Selasa, 11 Oktober 2016

Resensi: The Girl On Paper Karya Guillaume Musso

Judul buku: The Girl On Paper
Penulis: Guillaume Musso
Penerjemah: Yudith Listiandri
Penyunting: Selsa Chintya
Design cover: Chyntia Yanetha
Penerbit: Spring
ISBN: 978-602-74322-4-6
Cetakan pertama, September 2016
448 halaman
Buntelan dari @penerbitspring
Gadis itu terjatuh dari dalam buku.

Hanya beberapa bulan yang lalu, Tom Boyd adalah seorang penulis miliarder yang tinggal di Los Angeles dan jatuh cinta pada seorang pianis ternama bernama Aurore. Namun, setelah putusnya hubungan mereka yang terekspos secara publik, Tom menutup dirinya, menderita writer's block parah, dan tenggelam dalam alkohol dan obat terlarang.

Suatu malam, seorang gadis asing yang cantik muncul di teras rumah Tom. Dia mengaku sebagai Billie, karakter dalam novelnya, yang terjatuh ke dunia nyata karena kesalahan cetak dalam buku terakhir Tom.

Meskipun cerita itu gila, Tom harus percaya bahwa gadis itu benar-benar Billie. Akhirnya mereka membuat perjanjian. Jika Tom mau menulis novel agar Billie bisa kembali ke dunianya, Billie akan membantu Tom untuk mendapatkan Aurore kembali.

Tidak ada ruginya, kan? Iya, kan?
Billie menyeka matanya yang menghitam oleh lelehan maskara.
"Kumohon, Jack, jangan pergi seperti ini."
Namun, pemuda itu sudah mengenakan mantelnya. Dia membuka pintu, tanpa sekali pun menatap kekasihnya.
"Kumohon!" seru gadis itu, jatuh

Penggalan naskah di atas tiba-tiba saja berhenti di halaman 266 dengan kata terakhir jatuh, Billie Donelly terjatuh dari sebuah baris, di tengah kalimat yang belum selesai dan sang tokoh fiksi jatuh di rumah penciptanya, penulis Tom Boyd. Gadis ciptaanya tersebut hadir ketika Tom merasa hancur, tidak ada lagi semangat untuk hidup dan berencana mengakhirinya.
Protes yang tiba-tiba itu membuatku tak mampu berkata-kata. Tentu saja benar, aku tidak memberi Billie banyak pilihan dalam hidupnya, tapi kukira itu tidak menjadi masalah: dia hanya tokoh fiksi, benar-benar sebuah kreasi abstrak yang hanya punya eksistensi dalam imajinasiku dan imajinasi para pembaca. Dia adalah tokoh yang wujudnya hanya terdiri dari kata-kata pada lembaran kertas. Tapi saat ini, tokoh rekaan ini mulai memberontak kepada penciptanya!
Penulis Trilogie Des Anges itu awalnya sangat sukses, novel pertamanya meraih urutan pertama dalam penjualan terbaik, dan akan diangkat ke layar lebar. Dia sedang menyusun volume ketiga yang akan diprediksi sama larisnya dengan buku sebelumnya. Namun, ketika Tom Boyd jatuh cinta dengan sang pianis cantik, Aurore Valacourt yang kemudian dicampakan dengan sangat telak, dia berada di ambang kehancuran. Tom tidak pernah bisa menulis lagi, dia tenggelam dalam alkohol, obat-obatan terlarang, berurusan dengan polisi, bergantung pada obat penenang dan tidur. Tidak hanya itu, dia juga bangkrut, memiliki banyak hutang yang tak disadari. Satu-satunya cara agar hidupnya seperti semula adalah menyelesaikan volume ketiga dari Trilogie Des Anges.

Tentu awalnya Tom tidak percaya, tapi Billie yang ada dihadapannya memang Billie ciptaanya, berbagai pertanyaan yang tidak seorang pun tahu kecuali dirinya dengan benar gadis itu jawab, sifat dan gambaran akan dirinya juga sangat mirip. Billie kemudian membuat sebuah kesepakatan, dia meminta Tom menulis volume ketiga agar dia bisa kembali ke dunia fiksi dan dia akan membantu Tom mendapatkan Aurore kembali. Tom dan Billie pun akhirnya memulai perjalanan menuju Meksiko yang penuh dengan rintangan untuk mendapatkan keinginan mereka. 
Kita semua pernah mengalaminya. Momen-momen ketika seolah ada sebuah kekuatan yang merancang hubungan tak kasatmata antara orang-orang dan peristiwa-peristiwa. Sehingga kita mendapatkan sesuatu tepat seperti yang kita butuhkan, di saat yang tepat ketika kita paling membutuhkannya.
"Kurasa itulah makna semua cinta pada akhirnya: keinginan untuk mengalami semua hal bersama-sama, belajar dari perbedaan satu sama lain."
Di sisi lain, sebuah buku yang rencananya akan diterbitkan untuk edisi spesial mengalami kesalahan cetak. Edisi tersebut sampulnya bergaya gothic dari kulit imitasi, gambar cat air dari para tokoh utama, kata pengantar dan penutup yang tidak dipublikasikan. Ada seratus ribu buku yang cacat dan akan dihancurkan menjadi bubur kertas, tapi sebagain sudah dikirim ke toko buku. Ketika buku tersebut ditarik kembali, hanya berjumlah 99.999 eksemplar yang berhasil dimusnahkan. Satu buku tersisa ternyata memiliki perjalanannya sendiri, buku tersebut juga telah mengubah kehidupan semua orang yang memegangnya. Namun, apabila buku tersebut lenyap, maka Billie seketika juga akan terhapus dari permukaan bumi.
"Menulis novel itu tidak bisa dilakukan berdasarkan pesanan. Ada semacam alkimia di dalamnya."
Sebuah karakter di dalam buku tidak mungkin tiba-tiba diberi kepribadian yang sama sekali berbeda. Aku mungkin memang penulis buku, tapi aku bukan Tuhan. Fiksi memiliki aturannya sendiri.
Saya jarang sekali membaca novel dari Prancis, mungkin pernah bersentuhan dengan karya klasiknya, tapi belum pernah mencicipi terjemahan yang lebih kontemporer, beruntung penerbit Spring mengenalkan saya akan buku ini, walau belum bisa menemukan ciri khas dari negara tersebut, dalam hal pengenalan sangat mengasikkan. Dari segi ide cerita tentu menarik sekali, rasa penasaran mengiringi ketika saya membuka lembar demi lembar. Layaknya Billie yang jatuh ke dunia nyata, pembaca akan ikut jatuh ke dunia fiksi.

Selain ide cerita yang begitu menarik, yang saya sukai dari buku ini adalah karakternya cukup kuat, terlebih Tom dan Billie. Tom adalah seorang penulis, di buku ini terasa sekali bagaimana perasaanya, mulai dari ketika dia hancur karena masalah cinta yang akhirnya mempengaruhi produktifitas dalam pekerjaanya, apa saja kesulitan yang dihadapi para penulis ketika berhadapan dengan lembar kosong. Ketika tokoh utamanya seorang penulis, maka ada sebagain hal yang memang dirasakan oleh penulis pada umumnya, sesuatu yang berbau realitas, kita sebagai pembaca akan dibuat mengerti akan pergolakan yang dialami penulis pada umumnya. Di buku ini juga akan ada informasi dari berbagai penulis yang pernah hidup di dunia ini, tentang hubungan yang terjadi antara kreativitas dan penyakit mental, tentang pekerja seni yang mencoba bertahan. Pekerja seni yang kadang menggunakan kesedihan mereka sendiri sebagai pemicu mengatasi kebuntuan.

Billie mungkin menjadi perwakilan para tokoh fiksi di buku apabila beneran jatuh ke dunia nyata. Kadang saya juga berpikir, bagaimana kalau tokoh fiksi beneran hidup di dunia ini dan protes kepada penulisnya karena nasib mereka selalu sial di buku? Pasti bakalan lucu. Dan benar, itu yang dilakukan Billie. Kisahnya di dunia fiksi tidak mengenakkan, dia diciptakan sebagai tokoh yang gagal, menjadi simpanan lelaki brengsek dan kerja di bagian yang tidak dia sukai. Atau ketika dia sedang menikmati sesuatu, dia ingin adegan tersebut diceritakan secara detail, agar dia benar-benar bisa merasakannya. Ketika dia bertemu dengan penciptanya langsung, dia meminta agar hidupnya dibuat lebih bahagia. Oh, mungkin saya salah. Tidak hanya Billie yang seorang tokoh fiksi menginginkah kehidupan bahagia tanpa terjalan, bukankah semua manusia ingin seperti itu?

Ada dua sudut pandang yang dipakai penulis, sudut pandang orang pertama ketika naratornya Tom, dan orang ketiga untuk menceritakan tokoh lainnya. Salah satu saran dan mungkin menjadi sedikit kekurangan buku ini, pembaca harus sabar karena banyak sekali sub plot dan karakternya. Selain kisah Tom dan Billie yang utama, ada persahabatan Tom dengan Carole dan Milo, belum hubungan yang lebih spesifik antara Tom-Carole, Tom-Milo, Carole-Milo. Selain itu ditambah berbagai karakter dari belahan dunia yang mungkin tidak terlalu penting tapi keberadaan mereka memang dibutuhkan untuk menjalin cerita menjadi satu kesatuan yang utuh, menjalin benang merah yang kusut.

Twist di buku ini bisa dibilang tak tertebak dan mungkin ada yang berpendapat terlalu dipaksakan. Namun, saya termasuk yang menyukainya, saya sangat menyukai endingnya, hahaha. Terlebih Tom dan Billie adalah perpaduan yang sangat tepat, mereka membutuhkan satu sama lain. Billie yang tidak terlalu peduli dengan segala hal, selalu bertindak impulsif, di mata Tom memang dialah yang bisa mengembalikan kesadarannya. Buku ini memang banyak luka, tapi para tokohnya mencoba untuk saling menambal.
Fiksi adalah sesuatu yang kuat, tapi tidak bisa melakukan segalanya. Kisah-kisahku memungkinkannya melarikan diri ke dunia imajiner selama beberapa jam, jauh dari siksaan fisik dan mental yang ditimbulkan algojonya. Tapi, itu tidak cukup. Hidup di dunia fiksi bukanlah solusi jangka panjang, tidak lebih berguna daripada minum obat-obatan atau mabuk untuk melupakan masalah.
Tidak ada hal lain yang bisa dilakukan: cepat atau lambat, pada akhirnya kehidupan nyata akan selalu menegaskan kemenangannya dari dunia imajinasi.
Buku ini sangat recommended bagi kalian yang ingin membaca cerita yang unik dan menyegarkan, tidak ada adegan eksplisit di dalamnya, ada beberapa adegan ciuman dan adegan dewasa lainnya tapi masih bisa dikonsumsi pembaca remaja dan dewasa muda, adegan tersebut hanya selewat saja kok. Jadi aman kalau kalian ingin membacanya. Dan saya suka sekali dengan covernya! Bahkan paling bagus dari semua edisi, terjemahannya juga tidak mengecewakan, layak dibaca!

4 sayap untuk  gadis yang terjatuh dari buku.




NB:
Ada giveaway buku The Girl On Paper di postingan sebelum ini atau bisa langsung kalian klik di sini.

12 komentar:

  1. Setuju :D COver THe Girl on Paper Indonesia paling bagus dibanding edisi lainnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah kan! Spring dan Haru cs emang g pernah ngecewain kalo soal cover :)

      Hapus
  2. tambah penasaran mw baca hihi. Aku lupa judul film itu, ceritanya hampir mirip dengan Bili dan Tom, Kalau tokoh fiksi hidup di dunia nyata lalu menuntut penulisnya. hhhh memperkaya imaji pembaca nih.

    BalasHapus
  3. Itu gimana ya kak, kok penulisnya bisa nemu ide kaya gitu ya ? Ngegabungin yang fiksi dan non fiksi. Hebaaaat lah pokoknya.
    Jadi pingin punya terus dibaca :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, yah namanya ide bisa datang dari mana aja :)

      Hapus
  4. Pertama kali aku baca resensi ttg The Girl on Paper ini, aku langsung teringat sama film Ruby Sparks.. Ruby juga tokoh yang tiba-tiba muncul dalam kehidupan pengarangnya. Bedanya, film itu menceritakan bahwa si pengarang jatuh cinta padanya. Awalnya hubungan mereka bagus namun lama kelamaan Ruby ingin lebih bebas.

    Hm, baca resensi ini bikin aku juga mikir, waah, gimana kalo semua karakter yang kubuat di cerpen-cerpenku keluar dan nuntut padaku. Hahahaha.. aku merasa harus hati2 dalam menulis cerita sekarang. Wkwk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah jadi penasaran sama filmnya!

      Hapus
  5. Penulisnya pinter banget bikin cerita tentang seorang penulis juga pasti ribet bgt gimana awal bikin novel ini kkkk 😁
    kalau tokoh2 dalam novel keluar aku jadi ngebayangin cerita2ku yg kubuat kali aja gitu EXO beneran ada lgs didepan mata haha jdi ngelantur πŸ˜‚πŸ”«
    Bener kata org klo abis baca resensi di kubikelromance a.k.a perihutan pasti lgs ngebet bgt pengen punya novelnya kulikannya itu loh makin bikin penasaran πŸ˜†

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahhhh makasih, seneng bisa membantu :)

      Hapus
  6. Hmm... menarik sih ide ceritanya.. Tapi aku udah nonton drama W jadi gak terlalu menarik lagi tuh. Banyak banget kesamaannya. Tokoh fiksi yg ternyata hidup. Adanya kesepakatan. Penjualan terlaris. Ambang kehancuran. Kesalahan. Banyak banget samanyaa.. Cuman yaa kisahnya lebih ke Europe aja siih.. Dan kebetulan aku juga lagi pingin baca yg klasik-klasik tapi seruu gitu. Dari segi konsep sih lumayan memuaskan dahaga ku.. Fantasy iya. Ala Erope! Klasik lagi apalagi awal-awalnya asik...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya juga ya, W juga punya konsep yang sama, emang nggak terlalu mainstream juga sih, di W juga pernah dijelaskan kalo ada film atau buku yang bertema sama, setidaknya tetap menarik untuk disimak :)

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...