Senin, 13 Juni 2016

Resensi: Insecure Karya Seplia

Judul buku: Insecure
Penulis: Seplia
Editor: Midya N. Santi
Desain sampul: Orkha Crative
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-2766-2
Cetakan pertama, 2016
240 halaman
Buntelan dari @LiaSeplia
- Zee -
Jangan menatap luka dan memar di tubuhku.
Jangan berani bertanya apa yang terjadi.
Menjauh saja dariku.
Hanya dengan begitu, aku merasa aman.

- Sam -
Meski orang lain menganggap otak gue nggak guna, setidaknya tubuh gue selalu siap menjadi tameng untuk melindungi orang-orang yang gue sayang.
Buat gue, itu lebih dari sekadar berguna!

Zee Rasyid dan Sam Alqori satu bangku di tahun terakhir SMA mereka. Sikap Zee yang tertutup perlahan melunak dengan kehangatan yang ditawarkan Sam.

Apalagi ketika Zee melihat kondisi keluarga Sam yang sederhana, berbeda jauh dari kehidupannya dengan sang mama.

Pelan-pelan kedekatan Zee dan Sam membuat kepribadian masing-masing berubah. Hidup yang mereka jalani tak lagi terasa aman.
Insecure bercerita tentang Zee dan Sam, dua murid SMA yang sedang menjalani tahun terakhir di sekolah. Zee sangat tertutup dan pendiam, dia jarang bisa bersosialisasi sehingga dia dipindahkan ke kelas yang terkenal bermasalah, dengan tujuan Zee tidak lagi apatis dengan sekitarnya dan memiliki teman. Satu-satunya murid yang mau duduk dengan Zee hanya Sam, anak paling bandel di sekolah, sering terlambat, sering melawan guru dan membolos. Sikap Sam yang nyablak dan semaunya sendiri membuat Zee mau nggak mau harus meladeni apa pun yang diciptakan Sam, terpaksa memberi contekan dan sedikit demi sedikit membuat Zee lebih terbuka, walau hanya sekadar berbicara.

Sam mengerti apa yang dialami Zee, ada sesuatu yang dirahasiakannya, terlebih ketika Komisi Perlindungan Anak (KPAI) datang ke sekolah mereka dan memberikan penyuluhan tentang kekerasan pada anak, Zee sedikit menarik diri. Sam yakin lebam-lebam yang selama ini coba disembunyikan Zee tidak berasal dari jatuh di kamar mandi, Sam ingin membantu Zee, karena dia juga pernah mengalami hal yang sama, dia anak korban KDRT, dan dia sangat tahu bagaimana sakitnya, baik secara fisik maupun psikis. Selain itu, hanya Zee yang bisa mengerti Sam, akan impiannya, akan kemampuan yang Sam miliki ketika dia berencana menjadi Polisi.

Mereka berdua adalah dua orang yang sama-sama terluka dan berusaha lepas dari ketakutan, berusaha menemukan penyembuh dan kebahagiaan.
"Di situlah kekurangannya, Sam. Mereka yang bisa di semua bidang akan ragu ketika diminta menekuni satu bidang saja."
"Ternyata kita tidak bisa belajar untuk mencintai, sebab hati kita akan mencintai dengan sendirinya. Jauh dari dalam lubuk hati ini, kita tahu sebenarnya kepada siapa hati kita memilih jatuh."
"Kita bisa belajar lebih kuat dari pengalaman buruk. Jadi sosok yang lebih baik ke depannya."
Kali kedua membaca karya penulis setelah Replay, di mana membuat saya menunggu-nunggu karya berikutnya. Keduanya memiliki tema cerita yang terbilang berat, di buku pertama tentang bunuh diri, di buku keduanya ini bercerita tentang kekerasan pada anak dan KDRT. Bedanya, Replay masuk ke label Young Adult, sedangkan Insecure masuk ke Teenlit, mungkin karena tokoh di buku ini masih SMA sehingga memiliki label yang berbeda, walau dari segi genre keduanya sama-sama bergenre mental illness, salah satu genre favorit saya. Dari segi penyampaian konflik, walau tidak detail, cukup tergambarkan dengan baik, pembaca dengan mudah memahami dan apa yang harus dilakukan kalau mengalami hal tersebut, kemana harus melapor. Misalkan saja kalau mengalami kekerasan pada anak maka KPAI tempat kita mengadu, dan kalau mengalami KDRT, kita bisa meminta bantuan Komnas Perempuan.

Dari segi gaya bercerita, saya lebih menyukai Replay, di sana terasa mengalir sekali, tidak kaku. Sedangkan di Insecure bagian awal membuat saya susah beradaptasi, harus sedikit demi sedikit menyelami apa yang dirasakan oleh kedua tokoh utamanya karena baik dialog maupun narasi terasa kaku, tidak semengalir buku debut penulis. Mungkin karena penulis baru pertama ini menggunakan sudut pandang orang pertama, di mana Zee dan Sam menjadi narator secara bergantian tiap bab -di Replay penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga. Penulis harus menyelami karakter Zee dan Sam yang bertolak belakang lebih dalam, penulis harus menjadi dua pribadi yang memiliki sifat bertentangan, Zee yang pendiam sedangkan Sam yang sangat vocal.

Kekakuan sangat saya rasakan pada diri Sam, terlebih pas adegan ketika dia memalak makanan dari teman-temannya. Karakternya digambarkan sebagai badboy, semaunya sendiri, sering menentang perintah guru, ditakuti di sekolah, tidak segan-segan berantem dengan seseorang kalau ada orang yang disayanginya dilukai, misalkan saja ibu, kakak, dan sahabatnya, Vini. Awalnya aneh, tapi seiring saya membaca sampai akhir, Sam tetaplah Sam, ya memang begitu karakternya, karakternya konsisten. Mungkin ini tantangan yang dihadapi penulis, membuat karakter yang berjenis kelamin berbeda dengan dirinya. Tidak ada masalah untuk karakter Zee, dia digambarkan perempuan yang lemah, dia menerima apa saja yang dilakukan ibunya karena dia takut kehilangan, hanya dia satu-satunya keluarga yang Zee punya, karena Zee butuh ibunya. Mungkin sifat Zee ini bikin geregetan karena tidak bisa tegas dan terlalu menarik diri, tapi biasanya memang orang seperti itulah yang mengalami kekerasan, yang tidak bisa melawan dengan dalih tidak memiliki siapa-siapa.

Pun dengan karakter yang lain, semua konsisten, kalaupun ada yang berubah, lebih ke perubahan karena permasalahan yang dihadapi. Misalkan saja awalnya Sam tidak memiliki cita-cita, masa depan yang cerah tidak dibuat untuk orang miskin seperti dirinya, tapi berkat semangat orang-orang yang menyayanginya, Sam yakin, akan ada sebuah kesempatan untuk mengubah kehidupannya. Sifat pesemis ke optimis semacam ini yang saya maksud. Kemudian, salah satu yang saya lihat dimiliki penulis, dia selalu bisa membuat tokoh pendamping terlihat menarik tanpa mengurangi fokus pembaca ke tokoh utamanya. Saya sangat menyukai karakter Ibi dan Vini, berharap mereka memiliki cerita tersendiri :D.

Ada beberapa adegan yang saya suka, terlebih ketika saya mulai terbiasa dengan karakter Sam -yang memang seperti itu- dan mulai menyukainya, ada di bagian tengah ke belakang, ketika dia banyak menghabiskan waktu dengan Zee yang membantunya untuk mengikuti ujian menjadi polisi, ketika Sam hampir melupakan ujian ketika kondisi Zee cukup mengenaskan demi menemani dirinya. Dan adegan yang melibatkan Ibi dan Vini, karakter favorit saya di buku ini adalah Ibi, hahaha. Saya juga suka penulis menyelesaikan semua permasalahan kedua tokoh utamanya.

Walaupun masih ada sedikit kekurangan, buku ini sangat recommended, tema berat pada ceritanya penulis sampaikan secara ringan dan mudah diterima siapa saja. Selain itu, buku ini juga bercerita tentang makna keluarga, persahabatan, dan meraih impian.

3.5 sayap untuk polisi Ibi yang kece :p.


NB: Kalau kalian sudah baca, jangan lupa diresensi dan ikuti lomba di bawah ini :D


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...