Senin, 09 Mei 2016

Resensi: Satu Mata Panah Pada Kompas yang Buta by Suarcani | Blog Tour + #KuisBuku

Judul buku: Satu Mata Panah Pada Kompas yang Buta
Penulis: Suarcani
Penyunting: Yenita Anggraini
Perancang sampul: eSLC Project
Penerbit: Jendela O' Publishing House
Cetakan pertama, Maret 2016
226 halaman
Buntelan dari @JOPHouse
Bisa dibeli di @bukupediacom
Kompasmu, apakah kamu memperhatikannya? Ada dua arah di sana. Utara dan selatan. Sama halnya seperti matamu sendiri, arah itu menyelamatkanmu dari kesesatan.
Tapi kompas milikku buta. Tidak ada utara selatan dalam hidupku, semua hanyut dalam ketakutan dan masa lalu. Lima belas tahun penjara mencuri jarum kompasku dan setelah bebas, aku pun masih belum tahu ke mana arah hidupku.
Aku pembunuh, korban hasrat yang menyimpang. Dunia luar menungguku, berpura-pura menyambutku dengan semarak, untuk kemudian kembali meremukkanku dalam ketakutan.


Aku butuh jalan, butuh mata kompasku. Apakah kamu bisa membantuku menemukannya?
Aku Ravit, bekas tahanan yang kini kembali terpenjara rasa takut.
Kali kedua membaca karya dari Suarcani, dimana merupakan buku debutnya dan menjadi juara pertama lomba menulis Way Back Home yang diadakan oleh Jendela O' Publishing House yang bertema self dicovery, tentang cerita perjalanan yang mendewasakan, tentang pelajaran hidup yang penuh ujian dan sarat makna, tentang menemukan jati diri, passion, dan arah hidup. Saya tidak heran kalau buku yang memiliki judul cukup panjang dan amat menarik ini menjadi juara, semua komponen tersebut ada dan tersampaikan dengan baik. Bisa dibilang Satu Mata Panah Pada Kompas yang Buta adalah sebuah buku perjalanan spiritual di mana tokoh utamanya pada mulanya adalah orang yang hopeless, lalu sebuah perjalanan menyelamatkan dirinya, menemukan salah satu kompas yang masih berfungsi dan menuntun untuk menemukan jalan terang, jalan pulang.

Ravit masuk penjara ketika dia akan berusia empat belas tahun, menghabiskan masa remaja di sana dan terbebas lima belas tahun kemudian. Pasca keluar dari bui, Ravit tidak memiliki tujuan pasti, hanya Om Rus, pengacara sekaligus kerabat ibunya yang dia punya yang dengan senang hati membantu dan memenuhi kebutuhan hidup, tapi keluarga Om Rus tidak bersahabat dan enggan bila Ravit tinggal bersama mereka. Ravit tidak bisa kembali ke rumah ibunya yang penuh kenangan buruk, dia ingin memulai hidup baru. Ravit mencoba indekos, tapi hal tersebut malah mengingatkannya akan luka lama yang ingin dia hapus. Om Rus pun menawarkan sebuah paket liburan ke Bali, siapa tahu dengan meninggalkan Depok, Ravit bisa keluar dari penjara barunya, yaitu penjara rasa takut.
"Namamu Ravit, bukan?! Aku baca di KTP." Uci memastikan. "Jadi Ravit, apa pun yang sedang kamu takuti, dari apa pun kamu sedang berlari, Bali bisa membantumu. Kuncinya, kamu hanya harus menemukan jalan yang tepat untuk mengapainya."
"Be... benarkah?"
Dia mengangguk.
"La... lalu bagaimana caranya menemukan jalan itu?"
"Dengan menemukan orang yang bisa memandumu dengan tepat."
"Tidak bisa dicari sendirian?"
"Punya peta atau setidaknya kompas?"
Intonasinya datar, bahkan terkesan menyindir. Namun entahlah, bulu kudukku agak meremang. Mata Uci serupa magnet yang tidak membiarkan mataku lepas. Kelamaan darahku berdesir, lubang jarum infus yang tersemat di lenganku terasa berdenyut. Ada esensi lain dari pembicaraan ini.
Aku menggeleng pada akhirnya.
"Aku bisa memandumu. Ada banyak tempat di Bali yang tidak masuk dalam tur wisata mana pun. Mungkin, tempat-tempat itu bisa menjadi kompasmu."
Dari segi genre, buku pertama dan buku kedua yang ditulis Suarcani mungkin kedengaran berbeda, tapi memiliki makna yang sama, yaitu tentang mencari kebahagiaan dan pencarian jati diri. Keduanya pun menggunakan Bali sebagai latar cerita, tempat di mana penulis berasal, jadi jangan heran kalau penulis 'menguasai medan'. Keduanya pun berbau mistis, walau bisa dibilang buku kedua lebih ceria daripada buku pertamanya ini, ada humornya. Buku ini bisa dibilang cukup gelap, kesedihan tokoh utamanya cukup terasa, gambaran orang yang benar-benar tidak tahu kemana langkahnya berjalan dan selalu diliputi ketakutan bisa dirasakan dengan mudah, baru ketika tokoh Uci masuk, cerita lebih berwarna, ada kalanya sangat serius, ada kalanya sebuah harapan akan muncul, ada senyum yang tersembunyi di baliknya.

Ravit digambarkan orang yang introvert, merasa tidak memiliki masa depan karena kejahatan yang pernah dia lakukan. Masa lalunya mendukung Ravit untuk menarik diri, bagian tersebut sangat menarik buat saya. Uci sebaliknya, dia memiliki suntikan semangat dan yakin kalau Ravit bisa berubah, dia sedikit misterius, sangat tegas dan percaya diri. Jangan harap akan ada kisah cinta muda mudi, ada kisah cinta dalam bentuk yang lain, kok, jadi tenang saja :D.

Banyak kebudayaan dan sesuatu khas Bali yang penulis angkat, hal-hal yang jarang ditemui di kebanyakan buku yang berlatar pulau Dewata ini, mengukuhkan kalau Bali tidak hanya Kuta, ada yang menarik bahkan mistis yang sering terjadi di kehidupan nyata. Misalkan saja ketika dibawa ke daerah Sebatu, kita akan dikenalkan dengan tradisi melukat, menyicipi tuak khas Bali dan melihat dan memahami apa itu kerauhan, berkunjung ke tempat pemujaan atau Asrham, apa itu Tilaka dan Shaktipat, indahnya waterpalaeis atau taman air di Karangasem, dan beberapa tempat serta istilah yang sebelumnya tidak pernah kita dengar sebelumnya. Suarcani mengenalkan Bali lewat sisi yang berbeda.

Yang sangat membuat penasaran dengan buku ini adalah alasan dibalik kenapa Ravit dipenjara diusia yang masih sangat muda, bagian itu sukses membuat saya penasaran dan tidak sabar menemukan jawaban. Kejamnya, penulis tidak semudah itu membocorkan secara langsung, sembari Ravit menemukan kompasnya, sesekali penulis akan menceritakan kisah masa lalunya, kembali lagi ke masa sekarang, melanjutkan kisah masa lalunya lagi, dan seterusnya. Semua diceritakan secara runtut dan penuh kesabaran tapi tidak berbelit-belit. Alurnya bisa dibilang cukup cepat. Saya memang sengaja tidak menceritakan isi buku ini secara detail seperti biasanya, karena kelebihan buku ini ada pada proses kehidupan yang dijalani Ravit, apa saja yang dia lakukan di Bali, semua hal tersebut akan lebih terasa efeknya bila dibaca sendiri.
"Kamu tahu, tiga permata hidup yang paling berharga bagi manusia?"
"Satu, kesehatan. Tanpa kesehatan kita tidak akan bisa nyaman dan damai menjalani hidup, meski punya harta melimpah."
"Kedua, kedamaian dan ketenangan. Dengan hidup damai dan tenang, maka kita bisa mencapai kesejahteraan lahir dan batin."
"Tiga, cinta kasih yang sejati."
"Hidupmu bukan hanya untuk berkorban demi masa lalu."
Kalau kalian mencari cerita setipe Eat, Pray, Love, Five People You Meet in Heaven, atau The Alchemist, buku Satu Mata Panah Pada Kompas yang Buta ini memberikan napas yang sama, mungkin saja dengan membaca buku ini kalian juga menemukan kompas yang selama ini dicari-cari :D Recommended bagi siapa saja, memang ada bagian yang cukup dewasa, bukan karena ada adegan kipas, bukan, lebih ke tema lain di buku ini yang tidak bisa saya ceritakan karena nanti mengurangi kenikmatan kejutan, jadi, baca sendiri aja ya XD.



Atau, kalian bisa mendapatkan buku ini secara gratis lewat #KuisBuku, berikut langkah-langkahnya :p
Ada satu buku Satu Mata Panah Pada Kompas yang Buta bagi satu pembaca yang beruntung, berdomisili di Indonesia, syaratnya antara lain:
1. Follow blog Kubikel Romance via Google+ atau GFC
2. Follow akun twitter @JOPHouse, @alhzeta, dan @peri_hutan
3. Share link postingan ini di sosial media yang kamu punya dengan menyertakan hastag #SMPKB, boleh mention ketiga akun di atas
4. Tulis apa saja, bebas kalian mau berkomentar apa (tentang buku ini, tentang apa yang kalian tahu tentang Bali, dsb.) di kolom komentar di bawah, jangan lupa menyertakan akun twitter kalian ya biar kalau menang mudah dihubungi.

Itu saja, nggak usah susah-susah, KuisBuku berlangsung sampai tanggal 14 Mei 2016, pengumuman pemenang paling lambat dua hari setelah batas waktu yang ditentukan di postingan ini juga. Semoga beruntung :D

*UPDATE*

Langsung aja, pemenang kuis buku ini adalah...

(nanti pas tanggal 28 Mei ya, hehehehe, pas ask author di akun @JOPHouse)

Selamat ya, nanti akan saya hubungi untuk konfirmasi pengiriman hadiah, buat yang lain jangan bersedih, masih banyak kuis buku yang bisa kalian ikuti di Kubikel Romance, terus follow dan pantengin. Buat yang belum beruntung kalian masih berkesempatan mendapatkan buku ini secara gratis di blognya @kimfricung, info lebih lengkap silakan lihat di banner, semangat! :D

*Update*

Pemenangnya adalah @AlifanaSilvana

25 komentar:

  1. Wah, dari review mba Sulis buku ini sarat dengan bukan hanya pelajaran hidup tapi juga perjalanan, dibumbui juga dengan misteri, menarik yg baru baca reviewnya untuk baca full bukunya karena sudah dibuat sangat penasaran!

    Semoga aja beruntung bisa dapat gratisan buku ini dalam rangkaian blogtournya :D

    @nunaalia

    BalasHapus
  2. Bismillahirrahmanirrahim..
    setelah baca review diatas, aku jadi penasaran dengan kehidupan Ravit.
    semoga aku bisa ketemu Ravit alias bisa dapetin buku ini, aamiin.

    Twitter : @MR_Laros

    BalasHapus
  3. @rinicipta

    Baru tau kalau naskah ini merupakan pemenang pertama di kompetisi Way Back Home. Dulu pernah tau info kompetisi ini wara-wiri di timeline. Tapi akunya nggak ikutan. Eh malah bahas yang ini wkwk.. Tapi aku setuju sih, novel ini sesuai dengan temanya. Aku tertarik dengan novel seperti ini kak, selain dapat baca kisahnya kita juga dapat inspirasi. Segelap apapun kehidupan Ravit, aku yakin pasti ada hal yang menjadi turning poin dalam hidupnya yang membuat hidupnya lebih baik. Baca novel ini kesannya membaca buku biografinya Ravit yang memberikan pelajaran berharga untuk kita melalui caranya tersendiri.
    Well, kalau soal Bali aku nggak bekomentar banyak. Pulau ini selalu menjadi tempat yang spesial bagiku. Segala sesuatu tentang Bali membuatku rindu. Udah gitu aja *makin homesick* Seneng banget, makin kesini makin banyak penulis yang mengeksplor sisi lain Bali yang tidak kalah eksotis dibandingkan pantai dan obyek wisata lainnya :)

    BalasHapus
  4. Nama: Julia Hartini
    Twitter :@juliahartini
    Jawaban:
    Pertama pingin bahas cover bukunya dulu. Bagi aku covernya menarik banget karena penuh dengan rahasia dengan satu mata dan berwarna kelabu. Pas banget sama isi bukunya (aku hanya baca review aja) yang ngomongin soal pencarian jati diri dan kebahagiaan. Karena sejatinya, keduanya masih terasa membingungkan bagi manusia. Ngomong-ngomong soal Bali, pulau yang terkenal sebagai pulaunya para dewa itu menyimpan ribuan mitos dan kepercayaan masyarakatnya. Itu yang membuat khas tersendiri bagi Pulau Dewata. Pulau yang terkenal juga dengan indahnya panta-pantai dan gelora ombak serta ikan-ikan yang tercantik di dunia. Jadi kepingin banget ke sana. Mungkin, buku ini bisa memerikan pulau Bali dengan sangat unik dan mengagumkan. ^^

    BalasHapus
  5. Satu kata menarik.

    Pertama kali melihat cover ini diunggah di twitter, judulnya sudah menggelitik, panjang tapi terasa dalam. Covernya juga membantu membuat buku ini semakin memiliki magnet untuk disukai. Lalu karena memang ada giveawaynya jadi aku berkesempatan membaca review dari host-host terdahulu. Tapi jujur di sini, digambarkan lebih jelas akan daya tarik novel ini.

    Aku merasa ada lokalitas kental yang ingin diangkat penulis dengan memilih Bali sebagai tempat mengobati luka kehidupannya. Lebih menarik lagi dikatakan berbau mistis, ini juga nambah poin yang membuatku sangat tertarik. Karena apa-apa yang berbau mistis itu asyik untuk diungkap. Dan aku jadi penasaran juga kenapa di usia mudah, Ravit sudah masuk pejara?

    @ratnaShinju2chi

    BalasHapus
  6. Judul dan cover buku ini sama-sama menarik. Dijamin bikin pembaca penasaran. Terkesan unik dan penuh misteri. Ditambah lagi sinopsis dan riviewnya Mba Sulis membuat kesan misteri di buku ini semakin terasa dalam. Kisah Ravit sebagai tokoh utama tidak kalah menarik, kisah hidup dengan masa lalu yang tertutup misteri membuat saya tergelitik untuk mengorek siapa Ravit sebenarnya dan apa yang terjadi pada masa lalunya. Di usia yang masih sangat belia Ravit harus merasakan dingin dan kerasnya jeruji besi, tidak tanggung2 sampai 15 tahun! Dosa besar apa yg sudah diperbuatnya sampai mendekam begitu lama di penjara?!? Selain itu penulis juga mampu membuat saya semakin penasaran dengan mengangkat Bali sebagai latar tempat cerita ini. Sisi lain dari Bali yang diceriatakan penulis menjadi daya tarik tersendiri. Bali yang selama ini dikenal dengan keindahan pantai dan alamnya ternyata memiliki banyak tradisi dengan ritual-ritual yang masih kental dengan kekuatan mistis membuat saya semakin penasaran utk memenangkan GA ini.
    Nama: Sari Rahmawati
    Twitter: rie_bundaAzka

    BalasHapus
  7. @APradianita

    BALI MERUPAKAN PULAU GADIS DENGAN DADA TERBUKA.. :D

    Fakta yang satu ini pasti akan membuat teman-teman tercengang. Bila kita kembali pada tahun 1900-an maka kalian tidak akan percaya jika kehidupan masyarakat bali pada zaman itu sangat jauh berbeda dengan sekarang. Pada waktu itu Bali terkenal karena daya tarik wanitanya dimana para gadis Bali selalu memperlihatkan dada mereka. Kalian terkejut? Begini ceritanya. :D

    Berdasarkan buku karya seorang doktor berkebangsaan Jerman yang bekerja untuk pemerintah kolonial Belanda, Greogory Krause menyebutkan bahwa para orang Eropa yang menjadi wisatawan pertama yang ke Bali tertarik bukan karena alamnya yang indah melainkan karena gadis-gadisnya yang tidak memakai baju. Sangat fulgar memang tp inilah kenyataannya. Apakah kalian jadi ingin pinjam mesin waktunya doraemon? :D

    BalasHapus
  8. Bebas kan mau cerita apa aja? Jangan salahkan aku ya kalau jadi curhat :D

    Pas baca review ini, terus mengenai ravit jadi inget, aku pernah baca artikel di luar negeri, aku lupa negara apa seorang siswa SMA yang baru lulus dan mendapatkan nilai tertinggi pas dia bicara di podium dia bilang, dia justru takut. Dia setelah lulus mau kemana? Tujuannya apa? Karena dia biasanya selalu menuruti perkataan guru. Disaat teman2nya melakukan apapun yang dia mau dengan bebas. Dia nggak. Dia selalu menuruti perkataan guru. Dia.. merasa jadi budak terbodoh. Dia nggak tau setelah lulus nanti mau kemana, sudah nggak ada lagi orang yang memberi perintah. Dia nggak tau mau menuruti perintah siapa dan itu membuat dia sangat takut.

    Pas baca artikel itu, saya pun merasa demikian.
    Saya bukan orang yang pintar, saya juga tidak terlalu menuruti perintah guru, PR pun saya sering nyontek. Tapi saya takut, ketika menghadapi dunia tanpa aturan dari guru. Seperti nggak ada lagi panutannya. Seperti orang yang tersesat. Saya lulus. Saya lulusan SMK yang mana setelah itu saya harus menghadapi dunia baru, pekerjaan. Hampir setahun saya jadi pengangguran tanpa arah. Jadi buruh pabrik mungkin tujuan utama para lulusan SMK. Karena saya pengangguran tanpa arah, buruh publik pun tak mau menghampiri saya meski surat lamaran kerja sudah tersebar dimana2. Saya jadi berfikir, kalau kita nggak mau mengakrabkan diri dunia pun enggan menghampiri. Jadi untuk menghilangkan rasa takut, ya.. mencoba mengangkrabkan diri, meski ini sulit sekali di awal tapi hasil akan kita raih di akhir.


    Udah ah.. numpang curhatnya :D
    Bye...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf ketinggalan akun twitternya @KDP264

      Oh iya, lanjutin yang di atas.

      Saat ini saya sedang belajar untuk mencari keahlian saya. Karena keahlian itu tidak akan punah.

      Hapus
  9. Nama: Yohana Siallagan
    Link share: https://twitter.com/MrsSiallagan/status/730271007466905600
    Jawaban :
    Berdasarkan review diatas , saya cukup penasaran dengan jalan cerita, apa yang menyebabkan seorang remaja belasan tahun dipenjara ? apa yang sudah diperbuatnya?Dia ingin menemukan kompasnya dengan hidup yang damai .Dia belum bisa melupakan dan memaafkan dirinya sendiri . Tetapi dia pergi kebali untuk memulai hidup yang baru...
    Jujur saja , saya belum pernah mengunjungi Bali , Berbicara tentang Bali, Bali adalah pulau dewata yang paling terkenal didunia .Orang menyebutnya ‘’Heaven of God’’ karna bali memang surga dunia yang menawarkan keindahan alam , budayanya yang kaya dan unik , keramahtamahan penduduknya, masyarakat yang menjunjung tinggi adat istiadat dan kecintaan masyarakat akan seni yang amat tingggi .Hampir semua Pulau Dewata ini memiliki banyak pantai.Bali memang sangat terkenal bahkan saking terkenalnya orang luar tidak tahu dimana Indonesia yang mereka tahu hanyalah Bali dengan ke eksotisannya . Setiap tahun berjuta-juta turis datang untuk menikmati keindahan Bali .
    Saya justru tertarik dengan Suarcani mengenalkan Bali lewat sisi yang berbeda . Bagaimana sebenarnya Bali itu ?Bagaimana adat nya ? apakah ada sisi misterius Bali ?Dimana dan apa saja . Saya memang sangat mengidolakan Bali .Bali adalah daftar teratas tempat yang ingin saya kunjungi karna keindahannya yang tidak dapat digambarkan dengan kata-kata .

    BalasHapus
  10. @hensus91
    Aku baru sekali datang ke Bali waktu study tour SMA. Selama tiga hari di Pulau Dewata itu aku tidak bisa terlalu mengenal Bali karena harus mengikuti jadwal panitia. Paling lama di satu lokasi wisata hanya satu jam sebelum terburu-buru kembali ke bus dan memulai perjalanan lain. Maka melalui buku ini aku ingin bisa mengenal Bali lebih baik lagi. Mengikuti perjalanan Ravit mengelilingi Bali dengan sudut pandang yang berbeda pasti akan lebih menarik. Apalagi di review disinggung tentang tempat-tempat yang tidak masuk dalam tur wisata mana pun. Mungkin dengan membaca buku ini, selain pelajaran hidup yang diberikan juga informasi tentang budaya, adat dan kekhasan Bali, aku juga bisa mendapatkan referensi tempat-tempat wisata mana yang bisa dikunjungi dan lain dari yang lain. Jadi kalau suatu saat ada rejeki dan berkesempatan ke Bali bisa deh dikunjungi. Aamiiin.

    BalasHapus
  11. @RaaChoco

    Tulis apa saja, bebas kalian mau berkomentar apa (tentang buku ini, tentang apa yang kalian tahu tentang Bali, dsb.)

    Aku ga nyangka, anak seumur itu sudah menghadapi masalah yang begitu pelik tanpa adanya keluarga. Usia 14 tahun dipenjara, kesalahan apa yang sudah Ravit lakukan? Rasanya seperti hidup terombang ambing dilautan, seorang diri dan tak punya tujuan. Tanpa pengalaman hidup dalam pendewasaan diri, tanpa harapan, perhatian juga rasa percaya diri menghadapi kehidupan, Ravit diharuskan berjalan menuju masa depan. Tanpa arah, begitulah keadaan Ravit yang benar-benar sangat membutuhkan kompas untuk memulai petualangan hidupnya yang tertunda.

    Aku jadi berpikir, apa selama ini aku dan kita semua sudah benar-benar menemukan siapa dan bagaimana jati diri kita sebenarnya?

    Bali.
    Aku belum pernah kesana, cuma mendengar dari orang-orng dan melihat lewat tv atau foto. Semoga ada kesempatan untuk mengunjungi Bali dan merasanya secara langsung. Pulau dengan sejuta pesona yang sering tidak diketahui jika itu ada di Indonesia :)

    BalasHapus
  12. @oneonlygzb

    Aku ingin bercerita tentang novel yang misterius ini dan kejadian Ravit yang tak asing terjadi di negara kita, miris ya?
    Ah, aku jadi penasaran dan kepo asal mula sang penulis menulis cerita ini, cerita yang sangat menyentuh relung hatiku dan menyentil

    Yang membuatku berubah pikiran bahwa seorang pidana tak selamanya terpidana, saat ia keluar dari kegelapan maka seharusnya kita mengulurkan tangan untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan, ketakutan dan memberikan mereka motivasi dan inspirasi
    Seseorang yang bersalah bukan berarti tak pernah bisa mendapatkan kesempatan untuk memperbaikinya

    Bagaimana Ravit ingin keluar dari keatakutan dan mencari arah tujuannya selama ini yang hilang tak terarah?
    Bagaimana dan siapa yang akan mengeluarkannya dari penjara ketakutan?
    Bagaimana Ravit berdamai dengan masa lalu yang kelam?
    Dan setegar apa Ravit menghadapi masalahnya?

    Reviewnya sedikit tapi mampu membuatku ingin terhanyut dalam perjalanan cerita Ravit.
    Membuatku bertanya-tanya, apakah di dunia nyata ada juga mengalami hal yang sama di alami Ravit?
    Dan aku ingin sekali rasanya mencari mantan narapidana yang putus asa lalu menyerahkan novel ini pada mereka, hehehe

    Terlepas dimana Ia mencari kompasnya, aku jauh lebih tertarik dengan karakter tokoh menghadapi semua permasalahan dan usahanya, menemukan kompasnya.
    Dan aku ingin tahu, sisi positif apa lagi yang akan aku dapat dari membaca novel ini setelah yang kusebutkan tadi?

    Kalau Bali sih aku belum pernah kesana yaa hanya melihat dari televisi dan Chef Farah Quinn menjelaskan tentang Bali melalu akun media sosialnya.
    Yang ku tahu tentang Bali yaa surganya Indonesia,pemandangan indah yang memanjakan mata, pantai Kuta, Denpasar, Turis yang ramai di pantai-pantai sana, juga orang hindhu sana penganut sistem kasta.
    Jadi, aku tak bisa bicara banyak mengenai Bali, hehe.

    BalasHapus
  13. @kuzuri87

    Membaca ulasan ini membuat saya mengacungi jempol pada penulisnya. Jati diri, arah, tujuan hidup sudah mulai banyak terkikis. Apalagi generasi milenial yang haus akan idola, sering kali melupakan siapa dirinya yang sebenarnya. Hingga kadang tak mengenal dirinya sendiri. Saya yakin, buku ini akan membawa pencerahan tersendiri bagi banyak pembaca muda yang tengah terombang-ambing pada samudra kehidupan ini.

    BalasHapus
  14. @Alifanasilvana

    Banyak alasan yang bikin aku sangat ingin memiliki buku ini.
    Dari cover, judul, latar belakangnya yang merupakan juara satu lomba menulis, sampai tema dan isinya. Apalagi setelah tahu kalau Ravit dipenjara di usia tiga belas, hampir empat belas, ya? Wah, menarik.

    Aku gak penasaran apa yang bikin Ravit dipenjara, justru sempat terpikir mungkin Ravit seorang psikopat, aku suka cerita psikopat. Sudah banyak kudengar berita kekerasan dan tindak kriminal yang dilakukan anak di bawah umur. Memang miris, menyesakkan, bahkan memuakkan, tapi aku gak mau cuma diam. Yang bikin aku penasaran dan sangat sangat sangat ingin baca adalah perjalanan spiritual Ravit setelah dia keluar dari penjara. Bagaimana dia keluar dari penjara ketakutannya? Bagaimana dia menemukan mata kompasnya? Karena aku juga punya rasa takut atas banyak hal, kemudian aku takut dipenjara oleh rasa takut itu.

    Ravit seorang introvert, begitu pun aku dan beberapa anak di sekolahku. Aku berteman dengan mereka tapi berinteraksi seperlunya. Aku sangat bersyukur, mata kompasku masih berfungsi. Aku sih cuma remaja yang masih mencari jati diri, berusaha mendewasa dengan baik, dan memiliki keinginan untuk membantu remaja lain agar jangan sampai seperti Ravit. Aku ingin jadi psikiater, siapapun yang membaca ini, tolong do'a kan ya. Do'a kan Indonesia memiliki generasi yang bisa menggerakkan negeri kita ke arah yang lebih baik. Do'akan juga aku menang, eh...

    Mengenai Bali, sudah ribuan kali aku dengar bahwa pulau itu indah dan eksotis. Semoga saat aku berkunjung ke sana, keindahannya masih bertahan, tidak dirusak para pendatang. Aku penasaran juga dengan sisi Bali yang berbeda yang ditulis dalam buku ini. Elizabeth Gilbert si penulis Eat, Pray, Love pernah ke Ubud. Kak Ollie Salsabeela, penulis buku Passport To Happiness, juga pergi ke Ubud untuk menenangkan diri dari masalahnya. Aku percaya, Bali bisa menyembuhkan.

    Terima kasih penerbit Jendela O' Publishing House untuk blogtour dan kesempatan giveawaynya.
    Terima kasih kak Suarcani sudah menulis buku yang keren ini.
    Terima kasih kak Sulis sudah membebaskan aku dan para pemburu buku lain untuk berkomentar. Maaf ya, komentar ini panjang dan jadi kaya curhatan.

    BalasHapus
  15. @realdianmrani93

    Padahal disuruh bebas mau komentar apa, tapi aku malah kebingungan mau nulis apa. Kalau alasan mau baca buku ini karena aku belum pernah baca buku tentang mantan napi. Kalau cerita tentang Bali, paling aku taunya Kuta atau tempat wisata yang sering disorot ditipi-tipi.
    Hmm, aku jadi mau cerita tentang mantan napi aja deh. Jadi, pernah suatu hari, mamaku lagi duduk-duduk di teras toko kami, aku duduk di dalam. Jadi, ada bapak-bapak yang nggak terlalu muda tapi belum terlalu tua juga. Mungkin umurnya kisaran akhir 30an. Dia adalah mantan napi Lapas Malabero. Kebetulan, rumahku hanya berjarak kurang lebih satu kilo dari lapas itu. Dia membawa sebuah kertas, surat pernyataan pembebasannya. Setelah membaca perkara dia dipenjara dan melihat cap basah disurat itu, mama ku pun mempersilahkan bapak itu duduk di teras.
    Usut punya usut, dia dulunya adalah sopir bus dan menabrak seseorang hingga meninggal di daerah Bengkulu Selatan. Itulah perkaranya sehingga dia bisa di-penjara-kan. Hari itu adalah hari pembebasannya, tapi tidak ada yang menjemputnya karena kebetulan dia bukan orang Bengkulu. Aku lupa asal bapak itu darimana. Jadi, maksud dia membawa surat itu adalah untuk meminta sumbangan sukarela bapak/ ibu yang dia temui untuk dijadikan ongkos pulang ke daerahnya. Sayangnya, sepertinya banyak yang tidak terlalu memercayai bapak itu sehingga uang yang didapat setelah berjalan sekitar satu kilo itu belum cukup untuk membeli tiket bus. Percaya tidak percaya, mamaku memberikan rupiah kecil dan minuman kepada bapak itu, dan meminta maaf kalau belum bisa membantu banyak. Bapak itu sepertinya sangat senang melihat uluran tangan dari mamaku seolah mungkin mamaku lah yang baru memercayai ceritanya.
    Kini, kalau membaca tentang napi, kadang teringat pada bapak itu. Semoga bapak itu tidak dipandang sebelah mata hanya karena catatan hitamnya itu.

    BalasHapus
  16. @PidaAlandrian92

    Banyak pujian aku tuangkan untuk buku satu ini. *Luar Biasa*. Dan novel ini berbeda dari novel-novel pada umumnya *menurutku sihh yaa*, karena menceritakan ttg seseorang mencari jati dirinya sendiri. Jadi seakan-akan bagi pembaca sedang membaca kisahnya sendiri.

    Banyak orang di zaman sekarang ini menganggap dirinya sudah dewasa, padahal dlm hal kenyataannya jangankan dewasa, tingkat melewati fase remaja aja rasanya belum pas. Dan buku ini cocok banget untuk orang2 yg sedang mencari bagaimana cara mendewasakan diri dan mencari jati dirinya sendiri.pasti di dalamnya banyak hal2 yg di sampaikan secara tak langsung oleh penulis.

    Aku takjub dengan review yg di buat. Bisa menjelaskan dgn ulasan singkat ttg isi bukunya. Dan membuat aku sedikit faham ttg sekilas isi gambaran bukunya.

    Salam Pida Alandrian

    BalasHapus
  17. Dikasih berapa sayap, Mbak? kok nggak ada sayapnya lagi nih? xD

    BalasHapus
  18. @putripramaa
    Karena diminta berkomentar apa saja, aku ingin menceritakan tentang apa yang kurasakan mengenai Kak Suarcani. Tadi, tepatnya saat aku sedang malas-malasnya membaca buku biologi, aku membaca tweet dari Mbak Didiet. Dia mengatakan kurang lebih begini: 'Sejahat-jahatnya orangtua, hanya mereka yang akan tetap menyerukan doa untukmu, bahkan ketika kamu sudah melepas doamu untuk mereka'. Itu adalah salah satu petikan dari novel The Stardust Catcher, novelnya Kak Suarcani juga. Aku merasa tertonjok, ingat-ingat lagi apakah aku pernah melepas doaku untuk orang tuaku. Petikan ini bikin aku semakin penasaran dengan karya-karya Kak Suarcani, meskipun belum satupun aku punya novelnya, tapi aku sudah ingin memiliki novel Kak Suarcani.
    Ini masih petikan yang membuatku tertohok, bagaimana dengan novelnya nanti? Ini masih The Stardust Catcher yang katanya memiliki nuansa yang lebih ceria, lantas bagaimana dengan Satu Mata Panah pada Kompas Yang Buta? Apakah aku akan dibuat tertonjok lagi?
    Aku sungguh penasaran dengan 'healing' yang dilakukan oleh Ravit.
    Aku. Sungguh. Penasaran.
    Terima kasih.
    By the way, aku kangen Bali. :')

    BalasHapus
  19. Tau Suarcani waktu itu karena buku keduanya. Lalu berkenalan dengan buku pertamanya ini lewat judul dan blurb nya. Dan waktu itu saya langsng bilang sama diri saya sendiri bahwa buku ini wajib masuk list wajib baca.
    Tema yang diangkat sukses buat aku suka banget. Tentang pencarian jati diri. Buat seorang mantan narapidana pasti susah kan buat di terima kembali di masyarakat, melihat Ravit aku jadi penasaran apa yang akhirnya terjadi pada Ravit. Jati diri seperti apa yang akan dia temukan selama pencariannya. Dan penasaran juga kenapa anak seusia Ravit kala itu bisa dipenjara? Sampai 15th pula. Kejahatan apa sih yang dilakukan remaja sampai bisa dipenjara segitu lamanya? Ga ada bayangan muncul dikepalaku. Pembunuhan? Entahlah.
    Dan buat aku yang juga sedang dalam pencarian arah hidup, apa sebenarnya yang ingin kulakukan untuk hidupku, aku ingin melakukannya bersama dengan Ravit. Dengan membaca buku ini aku mau melihat cara apa yang Ravit gunakan untuk menjadi Ravit lagi dan melanjutkan hidup.

    @fetreisciafrida

    BalasHapus
  20. "Kamu tahu, tiga permata hidup yang paling berharga bagi manusia?"
    "Satu, kesehatan. Tanpa kesehatan kita tidak akan bisa nyaman dan damai menjalani hidup, meski punya harta melimpah."
    "Kedua, kedamaian dan ketenangan. Dengan hidup damai dan tenang, maka kita bisa mencapai kesejahteraan lahir dan batin."
    "Tiga, cinta kasih yang sejati."

    Setuju sekali dengan kutipan di atas.
    Apalah arti bergelimang harta kalo kita penyakitan ya.
    Alhamdulillah sampe hari ini masih dikasih kesehatan sama Allah SWT. :)

    Nama: Dian Maya
    Domisili: Makassar
    Twitter: @dianbookshelf
    Link share: https://twitter.com/dianbookshelf/status/731358819943489536

    BalasHapus
  21. @Agatha_AVM

    "Dengan menemukan orang yang bisa memandumu dengan tepat."

    Ravit dipertemukan oleh Uci untuk menemukan kembali jati dirinya dan memperoleh keberanian dalam menjalani hidup barunya. Pulau Dewata akan selalu memberikan kenangan tak terlupakan dan juga kekuatan dalam setiap hidup yang dijalankan oleh Ravit. Tidak lama lagi kompas milik Ravit akan kembali hidup. Kalau Ravit telah dipertemukan oleh Uci dan membawanya keluar dari kekelaman.

    Siapakah yang akan membimbingku? Lhooo ... Hheeeee

    Untuk review kakak seperti biasa simpel, padat dan jelas serta penuh makna. Apalagi kakak juga nggak mau melakukan spoiler. Jadi, penasaranku makin jelas deh. Proses Ravit meraih kembali hidupnya bikin aku pengin banget mempelajarinya.

    BalasHapus
  22. @Lenny1785
    Dari review diatas, buku ini menunjukkan sarat akan makna kehidupan. Bagaimana mantan narapidana menjalani hidupnya selanjutnya dan mengatasi ketakutannya? Dan mengapa Bali bisa membantu mengatasi ketakutannya dan mengapa bukan kota lain? Dua hal ini membuatku sangat penasaran sekali. Semoga aku bisa membaca buku ini. Wish me luck.

    BalasHapus
  23. Saya mau dpt buku ini, boleh?
    Alasannya krn saya penasaran buku seperti apa yg bisa memenangkan event JOP House
    Krn saya sudah ikutan dan gagal
    Kata Jop house tulisan saya kurang natural pada bagian percakapan
    Jadi saya ingin belajar bnyk dari buku ini

    Akun twitter : @TanyaFcsh_

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...