Senin, 24 Oktober 2016

Siwa: Kesatria Wangsa Surya by Amish Tripathi | Book Review, Blog Tour, Giveaway

Judul buku: Siwa (Shiva Trilogy #1)
Penulis: Amish Tripathi
Penerjemah: Desak Nyoman Pusparini
Penyunting: Shalahuddin Gh
Penggambar sampul: Umam Bucah
Penerbit: Javanica
ISBN: 978-602-6799-15-9
Cetakan pertama, Oktober 2016
Buntelan dari Penerbit Javanica
Kisah ini terjadi ribuan tahun silam di Lembah Sungai Indus. Orang-orang di kurun itu menyebutnya Meluha. Penduduknya berumur sangat panjang berkat ramuan misterius bernama Somras, yang dicipta dari pohon Sanjiwani dan tirta suci Saraswati. Negeri yang dihuni Wangsa Surya ini menghadapi ancaman hebat ketika sungai utama mereka mengering perlahan-lahan. Mereka pun dirundung serangan para pengacau dari timur: negeri Wangsa Chandra. Keadaan bertambah gawat ketika Wangsa Chandra tampaknya bersekutu dengan kaum Naga, bangsa yang sangat lihai berperang.

Ketika kejahatan merajalela, rakyat Meluha berharap pada sebuah ramalan kuno tentang seorang kesatria yang bakal tiba dan membebaskan mereka dari malapetaka. Dalam keputusasaan, muncul seorang pengungsi liar dari Gunung Kailasha, Tibet. Siwa namanya. Ciri-cirinya persis seperti ramalan. Apakah ia memang kesatria pembebas yang diramalkan? Dan apakah ia berhasrat menjadi juru selamat yang diharapkan? Terseret oleh arus takdirnya, oleh dharma, oleh cinta kepada kekasihnya, Siwa memimpin Wangsa Surya menerjang badai prahara.

Didasarkan pada wiracarita dan sejarah kuno, novel langka ini mengungkap kisah tersembunyi tentang kehidupan Siwa sang Mahadewa.
Di kaki Gunung Kailasha, Tibet, hiduplah seorang lelaki pelindung Suku Guna, Siwa. Kehidupan mereka tidaklah mudah, selain harus bertahan dari  tanah yang kering lagi tandus, mereka juga berperang tanpa kesudahan dengan Suku Pakrati dalam memperebutkan wilayah. Siwa selalu menang, tapi dia ingin kehidupan yang lebih baik bagi sukunya, maka tawaran dari prajurit yang mereka sandera menjadi pertimbangan. Nandi mengajak Siwa dan sukunya untuk mengungsi ke negeri di belakang pegunungan besar tempat mereka tinggal, hijrah ke negeri terkaya dan terkuat di Bharatawarsa (India), tempat yang disebut surga, Meluha.

Siwa akhirnya menerima tawaran tersebut, perjalan panjang mereka tempuh, dan ketika tiba di perbatasan, sudah terlihat betapa indahnya negeri yang akan mereka tuju, belum lagi ibukota dari Meluha, Dewagiri. Meluha adalah negeri yang teratur, baik tata kota maupun kehidupan masyarakatnya, Mereka sangat patuh akan ajaran Sri Rama yang mengatur cara hidup, hukum, politik, filsafat, upacara, semuanya. Mereka meyakini kalau hidup sesuai aturan maka akan tercipta kehidupan sempurna bagi Wangsa Surya, masyarakat penghuni Meluha. Kedatangan Siwa ke Meluha ternyata bukan tanpa alasan, Maharaja Daksha, pemimpin negeri Meluha percaya pada sebuah ramalan yang nantinya akan menyelamatkan negerinya dari Wangsa Chandra. Sri Rama meramalkan ketika ada masalah yang begitu besar dan tak teratasi oleh manusia biasa maka sang Nilakantha akan muncul.

Siwa diyakini adalah sang Nilakantha, lehernya akan berwarna nila ketika meminum Somras, minuman para dewa yang mampu membuat Wangsa Surya hidup selama ratusan tahun. Daksha sudah mencari Siwa sekian lama, dia adalah tumpuan negerinya untuk memerangi Wangsa Chandra yang tidak punya aturan, yang bekerjasama dengan kaum Naga yang lihai berperang. Siwa harus menyelesaikan tugas Sri Rama yang belum usai, memimpin dan membantu Meluha mengalahkan Wangsa Chandra, membawa bangsa Swadwipa ke sisi yang baik, agar Meluha tidak hancur karena perang yang tak berujung, menjadi juru selamat. Walau tidak sepenuhnya percaya pada ramalan tersebut, Siwa menyukai Meluha, dia akan ikut berjuang demi tempat tinggal barunya, dan demi melindungi Sati, puteri raja yang dia cintai sekaligus menjadi incaran kaum Naga.
"Ingatlah, seorang pahlawan ditentukan sejarah, bukan peramal."
"Kekuatan terbesar dalam kehidupan seorang wanita adalah kebutuhan untuk dipahami, dicintai, dan dihargai sebagai dirinya sendiri."
"Kemapanan memungkinkan seseorang bebas untuk memilih. Orang-orang bisa megejar impian mereka hanya ketika mereka hidup dalam masyarakat yang tidak mengalami ancaman setiap hari. Pada sebuah bangsa tanpa keamanan dan kemapanan, tidak ada cendekiawan, pengusaha, atau seniman. Manusia akan terus-menerus berperang. Bagaimana bisa melaksanakan gagasan-gagasan atau mengejar cita-cita? Begitulah keadaan umat manusia sebelum kita membentuk masyarakat, Peradaban itu sangat rapuh. Hanya butuh beberapa dasawarsa kekacauan bagi kita untuk melupakan kemanusiaan dan mengubah masyarakat menjadi binatang. Sifat dasar kita bisa mengambil alih perubahan itu dengan sangat cepat. kita bisa lupa bahwa kita ini makhluk hidup yang mempunyai hukum, peraturan, dan adab."
Bisa dibilang saya masih sangat cetek kalau menyangkut literatur India, dulu waktu kecil suka nonton film Bollywood tapi tidak membuat saya pandai akan kebudayaanya, banyak lupa akan pelajaran sejarah India ketika di sekolah, dan melewatkan nonton Utaran, jadi anggap saja saya pemula dan tidak tahu banyak seluk beluk tentang dewa dewi yang dipuja masyarakat India kebanyakan. Saya hanya pernah membaca kisah Mahabharata versi Divakaruni, saya sangat menikmatinya, pun ketika membaca Siwa ini. Nuansanya sama ketika saya membaca dongeng kolosal dari Indonesia, mungkin karena memiliki sejarah agama Hindu yang sama rasanya tidak jauh berbeda, khas dongeng dari negeri Timur, yang artinya kita akan mudah menikmati kisahnya.

Sebelum membahas buku ini, saya akan menceritakan siapa Siwa menurut ajaran agama Hindu. Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya sama sekali lupa dan tidak tahu siapa Siwa, karena penasaran, saya mencari tahunya terlebih dahulu. Siwa adalah salah satu dari tiga dewa utama (tri murti) dalam agama Hindu, selain dewa Brahma (Dewa Pencipta) dan Wisnu (Dewa Pemelihara/ Pelindung). Dewa Siwa adalah Dewa Pelebur atau Penghancur, bertugas melebur segala sesuatu yang sudah usang dan tidak layak berada di dunia fana lagi sehingga harus dikembalikan kepada asalnya. Dewa Siwa identintik dengan ular kobra yang membelit lehernya, bulan sabit di ikatan kepala dan trisula sebagai senjata.

Dari gambaran di atas Siwa terlihat jahat dan tanpa kasih, berbeda dengan Siwa di buku ini yang walau suka menghisap ganja, dia sangat bijaksana, senang bergurau dan penuh cinta kasih. Bisa dibilang gambaran akan Siwa ketika muda, entah nantinya akan seperti apa karena buku ini adalah seri pertama dari trilogi Siwa, yang lebih banyak menceritakan latar belakang negeri Meluha, ramalan akan adanya Nilakantha. Konflik utamanya adalah peperangan antara bangsa Meluha dan Swadwipa, jauh dari itu, saya melihat pemikiran dan pandangan modern Siwa akan pemerintahan dan keadilan bagi masyarakatnya yang kelak atau sekarang ini bisa kita nikmati.

Saya akan melewatkan bagian tentang karakterisasi dan gaya bercerita, tidak perlu diragukan lagi kehebatan Amish Tripathi dalam menyulap sejarah India kuno menjadi kisah fantasi yang bisa dinikmati secara ringan. Saya akan membahas lebih ke apa yang saya dapatkan ketika membaca buku ini, yang saya sukai dari Siwa. Saya suka pemikirannya, di balik kesempurnaan yang dimiliki Meluha, tersimpan cacat yang sangat besar, tentang kepatuhannya, tentang pembagian warna, tentang diskriminasi. Siwa melihat dan berpendapat hal tersebutlah yang sepatutnya diubah, bukan memerangi sebuah kejahatan yang belum terlihat, bahkan hal tersebut bisa memicu tumbuhnya kejahatan baru.

Misalkan saja orang-orang Wikarma, orang-orang yang dihukum dalam kelahiran karena dosa-dosa kelahiran mereka sebelumnya, mereka harus menjalani hidup tanpa martabat dan menerima penderitaan dengan sabar. Seorang wanita yang melahirkan bayi meninggal dianggap wikarma, bagi Siwa hal tersebut tidaklah adil, itu bukan salah mereka memiliki nasib seperti itu. Atau pembagian warna; Brahmana (orang-orang pintar), Kesatria (prajurit), Waisha (pedagang), Sudra (petani), di mana jika seorang Brahmana ingin menjadi atau memiliki kemampuan seorang Kesatria maka mereka berhak memilih, bukannya karena terlahir dari keturunan Brahmana mereka lantas harus ikut menjadi Brahmana. Kepatuhan terhadap Sri Rama kadang juga menjadi kelemahan, misalkan saja tidak boleh menyerang dari belakang, ketika musuh tidak memiliki senjata. Siwa tidak hanya ingin menyelamatkan bangsa Meluha, tapi juga menyelematkan kehidupan orang yang disisihkan.

Bukan berarti tidak ada yang baik dan bermanfaat dari buku ini, saya suka ketika Siwa berbicara dengan sang ilmuwan Brahaspati, semua yang sepertinya magic di buku ini terlihat sangat realistis ketika dijawab sesuai dengan ilmu pengetahuan, kemudian ketika Siwa meminta pencerahan kepada pandita, kita akan mendapatkan jawaban yang sangat filosofis. Saya sangat menyukai adanya Prajurit Arishtanemi, prajurit utama kerajaan, kesetiaan mereka sebagai pelindung serta bagi sesama patut kita contoh. Ada juga daiwi astra, istilah yang digunakan dalam kisah Hindu kuno untuk senjata pemusnah massal, hebat juga ya, jaman dulu kala sudah ada senjata semacam bom.

Secara keseluruhan, Siwa tidak mengecewakan, didukung dengan terjemahan yang baik serta tetap menjaga istilah-istilah dalam bahasa asli dan menyertakan catatan kaki untuk penjelasannya. Kemasannya juga menarik, sosok Siwa dari belakang, terkesan misterius tapi juga kuat. Saya berharap penerbit akan menerbitkan buku ini sampai seri terakhir karena bakalan nanggung sekali, ending buku ini saja membuat saya senewen. Buku pertama ini bisa dibilang hanya sebagai permulaan, pengenalan, belum menyentuh bagian yang pokok sehingga akan sangat mengecewakan bagi pembaca yang menantikan kelanjutannya. Siwa sebelumnya pernah diterjemahkan oleh penerbit tetangga dengan judul The Immortals of Meluha, karena belum membacanya, saya tidak mengetahui perbedaan baik itu terjemahan maupun keutuhan cerita.

Bagi pecinta mitologi khususnya India kuno, atau bagi yang ingin mencicipinya, buku ini sangat recommended bagi kalian. Hitung-hitung penyegar karena jarang ada kisah fantasi yang menyorot mitologi dari negeri Timur.

3.5 untuk Siwa, dewa penghisap ganja XD.



Saatnya giveaway!
Bakalan ada 2 pemenang yang masing-masing mendapatkan satu novel Siwa secara gratis pemberian dari penerbit Javanica bagi kalian pembaca setia Kubikel Romance yang berdomisili di Indonesia. Syaratnya mudah banget kok:
1. Follow blog Kubikel Romance via GFC
2. Like facebook Penerbit Javanica dan follow akun twitter @peri_hutan
3. Share link postingan ini di sosial media yang kalian punya, boleh mention saya di twitter.
4. Tulis akun twitter kalian di kolom komentar atau yang nggak punya twitter bisa mencantumkan alamat email (bagi yang share di facebook, instagram, dsb).

Sudah itu saja, nggak usah susah-susah, ingat bakalan ada 2 pemenang jadi kesempatan kalian semakin besar nih. Giveaway berlangsung selama satu minggu, berakhir sampai tanggal 30 Oktober 2016, pengumuman pemenang sehari di postingan ini juga. Pemenang ditentukan secara random bagi yang sudah mengikuti persyaratan di atas. Semoga beruntung :D

*UPDATE*

Hai halooo, saatnya pengumuman, sesuai janji bakalan ada dua pemenang, dan setelah memilih random pemenangnya adalah...

@wawha_cuza

dan

@PidaAlandrian92

Selamat ya, nanti akan saya hubungi untuk pengiriman hadiah, buat yang lain jangan bersedih karena masih banyak give away di Kubikel Romance, terus pantengin dan follow. Semangat!

44 komentar:

  1. Twitter : @nandia_ann

    makasih mb GAnya.. ^^

    BalasHapus
  2. @poetstories

    Bisa menang lagi ga ya..^^

    BalasHapus
  3. @adindilla

    Berharap yang beruntung kali ini.. :)

    BalasHapus
  4. @murniaya

    감사합니다... \(´▽`)/

    BalasHapus
  5. Semoga bisa dapeeet.. dua kan? Satunya untuk aku dong, hihi

    Twitter: @wawha_cuza

    Email: wawcuz@gmail.com

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah semua syarat2 nya 1-2-3-4 sudah beress.
    Tinggal menunggu keberuntungan yg menjemput aku dgn buku SIWA.

    Twitter : @PidaAlandrian92

    BalasHapus
  7. Twitter @azwaravisin

    terima kasih

    BalasHapus
  8. twitter : @LelyNurvita
    email : lelynurvitasari@gmail.com

    BalasHapus
  9. Penasaran deh sama Siwa ini! Soalnya aku termasuk penggemar kisah2 mitologi dan klo mitologi India aku cuma tau Mahabaratha dan Ramayana doank! Semoga kali ini bisa cukup beruntung dengan ikutan GA ini^^ Wish me luck! And thank u for the great chance!;)

    akun twitter/IG: @WoMomFey
    akun FB: https://www.facebook.com/kitty.tsukino.5
    akun G+: Kitty Wibisono
    Link share:
    - via twitter: https://twitter.com/WoMomFey/status/791740289845112832
    - via FB: https://www.facebook.com/kitty.tsukino.5/posts/10153994698423461
    - via Instagram: https://www.instagram.com/p/BMFJ4c4AiSV/?taken-by=womomfey
    - via G+: https://plus.google.com/u/0/109294528284765398773/posts/PHySsNU5nP1

    BalasHapus
  10. twitter: @davindy_
    fb: Vindy Sekar Pangestu

    BalasHapus
  11. Pengen baca... Dari covernya keliatan seru bangett ceritanya <3
    Akun twitter : @Fasa_Febrianisa
    https://twitter.com/Fasa_Febrianisa/status/792708256909103104

    Akun Facebook : Fasa Febrianisa Maghfira
    https://www.facebook.com/profile.php?id=100008145169238

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...