Rabu, 20 April 2016

Resensi: Purple Eyes Karya Prisca Primasari

Judul buku: Purple Eyes
Penulis: Prisca Primasari
Penyunting: Cerberus404
Proofreader: Seplia
Design cover: Cynthia Yanetha
Penerbit: Inari
ISBN: 978-602-74322-0-8
Cetakan pertama, Mei 2016
144 Halaman
"Karena terkadang,
tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi."

Ivarr Amundsen kehilangan kemampuannya untuk merasa. Orang yang sangat dia sayangi meninggal dengan cara yang keji, dan dia memilih untuk tidak merasakan apa-apa lagi, menjadi seperti sebongkah patung lilin.

Namun, saat Ivarr bertemu Solveig, perlahan dia bisa merasakan lagi percikan-percikan emosi dalam dirinya. Solveig, gadis yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Solveig, gadis yang misterius dan aneh.

Berlatar di Trondheim, Norwegia, kisah ini akan membawamu ke suatu masa yang muram dan bersalju. Namun, cinta akan selalu ada, bahkan di saat-saat tergelap sekalipun.
Hades memiliki banyak nama, seperti Hel, Pluto, Izanami, Izanagi, Reaper, Death. Namun, tugasnya hanya satu, yaitu sebagai Dewa Kematian. Hades memiliki seorang asisten yang akan mengarsip data orang-orang mati, melakukan apapun untuk diperintahkan oleh dewa bersayap tersebut, dia bernama Lyre, seorang gadis Inggris yang meninggal pada tahun 1895, saat berusia 24 tahun. Hades biasa hadir ketika manusia memasuki ruang transit, memberikan ujian untuk mengetahui apakah manusia tersebut ingin hidup atau terus mati. Hades tidak diizinkan turun ke bumi, kecuali kasusnya benar-benar penting.

Kasus pembunuhan berantai yang memakan puluhan korban di Trondheim, Norwegia mau tidak mau membuat Hades turun tangan. Dia diperintahkan turun ke bumi untuk mengatasi kasus tersebut, di mana pelaku selalu mengambil lever para korbannya. Tentu saja Hades tahu siapa pelakunya, hanya saja dia harus menyelesaikan masalah dengan cara manusia, harus selogis mungkin, pembunuh tersebut harus mati dengan cara manusia. Hades pun mengajak Lyre karena dia akan butuh bantuannya, kostum dan nama pun dipilih. Hades menggunakan nama Halstein, sedangkan Lyre memilih nama Solveig.

Tujuan pertama mereka adalah mendatangi salah satu keluarga korban, Ivarr Amudsen. Awalnya Solveig tidak tahu rencana apa yang telah disusun tuannya, dia hanya diperintahkan untuk meminta bantuan Ivarr mendatangi tempat-tempat tertentu, hanya berdua. Solveig tidak menyukai ide tersebut, dia tidak nyaman berada di dekat Ivarr, lelaki tampan tapi berekspresi datar tersebut seperti tidak memiliki emosi, hilang rasa, dia bagaikan patung lilin. Itulah alasan kenapa Hades mengajak Lyre ke bumi, tugasnya adalah membuat Ivarr merasakan emosi lagi, dengan begitu Hades akan bisa mejalankan rencananya.

Misi kali ini tidak semudah bayangan Hades, asistennya yang sudah mati tersebut jatuh cinta kepada manusia, yang masih hidup.
Karena terkadang, tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi.
"Bukankah lebih baik tidak merasa sama sekali," bisik Ivarr, "daripada merasa sakit...?"
"Saya mengerti, " bisik Solveig. "Tapi sering kali, lebih baik merasa sakit, daripada tidak merasa sama sekali..."
Membenci itu sangat melelahkan, bahkan lebih menguras emosi daripada merasa sedih.
Kalau tidak aneh, namanya bukan cinta.
Saya rasa inilah buku yang dimaksud kak Prisca ketika saya bertanya dalam sesi Tanya Penulis di sini, yaitu novela yang bersetting di Norwegia. Membaca Purple Eyes membawa saya ke masa ketika menyukai tulisan kak Prisca untuk pertama kali, bersetting di luar negeri, selalu menggunakan kalimat baku, sangat klasik, nama yang unik, aura kelam, tokoh-tokoh yang terluka, dan semua kemuraman tersebut disajikan secara indah. Saya pernah bilang kalau saya tidak pernah bisa menebak jalan pikiran kak Prisca, saya tidak pernah bisa menebak cerita apa yang akan dia suguhkan sebelum membaca bukunya sampai tamat. Ceritanya selalu lain daripada yang lain, tanpa meninggalkan ciri khas yang dia miliki. Membaca Purple Eyes saya juga sedikit menebak jenis buku apa yang dilirik Inari, sedikit berbau fantasi dan kelam.

Purple Eyes memiliki genre yang campur aduk, selain fantasi, ada juga thriller dan romance. Saya rasa semuanya disajikan secara seimbang, memang fokusnya lebih ke kisah cinta, tapi kadarnya juga tidak berlebihan. Purple Eyes bercerita tentang bagaimana membuat seseorang yang kehilangan perasaan dan tanpa emosi mulai kembali mendapatkan hal tersebut sedikit demi sedikit, merasakan apa yang namanya cinta. Tentang pilihan yang akan selalu ada.

Dari segi tokoh, tidak perlu diragukan lagi, kak Prisca selalu bisa menghidupkan karakter para tokohnya, dan seperti biasa juga, sangat komikal. Tokoh favorit saya di buku ini adalah Hades, ya, bukan Ivarr, hahaha. Hades ini sangat sombong, apalagi kalau dia sudah pamer bagaimana dengan mudahnya dia membasmi para diktator yang ada di dunia, pingin jitak kepalanya dan nyabutin bulu sayapnya! Mesam mesem ketika dia memilih baju pengantin sebagai pakaian sehari-hari, dia ini sangat perfeksionis XD. Ivarr sebenarnya tidak buruk, hanya saja dia terlalu terluka, mungkin hanya Solveig saja yang bisa menangani dan menyembuhkannya. Saya juga suka Solveig, dia sangat apa adanya.

Bagian favorit saya adalah ketika Solveig berpetualang dengan Ivarr mengarungi Norwegia yang bersalju karena bagian tersebut adalah awal Ivarr membuka hatinya, lebih bisa memandang hidup. Saya juga sangat sangat suka ending buku ini, sedikit bisa ditebak, tapi tetap saja puas :D. Terus di pemakaman ketika Hades menunjukkan sayapnya, ihhhhh gemes! Sedikit kekurangannya adalah kurang panjangggggggg, saya masih ingin berlama-lama dengan Hades, hahaha. Apakah Inari akan selalu menerbitkan novela? Selain bergenre fantasi dan beraura kelam, saya rasa ini juga salah satu ciri dari buku-buku terbitan Inari.

Saya sangat menikmati membaca Purple Eyes, tidak membutuhkan waktu lama untuk menamatkannya. Kalian akan disuguhi sisi muram dan bersalju Norwegia, melalui para tokohnya, melalui ceritanya. Saya tidak akan berhenti membaca karya kak Prisca, karena saya tidak akan pernah puas sebelum menebak jalan pikiran atau cerita yang dia buat XD.

4 sayap untuk Dewa Pencabut Nyawa.

6 komentar:

  1. Kemuraman yang kalau terlalu muram, akan berefek membuat pembacanya galau. Ahrg, penasaran dengan efek ini. Sekelam apa ya bukunya, kayaknya harus baca sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih enakan emang kalau baca sendiri :)

      Hapus
  2. Buku baru Kak Prisca, berarti wajib beli. Selalu suka sama karya-karyanya Kak Prisca, nuansa kelamnya selalu kerasa. Apalagi ini ada mitologi Yunani sampe Hades turun ke bumi segala, nggak sabar pengin baca :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah satu ciri khasnya, selain kelam tokoh-tokohnya komikal sekali :)

      Hapus
  3. Ya ampuuun.. aku udah lama gak baca buku2nya Kak Prisca. Kangeeen.. ;_;
    Terakhir pas jaman2 Kastil Es dan Air Mancur ituuuh. Lama bgt yak? xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak juga, nggak ada kata terlambat untuk baca, aku malah belum ngereview buku itu XD

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...