Jumat, 27 Mei 2016

Benarkah Orang Indonesia Tidak Suka Membaca?


Hai halooo good readers, jumpa lagi di postingan Let's Talk, tempat di mana saya mengemukakan pendapat akan sesuatu hal yang berhubungan dengan buku dan mengajak pembaca untuk turut serta mendiskusikannya juga. Kali ini saya menggabungkan postingan Let's Talk dengan Posting Bareng BBI untuk bulan Mei, di mana pada tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional sehingga tema bulan ini tidak jauh-jauh dari dunia perbukuan di Indonesia. Topik yang akan saya bahas adalah tentang minat baca, tentang isu benarkah orang Indonesia tidak suka membaca? Let's Talk.

Sebagai permulaan, saya akan memberikan berbagai data yang mengatakan kalau minat baca kita rendah, data saya ambil dari berbagai sumber. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), 91,68 persen masyarakat Indonesia lebih menyukai menonton televisi, masyarakat yang memiliki minat membaca hanya 17 persen. Sudah menjadi rahasia umum kalau budaya menonton lebih familier dengan budaya membaca. Tidak banyak yang melek aksara. Menurut hasil penelitian Programme for International Student Assesment (PISA), Indonesia berada di urutan 64 dari 65 negara yang disurvei dalam hal kemampuan matematika dan ilmu sains. Di level ASEAN, Indonesia kalah jauh dari Vietnam yang menempati urutan ke-20. PISA juga menempatkan Indonesia di nomor 57 dari 65 negara yang diteliti dalam hal kemampuan membaca siswa.

Data statistik UNESCO pada 2012 juga menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, dari 1.000 penduduk, hanya satu warga yang memiliki minat baca. Menurut indeks pembangunan pendidikan UNESCO ini, Indonesia berada di nomor 69 dari 127 negara. United Nations Development Proggrame (UNDP) atau Badan Program Pembangunan PBB, merilis bahwa angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,5 persen, jauh bila dibanding dengan negara tetangga Malaysia 86,4 persen. Berdasarkan hasil penelitian yang sama indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia berada pada posisi 108 dari 187 negara di dunia. Peringkat Indonesia memang lebih tinggi dari Myanmar, Laos, Kamboja, Vietnam, dan Filipina. Namun, jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Singapura, Brunai, Malaysia, dan Thailand.

Foto kiriman Kompas Data (@kompasdata) pada

Data Perpusnas menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia rata-rata hanya membaca 0 sampai 1 buku per tahun. Sedangkan di Amerika, dalam satu tahun rata-rata warganya membaca 20 hingga 50 buku per tahun dan Jepang 10 hingga 15 buku per tahun. Bahkan di Jerman mewajibkan para murid untuk menamatkan 22 sampai 23 buku. To Kill a Mockingbird karya Harper Lee menjadi bacaan wajib murid-murid di Amerika Serikat. Saya pernah bertanya di twitter apakah di Indonesia ada juga buku yang wajib dibaca murid selain buku pelajaran? Karena setahu saya tidak ada, dulu semasa sekolah saya tidak diwajibkan membaca, minimal satu buku pun. Salah satu teman penulis yang juga guru, Mbak Anggun menjawab bahwa ada sekolah Internasional di Tangerang menjadikan Bumi Manusia sebagai bacaan wajib kelas 10, dan di sekolah Internasional lain yang berlokasi sama, Orang-Orang Bloomington menjadi pilihan untuk kelas 10 juga. Mbak Alluna juga berbagi pengalaman, dulu di sekolah dia diwajibkan membaca karya dari Balai Pustaka.

Data di atas tentu saja miris, seburuk itukah minat baca orang Indonesia? Bahkan India yang sama-sama negara berkembang saja dalam hal perbukuan mereka jauh lebih maju daripada negara kita, bahkan penerbit luar memiliki cabang di India sehingga harga buku impor di sana jauh lebih murah. Kalau kata Mbak Hetih Rusli, salah satu edior senior di penerbit Gramedia, minat baca orang Indonesia sebenarnya tidaklah rendah, tapi daya bacanya yang kurang. Minat baca adalah meningkatkan kemauan dan ketertarikan dalam membaca buku. Sedangkan daya baca adalah kemampuan untuk mencerna buku dengan isi yang berat atau serius. Tentu daya baca akan berkembang setelah minat baca terlampaui.

Di sisi lain dari berbagai data statistik yang mengatakan kalau minat baca kita rendah, ada berbagai komunitas baca, penggerak literasi bahkan festival literasi yang bertujuan untuk membuat minat baca tumbuh berkembang. Dari komunitas baca, sebut saja Goodreads Indonesia di mana setiap tahun mengadakan event Indonesia Reader Festival (IRF), pestanya para pembaca buku yang dihadiri oleh berbagai kalangan dari seluruh Indonesia, saya pernah menghadiri dua kali sehingga bisa merasakan euforia-nya, bahwa ternyata tidak sedikit orang-orang yang mencintai buku dan gemar membaca, dari sana saya tahu ternyata lebih banyak lagi komunitas buku yang ada di Indonesia, mulai dari berbagai genre seperti pecinta fantasi, thriller, sampai Blogger Buku Indonesia. Selain itu ada juga Pecandu Buku, Klub Buku yang tersebar di seluruh Indonesia.

Dari penggerak literasi kita menganal adanya Kuda Pustaka, Pak Ridwan Sururi beserta kudanya yang bernama Luna berkeliling desa di sekitar kaki Gunung Slamet, Jawa Tengah untuk menyebarkan bacaan dan menumbuhkan minat baca anak-anak di desa yang jarang tersentuh buku. Lalu di Polewali Mandar, ada M. Ridwan Aimuddin dengan Perahu Pustaka, pergi berlayar ke pulau-pulau kecil dan pesisir Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan untuk memberikan bacaan gratis. Kemudian ada Taman Bacaan Pelangi yang digagas oleh Nila Tanzil, organisasi nirbala yang fokus dirikan perpustakaan anak-anak di Indonesia Timur, anak-anak di desa pelosok yang tidak memiliki akses buku sama sekali. Penulis Okky Madasari membuat komunitas Rumah Muara yang memiliki tujuan Sastra Masuk Kampung, mengenalkan sastra kepada orang-orang menengah kebawah, bahwa sastra bisa dinikmati semua kalangan. Lalu penulis Aan Mansyur juga mendirikan Perpustakaan Kata Kerja, di mana perpustakaan bisa juga menjadi media sosialisasi dan kolaboratif. Bahkan pemerintah kota Jakarta meluncurkan perpustakaan digital, iJakarta yang bisa diakses secara online dan gratis untuk siapa saja.

Kalau festival pembaca akrab dengan IRF, Festival literasi di Indonesia untuk para penulis atau yang akhir-akhir ini tenar dengan sebutan Pekan Gembira, antara lain ada Ubud Writers and Reader Festival, Makassar International Writers Festival, Borobudur Writers and Cultural Festival, Salihara Literary Biennale, Asean Literary Festival. Saya belum pernah mendatangi satu pun, tapi dari yang saya baca tentang festival tersebut, sebenarnya tidak hanya untuk penulis, tapi juga untuk para pembaca. Mempertemukan para penulis dengan pembaca, berdiskusi, mendapatkan ilmu. Sebuah pesta untuk orang-orang yang mencintai dunia literasi atau buku di Indonesia, dan saya lihat antusianya tidak kalah dengan festival lain, semua pecinta buku bergembira di sana.

doc @ICEIndonesia
Pada ajang obral buku impor yang diselenggarakan oleh Bid Bad Wolf baru-baru ini, terbukti bahwa peminat buku tidaklah sedikit, antrian untuk masuk mengular bahkan sempat dibuka sistem buka tutup, benar-benar luar biasa. Sebelumnya di Indonesia juga rutin diadakan obral buku, misalkan saja Indonesia Book Festival, Indonesia Internasional Book Festival, Kompas Gramedia Fair, dsb, jarang sepi pengunjung. Belum lagi kalau ada toko buku konvensional atau online book store mengadakan program khusus atau diskon besar, tidak jarang banyak pembaca kalap membeli buku. Tidak jarang juga banyak timbunan yang dimiliki oleh kutu buku.

Dari banyaknya komunitas buku, penggerak literasi, festival buku yang ada, benarkah orang Indonesia tidak suka membaca? Bahkan walau dibilang minat baca kurang, banyak penerbit dan penulis baru yang bermunculan, setiap bulan pasti selalu ada buku baru yang diterbitkan dan diminati pembaca. Banyak penulis yang tetap saja produktif menelurkan karya walau banyak yang bilang kondisi perbukuan di Indonesia sedang lesu, harga kertas mahal, pajak buku memberatkan, distribusi tidak merata, banyak toko buku gulung tikar. Penulis bestseller, Ika Natassa pernah menanggapi tentang #RUUBuku yang sedang digodok pemerintah yang juga bertujuan untuk menumbuhkan minat baca, bahwa sebenarnya masalah perbukuan di Indonesia itu hanya ada tiga; akses, harga, dan kualitas. Saya setuju dengan pendapatnya, karena memang itulah yang saya rasakan, yang saya alami sendiri.

Akses, saya tinggal di kota kecil yang jauh dari toko buku, perpustakaan tidak lengkap, di lingkungan saya jarang ada yang membaca buku karena hobi membaca dianggap langka, sehingga membaca belum menjadi kebiasaan, belum menjadi kebutuhan hidup. Baru ketika saya bersekolah di tempat yang lebih maju, saya mengenal taman bacaan, walau berbayar, saya menemukan buku yang sesuai dengan minat saya, dari sana mulai tumbuh minat baca walau hanya sebatas komik yang saya nikmati. Lalu ketika kuliah, ketika saya hijrah ke kota yang lebih besar, ada taman bacaan yang isinya lebih lengkap, berbagai macam genre buku tersedia dan bisa saya pinjam, ada beberapa toko buku yang bisa saya kunjungi, dari sana minat saya terhadap buku jauh berkembang. Lingkungan memang mempengaruhi. Dan kebiasaan bisa menular. Kebiasaan membaca harus dikenalkan sejak dini, bisa dimulai dari keluarga, sekolah, bisa dimulai hanya dengan baca buku 15 menit setiap hari.

Harga, saya berasal dari keluarga menengah di mana orang tua tidak pernah mengajak ke toko buku atau membeli buku, hanya buku pelajaranlah yang penting dan harus saya baca. Ketika saya menginginkan membaca buku apa yang saya suka, saya harus berusaha sendiri mendapatkannya, misalkan saja menabung dari uang saku. Uang saku saya tidaklah seberapa, dan untuk membeli sebuah buku harus mengumpulkan selama berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Saya tahu hal tersebut tidak akan pernah memuaskan bagi saya karena buku yang ingin saya baca banyak sekali, saya pun mencari cara lain, mencari buku gratisan atau mengikuti berbagai lomba tentang buku, misalkan saja resensi buku. Atau bisa juga berburu di obral buku seperti contoh di atas, yang menandakan bawah buku masih menjadi barang mewah, salah satu hobi yang mahal.

Kualitas, saya pernah mengunjungi perpustakaan sekolah dan daerah tempat saya tinggal, hanya sedikit yang saya minati, rata-rata buku di sana sangat lampau, tentang cerita rakyat atau dongeng masa lalu dan buku-buku terbitan Balai Pustaka, yang sudah sangat familier, jarang sekali ada buku baru. Belum lagi tidak ada bacaan wajib yang berkualitas, misalkan saja seperti Amerika Serikat dengan buku To Kill a Mockingbird-nya. Saya berharap perpustakaan sekolah menjadi media pertama buku dan pembacanya bertemu, banyak buku berkualitas yang dikenal melalui perpustakaan, entah itu buku terbitan lama maupun baru. 

Saya berharap buku bisa menyebar ke berbagai pelosok di Indonesia, tidak hanya kota besar saja yang bisa menikmati buku bagus, sedangkan di kota-kota kecil hanya buku tidak laku dijual, kami yang ada di daerah juga membutuhkan buku yang berkualitas, dengan harga yang terjangkau. Hal ini jugalah yang mendasari penggerak literasi yang sudah saya sebutkan di atas, bahwa buku seharusnya menjadi milik siapa saja, dinikmati oleh siapa saja, dan didapatkan di mana saja. Sehingga nantinya kita bisa mengubah stereotip menjadi, orang Indonesia suka membaca. 

Nah, menurut kalian benarkah orang Indonesia tidak suka membaca? Apa yang mendasari hal tersebut? Yuk tulis pendapat kalian di kolom komentar dibawah :D


Sumber:
di sini, di sini, di sini dan di sini.

38 komentar:

  1. Sebenarnya sih bukan tidak suka membaca mba, tetapi ya tadi, daya baca masyarakat Indonesia yang kurang. Minat baca masih kurang diatas rata-rata negara maju. Dan juga tadi harga, akses dan kualitas juga menentukan. Harusnya RUU ttg buku harus diperkuat lagi.

    Sayang sekali gue gak bisa ikut pameran buku diatas, banyak buku buku kren :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga ngrasa gitu, baca status berjam-jam kuat, baca cerita di wattpad atau media gratis lain juga sering, memang tiga masalah tersebut menjadi momok, semoga serius diatasi.

      Hapus
  2. masalah waktu juga, Lis. Itu bbrp temen ktr ku cerita waktu masih kuliah mereka sering baca novel fiksi tapi sejak kerja udah gak ada waktu dan akhirnya gak baca sama sekali dan akhirnya minat baca itu hilang total. Setelah pulang ktr, waktu luang mereka lebih suka dimanfaatkan dengan hang out atau nonton drakor drpd baca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kadang kupikir salah satunya, baca itu lebih butuh kerja otak daripada nonton. Karena yah, saat baca, otak kita juga harus berimajinasi membayangkan adegan-adegannya. Mencerna kata-katanya. Beda dengan nonton yang lebih santai. Nah buat yang udah kerja, berasa udah capek otak karena urusan ktr, jadi malas kalau harus mikir lagi.

      Hapus
    2. Nah, aku ngrasain banget juga ini, sejak kerja waktu untuk baca juga berkurang juga, dulu pas kuliah bisa baca 200an buku per tahun, setelah kerja bisa baca aja udah syukur banget, karena ya capek, ya prioritas udah berbeda juga, hahaha

      Hapus
  3. Aku juga baca tweetnya Ika Natassa waktu ngomongin RUU Buku. Iya setuju, tiga masalah itu memang perlu penanganan serius. Kantorku punya perpustakaan yang dikelola sama beberapa staff, setiap bulan buku-bukunya di update. Dan setiap ada buku baru alhamdulillah langsung banyak yang ngantri minjem. Berarti kan sebenernya masyarakat Indonesia nggak sedikit yang suka baca juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku mau pindah ke kantormuuuuu, seru banget sih, huhuhu

      Hapus
  4. semoga budaya membaca di Indonesia makin berkembang ya mbak. :)

    BalasHapus
  5. Wah mudah2an ke depan minat bacanya dapat berkembang lebih baik lagi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aminnnnnn, ayo melek aksara :D

      Hapus
  6. "perpustakaan sekolah dan daerah tempat saya tinggal, hanya sedikit yang saya minati, rata-rata buku di sana sangat lampau, tentang cerita rakyat atau dongeng masa lalu dan buku-buku terbitan Balai Pustaka, yang sudah sangat familier, jarang sekali ada buku baru."

    Bener banget Sulis, selama beberapa tahun aku kerja di perpustakaan; mulai dari perpus sekolah label international, perpus museum , perpus universitas negeri, perpus universitas swasta, hingga perpus sekolah negeri, perbedaan kontrasnya adalah di dana, terutama pengadaan buku.

    Masalah klasik sih, tapi dengan seiringnya komunitas baca, taman baca dan sebagainya membuktikan bahwa dana bukanlah faktor utama, tapi lebih ke niat yang tulus. Dan itu lagi aku praktekkan ketika kerja di perpus sekolah selama ini, ternyata bisa meski perpus sekolah seperti halnya perpus negeri pada umumnya yang terbentur dana, jika diniatkan bisa meningkatkan minat baca tanpa perlu mengeluarkan dana yang besar. Itu aja komen dari aku :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Luckty, mendapatkan realita dari yang setiap harinya menghabiskan waktu di perpustakaan :D Makanya itu, harapanku adalah perpustakaan isinya lebih kekinian, banyak pilihan, sehingga para murid bisa sering berkunjung dan menemukan apa yang mereka suka, bahwa perpustakaan itu seru juga, perpustakaan bisa dijangkau para murid tanpa mengeluarkan biaya untuk menikmati isinya.

      Hapus
  7. dibutuhkan banyak peprustkaan keliling ke desa2 , dan buku yang terbarukan di perpustakaan, karena melihat ada perpustakaan yan sudha puluhan athun bukunya itu2 saja gak ada yang baru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget! Perpustakaanya harus diupgrade, sayang banget, tempat udah ada tapi isinya nggak ada yang menarik

      Hapus
  8. Aduh, data-datanya bikin prihatin deh, kak. Kalau aku perhatiin teman-teman di sekolahku, sebenarnya minat baca mereka gak rendah, tapi buku yang diminati beda-beda dan cenderung pilih-pilih. Ada yang maunya baca buku yang sudah difilmkan saja, ada yang maunya baca buku sudah yang terkenal, berlabel best seller, ada yang cuma suka komik, pokoknya beda-beda deh. Sayangnya mereka gak berusaha mendapatkan buku yang disukai. Mereka malas ke toko buku, malas mengeluarkan uang untuk beli buku, akhirnya cuma mengandalkan teman untuk meminjam. Kalau dibandingin sama nonton film, memang jauh beda. Aku yakin, 100% teman-teman di kelasku suka nonton film. Mereka lebih mudah mengakses film di website penyedia film gratis, daripada mengakses buku. Semoga aja persentase minat baca dan daya baca masyarakat Indonesia terus meningkat, walaupun perlahan. Yang penting, komunitas dan orang-orang pecinta buku yang menyerah menyebarkan minat baca di seluruh negeri. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh typo, maksud aku, yang penting gak menyerah menyebarkan minat baca...

      Hapus
    2. Buku masih dianggap barang mewah dan untuk orang kelas atas, itu yang dicap masyarakat menengah kebawah karena daripada beli buku mending untuk membeli kebutuhan hidup yang lain, makanya aku ingin buku bisa dinikmati siapa saja, harga terjangkau, kalau udah menemukan keasikan, lama kelamaan akan beralih dari menonton ke membaca

      Hapus
  9. Kalo di sini sih karena aksesnya yang kurang sama harga buku yang mahal kak Sulis. Untunglah pas kuliah kemarin, kost aku deket sama perpus kota, ada gramed juga, terus pas pindah ke kota kabupaten ini, aku manfaatin toko buku online. Plus kiriman buku-buku dari kuis maupun pas jadi host blogtour. Ngebantu banget buat menemukan buku-buku bagus ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, kendala di daerah pelosok, jarang buku menyentuh mereka, aku aja dulu kalau kakakku yang kuliah di Jogja nggak bawa buku ketika pulang, mungkin aku nggak akan menyukai buku sampai sekarang

      Hapus
  10. Kalo menurut aku sih kak, sebenarnya orang Indonesia itu pada suka baca kok, hanya aja karena membaca masih dianggap suatu hal yang kurang begitu penting atau bukan termasuk kebutuhan, makanya membaca agak dikesampingkan. Soal harga buku yang cukup mahal, mungkin itu memang bisa dijadikan salah satu alasan tapi untuk mereka yang punya minat baca tapi minim budget. Kalo bagi mereka yang merasa buku itu gak begitu penting, aku rasa harga buku yang mahal gak bisa dijadikan alasan deh, soalnya aku pernah lihat harga kuas untuk bedak dihargai 70rb dan yang beli gak pake mikir, tinggal ambil aja. Kalo aku sih mending uangnya beli buku daripada untuk kuas bedak... hihi. Jadi, kasus kayak tadi itu bisa jadi salah satu bukti kalo buku dan juga membaca belum begitu penting atau belum termasuk kebutuhan sehari-hari.... hehe. *panjang amat yak komentnya -_-*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha, iya, beli makeup harga ratusan ribu aja bisa ya. Yang jelas kegiatan membaca belum menjadi budaya di negara kita

      Hapus
  11. Seperti kata JK Rowling: Setiap orang sebenarnya adalah pembaca, hanya saja (mungkin) mereka belum bertemu dengan buku yang tepat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap setuju, kalau udah nemu pasti nggak akan bisa dan mencari yang lain :)

      Hapus
  12. "Apakah di Indonesia ada juga buku yang wajib dibaca murid selain buku pelajaran?"
    Saya jawab ya: Ada.
    Saat saya SMA di SMA Negeri didaerah Jakarta Barat, guru Bahasa & Sastra saya mewajibkan 1 buah bacaan tentang karya sastra untuk dibahas dikelas saat jam pelajaran sastra tiba. Ada kalanya, setiap kelompok (@5orang) diwajibkan membaca 1 buah karya sastra lama yg berbeda dgn kelompok lainnya. Entah dengan jurusan lainnya seperti IPA/IPS, tapi saya di jurusan IPB (Ilmu Pengetahuan Bahasa & Budaya. CMIIW) pernah diwajibkan membaca karya sastra tertentu saat giliran jam pelajaran Bahasa & Sastra, dan itu berlangsung selama 2 tahun saya di SMA. Mungkin hal itu juga salahsatunya yg mendasari saya & bbrp tmn saya dari jurusan IPB jadi hobi membaca, walaupun kita tahu membaca bukan hobi tapi kebutuhan.

    Salam kenal, Mbak Sulis. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga, wah seru juga ya, semoga nanti sekolah-sekolah lain juga memiliki metode seperti itu, aku ingin banget 'baca buku masuk sekolah' :D

      Hapus
  13. Minat baca memang masalah yang sedang menjadi sorotan banyak pihak ya, sekarang?

    Sebenarnya aku pengin gitu dunia pertelevisian ikut membantu menegakkan dunia literasi kita. Dalam arti, ayolah bikin acara yang setidaknya ada 1/2 segmen yang khusus bahas dunia literasi/buku-buku gitu. Bersyukur banget kalau mau menayangkan diskusi buku, seminar, atau mungkin talkshow dengan para tokoh sastra gitu. Ah, mungkin bagi orang Indonesia: tayangan hiburan yang membodohi lebih bagus daripada tayangan edukasi yang menghibur.

    Hmmm kita bikin sendiri yuk Kak Sulis? Hahahaha.

    Berkunjung ke sini juga ya kk >> http://ach-bookforum.blogspot.in/2016/05/ada-apa-dengan-indonesia-dan-buku.html *ujung-ujungnya promo* Wkwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Agak susah sih karena televisi selalu mengejar rating, dan biasanya ada di sinetron atau acara yang penuh drama nggak penting XD

      Hapus
    2. Nah itulah masalahnya. Masyarakat mayoritas juga lebih menyukai drama2 nggak penting seperti itu. Aneh x_x

      Hapus
  14. Malas membaca buku tepatnya. Buktinya baca media sosial, artikel internet atau komik online bisa betah.
    Ada (baca: banyak) mahasiswaku yang disuruh baca buku aja malas. Ini tinggal baca aja lho...kenapa? karena nggak dibiasakan. Saya setuju budaya membaca itu harus masuk dalam kurikulum. Diwajibkan. Supaya akhirnya terbiasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga benar-benar digalakkan ya, sehingga bisa terbiasa

      Hapus
  15. belum menjadi kebiasaan. Murid2 di Indonesia (karena kurikulumnya yang terlalu berat nggak jelas dan sibuk mikirin nilai UN untuk kelulusan), tidak di"paksa" untuk bisa kenal buku dan membaca sebagai kegiatan asyik sejak dini. Jadi tereksposnya lebih dulu ke hal2 lain, seperti TV atau game online, atau media sosial kalau jaman sekarang. Buku seperti anak tiri yang dilupakan, hahaha.. semoga saja kurikulum kita bisa berubah, dan lingkungan juga bisa makin memaksa anak-anak Indonesia untuk kenal buku dan membaca sejak dini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kuncinya memulai kebiasaan membaca dari sekolah ya, semoga aja program baca buku setiap 15 menit sebelum pelajaran dimulai bisa mendorong minat baca kita :)

      Hapus
  16. Halo. Wah, kalo pendapatku ya, dibandingkan dengan jumlah rakyat Indonesia yg 250 juta orang banyaknya, orang-orang yg suka ato berminat membaca di negara kita ini masih sangat sedikit jumlahnya. Minat baca tidak bisa diukur dengan banyaknya komunitas/penggiat/festival/acara2 buku yg ada di Indonesia. Menurutku indikasinya bukan itu. Lihat aja cara berpikir kebanyakan orang Indonesia yg masih sempit, menurutku itu lebih bisa dijadikan indikasi. Kuat baca status di medsos dan baca cerita di wattpad juga bukan indikasi yg pas untuk mengukur minat baca kita. Dan problem kita tetaplah MINAT BACA, daya baca tuh nomor dua. Contohnya aku, aku berminat membaca tapi daya bacaku rendah banget. Orang suka baca status karena kepo, bukan karena berminat membaca. Yah, kalo aku sih lebih percaya statistik yg sudah kamu jabarkan di atas, Lis. Ini sih pendapatku ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah pendapat yang berbeda dari yang lain, nggak pa-pa mbak, namanya juga diskusi dan nggak ada salahnya kok :D.

      Hapus
  17. Halo, mudah-mudahan belum telat banget ikutan topik ini
    Ngerasa banget kebenaran data dan pengalaman kamu. Saya juga berasal dari keluarga menengah ke bawah, yang budget untuk beli buku nggak pernah ada sejak kecil. Dan, hobi baca yang sejak kecil sudah saya rasakan cuma bisa dilampiaskan melalui koleksi buku bibi saya yang seorang guru.
    Sama seperti kamu, saya baru menemukan buku yang benar-benar saya inginkan ketika telah pindah ke kota besar untuk kuliah. Karena uang bulanan dari ortu tidak termasuk uang untuk memenuhi hobi, saya mulai menulis untuk membeli buku yang saya mau. Honornya lumayan untuk beli satu dua buku
    Tentang minat baca sih bisa ditularkan, menurut saya. Novel bagus (sastra) pertama yang saya beli di pinjam adik, hingga di bawa ke sekolah. Teman-temannya melihat dan terjadilah antrian satu buku itu hingga 6 bulan lamanya yang melibatkan belasan orang. Pulang-pulang novelnya udah kucel dan jelek sekali. Nah, dari sana jelas terlihat bawa sebenarnya orang indonesia punya minat baca. Cuma beberapa maunya minjam doang, hehehe...

    salam kenal, by the way....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah terima kasih sekali mbak sudah berkunjung, salam kenal juga, nggak ada kata telat kok kalo mau nimbrung.
      Aku setuju, membaca bisa ditularkan, banyak orang yang belum sadar asiknya membaca karena belum menjadi kebiasaan dan daya beli yang nggak semua orang punya, khususnya bagi orang menengah kebawah karena jangankan untuk beli buku, untuk beli kebutuhan pokok sehari-hari saja masih sulit, makanya banyak yang suka gratisan :D

      Hapus
  18. Apa daya pelajar yg gak ada duit dan perpus sekolah yg 'sepi buku' :(
    Serta omongan emak: "Belajar aja. Apa itu novel2, mending beli buku pelajaran aja." :(
    Gimana tuh kak? :')

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...