Jumat, 02 September 2016

8 Buku Historical Fiction Indonesia yang Ingin Dibaca


Haiii halooo, semoga saja masih bisa ikutan posting bareng BBI bulan Agustus yang bertema Historical Fiction dalam negeri, karena baru sempat nulis sekarang, jadi telat deh. Kalau pun nggak dihitung nggak pa-pa lah ya, hitung-hitung ngasih rekomendasi bagi yang lain siapa tahu ingin ikut baca juga :D. Jujur saja, genre historical fiction bukan genre favorit saya, jadi cukup sulit menentukan mana yang cocok nantinya. Namun, sejak membaca Pulang karya Leila S. Chudori, saya jadi melirik genre yang bermuatan sejarah ini. Jenis bacaan yang juga identik dengan sastra dan cukup memeras otak ini ternyata memiliki keasikan tersendiri, bahkan Pulang menjadi salah satu buku favorit saya. Jadi, kenapa nggak mencoba yang lain?

Selain Pulang, sejauh ini saya sudah membaca Amba, Gadis Kretek, Kei, Suti, dan Notasi. Tidak banyak memang, melihat saya cukup pemilih untuk genre yang satu ini jadi saya ingin membaca yang benar-benar recommended. 8 buku historical fiction Indonesia di bawah ini saya pilih berdasarkan rating dan review yang saya baca, yang membuat saya penasaran, apa sih bagusnya dan sejarah apa yang diangkat. Dan yang terpenting, saya merasa akan berjodoh dengan buku-buku dibawah ini, saya punya feeling yang bagus, dan biasanya kalau sudah seperti ini, tidak meleset :D.


1. Burung-Burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya
Burung-burung Manyar merupakan roman yang ditulis Y.B. Mangunwijaya dengan penuh kejujuran dan keberanian tentang kehidupan manusia-manusia yang terlibat peperangan baik fisik maupun batin.

Roman ini telah mendapat tanggapan positif dari kritikus sastra, penulis resensi dari berbagai media massa, dan para sastrawan. Buku ini sudah diterjemahkan dalam edisi bahasa Jepang berjudul Arasi no Naka no Manyar (1985), dalam bahasa Belanda Het boek van de Weavervogel (1987), dalam bahasa Inggris The Weaverbirds (1989).

2. Rahasia Meede: Misteri Harta Karun V.O.C karya E.S. Ito
Sebuah terowongan tua ditemukan di perut bumi Jakarta. Pintu masuknya terletak dalam Museum Sejarah Jakarta. Rutenya diyakini menuju tempat persembunyian emas VOC.

Sementara itu, di atas permukaan, Jakarta dicekam oleh teror pembunuhan misterius. Satu per satu orang penting ditemukan tewas mengenaskan, di tempat-tempat berawalan huruf B, disertai pesan aneh berupa Tujuh Dosa Sosial yang pernahdicetuskan oleh Mahatma Gandhi. Entah apa makna semua itu.

Het Geheim van Meede—Rahasia Meede, misteri emas VOC itu, perlahan terungkap. Dan, untuk mendapatkan jawabannya, seorang laki-laki muda intelijen militer harus berhadapan dengan seorang anarkis, karibnya ketika sama-sama sekolah di SMA Taruna Nusantara. Tak hanya bersaing dalam hal itu, mereka pun sama-sama berusaha mencuri perhatian seorang gadis Belanda, seorang mahasiswi peneliti Sejarah Ekonomi Kolonial, yang menyimpan lebih banyak misteri dari apa yang ditampakkannya.

3. Rara Mendut: Sebuah Trilogi karya Y.B. Mangunwijaya
Rara Mendut, budak rampasan yang menolak diperistri oleh Tumenggung Wiraguna demi cintanya kepada Pranacitra. Dibesarkan di kampung nelayan pantai utara Jawa, ia tumbuh menjadi gadis yang trengginas dan tak pernah ragu menyuarakan isi pikirannya. Sosoknya dianggap nyebal tatanan di lingkungan istana di mana perempuan diharuskan bersikap serba halus dan serba patuh. Tetapi ia tak gentar. Baginya, lebih baik menyambut ajal di ujung keris Sang Tumenggung daripada dipaksa melayani nafsu panglima tua itu.

Genduk Duku, sahabat Rara Mendut yang membantunya menerobos benteng Keraton Mataram dan melarikan diri dari kejaran Tumenggung Wiraguna. Setelah kematian Rara Mendut dan Pranacitra, Genduk Duku menjadi saksi perseteruan diam-diam antara Wiraguna dan Pangeran Aria Mataram, putra mahkota yang kelak bergelar Sunan Amangkurat I dan sesungguhnya juga jatuh hati kepada Rara Mendut - perempuan rampasan yang oleh ayahnya dihadiahkan kepada panglimanya yang berjasa.

Lusi Lindri, anak Genduk Duku dipilih menjadi anggota pasukan pengawal Sunan Amangkurat I oleh Ibu Suri. Lusi Lindri menjalani kehidupan penuh warna di balik dinding-dinding istana yang menyimpan ribuan rahasia dan intrik-intrik jahat. Sebagai istri perwira mata-mata Mataram, ia tahu banyak... Bahkan terlalu banyak... Semakin lama nuraninya semakin terusik melihat kezaliman junjungannya. Tiada pilihan lain! Bulat sudah tekadnya, baginya lebih baik mati sebagai pemberontak penentang kezaliman daripada hidup nyaman bergelimang kemewahan.

4. Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari
Gabungan 3 buku seri Dukuh Paruk: Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari & Jantera Bianglala.

Semangat Dukuh Paruk kembali menggeliat sejak Srintil dinobatkan menjadi ronggeng baru, menggantikan ronggeng terakhir yang mati dua belas tahun yang lalu. Bagi pedukuhan yang kecil, miskin, terpencil dan bersahaja itu, ronggeng adalah perlambang. Tanpanya dukuh itu merasakah kehilangan jati diri.

Dengan segera Srintil menjadi tokoh yang amat terkenal dan digandrungi. Cantik dan menggoda. Semua ingin pernah bersama ronggeng itu. Dari kaula biasa hingga pekabat-pejabat desa maupun kabupaten.

Namun malapetaka politik tahun 1965 membuat dukuh tersebut hancur, baik secara fisik maupun mental. Karena kebodohannya, mereka terbawa arus dan divonis sebagai manusia-manusia yang telah mengguncangkan negara ini. Pedukuhan itu dibakar. Ronggeng berserta para penabuh calung ditahan.Hanya karena kecantikannya Srintil tidak diperlakukan semena-mena oleh para penguasa penjara itu.

Namun pengalaman pahit sebagai tahanan politikmembuat Srintil sadar akan harkatnya sebagai manusia. Karena itulah setelah bebas, ia berniat memperbaiki citra dirinya. Ia tak ingin lagi melayani lelaki manapun. Ia ingin menjadi wanita somahan. Dan ketika Bajus muncul dalam hidupnya sepercik harapan muncul, harapan yang semakin lama semakin besar.

5. Orang-orang Proyek karya Ahmad Tohari
Aku insinyur. Aku tak bisa menguraikan dengan baik hubungan antara kejujuran dan kesungguhan dalam pembangunan proyek ini dengan keberpihakan kepada masyarakat miskin. Apakah yang pertama merupakan manifestasi yang kedua? Apakah kejujuran dan kesungguhan sejatinya adalah perkara biasa bagi masyarakat berbudaya, dan harus dipilih karena keduanya merupakan hal yang niscaya untuk menghasilkan kemaslahatan bersama?

Memahami proyek pembangunan jembatan di sebuah desa bagi Kabul, insinyur yang mantan aktivis kampus, sungguh suatu pekerjaan sekaligus beban psikologis yang berat. "Permainan" yang terjadi dalam proyek itu menuntut konsekuensi yang pelik. Mutu bangunan menjadi taruhannya, dan masyarakat kecillah yang akhirnya menjadi korban. Akankah Kabul bertahan pada idealismenya? Akankah jembatan baru itu mampu memenuhi dambaan lama penduduk setempat?

6. Entrok karya Okky Madasari
Marni, perempuan Jawa buta huruf yang masih memuja leluhur. Melalui sesajen dia menemukan dewa-dewanya, memanjatkan harapannya. Tak pernah dia mengenal Tuhan yang datang dari negeri nun jauh di sana. Dengan caranya sendiri dia mempertahankan hidup. Menukar keringat dengan sepeser demi sepeser uang. Adakah yang salah selama dia tidak mencuri, menipu, atau membunuh?

Rahayu, anak Marni. Generasi baru yang dibentuk oleh sekolah dan berbagai kemudahan hidup. Pemeluk agama Tuhan yang taat. Penjunjung akal sehat. Berdiri tegak melawan leluhur, sekalipun ibu kandungnya sendiri.

Adakah yang salah jika mereka berbeda?

Marni dan Rahayu, dua orang yang terikat darah namun menjadi orang asing bagi satu sama lain selama bertahun-tahun. Bagi Marni, Rahayu adalah manusia tak punya jiwa. Bagi Rahayu, Marni adalah pendosa. Keduanya hidup dalam pemikiran masing-masing tanpa pernah ada titik temu.

Lalu bunyi sepatu-sepatu tinggi itu, yang senantiasa mengganggu dan merusak jiwa. Mereka menjadi penguasa masa, yang memainkan kuasa sesuai keinginan. Mengubah warna langit dan sawah menjadi merah, mengubah darah menjadi kuning. Senapan teracung di mana-mana.

Marni dan Rahayu, dua generasi yang tak pernah bisa mengerti, akhirnya menyadari ada satu titik singgung dalam hidup mereka. Keduanya sama-sama menjadi korban orang-orang yang punya kuasa, sama-sama melawan senjata.

7. Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer
Roman Tetralogi Buru mengambil latar belakang dan cikal bakal nation Indonesia di awal abad ke-20. Dengan membacanya waktu kita dibalikkan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pergerakan nasional mula-mula, juga pertautan rasa, kegamangan jiwa, percintaan, dan pertarungan kekuatan anonim para srikandi yang mengawal penyemaian bangunan nasional yang kemudian kelak melahirkan Indonesia modern.

Roman bagian pertama; Bumi Manusia, sebagai periode penyemaian dan kegelisahan dimana Minke sebagai aktor sekaligus kreator adalah manusia berdarah priyayi yang semampu mungkin keluar dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka, di sudut lain membelah jiwa ke-Eropa-an yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban.

Pram menggambarkan sebuah adegan antara Minke dengan ayahnya yang sangat sentimentil: Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku, waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak di tempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu .... Sembah pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak-cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.

"Kita kalah, Ma," bisikku.

"Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya."

8. Kitab Omong Kosong karya Seno Gumira Ajidarma 
Cerita ini memang ditulis oleh Togog, yang merasa minder dan terasingkan dalam sebuah dunia yang sangat memuja Semar. Berkisah tentang malapetaka serbuan balatentara Sri Rama yang menyapu anak benua, dan menghadirkan pemandangan bencana.

Inilah kisah Satya dan Maneka, rakyat yang menjadi korban, yang menjelajah dalam pencarian Walmiki penulis Ramayana, sembari berlayar di samudera cerita. Inilah saat kematian Sang Hanuman, wanara agung yang ditakdirkan berumur panjang, untuk menjaga kebudayaan. Kenapa Togog menganjurkan cerita ini tidak dibaca? Nah!

Berhubung bukunya belum saya baca semua, saya tidak bisa berkomentar banyak melainkan hanya bisa memberikan ringkasan atau sinopsisnya saja. Saya biasanya lebih mudah 'masuk' ke dalam cerita kalau ada bumbu romance-nya, hahaha. Bisa dibilang salah satu penyemangat baca sih, di balik kisah sejarah bangsa kita, tersemat kisah cinta yang kadang memilukan, dan saya suka hal seperti itu. Historical fiction identik dengan setting masa lalu dan biasanya ada pada masa pergolakan sebuah bangsa, buku-buku di atas kebanyakan bersetting di era sebelum merdeka sampai memasuki orde baru.

Kalau kalian sudah pernah membaca buku-buku yang saya pilih di atas, boleh sekali berkomentar tentang pendapat kalian perihal buku tersebut, siapa tahu dengan kompor kalian saya segera membacanya :D. Atau kalau kalian mau ngasih saya rekomendasi buku lain, sangat-sangat tidak keberatan, melihat saya cukup cetek dengan genre ini, berbagai masukan akan sangat berharga. 

Semoga saya bisa segera membaca semuanya dan menampilkan resensinya di Kubikel Romance.



17 komentar:

  1. Aku penasaran sama Rahasia Meede: Misteri Harta Karun V.O.C.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagus ya sepertinya, aku nebaknya kayak pencarian harta karun, hihihi

      Hapus
  2. Wah incerannya banyak yang sama nih :D kalau aku justru suka baca historical romance, terutama cerita-cerita tahun 1965an. Ronggeng Dukuh Paruk sama Bumi Manusia udah ada di timbunan belum dibaca-baca :( Kalau Kitab Omong Kosong udah nyari kemana-mana enggak dapat-dapat :((

    BalasHapus
    Balasan
    1. Loh, padahal udah cetak ulang kan tahun kemarin? Coba aja cari di olshop ada lewat penerbitnya

      Hapus
  3. Wah, aku sama sekali belum pernah baca historical fiction Indonesia :')
    Belum ada ketertarikan juga. Hmmm

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba deh baca Pulang, awalnya aku juga nggak tertarik, belum nemu buku yang cocok sebagai permulaan aja :)

      Hapus
  4. Alo, kakak periii.
    Waah sama. Aku juga penasaran dengan Ronggeng Dukuh Paruk dan Bumi Manusia :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tossss, semoga cepet kesampean juga ya :D

      Hapus
  5. Bumi Manusia sama Ronggeng Dukuh Paruk menurutku termasuk sastra Indonesia yang wajib dibaca. Cerita Burung-burung Manyar, Entrok dan Rahasia Meede juga seru. Kalau cerita Orang-orang Proyek menurutku masih relevan dengan kondisi sekarang.Yang belum aku baca ; Rara Mendut sama Kitab Omong Kosong. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengen nyoba Ronggeng Dukuh Paruk dari dulu sebenernya, mungkin timingnya aja yang belum pas XD

      Hapus
  6. kebetulan banget nih. gara2 baca biografinya Pramoedya Ananta Toer aku jadi beli novel Bumi Manusia. Tebel.Belum begerak juga mau baca. hihi
    ntar kalau Peri Hutan udah baca Bumi Manusia cepet ditulis resensinya ya. biar aku mood buat baca. hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wokey, wakakaka, atau coba aja baca dulu trus ceritain ke aku gimana serunya biar tergerak untuk ikutan baca juga XD

      Hapus
  7. aku baru baca Rahasia Meede untuk posbar BBI ini. Dan seruuuu bangetsss hihihi nyesel juga kenapa nggak baca dari dulu... Semoga tercapai semua wishlist hisfic mu ya lis :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aminnnnnn, belum sempet blogwalking ke blogku nih mbak, nanti deh biar tambah penasaran sama Rahasia Meede :)

      Hapus
  8. Pulang juga novel favorit saya. Novel yg membuat saya mentahbiskan Leila jd penulis favorit saya sepanjang masa, menggeser kedudukan Dewi Lestari di hati saya. Hahaaa.. Gara2 Leila jg saya jd suka tulisan berbau politik, sejarah dicampur dlm roman. Tp sampe skrg blm nemu tulisan lain yg memikat kayak Leila. Yg tulisannya bisa buat aku book hangover berkali2 saat membacanya. Pengennya baca karya penulis lain tp jatuhnya malah nungguin karya baru dia yg entahlah ada apa gak. Kalo ronggeng dukuh paruk aku udah baca... Lumayanlah. Gak mengecewakan kok. Tp the best tetap Segara Alam. Hahaaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yeayyyy, tos! Mbak Leila pinter bikin hal yang berat terlihat menjadi mudah. Segara Alam emang book boyfriend nomor satu! :)

      Hapus
  9. Pulang juga novel favorit saya. Novel yg membuat saya mentahbiskan Leila jd penulis favorit saya sepanjang masa, menggeser kedudukan Dewi Lestari di hati saya. Hahaaa.. Gara2 Leila jg saya jd suka tulisan berbau politik, sejarah dicampur dlm roman. Tp sampe skrg blm nemu tulisan lain yg memikat kayak Leila. Yg tulisannya bisa buat aku book hangover berkali2 saat membacanya. Pengennya baca karya penulis lain tp jatuhnya malah nungguin karya baru dia yg entahlah ada apa gak. Kalo ronggeng dukuh paruk aku udah baca... Lumayanlah. Gak mengecewakan kok. Tp the best tetap Segara Alam. Hahaaaaa

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...