Senin, 20 Juni 2016

Resensi: The Lady in Red Karya Arleen A.

Judul buku: The Lady in Red
Penulis: Arleen A.
Editor: Dini Novita Sari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-2712-9
Cetakan pertama, 2016
360 halaman
Buntelan dari @arleen315
Betty...
Sebenarnya tidak ingin bersekolah di sekolah swasta yang mahal itu.
Bersekolah di sana hanya karena mendapatkan beasiswa.
Tidak tahu bahwa itu akan mengubah hidupnya.

Robert...
Sebenarnya tidak suka bersekolah di sekolah swasta yang mahal itu.
Bersekolah di sana hanya karena disuruh orangtuanya.
Tahu bahwa itu memang jalannya ketika ia melihat Betty.

Rhonda...
Tahu ia gemuk.
Tidak tahu bahwa ia menyukai Greg.
Tidak tahu bahwa Greg juga menyukainya .

Greg...
Tahu ia hanya pekerja di peternakan milik keluarga Rhonda.
Tidak tahu apakah ia berhak menganggap tempat itu rumah.
Tidak tahu apakah ia berhak menyukai Rhonda.

Tapi sejauh apa pun dirimu pergi
Sejauh apa pun perasaanmu menjauh
Selalu akan ada tempat yang menarikmu pulang
Selalu akan ada hati yang menarikmu kembali
1920-1955

Betty Liu merasa berbeda dari anak keturunan Tionghoa lainnya, selain cantik dan memiliki rambut panjang yang indah, Betty sangat cerdas. Kepandaian Betty yang di atas rata-rata ini dimanfaatkan gurunya ketika lulus kelas 9 di Ford Bragg Public School, gurunya memasukkan lamaran beasiswa ke sebuah sekolah swasta terbaik di Ford Bragg, sehingga Betty bisa sekolah gratis di Redwood High School. Betty bukan berasal dari keluarga kaya, dia tidak memiliki keinginan bersekolah swasta karena tidak yakin bisa membaur dengan anak orang kaya yang biasanya sombong sehingga tidak antusias akan kepindahannya, tapi orangtua Betty menganggap beasiswa penuh di sekolah bergengsi sayang  untuk dilewatkan. Di sekolah tersebut bisa dibilang Betty dipandang sebelah mata, dia terkenal dengan sebutan si anak beasiswa, rata-rata temannya sangat congkak, tidak ada yang mau dekat dengannya, kecuali seorang pemuda kurus berambut merah yang sangat terpesona akan kecantikan Betty dan rambut panjang hitamnya, yang hanya mampu memandang diam-diam dan memilih duduk di belakangnya.

Dia adalah Robert Wotton, anak dari pemilik Wotton Dairy Farm -peternakan sapi yang memproduksi dan menjual susu kedua terbesar di Fort Bragg. Robert sebenarnya lebih memilih belajar di sekolah negeri, tapi karena orangtuanya sejak SD sampai SMA bersekolah di Redwood Private School, dia pun harus mengikuti jejak kedua orangtuanya. Robert tidak merasa bangga bersekolah di sekolah yang menggembar-gemborkan mutu pelajaran dan fasilitas tersebut, selain itu sebagian besar temannya adalah anak orang kaya dan suka menyombongkan diri, toh sekolah negeri juga memiliki mutu yang sama bagus. Robert mengira dia akan bosan di sekolah, tapi semenjak melihat Betty, dia menjadi bersemangat. Membutuhkan waktu tiga bulan bagi Robert untuk meyakinkan diri berkenalan secara langsung. Robert langsung menawarkan Betty untuk mengunjungi peternakannya dan melihat anak sapi karena Robert tahu Betty menyukai hal tersebut, sejak itu mereka tak terpisahkan.

2003-2012 dan 2019-2020

Rhonda Roth sangat mencintai Wotton Farm, rumahnya dan tidak bisa pergi dari sana karena banyak objek indah untuk dijadikan lukisan. Wotton Farm sekarang sangat luas, Stephens Farm yang dulu menjadi peternakan terbesar di Fort Bragg kini sudah menyatu dengan Wotton Farm. Rhonda kecil terkenal gemuk, hanya beberapa orang saja yang bilang sebaliknya, salah satunya adalah Gregory Drew. Orangtua Greg bekerja di Wotton Farm, dia juga satu-satunya teman Rhonda, walau kadang kakak Rhonda, Henry juga sering bermain dengan mereka. Rhonda menganggap Greg adalah temannya, walau Greg selalu merasa bahwa dirinya adalah pelayan Rhonda, melihat status yang mereka miliki. Hubungan mereka mulai berubah ketika Rhonda bersekolah, dia tidak membutuhkan Greg lagi, Rhonda menemukan teman-teman baru. Hal tersebut membuat Greg sedih dan kesepian, ditambah ketika Rhonda akan meninggalkan Wotton Farm, bersekolah dan kuliah di Boston, membuat Greg tidak bisa lagi bertemu dengan Rhonda.

Beberapa tahun kemudian, Rhonda berhasil masuk kuliah di School of Museum of Fine Arts bahkan sukses mengadakan pameran lukisan. Rhonda merindukan Wotton Farm, dan tanpa ingin diakuinya, juga merindukan Greg. Greg melewatkan masa-masa berharga bagi Rhonda, salah satunya pameran pertamanya, dia berharap kembalinya ke Wotton Farm akan disambut hangat, sama seperti dulu. Perpisahannya dengan Greg bisa dibilang tidaklah baik, terasa dingin dan meninggalkan tanya. Greg pun pada mulanya cukup antusias karena dia akan bertemu kembali dengan Rhonda, tapi begitu tahu Rhonda datang tidak sendirian, dia menarik diri, dia menyadari lagi akan posisinya, bahwa dia adalah pelayan dan tidak pantas untuk Rhonda, dia adalah majikannya. Mereka tidak pernah saling mengungkapkan perasaan, hanya merasa tidak pantas untuk satu sama lain. Berita Rhonda bertunangan dan akan segera menikah dengan pengusaha sukses, Brandon Rasensky membuat Greg patah hati, dia pun memutuskan untuk pergi dari Wotton Farm dan memulai kehidupan dari awal.

Namun, apakah Greg akan berdiam diri ketika hal buruk menimpa sahabatnya dan mengancam keselamatan Rhonda serta nasib Wotton Farm kelak?
"Terkadang risiko memang harus diambil untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan."
"Nana, rasanya... rasanya aku jatuh cinta pada Rhonda," kata Greg.
"Baru jatuh cinta? Karena kupikir kau sudah jatuh cinta padanya sejak dulu."
Jujur saja, cukup sulit membuat resensi The Lady in Red tanpa harus membeberkan twist yang ada tapi sekaligus bisa mencakup semua cerita intinya, selain itu cerita di buku ini memiliki timeline yang sangat panjang, bercerita tentang beberapa generasi sehingga salah satu tantangan adalah membuat resensinya tidak terlalu panjang, walau tetap saja saya merasa jatuhnya bakalan panjang juga, hehehe. Ini adalah kali pertama saya membaca tulisan Arleen A. -padahal penulis sudah menelurkan ratusan buku anak dan beberapa buku dewasa, bisa dibilang sangat mengesankan. Ketika membaca saya merasakan gaya tulisan Arleen A layaknya perpaduan antara tulisan Nicholas Spark dan Sandra Brown, minus adegan dewasa yang vulgar. Kisah cinta yang menghangatkan hati dan terasa klasik, tokoh yang mudah disukai serta memiliki chemistry yang kuat, setting tempat indah yang digambarkan secara detail, dan konflik yang menggigit. Membacanya sangat mengalir sekali, menggunakan alur maju walau ada beberapa flashback. Peternakan sapi, ladang gandum, hutan Redwood, setting Amerika yang kental membuat The Lady in Red layaknya buku terjemahan.

Kalau kalian pernah membaca karya Jojo Moyes - The Girl You Left Behind, maka akan menemukan plot yang hampir mirip dengan buku ini. Ada dua setting waktu yang sangat berbeda dan terpaut jauh, tapi keduanya memiliki benang merah yang membuat cerita merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Buku ini dibagi menjadi tiga bagian, seperti tahun yang saya tuliskan di atas, 16 bab pertama bercerita tentang kisah cinta Betty Liu dan Robert Wotton, sisanya, total ada 59 bab dan epilog, bercerita tentang masa kecil Rhonda dan Greg, kemudian kisah di masa kini. Di sela-sela bab akan ada interlude yang diceritakan seperti dongeng, yang sebenarnya memiliki makna sama dengan cerita tokoh utamanya, saya rasa di bagian ini penulis menunjukkan kehebatannya mendongeng, melihat sudah ratusan buku anak yang ditulisnya. Untuk memahami peran para tokohnya, pembaca dibantu dengan adanya pohon keluarga, sehingga tidak perlu merasa terintimidasi akan setting waktu yang panjang dan banyaknya tokoh yang ada. Semakin ke belakang pembaca akan bisa menyusun sendiri puzzle yang disebar oleh penulis.

Sebenarnya penulis bisa saja melewatkan bagian tentang Betty Liu, tapi Wotton Farm tanpa Betty Liu maka tidak ada artinya. Bisa dibilang dia adalah nyawa dari Wotton Farm, perannya sangat terasa, pun tokoh lain yang tidak memiliki porsi banyak, kehadiran mereka melengkapi jalinan cerita, membuat cerita utuh dan tersusun dengan runtut, sehingga tidak akan ada tanya ketika kita menutup buku ini, tidak ada plot hole. Kalau disuruh memilih cerita bagian mana yang paling saya suka, maka saya memilih cerita tentang Rhonda dan Greg. Kisah cinta mereka tidak jauh berbeda dengan yang dialami Betty Liu dan Robert, kisah cinta si kaya dan si miskin, sangat cheesy memang, tapi Arleen A membuat kisah mereka jauh dari kata membosankan. Emosi para tokoh dari lintas generasi tersebut mudah sekali kita rasakan. Rhonda tidak yakin akan perasaanya kepada Greg, dia takut cintanya akan ditolak, sedangkan Greg merasa rendah diri, statusnya yang hanya sebagai pekerja dirasa tidak pantas bersanding dengan Rhonda. Sedangkan kisah cinta bagian Betty dan Robert tidak banyak mendapatkan gangguan, mereka hanya dua muda mudi yang malu berkenalan, tapi sangat yakin akan perasaan masing-masing.

Tokoh favorit saya di buku ini adalah Greg, karena perasaanya sangat tulus bagi Rhonda, sangat terasa sekali ketika Rhonda mulai mendapatkan teman selain dirinya, kemudian meninggalkan Wotton Farm, Greg sangat kehilangan. Sedangkan bagian favorit saya adalah ketika Greg mengajak Rhonda berdansa di pinggir hutan dan menciumnya, romantis sekali :p serta ketika keduanya mengungkapkan perasaan kepada Nana, terasa lucu, sama-sama memiliki perasaan cinta tapi tidak menyadarinya. Tidak banyak kekurangan, hanya saja saya berharap selain pohon keluarga ada denah Fort Bragg, khususnya wilayah Wotton Dairy Farm dan Stephens Farm sehingga membuat buku ini tambah lengkap. Saya juga kurang menyukai kavernya, tapi kalau ingin menunjukkan kesan misteri, hal tersebut tersampaikan dengan baik, karena buku ini memang mengandung misteri juga.

Buku ini memang bercerita tentang kisah cinta, tapi ada dendam masa lalu yang membalut kisah tersebut, ada kisah misteri bahkan sedikit thriller di dalamnya, menjadi konflik utama di mana melibatkan Wotton Dairy Farm dan Stephens Farm. Walau ada beberapa adegan dewasa, tidak ditunjukkan secara eksplisit, masih aman untuk dibaca. Kalau kalian bosan dari gempuran cerita Metropop dan Amore, Arleen A. menyuguhkan kisah cinta yang lain daripada yang lain, memberikan angin segar walau tema cerita cinta tersebut sangat mainstream, kisah cinta yang terasa klasik tapi tidak usang. Kisah cinta asli penulis dalam negeri yang terasa terjemahan. Saya berharap penulis banyak menghadirkan kisah cinta yang bernuansa seperti ini lagi, tentu dengan formula yang berbeda.

4 sayap untuk Wotton Dairy Farm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...