Senin, 25 April 2016

Tentang Book Hype | Let's Talk


Hai halloooo, Let's Talk hadir lagi, tempat di mana saya mengemukakan pendapat akan sesuatu hal yang berhubungan dengan buku dan mengajak pembaca untuk turut serta mendiskusikannya juga. Kali ini saya membawa topik yang sejak tahun lalu ingin ditulis tapi tidak kunjung terealisasi, yaitu Tentang Book Hype. Topik ini saya tahu pertama kali ketika menonton video dari The Readables, saya pun ingin membuat versi saya sendiri. Akan ada empat pertanyaan yang menjadi topik utama dalam book hype, tapi sebelum itu saya jelaskan dulu arti dari book hype. Hype menurut arti kata berarti blatant or sensational promotion, sedangkan book hype menurut saya adalah sebuah buku yang penuh sensasi, sangat fenomenal, banyak dibicarakan, sebuah buku yang memiliki publisitas berlebihan. Book hype biasa disandingkan juga dengan sebuah tren buku yang sedang booming. Pertanyaanya adalah apakah book hype itu baik atau buruk? Let's Talk.

Sebelum membahas lebih jauh, saya akan memberikan contoh buku yang sangat hype atau ngehits, antara lain: Harry Potter, Twilight, Fifty Shades of Grey, The Hunger Games, The Fault in Our Stars, Gone Girl, Eleanor & Park, Game of Thrones, dan masih banyak lagi. Sedangkan di Indonesia sendiri antara lain ada Critical Eleven, Intelegensi Embun Pagi, seri YARN Ice Cube, buku-buku bertema pernikahan, Koala Kumal, Novel Hujan Bulan Juni, 'Buku Biru', sampai akhir-akhir ini merambah ke buku puisi dan coloring book. Buku-buku tersebut sangat sering dibicarakan, bahkan terjual puluhan atau ribuan kopi hanya dalam kurun tidak lebih dari satu hari. Semua berlomba-lomba ingin menjadi pembaca yang pertama, ingin merensensi pertama kali, bahkan tidak jarang buku tersebut menjadi contoh buku lain atau inspirasi penulis lain untuk menulis sesuatu yang sama.

1. How do you feel about hype for books?
Sejujurnya, saya bukan tipe orang yang mudah kemakan hype sebuah buku, tapi saya cukup menyukai adanya book hype karena berarti banyak orang yang ingin membaca, banyak orang yang saling berdiskusi. Saya selalu membeli buku dengan pertimbangan terlebih dahulu, walau kadang diskon besar cukup membuyarkan prinsip saya. Saya bahkan membuat tiga rak buku di goodreads untuk menentukan prioritas; mana yang harus segera dibeli dan dikoleksi, mana yang cukup cari pinjaman atau seken saja, dan mana yang akan saya cari buntelannya atau gratisannya. Kadang pengaturan tersebut cukup membantu saya agar tidak termakan hype sebuah buku.

Book hype tidak sepenuhnya buruk, dengan adanya publisitas yang berlebih maka banyak orang yang akan mengetahui buku tersebut, banyak orang ingin ikut menikmati juga, penjualan buku bisa laris, menjadikan sebuah buku menjadi best seller, menguntungkan penulis dan penerbit. Kadang book hype mengenalkan genre baru atau tema cerita yang baru, menciptakan tren baru. Misalkan saja era Twilight, setelah booming banyak sekali buku bertema vampir yang bertebaran, pun dengan Fifty Shades of Grey, genre erotica meroket. Kesuksesan The Hunger Games membuat genre dystopia dikenal banyak orang dan selanjutnya banyak buku bertema sama dengan tokoh utama perempuan yang feminis.

Sedangkan di Indonesia tidak jauh berbeda, ketika Raditya Dika sukses dengan personal literature, banyak blogger lain unjuk gigi. Ketika Ayat-Ayat Cinta meledak, banyak buku bertema islami yang cukup ngepop alias tidak terlalu berat untuk dibaca. Ketika buku bertema pernikahan sangat ngehits, setiap penerbit meluncurkan lini khusus, bahkan kesuksesan buku YARN dari Ice Cube membuat genre Young Adult dalam negeri sangat digemari sekarang ini. Tanpa diduga, book hype malah menyuguhkan sebuah tren baru.

2. Does it affect your book buying?
Jawabannya adalah tergantung, saya menyukai book hype kalau buku tersebut termasuk ranah favorit saya, saya akan masuk ke dalam golongan orang yang ingin mendapatkan pertama kali, ingin segera membaca dan meresensi. Misalkan saja ketika ada pre order Critical Eleven, saya termasuk dari ribuan orang yang ingin mendapatkan buku tersebut pertama kali. Sejak membaca buku debut penulis, langsung menjadikan Ika Natassa sebagai salah satu penulis favorit. Alasan kenapa saya kemakan hype Critical Eleven karena sebelumnya saya pernah membaca cerpen buku tersebut dan sangat menyukainya sehingga tidak sabar membaca ketika akan ada versi novel.

Saya juga kemakan hype buku Young Adult dalam negeri dari Ice Cube dan Gramedia, karena genre tersebut merupakan favorit saya dan ingin tahu bagaimana versi dari penulis Indonesia. Bukan lantas saya membeli semua serial tersebut, berat di ongkos. Salah satu keuntungan adanya book hype adalah banyak orang yang membaca dan meresensi, banyak pendapat yang bisa menjadi masukan. Dari sanalah saya menentukan mana yang ingin saya baca terlebih dahulu, mana yang belakangan.

Walau Ika Natassa penulis favorit, bukan berarti ketika Underground dirilis ulang saya kemakan hype lagi. Ingat saya punya prioritas di atas? Saya merasa tidak ingin segera membaca Underground sehingga bisa menunggu. Saya juga tidak ingin membeli Ayat-Ayat Cinta 2 walau pernah membaca buku pertamanya, ya karena tidak tertarik. Saya juga tidak kemakan hype Intelegensi Embun Pagi karena saya belum pernah dan belum ada niat membaca serial Supernova. Saya juga tidak kemakan hype buku-buku puisi yang sekarang sedang booming, karena saya tidak menyukai puisi, saya jarang bisa mengartikan makna yang terkandung di dalamnya.

3. Does it just cause disappointment?
Pernah. Ketika membaca The 5th Wave, ekspektasi saya terlalu berlebih sehingga ketika membaca tidak merasakan perasaan yang wow alias biasa saja. Tapi nggak kecewa banget karena dapat buku tersebut dari buntelan teman, wakakaka. Bahkan saya memiliki buku keduanya, buku pertama tidak memuaskan, belum tentu dengan lanjutannya. Itulah gunanaya membaca resensi sebuah buku ketika kita ingin membelinya, apakah ratingnya bagus atau memang sesuai dengan selera bacaan kita? Sejauh ini saya juga belum kecewa dengan seri YARN yang sudah saya baca, karena sebelumnya saya membaca dulu resensi buku tersebut dari orang yang saya percaya, memilih mana yang memiliki rating tinggi, saya pun ikut menyukai juga.

4. Could too much hype be a bad thing?
Bisa jadi. Ingat tragedi 'Buku Biru'? Anak goodreads pasti tahu deh. Banyaknya resensi yang merating rendah buku tersebut dan penulis yang turut campur membuat saya ilfil, saya sama sekali tidak tertarik untuk membaca. Sesuatu yang berlebih memang tidak baik, dan kadang sikap penulis yang tidak bersahabat kepada pembaca menjadi poin utama bukunya tidak lagi dilirik. Mendapati sebuah buku yang dipromosikan terlalu berlebih juga bisa membuat eneg, bukannya tertarik malah bisa jadi tidak ingin membaca. Karena terlalu seringnya diceritakan, sehingga pembaca bisa meraba-raba seperti apa bukunya nanti, tidak ada lagi kejutan.

Book hype sangat lekat dengan ekspektasi dan selera, maka pasti akan ada dua kubu, yang menyukai dan sebaliknya. Hal tersebut kadang membuat dua kubu perang argumen, saling menyanggah, saling membenci. Misalkan saja ada penggemar hardcore Fifty Shades of Grey, dia tidak akan terima jika ada orang yang menjelek-jelekan buku tersebut, dia akan membela setengah mati, mengatakan sampai muncrat kalau buku tersebut salah satu buku paling bersejarah di abad modern ini. Ekspektasi berlebih akan sebuah buku yang penulisnya belum pernah kita baca kadang juga menjadi sesuatu yang buruk, sudah susah payah membeli dengan uang saku, eh bukunya ternyata MEH, rugi dong.

Kuncinya adalah bacalah apa yang memang kamu inginkan, apa yang kamu sukai, kalau buku tersebut tidak sesuai dengan cangkir kopi tapi kamu ingin mencoba, cari referensi atau resensi dari blogger yang kamu percaya. Kalau sangat ingin membaca tapi takut kecewa atau tidak memiliki uang, bisa juga dengan meminjam. Book hype tidak selalu baik, juga tidak selalu buruk, semua tergantung ekspektasi dan selera. Kita sebagai pembaca memang dituntut menjadi pemilih. Banyaknya penerbit, penulis baru dan buku baru mau tidak mau membuat kita menentukan prioritas, apakah ikut terseret arus book hype atau tetap pada pendirian?

Nah, menurut kalian, apakah book hype itu baik atau buruk? Pernahkah kalian kemakan book hype? Kalian bisa juga menjawab pertanyaan di atas di kolom komentar di bawah ini :D.



Referensi:

33 komentar:

  1. Thank God, aku jarang kemakan book hype kecuali seri supernova, yang sebenarnya belum dibeli juga sampai detik ini jadi nggak masuk hitungan :))
    Dibandingkan mengikuti tren buku, aku lebih lemah sama diskonan xD
    Tapi sekarang lebih selektif sih. Beli buku yang emang pengen banget dibaca aja. Sayang juga kalau beli tapi nggak dibaca *menatap sedih ke tumpukan buku*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget! Harus selektif memilih buku, biar timbunan nggak semakin membludak dan aku juga lemah sama diskonan, hahahaha.

      Hapus
  2. Aku termasuk jarang kemakan sama book-hype. Awalnya emang tertarik, tapi kumasukin daftar dulu aja trus kubiarin dulu sambil mikir kira2 beneran perlu buku itu nggak sih. Lalu lirik-lirik dulu daftar wishlist yg lama~ lebih seringnya sih aku bakalan nggak beli buku yg jadi hype, apalagi kalo lagi seret dan kebetulan yg diskon malah buku2 yg lama di wishlist. xD This might be one of the reason kenapa blogku jarang banget ngereview buku yg baru terbit. :v

    Kalo buku luar, errr.. ini rahasia ya, Sulis.. aku mending baca e-book gretongnya dulu sebelom beli. xD Kan rugi kalo udah beli mahal-mahal taunya jelek, kan sayang duit. :"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakaka, emang mahal kalau mau beli buku luar, kalau aku nunggu terjemahannya aja :D

      Hapus
  3. Kalau book hypenya penulis terkenal (yang udah tahu sesuai selera apa ngga) biasanya ngga kemakan sih.. kalau kemakan, paling cari orang yang bisa minjemin..

    Nah kalau penulisnya ngga kenal, liat genre dan review2 di goodreads dulu :)

    BalasHapus
  4. Saya termasu yang sering kenaboo hype kayaknya =)) seperti pas baca Critical Eleven, sebelumnya belum pernah baca novelnya Ika Natassa dan akhirnya berkenalan dari sana. Tapi so far, bukunya keren dan nggak mengecewakan.

    Kalau kasus Inteligensi Embun Pagi, saya beli dan baca karena memang dari awal sudah senang banget sama karya-karya Dee dan menunggu-nunggu, jadi status saya di sini bukan korban book hype, tapi justru bagian dari pelaku yang nge-hype-kan juga :D Lalu Ayat-Ayat Cinta 2 juga saya beli karena memang suka dan menanti-nanti dari awal. Nah sama juga kasusnya dengan coloring book. Saya termasuk yang udah kenal dari pertama kali ada buku sejenis ini yang muncul di Indonesia, eh lah, sekarang boomingnya dah kayak apa aja =)) dan akhirnya senang sih karena bisa menularkan kesenangan ini ke orang lain juga :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku melupakan Coloring Book! Hahahaha, padahal udah ada niat aku masukin di artikel =))
      Karena aku nggak suka dan nggak bisa menggambar maupun mewarnai, aku tidak akan membeli coloring book, kecuali dikasih. Emang kadang lihat ilustrasinya nyenengin, tapi kalau nggak bakat mau gimana lagi? Hahaha, jadi aku mending nyari hiburan lain biar nggak stress :D
      Aku juga pernah baca buku yang awalnya nggak tenar trus jadi hits banget, Twilight XD

      Hapus
  5. Saya penasaran dengan buku biru

    BalasHapus
  6. Aku banget kena sindrom book hype, apalagi kalo penulis favorit, langsung ikut nggak pake mikir, mesti abis itu kantong langsung jebol, gyahahaha... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku pernah banget ngalamin, kebetulan yang jadi hype wishlist semua, langsung ngirit makan XD

      Hapus
  7. Kalau aku sih kayaknya bukan jenis orang yang mudah kemakan book hypes, kaak. Mungkin cuma IEP aja kemarin yang rela PO. Haha. Selain itu, nggak ada yang spesial. Banyakan, penulis favoritku bukanlah yang biasanya munculin book hypes. Hihi. Lagian, aku beli novel biasanya karena emang suka banget. Bahkan, aku banyak nyari buku lama. Alasan lain, finansial 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penulis favoritnya siapa aja, btw? Aku juga jarang banget PO, hanya kasus tertentu saja, misalkan saja ceritanya bagus atau merchandicenya kece :)

      Hapus
    2. Wakakakka. Berhubung aku masih unyu-unyu, aku masih suka teenlit. Clio Freya, kak
      Terus, Nina Ardianti --> beli restartnya dulu nggak sengaja. Nggak tahu kalo lagi hits.
      Dee lestari, ini sukanya telat juga. Setelah hypenya berlalu baru suka. Haha.
      ((merchandicenya kece)). Haha

      Hapus
    3. Aku juga suka Nina Ardianti! Nunggu banget buku terbarunya :)

      Hapus
    4. Kalo Nina Ardianti mah aku sampek pantengin blognya. Hahah. Lagi sibuk kuliah lagi sih, orangnya.
      Setuju. Nggak sabar pengen baca Kemal-Emma.

      Hapus
  8. aku juga pernah kemakan book hype kak, waktu pas CE dan juga Go Set A Watchman, dan ditambah pas banget buku-buku tersebut lagi di diskon, tanpa pikir panjang langsung aku beli padahal aku belum baca satu pun karya mereka sebelumnya... :D Dan bahkan sampai sekarang masih numpuk di timbunan... :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha, untungnya aku nggak kegoda Go Set A Watchman, padahal suka banget sama To Kill a Mockingbird, gara-gara baca resensi yang mengatakan kecewa dengan Atticus, aku nggak ingin jadi membenci dia, karena salah satu tokoh favoritku.

      Hapus
  9. Aku baru tahu ka, kalo itu namanya book-hype.
    Aku bukan tipe orang yang suka kena sindrom book-hype. Kecuali emang penulis yang aku suka, kalo ada buku barunya terbit pasti langsung ngincer dengan jeda waktu juga si, ka. Ngumpulin receh dulu. hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha, kadang kalau aku pingin banget tapi keadaan nggak mendukung, ya terpaksa ngumpulin receh juga :))

      Hapus
  10. Aku malah biasanya setelah hype nya reda atau entah udah kemana, baru mulai tertarik baca haha. Dulu pernah diajaki/dibujuk temen ikutan po sebuah novel, tapi sampai sekarang malah masih nangkring di timbunan :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga pernah! Buku-bukunya Neil Gayman dan John Green, hahaha, sampai sekarang mau ditimbun, alasannya nanti nunggu semua koleksi lengkap dulu XD

      Hapus
  11. Aku banget inimah sering terinfeksi book-hype :') tapi semenjak belajar ngeriviu di goodreads jadi semakin bijaksana dalam memilih buku.

    Btw itu (((buku biru))) kayaknya paham deh hihihi

    BalasHapus
  12. Akuuuu kena, kak Sulis.
    Kalo lg rame diomongin, pasti deh ngebeeeet sama buku itu. Apalagi kalo dari penulis favorit :)))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rasanya pingin ikut nimbrung ya, biar nggak kudet :D

      Hapus
  13. Dulu suka ngikutin trend blogger buku yang lagi rame. tapi sekarang enggak. soalnya buat saya membaca bukan sekedar baca. tapi harus ada nilai yang terserap.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah satu yang tetap pada pendirian! :))

      Hapus
  14. Hampir sama kayak kak Sulis sih, kalau memang masuk ke genre favorit, kadang kemakan juga dibeli. Buatku kadang ada rasa greget gitu pengen baca buku hype cuma buat tahu seberapa hype nya sih kok banyak yg baca xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kadang penasaran apa sih kelebihan buku itu kok sampai hype banget, pingin ngerasain juga, nggak mau ketinggalan :D

      Hapus
  15. Aku sih udah kayak badak kalo soal book hype. Alhamdulillah sering nggak mempan hehe. Sejauh yang aku liat, yang biasanya heboh itu dari YA, dan aku sendiri kurang suka YA jadi mungkin itu juga yang bikin aku nggak ngeh soal hype-hype-an begini.

    Misiku (ceile..) malah pengen cari hidden gems di buku-buku yang kurang populer. Kalo udah nemu rasanya gimana... gitu. Berkesan sekali. Jauh lebih memorable ketimbang senang dengan buku yang memang sudah populer.

    Kalo soal Game of Thrones, asli yang ini aku kemakan hype. Tapi pantas kok, dengan ceritanya, jadi nggak rugi sama sekali.

    Great post as always, Sulis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mbak Citra :)
      Perlu juga tuh nyari hidden gems di buku-buku non populer, kadang aku tanpa sengaja juga nemu seperti itu, biasanya aku promo habis-habisan biar banyak yang baca, kayak Almost 10 Years Ago, buku YA dari Ice Cube, di mana seri Bluestoberi tidak setenar seri YARN :D

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...