Sabtu, 04 Juni 2016

Resensi: Cress (The Lunar Chonicles #3) Karya Marissa Meyer

Judul buku: Cress (The Lunar Chonicles #3)
Penulis: Marissa Meyer
Penerjemah: Jia Effendi
Penyunting: Selsa Chintya
Design cover: @hanheebin
Penerbit: Spring
ISBN: 6027150580
Cetakan pertama, Juni 2016
576 halaman
Early Review
Cinder dan Kapten Thorne masih buron. Scarlet dan Wolf bergabung dalam rombongan kecil mereka, berencana untuk menggulingkan Levana dari takhtanya.

Mereka mengharapkan bantuan dari seorang gadis bernama Cress. Gadis itu dipenjara di sebuah satelit sejak kecil, hanya ditemani oleh beberapa netscreen yang menjadikannya peretas andal. Namun kenyataannya, Cress menerima perintah dari Levana untuk melacak Cinder, dan Cress bisa menemukan mereka dengan mudah.

Sementara itu di Bumi, Levana tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu pernikahannya dengan Kaisar Kai.
Di buku sebelumnya, Scarlet, Marissa Meyer mempertemukan Cinderella dengan Little Red Riding Hood, di buku ketiganya ini, Cress, penulis mempertemukan dua tokoh utama dongeng legendaris tersebut dengan Rapunzel, sebuah dongeng yang berkisah tentang seorang putri kerajaan yang dikurung di menara tinggi dan memiliki rambut yang sangat panjang. Cress sebenarnya pernah muncul di buku pertama, Cinder, tapi baru kali inilah kita akan mengetahui cerita lengkap tentang dirinya. Kalau Cinder adalah seorang mekanik dan Scarlet seorang pilot, maka 'profesi' Cress adalah seorang peretas atau hacker.

Cress tidak memiliki ingatan jelas akan masa kecilnya, yang dia tahu, dia diserahkan oleh orangtuanya kepada Ahli Sybil Mira, salah satu penyihir kepercayaan Ratu Levana, karena dia adalah seorang shell. Cress bersikap baik dan patuh tanpa pernah melawan karena dia berharap akan dibebaskan, tapi itu hanya harapannya semata. Pada mulanya Cress tinggal di bulan bersama para shell yang lain, menanti ajal, tapi Sybil Mira tahu akan potensi yang dimiliki Cress, kemudian dia diasingkan di sebuah satelit selama tujuh tahun dan menjadi programmer sang Ratu, dia diperintahkan untuk menyembunyikan pesawat orang-orang Bulan dari deteksi orang Bumi, memata-matai para pemimpin Bumi, membuat orang Bumi tidak waspada akan apa yang direncanakan oleh Ratu Levana. Dan sekarang dia diperintahkan untuk mencari keberadaan Cinder.

Walau hanya tinggal sendirian di satelit, kemampuan Cress di bidang teknologi membuatnya tahu keadaan di Bumi sekarang ini, banyak korban tewas akan kekejian Ratu Levana, dan itu hanya permulaan saja. Dia harus memberitahu Kaisar Kai bahwa Ratu Levana tidak akan menghentikan perang kalau dia menikahinya, demi aliansi. Dia akan membunuh dan menguasai seluruh dunia, itulah tujuan sebenarnya. Hanya ada satu kesempatan Cress untuk memberitahu Kaisar Kaito tentang niat sesungguhnya Ratu Levana, melalui Linh Cinder, gadis yang melarikan diri dari Penjara New Beijing. Dengan kemampuannya sebagai peretas, Cress menghubungi Cinder di mana tidak ada orang lain yang bisa mendeteksi keberadaanya.

Di sisi yang lain, dengan menumpangi pesawat Rampion 214, pesawat kargo militer yang dicuri oleh Thorne, Cinder bersama sekutunya yang baru Wolf, mantan petarung dan Scarlet, menyusun rencana untuk melawan Ratu Levana. Rencana mereka adalah membuat pengalihan di hari pernikahan Kaisar Kaito dengan Ratu Levana, mengumumkan kepada dunia bahwa Putri Selene yang hilang telah kembali, menuntut Levana untuk menyerahkan mahkota dan kekuasaan Bulan. Selain itu, Cinder juga berlatih mengontrol pikiran orang lain, kekuatan miliknya yang baru-baru ini dia ketahui, kekuatan yang akan sangat dibutuhkan ketika menghadapi musuhnya, dengan Wolf sebagai pelatih, yang tahu benar bagaimana kekuatan ini bekerja karena seumur hidupnya dia dijadikan 'senjata' oleh orang Bulan.

Dan untuk melancarkan semua rencana tersebut, Cinder membutuhkan bukti tentang rencana Levana yang selama ini dia lakukan untuk menguasai Bumi. Cinder tahu siapa yang akan dihubunginya untuk dimintai bantuan, seseorang yang telah memberitahu rencana sebenarnya Ratu Levana di pesta dansa. Usaha untuk saling bertemu dan bekerjasama tersebut tentu tidak semudah perkiraan, hal tersebut membuat mereka tercerai berai. Cinder harus berurusan dengan Jacin Clay, pengawal penyihir Sybil yang terpaksa ikut dengannya dan menghadapai Wolf yang sulit dikendalikan dan terluka parah, Cinder terpaksa menunda rencana dan menemui Dokter Erland. Scarlet sendirian dan menjadi tawanan di Bulan. Cress dan Thorne terdampar di gurun Sahara, Cress yang belum pernah menjejakan kaki di Bumi dan Throne yang kehilangan penglihatannya. Akankah semuanya akan berkumpul kembali?
"Kurasa aku juga punya pengakuan." Cress menekan gaun di sekitar betisnya, wajahnya memerah." Aku... aku jatuh hati kepadamu, sebelum kita bertemu, hanya dengan melihatmu di netscreen. Aku dulu percaya bahwa kau dan aku ditakdirkan bersama, suatu hari, dan bahwa kita akan mengalami romansa yang epik dan hebat."
Cress merapikan gaun di sekitar lututnya." Scarlet ini... kau jatuh cinta kepadanya, ya?"
Wolf membeku, diam seperti patung. Saat hover membumbung di atas bukit menuju istana, bahu Wolf membungkuk, dan dia mengembalikan pandangan ke jendela. "Dia Alfa-ku," gumamnya, dengan kesedihan menghantui dalam suaranya.
Alfa.
Cress mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan sikut di lututnya. "Seperti bintang?"
"Bintang apa?"
Cress membeku, mendadak malu, dan mundur lagi dari Wolf. "Oh. Eh. Dalam konstelasi bintang, bintang paling terang disebut alfa. Kupikir, mungkin maksudmu ini adalah... seperti... bintangmu yang paling terang."
Whoaaaahhhh, cerita yang cukup panjang tapi juga menegangkan! Sebenarnya alurnya lumayan cepat walau bagian awal pace-nya terkesan lambat, berhubung banyak cerita dan tokoh yang disorot secara terpisah, tapi makin ke belakang makin seru dan nggak bisa berhenti baca saking penasaran dengan apa yang selanjutnya terjadi. Sudut pandangnya melalui orang ketiga, seperti buku sebelumnya, cerita seperti dibagi menjadi beberapa bagian melalui para tokohnya yang saling berpencar. Kalau di buku kedua Perancis menjadi primadona settingnya, di buku ketiga kita akan diajak berkunjung ke belahan negara yang lain, khususnya Afrika. Cinder, Wolf, Jacin bertemu dengan Dokter Erland di Afrika, Thorne dan Cress terdampar di gurun Sahara yang kering kerontang, menghadapi panasnya pasir dan resiko dehidrasi, Kaisar Kai di New Beijing sibuk menyiapkan pesta pernikahan, dan Scarlet di Bulan menjadi tawanan. Setiap bab bergulir saling bergantian menceritakan apa yang terjadi dengan masing-masing tokoh tersebut.

Hal inilah yang membuat cerita terkesan lambat tapi di sisi lain juga cepat karena cerita tidak disusun dalam satu frame, kesan lambat paling saya rasakan di bagian cerita Kaisar Kaito, karena terkesan repetitif, banyak mengulang cerita tentang Cinder, tentang yang terjadi di Perancis. Bagian paling sedikit tentang Scarlet, bisa saya pahami karena saya yakin porsi dia akan banyak di buku terakhir, melihat dengan siapa dia bertemu. Bagian Cinder dan Cress saya rasa seimbang, walau sebenarnya saya lebih berharap Cress memiliki porsi yang dominan melihat dialah yang menjadi sorotan di buku ini. Alur bagian Cress juga sedikit lambat karena ada beberapa bagian yang dideskripsikan secara detail, terlebih ketika di gurun, tapi saya cukup senang dengan pengaturan tersebut karena memang membutuhkan waktu untuk membangun chemistry antara Cress dan Thorne, latar belakang tentang dirinya juga tersampaikan dengan baik sehingga kita akan dihadapkan pada twist yang baru. Bagian Cinder sendiri cukup cepat melihat dia seperti dikejar waktu dan banyak yang harus dia lakukan.

Konflik utama The Lunar Chronicles memang cuma satu yaitu melawan Ratu Levana, tapi membaca cerita masing-masing tokoh yang saling terpencar menimbulkan subkonflik baru dan semakin seru, menjadikan buku ini terasa penuh dengan berbagai isi tapi juga saling berkaitan. Di bagian Kaisar Kai, selain sibuk mempersiapkan pesta pernikahan dia juga melakukan sesuatu yang positif untuk kaum cyborg yang tentu saja tidak mudah diterima. Cress dengan kondisi tidak pernah bersosialisasi dan baru sekali menapakkan kaki di Bumi, hal yang selalu dia impikan tetapi malah harus dihadapkan pada kondisi yang sulit, terlebih Thorne tidak bisa melihat, Cress harus menjadi mata bagi Thorne agar mereka bisa selamat dan bertemu kembali dengan Cinder. Wolf sendiri merana karena terpisah dengan Scarlet, membuat dia susah dikendalikan. Cinder tidak tahu Jacin ada di pihak siapa, konflik terbesar yang dihadapi Cinder menurut saya di buku ini adalah ketika dia harus menggunakan kekuatannya dan melibatkan Wolf, dia juga mendapati bahwa ternyata orang Bulan yang ada di Bumi mendukungnya untuk mengalahkan Ratu Levana. Dokter Erland menemukan fakta baru bahwa letumosis bisa bermutasi dan orang Bulan tidak lagi kebal dengan penyakit tersebut. Scarlet yang mendapatkan siksaan mental dan fisik.

Penokahan karakternya, Kai masih saja galau menentukan perasaan pada Cinder, dan saya juga geregetan dengan pilihannya, rasanya tidak tegas dan terlalu menye untuk ukuran seorang Kaisar. Cinder jauh semakin kuat, pun dengan Scarlet walau dia banyak mengalami tekanan. Wolf sangat rapuh di buku ini, bisa dipahami karena dia kehilangan alfa-nya. Thorne masih saja humoris, melalui Cress yang ternyata sudah sejak lama mengamati Thorne, kita akan tahu lebih banyak pribadi tentangnya, bahwa di balik sikap urakannya dia memang seorang pahlawan sejati. Walau kondisinya bisa dibilang sangat sulit, Thorne tidak menyerah, dia masih saja bersikap sebagai lelaki, tidak membiarkan Cress cengeng menghadapi kesulitan yang mereka alami, membuat Cress menjadi kuat, meyakinkan bahwa mereka berdua akan bisa melewati semua masalah. Cress sendiri bisa dibilang introvert, polos dan apa adanya, walau terlihat lemah, dia selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik bagi teman-temannya. Cress juga mudah sekali dibohongi, mungkin karena sebelumnya dia selalu sendirian sehingga mudah percaya begitu saja, dia juga tak malu menunjukkan perasaanya pada Thorne, saya rasa dia memang pantas disandingkan dengan Thorne.

Kalau buku pertama bisa dibilang cukup galau, buku kedua sangat romantis, maka di buku ketiga ini sangat humoris, yah karena Thorne mendapatkan porsi yang cukup banyak. Wolf masih menjadi tokoh favorit saya di serial ini terlepas dia tidak mendapatkan banyak adegan dan sedikit rapuh, sedangkan bagian favorit saya adalah ketika Cress dengan polosnya ingin dicium Throne, hahaha. Iko keren banget deh, dia masih cerewet dan centil. Saya juga suka cover Cress versi terjemahan!

Saya nggak sabar membaca buku terakhirnya, bagaimana semua permasalahan ini akan berujung? Saya menebak Jacin yang akan menjadi pasangan Putri Winter, selain itu kosong, nggak tahu bagaimana cerita akan berakhir. Semoga Spring segera menerbitkannya sehingga rasa penasaran saya segera tuntas. Buku ini sangat recommended bagi kalian pecinta fairy tales rettelling.

4 sayap untuk si hacker berambut panjang.



14 komentar:

  1. Wah Sulis udah baca dan review aja.. keren :D
    Ya.. buku 3 ini lucu.. banyak adegan mengundang tawa.. suka sama kapten throne dan cress. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, paling humoris dari sebelumnya, jadi penasaran nanti buku keempat kayak gimana :D

      Hapus
  2. AAAAAH. Jadi penasaran. (Padahal buku 1 dan 2 masih ditimbun)
    Buku ketiga ini kapan terbitnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya bentar lagi deh, kang, tungguin aja :)

      Hapus
  3. Aku baru tahu kalo tiga buku ini semacam retelling dongeng yang udah terkenal. Aaaaakkk...aku suka dongeng banget, kudu nabung buat beli tiga bukunya :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo dibaca, recommended deh, selain fairy tales retelling, The Lunar Chronicles ini juga masuk genre dystopia :)

      Hapus
  4. Reviewnya lengkap, Kak ^^ senangnya bisa tau gimana kilasan cerita di Cress

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukurlah, bukunya cukup tebal dan banyak banget yang dibahas penulis jadi agak panjang reviewnya dan berharap bisa mencakup garis besar cerita :)

      Hapus
  5. Penasaran banget sama Lunar Chronicles, terutama Cress yang diangkatnya dari Rapunzel, karena aku suka banget Rapunzel! Semoga abis lebaran bisa kebeli semuanya :D

    BalasHapus
  6. Reviewnya kereeenn... ^^
    Buku keempatnyaaa. Hm, luar biasa (nggak mau spoiler duluan). Hehehehe.
    Tambah seru pokoknya. Haha.
    Setuju sama kata-kata "Thorne adalah pahlawan sejati."
    Jatuh cinta sama karakter Thorne. <3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, yah jadi tambah pingin segera baca Winter, kan, tanggung jawab! :))

      Hapus
  7. Fufufufufu. :D
    Sabar-sabar. Hehehehe. Doakan aja prosesnya lancar mbak. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aminnnn, semoga segera terbit biar nunggunya nggak kelamaan XD

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...