada hal-hal dalam hidup yang kadang tidak bisa kita bagi ke siapa pun, entah karena terlalu menyakitkan, atau karena terlalu membahagiakan sehingga kita tidak ingin menyimpannya untuk diri kita sendiri. Jadi, kalau kau ingin aku mendengarkan, aku di sini.
Segala sesuatu yang seharusnya terjadi akan terjadi, Ata. Kalau tidak terjadi, ya berarti memang seharusnya tidak terjadi. Mungkin kali ini hal itu yang harus kita pahami.
Kata orang, sering kali kita bersahabat dengan seseorang tanpa tahu kapan persahabatan itu dimulai. Tiba-tiba sudah bersahabat, tiba-tiba sudah begitu dekat. Tapi saat menjabat tangan Nayara hari itu, saat melihat senyumnya, dan binar-binar di sepanjang matanya, aku seolah mengalami momen klik. Saat itu aku seolah diberi keterampilan untuk melihat masa depan, dan di masa depan itu aku dan Nayara menjadi dua orang yang bersahabat.
Ketika seseorang menganggap kita sebagai temannya, berarti orang tersebut mempercayai kita dan merasa bahwa kita pantas menjadi temannya dari sekian banyak pilihan orang yang ada. Dan itu menunjukkan bahwa, setidaknya bagi orang itu, kita istimewa.
Saya tidak akan membeberkan apa yang akan menjadi kejutan dari buku ini, sama sekali tidak seru kalau saya memberikan spoiler, biar kalian rasakan sendiri nantinya. Dari prolog saja buku ini sudah tercium akan sesuatu yang bersifat menjebak, meninggalkan tanya. Sebenarnya dari awal penulis sudah memberikan kepingan-kepingan untuk saya susun agar tidak terjebak, tapi entah saya terlalu bodoh atau penulis terlalu lihai membohongi, saya tidak menyadarinya. Saya terlalu serius menyelami karakter Azura sehingga saya seperti dia, terlalu kaget mendapati kenyataan yang ada, saya cukup speechless, buku ini ditulis dengan amat baik bahkan seperti tanpa cela.

Alasan saya sangat menyukai genre mental illness adalah karena tidak mudah dibuat, penulis harus membuat karakter yang sangat kuat, memberikan unsur psikologi yang tidak memberatkan pembaca untuk dicerna, dapat merasakan emosi dari tokoh utamanya, menjabarkan sebab-akibat dari tema yang dipilih, menciptakan plot twist yang tak tertebak untuk merangkai sebab-akibat tadi dengan sempurna, dan penulis melakukannya dengan sangat baik. Alur ceritanya sedikit lambat, tapi bukan tanpa alasan, memang diperlukan untuk membuat jebakan kepada pembaca. Auranya sedikit gelap, rasa yang biasa kalau membaca buku bergenre mental illness.

Ini kali pertama saya membaca karya Fakhrisina Amalia, sebenarnya saya sudah ingin membaca tulisannya ketika buku Happiness cukup booming tapi sayangnya saya kesulitan mendapatkan buku tersebut. Membaca buku ini meyakinkan saya bahwa Fakhrisina Amalia adalah penulis muda yang cukup berbakat, saya akan menantikan karya lainnya.

Tidak banyak yang bisa saya katakan untuk buku ini, hanya pesan singkat, bacalah dan resapi apa yang dirasakan oleh tokoh utamanya. Dengan sudut pandang orang pertama, penulis berhasil mentransfer apa yang dirasakan Azura, membuat kita menjadi seperti dirinya, merasa kesepian dan membutuhkan orang lain untuk berbagi kesedihan. Layaknya drama Korea It's Okay That's Love yang wajib kamu tonton, maka Persona ini sangat recommended dibaca oleh siapa saja.

Dan saya akhiri dengan adegan paling paling paling favorit di buku ini.
"Aku nyata, Azura. Jadi setiap kali kamu merasa kalau segala sesuatu yang ada dalam hidup kamu nggak nyata, ingat aku. Aku nyata."
4.5 sayap untuk Hikoboshi. 

4 komentar:

  1. Reaksinya seperti para blogger buku yang habis baca Holy Mother. Saya tambah penasaran dengan kejutan yang dimaksud. Dan tanpa cela itu menjadi clue kenapa perlu baca novel ini. Gerrrrrrr :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tanpa cela yang aku maksud adalah plotnya rapi banget, karakternya kuat dan deskripsinya kece, makanya recommended banget untuk dibaca. Aku juga pengen baca Holy Mother, semoga nanti dapat buntelan entah dari siapa, hahaha

      Hapus
  2. Novelnya ada yg bntuk pdf g??? Aq pengen bangets baca tp g ktmu2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada yg versi ebook, di scoop, tapi harus bayar ya 😀

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...