Sabtu, 06 Agustus 2016

Resensi: Alkisah Kasih Karya Lea Agustina Citra

Judul buku: Alkisah Kasih
Penulis: Lea Agustina Citra
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-3154-6
Cetakan pertama, 18 Juli 2016
304 halaman
Buntelan dari @cietsz
Andjani Safira nyaris memiliki segalanya: kecantikan, kecerdasan, karier, dan popularitas sebagai penyiar berita. Semua itu masih disempurnakan oleh kehadiran pria tampan blasteran Maroko bernama Radja yang pernah menjadi kekasihnya.

Tapi semua itu tak berarti dengan adanya ultimatum Eyang Putri: Andjani harus menikah di usia 25 tahun dengan pria yang belum pernah ia temui! Satu-satunya petunjuk tentang pria itu hanya selembar foto usang seorang anak SMP gemuk berkacamata. Dia menolak ultimatum itu keras-keras. Baginya pernikahan harus berlandaskan cinta dan cintanya hanya satu: Radja.

Sampai akhirnya ia bertemu Ardian, dokter anestesi dengan selera humor payah yang mengajarinya bahwa cinta saja tidak cukup membuat pernikahan bahagia. Dan hal itu yang membuat Andjani berpikir dua kali tentang ultimatum Eyang Putri.
Waktu kecil Andjani sering kali mendengar cerita tentang Legiun Mangkunegaran, pasukan pribumi yang dibentuk untuk melawan masyarakat pribumi sendiri kemudian dibubarkan ketika Jepang menguasai Nusantara. Cerita tersebut ternyata berkaitan dengan leluhur Andjani, bahwa Eyang Kakung dulu menjadi bagian dari Legiun Mangkunegaran. Dalam cerita tersebut, Eyang Kakung memiliki sahabat yang telah menyelamatkan nyawanya. Agar ikatan persahabatan mereka tidak terputus serta memiliki hutang budi yang berkaitan dengan nyawa, mereka menginginkan penyatuan anak-anak mereka dalam pernikahan.

Andjani adalah satu-satunya harapan bagi Eyang Putri, sejak kecil Andjani sudah dijodohkan dengan keturunan sahabat Eyang Kakung-nya tersebut, tapi Andjani tidak pernah menganggapnya dengan serius, terlebih dia belum pernah bertemu langsung, hanya bermodal foto lelaki tersebut ketika SMP di mana terlihat gemuk dan berkacamata. Andjani juga ingin pernikahannya nanti berdasarkan cinta, bukan perjodohan untuk membalas hutang masa lalu. Selain itu, Andjani masih mencintai Radja, pria blasteran Maroko yang semasa SMA dulu pernah menjadi pacarnya dan membuat Andjani terlepas dari kungkungan Eyang-nya.

Namun sebuah kejadian mempertemukan Andjani dengan Ardian, dokter anestesi yang membuat Andjani kesal setengan mati, memiliki humor garing, yang sering kali datang diwaktu tak terduga. Seseorang yang berkata tidak perlu ada cinta untuk menikah.
"Tuhan memberikan jalan layaknya perumpamaan ini. Aku mencari kegelisahanku di ufuk barat, kamu menelusuri cakrawala ke batas timur. Lalu secara tiba-tiba sang waktu menghubungkan pintu utara dan selatan, sehingga aku dan kamu bertemu dalam sebuah waktu."
As you know too, first love never dies, but true love can bury it!
Tema cerita dalam Metropop terbaru karya Lea Agustina Citra kali ini bisa dibilang cukup pasaran yaitu tentang memilih antara cinta atau perjodohan. Namun uniknya, penulis memberikan sentuhan yang berbeda dengan memasukkan sedikit nilai historis, yaitu tentang Legiun Mangkunegaran ke dalam ceritanya. Adat Jawa cukup tercium dengan adanya hal tersebut di buku ini. Selain itu, penulis juga mengenalkan profesi seorang dokter anestesi lewat Ardian, di mana keberadaanya jarang disorot padahal memiliki andil yang cukup besar di meja operasi. Dunia showbiz juga ditampilkan lewat profil Andjani sebagai penyiar berita terkenal, serta sainganya, si selebritis muda Nadyana Vera dalam memperebutkan Radja.

Saya menyukai twist-nya, walau mudah tertebak, penulis menyusunnya dengan rapi sehingga tidak membosankan. Pace-nya cukup cepat, namun demikian chemistry yang terjalin antara Andjani dan Ardian tidak terlihat buru-buru, adegan percakapan yang mereka lakukan cukup menyenangkan. Saya suka bagian alur yang cukup cepat ketika mengisahkan masa lalu Andjani sampai menjadi pribadi yang sekarang, perempuan yang feminis. Bagaimana dulu semasa kecil sampai remaja dia selalu 'dikendalikan' oleh Eyang-nya, bahwa perempuan itu tidak perlu sekolah tinggi-tinggi dan hidupnya hanya untuk melayani suami. Andjani tidak ingin seperti perempuan jaman dulu, dia memiliki impian dan tidak ada salahnya seorang istri juga memiliki pekerjaan atau bahkan mandiri. Sejarah boleh saja dikenang, tapi nilai-nilai jaman dulu yang saklek bisa dikembangkan, bisa diubah, bisa mengikuti sesuai jaman.

Sedikit kekurangan buku ini, konflik yang melibatkan Radja terbilang klise, karakter dia yang awalnya cukup baik dan dewasa menjadi turun pangkat. Tokoh favorit saya adalah Ardian, dia tidak pernah memaksakan kehendak orang lain, dia penyabar, pendekatannya cukup halus dan tentu saja dewasa. Saya juga menyukai sahabat Andjani, Gitta yang lebih bisa berpikir rasional tentang cinta. Cinta pertama mungkin saja tak terlupakan, tapi cinta sejati adalah segalanya. Bahwa terkadang perjodohan itu tidak ada salahnya dicoba, hal pasti yang sudah didapatkan adalah restu keluarga dari kedua belah pihak, sedangkan masalah hati bisa ditata sambil jalan :D.

Alkisah Kasih cukup ringan untuk dinikmati, kisah perjodohan yang dibalut dengan sejarah memberikan cita rasa yang berbeda, buku ini sangat recommended bagi pembaca Metropop yang menginginkan kisah cinta yang manis.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...