Rabu, 18 Mei 2016

Resensi: Always the Bride Karya Jessica Fox

Judul buku: Always the Bride - Pengantin Baru (Lagi)
Penulis: Jessica Fox
Penerjemah: Alphonsus W.P.T. Nugroho
Editor: Yuki Anggia Putri
Desain sampul: Yudi Nur Riyadi & Adlina
Penerbit: Esensi
ISBN: 9786027596276
Cetakan pertama, 2016
248 halaman
Buntelan dari @esensiemagz
Tidak semua hal dapat berjalan sesuai keinginan kita.

Namun, Zoe Forster selalu berusaha untuk memiliki hidup sempurna. Jadi, ketika seorang cenayang pada pesta lajangnya meramalkan bahwa ia akan menikah dua kali, ia tidak ambil pusing. Semua orang tahu bahwa Zoe dan Steve ditakdirkan bersama selamanya.

Tetap saja, pernikahan fantastis macam apa pun harus menghadapi lika-liku di kemudian hari dan, dalam setahun, hal-hal tak terduga terjadi. Hadir pula seorang bintang film superseksi bernama Luke Scottman dalam kehidupan Zoe. Zoe dan Steve pun menemukan masa lalu masing-masing yang tidak seindah dugaan mereka. Tampaknya ramalan sang cenayang akan menjadi kenyataan…
"Bagaimana dengan hari pernikahanku?" tanyanya cepat. "Apakah Roh Pembimbingmu dapat melihatnya berjalan lancar?"
"Hari pernikahan yang mana?" tanya Angela kebingungan.
"Apa? Aku tidak mengerti?"
"Pernikahan yang minggu depan atau pernikahan yang satunya lagi? tanya Angela dengan polos.
"Apa!?!"
"Kau akan menikah dua kali. Jadi, hari pernikahan mana yang kau maksud?"
***

Zoe tidak pernah menceritakan kepada siapapun tentang ramalan dari orang yang diundang adiknya pada pesta lajang satu hari sebelum hari pernikahannya dimulai, baginya ramalan tersebut hanyalah mengada-ada. Zoe memiliki prinsip dia hanya akan menikah satu kali dengan orang yang benar-benar dia cintai, Zoe yakin akan perasaanya pada Steve, dialah orang yang paling tepat untuk berbagi hidup. Zoe tidak ingin hidup seperti ayahnya yang selalu bergonta ganti pasangan.

Namun, pernikahan Zoe dan Steve yang baru seumur jagung harus mengalami cobaan. Semua bermula dari keterlibatan mereka dalam film adaptasi dari novel Henry James, The Portrait of a Lady untuk program BBC terbaru yang digawangi oleh Rufus, teman Steve. Zoe sebagai penulis skenario, sedangkan Steve adalah sang sutradara. Walau bekerja di tempat yang sama, hal tersebut membuat mereka jarang bertemu, Zoe tidak harus di lokasi syuting, sedangkan Steve selalu di lokasi syuting. Dalam produksi mereka mengalami krisis casting, para pemain utama sebelumnya tiba-tiba saja mengundurkan diri, kemudian Rufus menganti dengan aktor Hollywood yang karirnya sedang menanjak, Luke Scottman dan aktris seksi yang tidak lain dan tidak bukan adalah mantan pacar Luke, Trinity.

Entah apa yang ada dalam benak pikiran Rufus, dia seperti sengaja menghadirkan orang-orang yang saling memiliki masa lalu, Rufus bertujuan mendongkrak rating dan nilai jual dengan gosip yang sedang hangat, misalkan saja hubungan Luke dan Trinity, belum lagi kedua orang tersebut juga memiliki masa lalu dengan Zoe dan Steve. Luke dulu adalah kekasih Zoe, hubungan mereka sebenarnya belum berakhir, manih meninggalkan tanya di pihak Luke. Alasan itu juga yang membuat Luke menerima tawaran bermain film kelas teri, dia ingin mendapatkan hati Zoe kembali dan meyakinkan dirinya kalau sebenarnya mereka masih saling cinta.

Apakah benar Zoe akan menikah dua kali? Siapa sebenarnya yang dia cintai?
"Terkadang jauh lebih mudah tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Mungkin tidak menegangkan, tetapi jauh lebih mudah."
Salah satu novel chicklit yang ide ceritanya lumayan menarik, dari cara bercerita juga tidak membosankan, alurnya cukup cepat dengan memakai sudut pandang orang ketiga. Ada beberapa twist yang tidak saya antisipasi sebelumnya, cukup menyenangkan dan menjadikan cerita tidak mudah tertebak. Cerita berfokus pada masalah di lokasi syuting dan bagaimana Zoe menyikapi perasaanya. Dia pernah memiliki kenangan manis dengan Luke, dan tak terlupakan, terlebih sekarang dia sangat terkenal tapi tidak berubah, dia masih mencintai Zoe meskipun dia sudah menikah. Luke ingin membuktikan sendiri apakah Zoe bahagia denga pernikahannya, kalaupun tidak, dia akan berusaha mengambil hati Zoe kembali.

Tokoh favorit saya adalah Luke, dia baik dan sangat pengertian, dia mendapatkan porsi yang banyak di sini, kisah masa lalunya dengan Zoe juga diceritakan secara lengkap. Sedangkan Zoe, walau saya tidak terlalu menyukai karakternya, saya suka bagaimana dia menyikapi permasalahan yang menimpa dirinya. Rufus sukses menjadi orang yang sangat menjengkelkan, pemeran pembantu yang lain porsinya cukup pas.

Salah satu kekurangan buku ini adalah karakter Steve tidak banyak dikupas, dia hanya sesekali muncul, padahal dia juga memiliki peran yang penting, sehingga saya tidak bisa menyukainya semudah saya menyukai Luke. Saya berharapnya kisah cinta mereka menjadi sorotan utama, masalah di lokasi syuting cukup menyita perhatian, sehingga hubungan Zoe dan Steve tidak terlihat, saya jauh merasakan chemistry antara Zoe dengan Luke.

Setidaknya buku ini menghadirkan kembali genre chicklit yang mulai meredup, jadi kalau kangen baca chicklit, buku ini bisa menjadi pilihan :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...