Sabtu, 30 Juli 2016

Resensi: Tidak Ada New York Hari Ini Karya M Aan Mansyur

Judul buku: Tidak Ada New York Hari Ini
Penulis: M Aan Mansyur
Foto: Mo Riza
Tata letak: Emte
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-2723-5
Cetakan pertama, 28 April 2016
120 halaman
Buntelan dari @SCOOPToday
Hari-hariku membakar habis diriku
Setiap kali aku ingin mengumpulkan
tumpukan abuku sendiri, jari-jariku
berubah jadi badai angin.

Dan aku mengerti mengapa cinta diciptakan—


Akhirnya bisa membaca kumpulan puisi Rangga di film Ada Apa Dengan Cinta? 2. Saya terpaksa menjilat ludah sendiri di mana dulu saya pernah bilang kalau tidak tertarik membaca puisi. Puisi bukan termasuk genre bacaan favorit saya, saya sulit sekali membuat atau menginterpetasikannya, tapi ketika menonton film Ada Apa Dengan Cinta? 2 di mana sang tokoh utama yang diperankan Nicholas Saputra membacakan beberapa puisi dari buku ini, puisinya terkesan sangat indah, saya jadi tertarik untuk membaca.

Bagi saya puisi adalah permainan kata-kata, dulu alasan kenapa saya tidak menyukai puisi adalah banyak penulis menggunakan bahasa metafora dalam puisi yang sulit saya cerna, dalam tulisan M Aan Mansyur ini, tidak ada bahasa yang sulit di cerna, melainkan permainan kata yang indah, yang orang awam mudah mengerti. Membaca puisi sama saja melakukan interaksi dua pihak, tidak ada pihak ketiga, hanya pembaca dan puisi tersebut, dalam artian sebuah puisi bisa bermakna beda pada tiap orang yang membacanya.

Ketika saya membaca puisi Tidak Ada New York Hari Ini, tokoh Rangga sangat tercermin sekali, terlebih saya menonton filmnya lebih dahulu, nyawa Rangga hidup di penggalan kata yang dilantunkan M Aan Mansyur. Tidak mengherankan, konon dalam membuat puisi ini penulis berkali-kali menonton film Ada Apa Dengan Cinta? agar bisa 'memalsu' sebagai Rangga. Puisi-puisinya menggambarkan siapa Rangga, apa yang dirasakannya, tentang kesendirian, tentang kesepian, tentang kerinduan, tentang penyesalan.





Buku ini juga disertai dengan layout yang apik serta gaya street photography yang menawan karya Mo Riza. Saya juga tidak ahli dalam mencerna makna dari sebuah gambar atau foto, tapi ketika membaca puisi ini dan melihat berbagai foto orang maupun tempat di New York, saya merasa hal itulah yang dilihat Rangga setiap harinya, orang-orang yang tidak dikenal dan tersesat di tempat asing.

Beberapa puisi favorit saya di buku ini antara lain; Cinta, Tidak Ada New York Hari Ini, Di Halaman Belakang Puisi Ini, Sepasang Matamu, Aku Ingin Istirahat. Dan berikut saya sertakan cuplikan salah satu puisi favorit lainnya dari buku ini.
Di Dekat Jendela Pesawat Terbang

Aku ingin menulis surat. Meminta maaf atas nama cermin dan kaca
jendela, langit dan cahaya, juga segala yang tidak percaya kepada
matamu pada pagi hari. Selamat pagi, Apa kabar? Kenyataan ialah api
yang berkobar di antara dadamu dan inginku. Atau segala apa yang
berkibar di antara anganmu dan tanganku. Di tempat sejauh dan
sedekat ini, tidak ada yang nyata melebihi hal-hal yang kabur dan
mustahil disentuh. Apakah aku tidur di mimpimu?

Mencintai ialah menenggelamkan diri ke dalam lautan hal kecil
yang memiliki kekuatan besar membuatku bersedih. Setiap waktu.
Atau -aku takut kedalaman, kau tahu- menyaksikan hamparan
hutan dari udara dan menyadari seluruh yang tampak hijau adalah
kepedihan. Aku curiga pesawat ini sengaja diciptakan sebagai cara 
lain memusnahkan manusia dari bumi.

Rumah terakhir bagi seorang yang kucintai ialah ingatan. Memiliki
kehilangan bukti aku tidak berhenti mencintaimu. Apakah kau akan
berdiri di depan pintu saat aku tiba, seperti biasa, merentangkan
sepasang lengan yang selalu berharap ditubuhi?
Buku kumpulan puisi Tidak Ada New York Hari Ini sangat recomended untuk dibaca pemula seperti saya, yang ingin belajar memahami puisi lewat kata-kata sederhana namun bermakna. Saya juga berharap akan ada audiobook dengan pengisi suara Nicholas Saputra, saya selalu merasa media yang cocok untuk menikmati sebuah puisi adalah dengan mendengarnya dari orang yang bisa membacakannya dan yah Nicholas Saputra tidak hanya pandai berakting, tapi juga membaca puisi.

3 sayap untuk Kau yang panas di kening. Kau yang dingin di kenang.



Terima kasih kepada Scoop dan penerbit Gramedia yang telah memberi kesempatan kepada saya dalam pengalaman membaca melalui format digital. Buku Tidak Ada New York Hari Ini bisa pembaca lain dapatkan di Scoop dengan harga yang terjangkau, selain itu membaca melalui format digital ternyata seru dan tidak seribet yang saya perkirakan. Kalian bisa mendapatkan aplikasi Scoop di ponsel pintar kalian, tidak hanya buku tapi banyak juga majalah dan koran yang bisa dinikmati. Selamat mencoba :D


6 komentar:

  1. Huhu sampe skrg aku blm nonton filmnya. Dan penasaran banget sama buku ini. Aku malah kebalikanmu Mbak, aku suka puisi hhehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin aku belum nemu yang tepat aja :)

      Hapus
    2. Mungkin aku belum nemu yang tepat aja :)

      Hapus
  2. Sama, kak.
    Aku biasanya juga kurang bisa menangkap bahasa-bahasa dalam puisi :( Jadi, kurang tertarik untuk baca antologi puisi.
    But, we'll see then. Kali aja ada antologi yang membuatku tertarik. Hoho

    BalasHapus
  3. Puisi mah enaknya untuk didengerin kali ya, wakakaka

    BalasHapus
  4. Resensi yang Indah, cuplikan puisi diatas sukses membuat saya segera ingin berburu ke toko buku terdekat..

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...